Navigation Menu
Yayasan Pulih

Yayasan Pulih

Jakarta Selatan, DKI Jakarta

January 192016

Kekerasan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Terjadi di rumah, sekolah, lingkungan rumah, pekerjaan, dalam hubungan, misalnya ketika berpacaran, hubungan rekan kerja, dan masih banyak hal-hal lain yang sebenarnya masuk ke dalam kategori kekerasan. Tidak menutup kemungkinan bahwa kekerasan sebenarnya juga terjadi di sekitar kita.

Masih sangat banyak masyarakat yang tidak peduli dan tidak tanggap dengan permasalahan yang tanpa disadari adalah sebuah kekerasan. Tidak terhitung lagi banyaknya orang-orang yang mengalami kekerasan dan tak terhitung juga orang-orang yang belum menyadari bahwa dirinya sebenarnya sudah mengalami atau menjadi pelaku kekerasan itu sendiri.

Sasaran kekerasan pada umumnya adalah perempuan dan anak (bukan berarti tidak ada laki-laki dewasa yang menjadi korban kekerasan). Perempuan dan anak (khususnya anak perempuan), dapat dikatakan terlampau sering mendapatkan perlakuan tidak adil dari pihak yang merasa lebih tinggi dan merasa lebih berkuasa.

Yayasan Pulih adalah sebuah lembaga sosial yang bergerak dalam penanganan trauma dan psikososial serta berfokus kepada kasus kekerasan dan bencana alam yang menimpa perempuan dan anak. Pulih menyediakan layanan psikologis berupa konseling bagi korban kekerasan. Tidak hanya korban kekerasan, Pulih juga menyediakan layanan psikologis untuk tes minat bakat, dan hal-hal lain yang mendukung pendidikan.

Yayasan Pulih terletak di Jalan Teluk Peleng No. 63 A Komplek TNI AL-Rawa Bambu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Bangunan Pulih terlihat seperti rumah. Memiliki tiga ruang konseling (satu ruangan di bawah, dua ruangan di atas), dua kamar mandi, satu perpustakaan, dan satu ruang kerja. Di belakang, tinggal Mbak Puji dan keluarga (yang sekarang sudah kembali dan tinggal di Jawa).

Layanan konseling dibuka mulai pukul 09.00-17.00 dan libur hari Sabtu-Minggu. Layanan konseling Pulih berusaha tidak memberatkan klien dengan biaya yang tetap (dapat disesuaikan dengan keadaan klien) meskipun biaya normalnya adalah Rp100.000/sesi (Sabtu dapat digunakan untuk konseling dengan jadwal khusus. Biaya konseling Rp250.000/sesi: 2 jam).

Kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan seksual merupakan kekerasan yang paling banyak terjadi dan ditangani di Pulih. Lebih dari 5000 kasus KDRT yang sudah terjadi dan mayoritas penyintasnya adalah perempuan usia 25-40 tahun. Kekerasan ini menjadi siklus yang akan terus berlangsung apabila tidak mendapat penanganan yang cepat. Seorang pelaku kekerasan pada umumnya merupakan lanjutan dari orang tua yang dulunya juga melakukan kekerasan. Begitu pula dengan kekerasan seksual.

Pada dasarnya setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Menangis, berteriak, bercerita, berdiam, merupakan beberapa contoh dari banyak cara yang dapat dilakukan ketika seseorang mendapat sebuah masalah.

Kadang memang seorang korban tak butuh solusi, melainkan seseorang yang mau mendengar semua ceritanya. Pulih menyediakan jasa psikolog yang terdiri dari psikolog pendidikan, anak, dan dewasa. Kategori umur yang diberikan batas dewasa adalah diatas 18 tahun. Psikolog-psikolog Pulih tidak selalu ada di Pulih, dan akan ada di kantor pada saat klien sudah membuat janji melalui telepon.

Beberapa klien yang kurang paham dengan prosedur, kadang datang tiba-tiba dan mencari psikolog. Pulih tidak dapat melayaninya karena keterbatasan waktu psikolog yang tidak selalu ada di Pulih. Namun, dalam keadaan darurat, biasanya Pulih akan memberikan jalan keluar lain dengan merujuk klien untuk datang ke mitra(-mitra) Pulih.

Dalam sosialisasi dengan masyarakat, Pulih juga membuat kegiatan-kegiatan, iklan masyarakat, advokasi kebijakan, artikel di media, dan buku-buku materi psikoedukasi yang membantu masyarakat yang belum mengerti menjadi mengerti dengan kekerasan secara sederhana (buku-buku yang disediakan Pulih menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami).

yp1 yp2 yp3 yp4 yp5

More Information»
Yayasan Reef Check Indonesia
January 192016

Reef Check yang saat ini menjadi nama dari sebuah organisasi awalnya hanya merupakan sebuah metode pengecekan terumbu karang yang ada di Indonesia, tepatnya di Karimun Jawa tahun 1997. Tahun 2001 mulailah dibentuk sebuah Jaringan Kerja Reef Check Indonesia (JKRI) karena penggunaan metode Reef Check di Indonesia semakin meluas. Jaringan tersebut dibentuk untuk memperkuat program konservasi di Indonesia. Pertumbuhan kebutuhan untuk konservasi terumbu karang di Indonesia menyebabkan terbentuknya Yayasan Reef Check Indonesia (YRCI). Organisasi ini akhirnya terbentuk pada tahun 2005 dan memiliki kantor pusat di Denpsar, Bali. Tanggal 22 Oktober menjadi peringatan setiap tahun sebagai Reef Check Day Indonesia.

Reef Check memiliki moto “Working together for better reefs and future” dan organisasi ini bergerak di bidang pemantauan terumbu karang untuk masa depan yang lebih baik. Reef check memiliki visi untuk memberikan kontribusi kepada manajemen terumbu karang atau asosiasi ekosistem untuk kesejahteraan bersama; dengan, untuk, dan oleh rakyat semuanya mengutamakan masa depan yang lebih baik. Organisasi ini memiliki 3 pilar yang menjadi penopang untuk mendukung terlaksananya visi tersebut: Manajemen kolaboratif, Pendidikan dan kesadartahuan masyarakat, serta sains dan teknologi.

Visi dari Reef Check belum lengkap tanpa kehadiran dari misi yang Reef Check miliki yaitu:

  1. Meningkatkan kesadartahuan masyarakat mengenai ekosistem pesisir dan laut Indonesia.
  1. Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pelestarian ekosistem persisir dan laut Indonesia serta menginisiasi dan memfasiliatasi para pemegang kepentingan untuk bersama mengelola ekosistem pesisir dan laut secara terpadu.
  1. Mendukung penyedian data-data, informasi dan teknologi yang berlandaskan sains untuk pengelolaaan pesisir dan laut secara terpadu.
  1. Berperan serta aktif dalam mendukung terbentuknya kebijakan pengelolaan ekosistem pesisir dan laut secara terpadu

Saat ini dalam kegiatan praktek lapangan di Reef Check saya terlibat di dalam salah satu program Reef Check yaitu Photovoices. Program Photovoices tersebut merupakan salah satu program yang berkaitan dengan pengembangan Kawasan Konservasi Perairan. Kegiatan ini berlangsung di wilayah Jemeluk Amed dan Tulamben sejak bulan April-Agustus. Program ini merupakan kerjasama antara Reef Check dengan Lensa Masyarakat Nusantara, Coral Reef Alliance, dan Conservative Indonesia. Program ini mengharapkan masyarakat dapat mengangkat isu-isu yang terjadi di wilayahnya sendiri melalui foto-foto. Data tersebut dapat digunakan sebagai bukti nyata kepada pemerintah ketika mereka akan menyampaikan aspirasinya. Foto-foto tersebut diambil oleh beberapa fotografer desa yang sudah dipilih dan diajarkan teknik-teknik dasar fotografi.

Saya dalam program tersebut bertugas untuk mendatangi para fotografer dan menggali informasi dari foto-foto mereka. Proses penggalian informasi tersebut ditujukan untuk mengetahui latar belakang dari foto tersebut, kisah yang sebenarnya tersirat dalam foto tersebut, dan harapan yang ingin disampaikan oleh para fotografer. Tidak hanya hal tersebut tetapi para fotografer diharapkan juga memiliki solusi dari masalah yang mereka lihat. Saya juga bisa melihat langsung kegiatan yang setiap hari dilakukan oleh masyarakat Amed dan Tulamben. Contohnya:mengikuti kegiatan pembuatan gula aren, ikut melaut dengan nelayan, dan melihat langsung kegiatan dari para porter wanita untuk mengangkat tabung dan peralatan selam lainnya, dan tentunya melihat secara langsung kemajuan dari daerah pariwisata tersebut tetapi masih banyak hal yang diabaikan.

Reef Check juga mempunyai beberapa program di wilayah lain seperti di Kabupaten Buleleng, di Pacung dan Pemuteran, Karangasem, di Amed dan Tulamben, Papua Barat yaitu di Raja Ampat, Nusa Tenggara Timur di Lamakera, dan beberapa tempat lainnya. Kegiatan Reef Check lainnya yang sempat saya ikuti selama internship adalah Coral Watch, Bukan Pasar Ikan Biasa, dan beberapa kegiatan lainnya.

rc2 rc3 rc4 rc5 rc1

More Information»

Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Indonesia atau yang biasa disingkat Babesrehab BNN, merupakan suatu lembaga yang terletak di Jl. Mayjen HR Edi Sukma kilometer 21, Desa Wates Jaya, kecamatan Lido, kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lembaga ini memiliki luas 11 hektar. Adapun organisasi BNN ini dipimpin oleh seorang Kepala Balai Besar kemudian ada juga para staf dibawahnya. Lembaga ini menjadi tempat rehabilitas untuk pemulihan para korban pengguna narkoba. Lembaga ini memiliki kapasitas hingga 500 orang yang direhabilitas. Jumlah para pengguna narkoba yang sedang direhabilitas saat ini kurang lebih ada 370 orang, mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, termasuk agama.

Para pengguna narkoba yang sedang direhabilitasi di tempat ini disebut resident. Di BNN, terdapat beberapa rumah sebagai tempat rehabilitasi para resident. Rumah-rumah tersebut yaitu Detoks, Entry Unit, House of Faith, House of Hope, HoC (House of Change), Re-entry, serta Female. Di setiap rumah rehabilitas, ada susunan pengurusnya yakni deputy, mayor, serta konselor. Bagi resident yang baru pertama kali masuk, tempat mereka adalah di Detoks. Umumnya para resident yang ditempatkan di rumah detoks rentan mengalami sakau. Para resident masih susah untuk menjalankan peraturan-peraturan yang ada, sehingga mereka hanya berada di dalam rumah tersebut dan belum diijinkan untuk keluar apalagi berinteraksi dengan orang lain.

Di rumah detoks terdapat satpam-satpam yang menjaga para resident di rumah ini. Para resident berada di rumah ini kurang lebih selama 2 minggu, sebelum pindah ke rumah Entry Unit. Setelah keluar dari Detoks, resident akan dipindahkan ke rumah Entry Unit. Ketika berada dirumah ini, mereka mulai belajar untuk memahami peraturan-peraturan yang akan mereka jalani selanjutnya pada masa rehabilitasi mereka. Di rumah ini, para resident diawasi oleh mayor, mereka juga tidak lagi dikurung di dalam rumah saja. Mereka sudah bisa keluar dari rumah, namun hanya sebatas di depan rumah. Sama seperti di Detoks, para resident akan berada di Entry Unit selama 2 minggu sebelum mereka pindah ke beberapa rumah lagi yang sudah memiliki program-program.

Selanjutnya ada House of Faith, yaitu rumah rehabilitas bagi pengguna narkoba laki-laki. Usia para resident di rumah ini yakni di bawah 35 tahun. Di rumah ini, para resident sudah mulai menjalankan program-program yang ada agar melatih tingkah laku mereka. Para resident akan berada di rumah ini selama 4 bulan. Para resident di rumah ini adalah mereka yang baru pertama kali direhabilitas, sedangkan di House of Hope merupakan rumah untuk para pengguna narkoba yang sudah pernah menjalani rehabilitas. Di House of Hope, para resident adalah laki-laki yang berumur diatas 30 tahun. Mereka akan menjalankan program yang ada, yang bermanfaat untuk mengubah pola pikir mereka supaya tidak lagi terikat pada narkoba. Para resident akan menjalankan program-program di rumah ini selama 4 bulan.

Selanjutnya ada House of Change, yaitu rumah untuk para pegawai negeri sipil serta pejabat Negara. Program yang dijalankan di HoC sama dengan di rumah Hope, perbedaannya adalah HoC dikhususkan bagi pegawai negeri sipil. Para resident menjalankan program di rumah ini juga selama 4 bulan. Setelah menjalani semua program yang ada, para resident akan dipindahkan ke rumah selanjutnya yaitu Re-entry. Re-entry adalah rumah terakhir untuk semua program rehabilitas yang sudah dijalani para resident. Mereka akan diamati dan dipersiapkan untuk dapat kembali ke tengah masyarakat. Meskipun mereka sudah siap dipulangkan, namun mereka akan terus berada dalam pantauan konselor. Para resident akan menjalankan program di rumah ini selama 1 bulan.

Selain rumah-rumah yang sudah dijelaskan, ada juga rumah yang dikhususkan untuk para pengguna narkoba perempuan, yaitu rumah  female. Rumah female dibagi menjadi 4 yakni Detoks, Entry Unit, Green, dan Re-Entry. Total dari semua program yang dijalani para pecandu adalah 6 bulan. Konsep yang mendasari semua program yang dijalani di Babesrehab BNN ini disebut dengan konsep Therapeutic Community (TC). TC adalah sekelompok orang yang mempunyai masalah yang sama, mereka berkumpul untuk saling membantu dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi. Istilah yang sering digunakan adalah man helping man to help himself, yaitu seseorang menolong orang lain untuk menolong dirinya sendiri.

bnn1bnn2

More Information»
Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo

Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo

Palangkaraya, Kalimantan Tengah

January 192016

Yayasan BOS berdiri sejak 1991 dengan nama awal Balikpapan Orangutan Society (Perhimpunan Pencinta Orangutan Balikpapan). Pada tahun 1998 nama tersebut berubah menjadi Yayasan Penyelamatan Orangutan Balikpapan (The Balikpapan Orangutan Survival Foundation). Pada tahun 2003, berubah nama lagi menjadi Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS), karena mengalami perluasan wilayah kerja ke Kalimantan Tengah. Yayasan BOS merupakan organisasi non-profit Indonesia dengan cabang di duabelas negara di dunia. Pemeriksaan pembukuan Yayasan BOS dilakukan oleh Multinasional Auditor Company, dan Yayasan BOS beroperasi di bawah perjanjian resmi dengan Kementrian Kehutanan untuk melestarikan orangutan dan ekosistemnya dengan melibatkan masyarakat sekitar. Yayasan BOS merupakan pengelola konservasi primata terbesar di dunia.

Sepuluh tahun terakhir penyusutan dan kerusakan hutan dataran rendah yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan telah mencapai titik kritis yang dapat membawa bencana ekologi skala besar bagi masyarakat. Bagi orangutan di Kalimantan, kerusakan kawasan hutan telah menurunkan jumlah habitat orangutan sebesar 1,5-2% per tahun. Selain itu, ancaman perburuan untuk dijadikan satwa peliharaan dan sumber makanan bagi masyarakat sekitar juga memperburuk nasib orangutan. Fakta menunjukkan bahwa orangutan adalah jangkar pengikat sebuah ekosistem hutan, dan manusia memerlukan keberadaan sang Bumi untuk bisa terus hidup. Selain itu, bumi perlu ekosistem dan ekosistem hanya ada jika elemen-elemennya ada.

Dari tujuh hutan hujan pengikat ozon utama di dunia, tiga di antaranya berada di Indonesia. Orangutan sebagai makhluk hidup yang tergantung pada keberadaan hutan dapat dianggap sebagai wakil terbaik dari struktur keanekaragaman hayati hutan hujan tropis yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu, orangutan dapat menjadi spesies paying untuk konservasi hutan hujan tropis. Tiap kilometer hutan dihuni orangutan dengan kepadatan satu hingga lima individu ekor dan dapat menyediakan habitat bagi lima jenis burung rangkong paling sedikit, lima puluh jenis pohon buah-buahan, limabelas jenis liana, dan berbagai jenis hewan lainnya. Berdasarkan jenis morfologi dan genetik yang terdapat pada populasi orangutan Borneo terdapat tiga kelompok sub-spesies yang berbeda, yaitu:

  1. Pongo pygmaeus pygmaeus di bagian Barat Laut Kalimantan, Utara Sungai Kapuas sampai Timur Laut Serawak
  2. Pongo pygmaeus wurmbii di Barat Daya Kalimantan, bagian Selatan Sungai Kapuas, dan bagian Barat Sungai Barito
  3. Pongo pygmaeus morio di Sabah dan bagian Timur Kalimantan sampai sejauh Sungai Mahakam.

Oleh karena kesadaran akan paparan di atas, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo berinisiatif untuk terus melindungi kelestarian orangutan berikut habitatnya dengan fasilitas dan program terencana.

Tiga fokus utama Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo adalah:

  1. Reintroduksi Orangutan.
  2. Rehabilitasi dan Perlindungan Habitat Alami
  3. Informasi, Program Pendidikan, dan Program Pemberdayaan Masyarakat.

Reintroduksi orangutan merupakan pelaksanaan program yang pertama kali dikembangkan secara ilmiah oleh Dr. Herman Rijksen dan menjadi Program Reintroduksi Orangutan satu-satunya yang diakui pemerintah Indonesia. Program reintroduksi ini bertujuan untuk mengembalikan orangutan ke habitat aslinya. Dua program reintroduksi yang dimiliki oleh Yayasan BOS adalah Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari dan Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah di Nyaru Menteng. Setelah program reintroduksi orangutan, ada juga program sosialisasi dan program pelepasan kembali.

PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia yang didirikan oleh Yayasan BOS memanfaatkan skema Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) untuk mendapatkan kawasan pelepasliaran orangutan. PT. RHOI saat ini dipercaya pemerintah untuk mengelola kawasan hutan seluas 86.450 ha sebagai kawasan pelepasan kembali orangutan Kalimantan ke habitat alaminya. Seluruh areal tersebut telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan melalui SK No.464/Menhut II/2010 per tanggal 18 Agustus 2010. Pemilihan lokasi tersebut melibatkan instansi terkait, seperti PHKA cq, Balai Konservasi Sumber Daya Alam, universitas dan lembaga lainnya. Kekayaan dan keanekaragaman hayati yang tinggi pada areal PT. RHOI di Kalimantan Timur digambarkan dari ditemukannya 395 jenis pohon dan 294 jenis fauna. Penerapan peran sosial hutan dilakukan dengan mengupayakan peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat sekitar melalui pengikutsertaan masyarakat secara aktif dalam kegiatan perusahaan, pemanfaatan jasa lingkungan, pendidikan dan upaya lainnya yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Program rehabilitasi dan perlindungan habitat alami bagi Yayasan BOS tidak hanya bertujuan untuk merehabilitasi lahan kritis atau melindungi areal hutan melalui pengelolaan sumber daya hutan, namun juga untuk memberdayakan masyarakat lokal yang hidup di sekitar hutan untuk melakukan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan tanpa harus memberikan dampak negatif terhadap alam. Salah satu program yang berada dalam program rehabilitasi lahan dan perlindungan habitat alami adalah pengendalian kebakaran di areal hutan melalui pembentukan regu api. Melalui Program Konservasi Kawasan Mawas, Yayasan BOS juga mulai mengupayakan pencegahan kebakaran dan menjaga stabilitas hidrologi, juga merestorasi dan merehabilitasi kawasan bekas terbakar yang dilakukan dengan melibatkan segenap masyarakat sekitar dalam program agroforestry. Dua program milik Yayasan BOS yang berfokus pada kegiatan perlindungan habitat orangutan dan rehabilitasi lahan, yaitu: Program Rehabilitasi Lahan Samboja Lestari dan Program Konservasi Kawasan Mawas.

Bagi Yayasan BOS, pendidikan adalah alat yang sangat penting untuk berhubungan dengan masyarakat, terutama mereka yang belum memiliki pengertian dasar mengenai konservasi satwa liar dan habitatnya. Salah satu kunci keberhasilan upaya penyelamatan satwa dan alam adalah pendidikan generasi muda dan komitmen masyarakat. Untuk menyelamatkan orangutan dari kepunahan, Yayasan BOS juga menjalin komunikasi dan kerjasama dengan berbagai organisasi lingkungan dalam maupun luar negeri. Keterlibatan secara aktif Yayasan BOS terlihat dari keikutsertaanya dalam menyusun strategi aksi dan konservasi orangutan Indonesia untuk tahun 2007-2017. Selain itu, Yayasan BOS juga mengadakan pengembangan situs Yayasan BOS, serta kegiatan kunjungan dan program di sekolah-sekolah, kampanye pengembangan kesadaran masyarakat, pameran, lokakarya, pelatihan para guru dan publikasi buku-buku untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat.

Salah satu upaya dalam mengurangi tekanan masyarakat terhadap kawasan konservasi adalah dengan meningkatkan berbagai aktifitas dalam penguatan kapasitas dan pengembangan ekonomi masyarakat melalui pengorganisasian serta pengelolaan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan.

ou1 ou2 ou3 ou4 ou5

More Information»

Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM) Solo, adalah sebuah organisasi non profit, independen, mandiri, yang merupakan kumpulan orang-orang berlatar belakang gerakan mahasiswa, organisasi sosial, serta bersifat pluralis, dengan komitmen pada penegakan Hak Asasi Manusia khususnya Hak Asasi Perempuan. Didirikan pertama kali pada tanggal 20 November 1998 serta terdaftar pada Akta Notaris No. 4, tanggal 6 Januari 1999 oleh kantor Notaris Sunarto, S.H di Jl. Prof. Dr. Supomo 20 A Surakarta dalam bentuk Yayasan.

SPEK-HAM menyadari  bahwa terjadinya berbagai bentuk ketidakadilan di masyarakat. Dan pada kenyataannya problem sosial, ekonomi, politik, dan budaya di masyarakat masih menempatkan perempuan dalam posisi paling terpinggirkan diantara kelompok masyarakat yang termiskinkan. Hal ini disebabkan oleh konsep pembangunan yang berpihak pada kekuatan modal dan pasar. Akumulasi modal dan kebutuhan pasar terbukti gagal menyelesaikan berbagai persoalan kebutuhan dasar dan hak dasar masyarakat, persoalan dominasi ideologi/budaya, persoalan kelas, gender, dan lingkungan. Kebutuhan dasar dan hak dasar masyarakat tidak menjadi prioritas untuk dipenuhi, sehingga berbagai bentuk ketidakadilan menjadi muara atas situasi kemiskinan yang diciptakan. Dalam situasi ini, kelompok perempuan yang secara kultural dan struktural terdiskriminasi menjadi bagian paling menderita dan terlemahkan oleh Negara.

Untuk itu sejak awal berdirinya, SPEK-HAM telah melakukan berbagai upaya penguatan dan pembangunan kesadaran masyarakat sipil. Upaya-upaya ini dilakukan sebagai komitmen organisasi untuk ikut berkontribusi dalam proses perubahan sosial menuju tatanan masyarakat yang lebih adil dan bermartabat, dengan menggunakan perspektif gender, hak asasi manusia, pluralisme, dan keseimbangan lingkungan sebagai landasan gerak organisasi dalam memperjuangkan visi, misi, dan tujuannya.

Berdasarkan kerangka pikir tersebut di atas, SPEK-HAM melihat perjuangan untuk  mendapatkan hak-hak dan pemenuhan atas kebutuhan dasar masyarakat merupakan mandat organisasi. SPEK-HAM merumuskan tiga strategi utama, yaitu: pengorganisasian kelompok masyarakat miskin, pendidikan kritis untuk perubahan pola pikir, dan advokasi untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan perlindungan hak dasar masyarakat sipil. Dari semua tahapan tersebut di atas, proses pembangunan gerakan sosial menuju masyarakat yang berkeadilan sosial dengan menggunakan perspektif gender, hak asasi manusia, pluralisme, dan lingkungan, menjadi dimensi terpenting.

mtf_mNmKT_103.jpg IMG_20150527_152924 IMG_20150527_155143 IMG_20150530_092652 IMG_20150530_094227 IMG_20150530_094244

More Information»
Women’s Crisis Center “Pandulangu Angu” GKS
January 192016

Mencermati dan memahami situasi serta kondisi yang tengah dihadapi kaum perempuan Sumba, Komisi Perempuan Gereja Kristen Sumba mencoba turut aktif dalam memberikan kepeduliannya. Semakin maraknya kasus dan permasalahan tentang kekerasan di dalam rumah tangga, membuat Komisi Perempuan berinisiatif membentuk sebuah gerakan menentang tindak kekerasan didasari budaya yang telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Sumba. Women’s Crisis Center  “Pandulangu Angu”, hadir sebagai perwujudan gerakan tersebut.

Hasil keputusan Sidang Sinode GKS pada Juli 2014, mengesahkan sebuah pusat pelayan perempuan dan anak korban kekerasan bernama Women’s Crisis Center “Pandulangu Angu”. Bergerak di bidang pastoral, WCC hadir sebagai lembaga pendampingan dan pelayanan terpadu korban kekerasan. Memulai kegiatan pada 1 September 2014, lembaga ini mengawali langkahnya dengan mengirim beberapa perutusan untuk melakukan studi banding dan penelitian mendalam tentang angka kekerasan yang terjadi di Pulau Sumba. Dimotori oleh beberapa Pendeta perempuan GKS beserta  Vikaris-vikaris muda, lembaga ini telah berjalan selama satu tahun. Kegiatan-kegiatan yang sudah ataupun sedang berjalan diantaranya; training konselor, diskusi interaktif di Radio, studi banding dan menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga terkait, kampanye yang menyuarakan “STOP KEKERASAN pada PEREMPUAN” (disesuaikan dengan peringatan Hari Anti Kekerasan dan Hari Perempuan Internasional), mengadakan seminar tentang “Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Perjanjian Lama”, serta melakukan sosialisasi terhadap Komisi Perempuan GKS. Sambil menantikan kegiatan-kegiatan yang telah dijadwalkan, WCC membukakan pintunya untuk setiap klien yang hendak melaporkan seputar tindak kekerasan yang terjadi baik di keluarga atau bahkan di masyarakat.

Kegiatan awal yang telah ditempuh pihak WCC membuahkan hasil. WCC mendapat dukungan baik tenaga maupun dana dari beberapa pihak terkait. Salah satunya ialah beberapa lembaga swadaya masyarakat sekitar pulau Sumba yang bergerak di bidang perlindungan perempuan dan anak. Selain itu, lembaga ini juga mendapat dukungan dalam bentuk pendanaan dari beberapa negara, antara lain Belanda dan Jerman. Dukungan dan bantuan tersebut telah diraih dari hasil kerja sama antarkedua belah pihak tersebut.

Tidak hanya bersosialisasi mengenai isu gender (kekerasan terhadap perempuan), namun lembaga ini juga hadir sebagai pendamping dan pembina pemuda-pemudi Sumba dalam menjalani suka duka masa mudanya. Sebagai contoh, WCC seringkali diundang dalam beberapa kegiatan yang diadakan pemuda-pemudi gereja atau non-gereja seperti retreat, diskusi ringan, seminar, atau pembinaan semacamnya. Sehingga tercapai misi dari lembaga ini, yaitu untuk dapat membangun, memberi kepercayaan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap isu-isu yang dihadapi seiring perkembangan zaman.

“Pandulangu Angu” yang berarti menolong sesama, merupakan seruan yang ingin disampaikan kepada masyarakat Sumba dalam memahami kehidupan bermasyarakat. Menolong sesama atau mengasihi sesama yang dipahami sejalan dengan ajaran Kristen menjadi jati disi tersendiri bagi lembaga ini dalam menjalankan misi pengajaran iman Kristen.

wcc1 wcc2 wcc3 wcc4 wcc5

More Information»

Bandungwangi merupakan satu-satunya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bersifat nirlaba di Indonesia dari dan untuk kepentingan Pekerja Seks Perempuan (PSP). Bandungwangi berdiri pada tahun 1995 sebagai sebuah kelompok informal PSP yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan kesehatan reproduksi di kalangan PSP, termasuk HIV/AIDS. Kemudian, pada tahun 1999 kelompok ini diresmikan menjadi sebuah Yayasan. Sampai saat ini, Bandungwangi selalu berusaha untuk menguatkan kualitas pelayanan mereka. Seluruh pelaksana harian Bandungwangi adalah perempuan yang memiliki pengalaman kerja sebagai (PSP). Hal tersebut menjadi kekuatan utama Bandungwangi dalam memastikan pemahaman dan kepedulian yang tinggi serta tulus dalam membantu dan mendampingi para PSP. Pengecualian hanya berlaku bagi penjaga kantor/keamanan. Wilayah kerja Bandungwangi adalah Propinsi DKI Jakarta, yaitu Jakarta Timur dan Jakarta Utara.

VISI

Perempuan Indonesia yang Sehat, Sejahtera, dan Tanpa Diskriminasi.

  • Sehat: Perubahan perilaku hidup sehat, memahami reproduksi dan hak seksualitas
  • Sejahtera: Memiliki pekerjaan lain, mampu keluar dari dunia prostitusi, dan bebas dari eksploitasi seksual
  • Tanpa diskriminasi: tidak ada perbedaan, terhapusnya stigma dan diskriminasi, perlindungan dan penegakan hukum.

MISI

  • Membantu pemerintah dalam memberdayakan perempuan dan anak perempuan yang bekerja dalam dunia prostitusi melalui penjangkauan, pendampingan, penyuluhan, pelatihan, pemeriksaan, dan pengembangan ekonomi secara aktif
  • Bekerjasama dengan pemerintah dan organisasi lain untuk mengatasi permasalahan perempuan dan anak perempuan dalam kesehatan reproduksi, hak seksualitas dan kesetaraan gender

Program

  • Penguatan kapasitas pekerja sekerja seks perempuan dalam Hak dan kesehatan reproduksi & seksualitas termasuk HIV/AIDS
  • Fasilitasi pengembangan dan pengelolaan jaringan dan dukungan pengelolaan jaringan dan dukungan sebaya di antara PSP
  • Pemberdayaan PSP agar mampu bertahan di dunia prostitusi atau mendapatkan pekerjaan lain yang dirasa lebih sesuai
  • Memastikan anak perempuan (dibawah 18 tahun) keluar dari dunia prostitusi sesegera mungkin dan memiliki bekal kecakapanm ketrampilan & rencana hidup yang berkualitas.

Dalam mencapai setiap tujuan dan program, Bandungwangi menyadari bahwa mereka tidak mungkin bekerja sendiri. Oleh karena itu, Bandungwangi berusaha untuk terus mengembangkan dan menjaga hubungan baik dengan para ahli dan organisasi terkait, terutama yang bergerak dalam bidang hak dan kesehatan reproduksi & seksualitas (HKR&S), kesetaraan gender, hak-hak asasi manusia, dan pemberdayaan diri. Kemudian, sejak berdiri di tahun 1999, Bandungwangi telah menerima dana dari EPOCH/USAID, ASA/USAID, Japan Embassy, Plan International, Individu-individu peduli, The Body Shop International, Ministry of Women Empowerment, ILO, UNFPA, dan Aids Fonds.

Beberapa keberhasilan utama sejak Bandungwangi berdiri, yaitu (1) Berhasil memberikan pendidikan seputar HKR&S terutama HIV/AIDS kepada sekitar 12.500-13.000 PSP. Sekitar 2.000 PSP diantaranya adalah PSP muda yang berusia dibawah 18 tahun; (2) Berhasil memberikan pendampingan kepada sekitar 10.000-12.000 PSP dalam menguatkan kecakapan dan pengelolaan hidup bagi mereka termasuk pelatihan keterampilan untuk dijadikan sumber pendapatan. Sekitar 1.000 PSP adalah PSP muda berusia dibawah 18 tahun; (3) Sekitar 1,200-1,300 perempuan yang terpaksa menjadi PSP karena fasilitasi langsung dan tidak langsung Bandungwangi telah menemukan pekerjaan lain yang mereka rasa lebih sesuai dan dapat memberikan kedamaian pikiran; (4) Memberikan pendidikan dan penyebaran informasi kepada lebih dari 5 juta orang mengenai PSP dan hak asasi manusia melalui media massa dan rapat-rapat advokasi dengan para penentu kebijakan dan program.

psp3 psp4 psp5 psp6 psp1 psp2

More Information»
Yayasan GAYa Nusantara

Yayasan GAYa Nusantara

Surabaya, Jawa Timur

January 182016

GAYa Nusantara adalah pelopor organisasi gay di Indonesia yang terbuka dan bangga akan jati dirinya, serta tidak mempermasalahkan keragaman seks, gender, dan seksualitas dan berbagai latar belakang lainnya. Organisasi non profit ini didirikan pada 1 Agustus 1987 oleh Dede Oetomo sebagai perkumpulan untuk memperjuangkan kepedulian akan hak-hak LGBTIQ. Lembaga ini sesuai dengan perjalanan waktu berubah bentuk menjadi sebuah yayasan. Pada 27 Juni 2012, Yayasan GAYa Nusantara mendapat pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI.

Yayasan GAYa Nusantara memiliki motto: “encourage people to be proud of their sexuality.” GAYa Nusantara memiliki keyakinan bahwa identitas gender dan orientasi seksual di masyarakat sangat beragam. Heteroseksual bukanlah satu-satunya orientasi seksual yang normal. Identitas gender  bukan hanya perempuan dan laki-laki. LGBTIQ memiliki hak asasi yang sama dengan individu yang lain.  Visi dari Yayasan GAYa Nusantara adalah: terciptanya suatu Indonesia yang menghargai, menjamin, dan memenuhi hak asasi manusia di mana orang dapat hidup dalam kesetaraan, kemerdekaan, dan keanekaragaman hal-hal yang berkaitan dengan tubuh, identitas, dan ekspresi gender dan orientasi seksual.  Sedangkan misi dari Yayasan GAYa Nusantara adalah: (1) melakukan penelitian, publikasi, dan pendidikan dalam bidang HAM, gender dan seksualitas, kesehatan, dan kesejahteraan seksual. (2) Menyediakan pelayanan dan menghimpun informasi seputar HAM, seks, gender dan seksualitas, kesehatan, dan kesejahteraan seksual. (3) Memelopori dan mendorong gerakan LGBTIQ.

Yayasan GAYa Nusantara memiliki nilai-nilai dasar:

  1. Humanisme: menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (HAM).
  2. Kesetaraan: tidak ada perbedaan atas dasar apapun (seks, gender, orientasi, ras, suku, agama, dll).
  3. Demokrasi: pengambilan keputusan yang terbuka, partisipatif dengan kemampuan menerima perbedaan dan kesetaraan.
  4. Propilihan: menghargai semua pilihan yang dibuat oleh setiap orang.
  5. Nonkekerasan: lebih mengutamakan dialog untuk mencapai kesepakatan dan berbudaya sekuat mungkin untuk menghindari kekerasan secara fisik, psikis, sosial, dan budaya, sebagai bagian dari upaya penegakan HAM dan memerangi ketidakadilan.
  6. Solidaritas: menghargai dan menghormati setiap orang.
  7. Kemandirian: kebebasan untuk menentukan arah dan tujuan organisasi, tanpa dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan pihak lain.
  8. Keterbukaan: konsisten dan jujur dalam memberikan fakta dan informasi yang sesungguhnya sejauh untuk kepentingan dan tujuan organisasi serta visi dan misi.
  9. Kerelawanan: bekerja tanpa pamrih yang mengutamakan kepentingan dan tujuan organisasi sesuai visi dan misi.

Kegiatan yang dilaksanakan di Yayasan GAYa Nusantara dibagi ke dalam tiga divisi:

-Divisi Penelitian dan Pendidikan: melakukan penelitian bertema seksualitas, kursus gender dan seksualitas, maupun workshop untuk pengembangan kapasitas.

-Divisi Penyadaran Publik dan Advokasi: menyediakan media publikasi antara lain terbitan, website, film pendek. Melakukan advokasi seperti media wacth, dokumentasi kasus. Melakukan kegiatan publik seperti pemutaran film, bedah buku, dialog publik, program radio dan televisi, pameran seni, pertunjukan seni. Melakukan pengembangan dan pemeliharaan, serta pemetaan dan kunjungan ke organisasi/komunitas gay, lesbian, dan waria di daerah.

-Divisi Pelayanan Kesejahteraan dan Kesehatan Seksual: secara fisik melakukan komunikasi perubahan perilaku (program HIV/AIDS), kampanye safe sex.  Secara psiko-sosial melakukan konseling (email, telepon, surat, dan tatap muka).

Beberapa keberhasilan yang telah dicapai oleh Yayasan GAYa Nusantara antara lain:

-Membangun kerjasama mutualis dengan enam rumah sakit dan delapan PKM (Pusat Kesehatan Masyarakat/Puskesmas) dalam menyediakan layanan pengobatan IMS (infeksi menular seksual) dan VCT (voluntary conseling test) di Surabaya, yaitu: RS. Dr. Soetomo, RS. Soewandhie, RSJ. Menur, RSAL, RS. Bhayangkara, RSP. Karangtembok, PKM. Perak Timur, PKM. Kedungdoro, PKM. Putat Jaya, PKM. Sememi, PKM. Kedurus, PKM. Jagir, PKM. Dupak, PKM. Pucang.

-Menjadi inisiator layanan mobile clinic berbasis komunitas dan juga menjadi pusat kajian gender dan seksualitas.

-Memperkuat jaringan antara MK (Manejer kasus) dan konselor dari Yayasan GAYa Nusantara  dengan MK dan konselor dari PKM untuk menyediakan layanan VCT dan PDP (perataan dukungan dan pengobatan,) di kota Surabaya.

-Membentuk dan menguatkan empat KDS (kelompok dampingan sosial) positif: Recoffen 1, Recoffen 2, HCS, DAN No Name.

-Mengorganisir komunitas Gay dan LSL (Laki-laki yang bermain seks dengan laki-laki) melalui gerakan dua puluh kelompok sesuai minat di Surabaya (Adhinata Family, Astinapura, Grande, Walper, M2M, Geng Party, DDS, Miscas, Borju, Lembayung Sutra, IPM, Nelangseng, JAE, PBC, PKI, CS, Orgy, Rumpik, dan Risky Grup).

-Mendorong lahirnya Perda HIV dan peningkatan anggaran HIV & AIDS pada APBD Kota Surabaya pada tahun 2013.

-Menjadi bagian dari jaringan GWL-Ina (Gay, Waria, LSL-Indonesia) dalam pergerakan advokasi dan juga untuk mengurangi stigma dan diskriminasi pada komunitas LGBT.

gn1 gn2 gn3 gn4 gn5

More Information»
Yayasan Komunitas Sahabat Anak

Yayasan Komunitas Sahabat Anak

Jakarta Pusat, DKI Jakarta

January 182016

Yayasan Komunitas Sahabat Anak (Sahabat Anak / SA) dirintis oleh sekelompok volunteer yang memulai kegiatan pelayanan kepada anak-anak marginal pada tahun 1997. Pada awalnya SA bergerak dalam usaha memenuhi kebutuhan dari anak-anak binaan, tapi dalam perkembangannya SA melakukan transisi paradigma dari pemenuhan kebutuhan anak ke pemenuhan hak-hak anak. Setiap orang yang terlibat dalam program dan kegiatan SA menunjukkan komitmen yang kuat terhadap  bilai dasar yayasan, yakni, bahwa setiap anak adalah manusia, ciptaan Allah, yang berharga dan mulia.

SA menyadari bahwa anak-anak yang terlibat dan aktif berperan di SA merupakan anak-anak yang rentan menjadi korban tindak kekerasan, penelantaran dan eksploitasi. SA berkomitmen menjunjung tinggi prinsip perlindungan anak dan berusaha mendukung hak bagi setiap anak, khususnya anak jalanan. Sesuai dengan Konvensi Hak Anak Internasional (KHAI), setiap anak memilki hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang, mendapatkan perlindungan dari bahaya, dan juga berpartisipasi. SA bekerja dengan  berpegang kepada pemenuhan keempat dsar anak tersebut.

Seblum berbentuk yayasan, Sahabat Anak adalah sebuah komunitas saja, namun akibat perkembangan yang terus maju dan para pengurus merasakan perlunya sebuah payung hokum dalam melaksanakan setip kegiatan maka pada tahun 2010 mereka berubah menjadi sebuah yayasan. Sahabat Anak berbadan hukum yayasan sesuai dengan Akte Notaris 08 tanggal 4 Juni 2010 yang dikeluarkan oleh Notaris Arfiana Purbohadi, SH. Teregistrasi di Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan nomor: AHU-1743.AH.01.04 tahun 2011 dan terdaftar di Dinas Sosial DKI Jakarta.

Hingga saat ini, Sahabat Anak mempunyai beberapa tempat sebagai usaha mengembangakan pelayanannya. Sebagai pusatnya, di Jalan Tambak memilki satu gedung sebagai tempat adik-adik meuntut ilmu. Selain itu, ada pula Sahabat Anak  di lokasi lain, seperti di SA Kota Tua, SA Grogol, SA Bogor, SA Cijantung, SA Tanah Abang. Dengan banyaknya lokasi yang tersebar di sejumlah daerah Jabodetabek, SA beraharap dapat memaksimalkan pelayanan anak yang mereka lakukan.

Visi dan Misi Sahabat Anak

Visi Sahabat Anak:

Menyadarkan anak jalanan bahwa mereka sebagai manusia ciptaan Allah yang berharga dan mulia.

Misi Sahabat Anak:

Melibatkan sebanyak mungkin pribadi/pihak  untuk peduli kepada anak jalanan dengan menjadi seorang sahabat yang menaruh kasih setiap waktu.

Prinsip Pelayanan Sahabat Anak

  1. Yayasan Komunitas SA mengakui bahwa setiap manusia adalah makhluk mulia dan berharga yang diciptakan oleh Allah, serta memiliki posisi yang sama di hadapan Allah.
  2. Yayasan Komunitas SA terbuka untuk siapa saja yang mengakui prinsip di atas.
  3. Yayasan Komunitas Sahabat Anak adalah pelayanan social.

Spiritualitas Pelayanan

Pelayanan yang memilki sikap rendah hati, komitmen tinggi, konsisten dan setia mengangkat harkat (harga diri dan bakat) kaum marginal, khususnya anak jalanan, dan mengakui bahwa manusia adalah satu-satunya ciptaan Allah yang paling berharga dan mulia.

Deklarasi Sahabat Anak

Gerakan Sahabat Anak mengakui bahwa setiap anak mulia dan berharga, yang memilki kesetaraan dengan semua manusia.

Gerakan Sahabat Anak menghargai, menghormati, dan memperjuangkan terwujudnya gak-hak asasidasar anak untuk bertahan hidup, bertumbuh kembang, memperoleh perlindungan, dan berpartisipasi.

Sebagai Sahabat, kami akan memberikan tenaga, pikiran, dan waktu agar setiap anak dapat terpenuhi hak-hak dasarnya tanpa memandang perbedaan suku, agam, warba, kulit, dan kelas sosial.

20150604_164450 20150609_122629 20150609_133717 20150708_180532 C360_2015-05-27-13-58-50-672 C360_2015-07-10-17-34-30-036

More Information»
Yayasan Kristen Trukajaya

Yayasan Kristen Trukajaya

Salatiga, Jawa Tengah

January 182016

Yayasan Kristen Trukajaya berdiri sejak tahun 1966, tepatnya tanggal 16 Mei. Yayasan ini berada di bawah naungan Sinode GKJ. Berdirinya Trukajaya diprakarsai oleh D.S. Basuki Prabawinata. Pendirian yayasan ini merupakan jawaban atas panggilan religius ketika melihat kondisi petani dan rakyat pedesaan saat peristiwa G 30 S-PKI  dan konflik antar golongan. Kondisi ini menjadi dasar berdirinya Trukajaya.

Nama yayasan ini pada saat didirikan adalah Yayasan Kristen Transmigrasi Truka Jaya. Kata “transmigrasi” terdapat dalam nama yayasan karena awalnya Trukajaya bergerak dalam bidang transmigrasi. Trukajaya merupakan pelopor program transmigrasi di Indonesia. Kemiskinan dan kondisi masyarakat desa di Jawa yang memprihatinkan menjadi dasar ide transmigrasi. Masyarakat miskin yang tidak mempunyai lahan untuk diolah dan digunakan sebagai tempat tinggal dipindahkan ke daerah yang masih kosong dan berpotensi untuk diolah.

Langkah awal yang dilakukan adalah dengan membeli lahan hutan di Sumatera Selatan. Lahan ini dibeli agar transmigran dapat memiliki penghasilan dan tempat tinggal. Kekayaan alam yang melimpah dapat diolah untuk menghasilkan pendapatan. Setelah pembelian lahan selesai, Trukajaya mulai bergerak menyiapkan penampungan untuk transmigran. Selain penampungan, logistik juga dipersiapkan sebagai penopang hidup selama transmigran belum mendapat penghasilan.

Tidak hanya persiapan lahan dan logistik, Trukajaya juga menyiapkan calon transmigran dengan memberi pelatihan pengorganisasian hidup bersama. Pelatihan ini dilakukan agar masarakat yang akan menempati tempat baru dapat hidup berdampingan dan bersosialisasi dengan baik. Trukajaya juga memberi pelatihan tentang pengolahan sumber daya alam agar transmigran mempunyai penghasilan melalui kekayaan alam.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari banyak pihak. Trukajaya mendapat dukungan dan pujian karena kegiatan ini memberi penghargaan baru bagi masyarakat miskin dan program transmigrasi ini merupakan yang pertama dilakukan di Indonesia. Dalam kurun waktu tahun 1978 sampai 1982 Trukajaya sudah memberangkatkan tujuh angkatan transmigrasi. Namun demikian, niat baik belum tentu mendapat tanggapan baik. Masyarakat yang mengikuti program ini banyak yang pindah keyakinan menjadi Kristen dan hal tersebut menimbulkan isu kristenisasi. Setelah melalui sekian banyak rintangan, program transmigrasi tidak boleh lagi dilakukan dan Trukajaya menghentikan kegiatan transmigrasi.

Setelah yayasan tidak boleh mengirimkan transmigran, pengurus mengubah nama, visi, dan misi lembaga. Orientasi pemerintahan orde baru yang cenderung mengembangkan ekonomi membuat Trukajaya memiliki tujuan baru. Tujuan baru ini ialah mengembangkan dan menolong rakyat yang terpinggirkan. Tujuan ini yang sampai sekarang masih menjadi dasar berjalannya Yayasan Kristen Trukajaya.

Saat ini Trukajaya berusaha mengembangkan pemikiran dan praktik diakonia dan teologi sosial antara gereja dan masyarakat. Persoalan pangan dan kemiskinan menjadi konsentrasi utama yayasan untuk mengembangkan masyarakat. Trukajaya bekerja sama dengan berberapa pihak mulai dari pemerintahan hingga swasta agar tercipta kedaulatan pangan dan perkembangan masyarakat. Program yang sudah dijalankkan adalah pertanian, peternakan, dan energi alternatif. Sampai saat ini Trukajaya masih terus berusaha mengembangkan program dan memperluas jangkauan pelayanan agar kasih Tuhan dapat dirasakan masyarakat berbagai kalangan tanpa memandang agama, gender, ras, dll.

Trukajaya memiliki beberapa divisi dan bagian yang terdapat di dalamnya yang bekerja sesuai dengan bidangnya. Dua divisi utama adalah divisi Program dan Training, serta divisi Usaha Produktif. Dalam usaha produktif terdapat bidang Warung Hijau, Micro Finance, dan Training Center PUSPAPARI. Seluruh divisi dan staf bekerja sesuai bidangnya dan terus berusaha mengembangkan kualitas pelayanan. Usaha untuk berkembang bukan hanya bertujuan mengembangkan yayasan, tetapi yang terpenting adalah mengembangkan masyarakat agar tercipta kesejahteraan bagi masyarakat yang selama ini luput dari perhatian banyak pihak termasuk kita.

20150527_102419 20150610_085047 IMG_3753 IMG_4094 IMG_4267 IMG_4527

More Information»
LAYAK (Layanan Anak dan Keluarga)
January 182016

Layak adalah sebuah lambaga yang menangani isu-isu dalam masyarakat. Permasalahan mengenai Hiv dan Aids menjadi permasalahan yang sedang menjadi topik hangat dalam lembaga ini. Pada awalnya lembaga ini berdiri dari keperihatinan beberapa mahasiswa yang berfokus kepada isu-isu sosial. Mereka membentuk lembaga ini untuk menanggapi permasalahan-permasalahan yang ada dalam masyarakat, awalnya mereka perihatin melihat keadaan masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan dan penyakit sosial yang semakin berkembang pesat. Berjalanya waktu lembaga ini bekerja sama dengan PKBI untuk menjangkau isu-isu mengenai Hiv dan Aids.

Lembaga ini terbagi dalam beberapa divisi yang memiliki tugas yang berbeda-beda pula. Divisi-divisi tersebut adalah PO,PS dan CO. Setiap divisi memiliki pekerjaan yang berbeda-beda, tetapi mereka memiliki tugas yang saling berkaitan dalam lapangan pekerjaan. Berikut penjelasan tugas dari setiap devisi ini :

PO ( petugas outreach)

PO memiliki tugas untuk menjangkau teman-teman yang beresiko tinggi terkena virus Hiv. Biasanya mereka menjangkau lokasi-lokasi para pemakai narkoba yang menggunakan jarum suntik. Tugas mereka adalah mengingatkan para teman-teman beresiko untuk melakukan VCT agar mengetahui apakah dirinya sudah terkena virus. Tugas utama dari PO adalah untuk menyadarkan teman-teman bersiko akan kesehatan mereka. Setelah mereka sadar dan menerima hasil positif PS mengambil alih tugas dari PO dan melanjutkan pengobatan yang akan mereka peroleh.

PS ( peer support)

PS memiliki tugas untuk menangai teman-teman ODHA (orang dengan HIv dan Aids) di rumah sakit. Mereka bertugas untuk membantu teman-teman dalam mengakses pengobatan di rumah sakit. Biasanya mereka bertugas untuk mengurus BPJS (badan penyelengara jaminan social) dan menemani mereka dalam proses mengobatan mereka. Selain itu mereka juga bertugas untuk memberikan informasi mengenai jenis-jenis pengobatan yang harus mereka akses untuk membuat kesehatan mereka tetap stabil sehingga mereka tidak sampai pada tahap Aids dan lebih parahnya lagi adalah tahap terminal. Namun, tugas mereka bukan untuk memanjakan seorang ODHA, tetapi mereka bertugas untuk membuat seorang ODHA bisa mandiri dalam mengakses pengobatan mereka sendiri.

CO ( community organizer)

CO memiliki tugas untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai penanganan rakyat yang mengalami permasalahan kesehatan. CO biasanya bertugas untuk membentuk kader-kader muda yang nantinya bertugas mengontrol sebuah wilayah dalam penyelanggaran program kesehatan. Kader-kader muda nantinya akan dibekali informasi-informasi awal mengenai penanganan bagi teman-teman yang memiliki permasalahan dalam sosial, misalnya orang-orang yang menggunakan narkoba dan teman-teman yang sudah terinfeksi virus HIV. Secara garis besar CO bertugas untuk membentuk sebuah cara pandang baru masyarakat dalam menanggapi permasalahan kesehatan yang ada dalam lingkungan mereka. Mereka membuat diskriminasi menjadi hal yang tidak pantas untuk dilakukan kepada orang-orang yang memiliki permasalahan sosial seperti pemakai narkoba, teman-teman ODAH dan WPS (wanita pekerja seks).

Semua divisi ini akan saling berkolaborasi dalam menanggapi fakta-fakta yang ada dilapangan. Biasanya mereka mengadakan kordinasi lapangan setiap hari jumat untuk membahas mengenai permasalahan-permsalahan yang terjadi dilapangan. Kordinasi ini dipimpin oleh seorang kordinator lapangan, tugas kordinator ini bertugas untuk menampung semua informasi-informasi yang ada untuk diperbincangkan kepada semua karyawan yang ada di kantor. Seorang kordinator harus memiliki pengalaman yang lebih dan sudah melewati setiap tahap dari ketiga divisi-divisi ini. Semua informasi ini nantinya akan ditampung dalam sebuah folder yang nantinya dikirim ke pusat untuk ditimbak lanjuti.

layak1 layak2 Clipboard16 layak3

More Information»
Binawarga
January 182016

Binawarga adalah lembaga/badan pelayanan GKIsw Jabar yang berkonsentrasi melayani pelatihan dan pembinaan bagi warga gereja. Visinya sudah jelas, yakni memfasilitasi terjadinya transformasi warga gereja dan masyarakat melalui pembinaan, pelatihan dan pengembangan spiritualitas. Melakukan pembinaan dan pelatihan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran dalam proses transformasi kehidupan spiritual sudah menjadi panggilan bagi Binawarga. Sesuai dengan pesan Alkitab yang dicatat di Efesus 4:12-15, Pembinaan yang diberi Binawarga bagi gereja merupakan upaya dorongan bagi warga gereja untuk mencerminkan kehidupan Kristen dalam hidup sehari-hari.

Pembinaan dan pelatihan yang diberi Binawarga dilakukan dalam bentuk ceramah dan aktivitas seperti retreat. Dalam retreat Binawarga, umumnya selalu diisi oleh kegiatan yang disebut dengan indoor activity dan outdoor activity. Indoor activity diisi dengan ceramah/khotbah, sedangkan outdoor activity diisi dengan aktivitas bermain seperti outbound. Permainan-permainan dalam outbound yang diberikan Binawarga bukan tanpa nilai. Tetapi permainan tersebut nantinya akan direfleksikan dengan nilai-nilai hidup sehari-hari. Selain itu, Binawarga juga rutin membuat bahan pembinaan untuk warga gereja, sekolah, perguruan tinggi, dan perusahaan yang dikembangkan oleh Pak Himawan (mentor saya).

Di samping bidang pembinaan dan pelatihan, Binawarga juga memiliki satu bidang lagi, yakni bidang penerbitan. Visi Binawarga dalam bidang penerbitan adalah menerbitkan bacaan Kristiani yang berkualitas dan mendorong pembaca untuk bertumbuh dalam iman. Melalui penerbitan buku, Binawarga berupaya untuk menyediakan bahan-bahan pembinaan dan bacaan-bacaan kristiani yang sesuai dengan jenjang usia warga gereja mulai dari anak, praremaja, remaja, pemuda, dewasa, dan lansia. Binawarga juga menerbitkan bahan yang dapat memperlengkapi para pelayan gerejawi dalam melakukan tugas pelayanannya. Buku-buku terbitan Binawarga yang umumnya sudah dikenal banyak orang adalah Suluh Sekolah Minggu yang biasa dipakai oleh GSM untuk mengajar SM di Gereja Kristen Indonesia.

Sebagai informasi tambahan, Binawarga juga memiliki wisma yang menampung sekitar 125 orang di km 77 Cipayung, tempat pelatihan-pelatihan diadakan. Binawarga menyebut dirinya partner in growing, sebab Binawarga siap melayani siapa saja yang merindukan pertumbuhan dan membutuhkan pelatihan, buku-buku yang memperlengkapinya. Itu berarti Binawarga terbuka bagi berbagai kalangan dan denominasi yang ada. Binawarga ada untuk melayani dan menjadi berkat bagi banyak orang.

bw5 bw1 bw2 bw3 bw4

More Information»
Yayasan Pelita Ilmu (YPI)

Yayasan Pelita Ilmu (YPI)

Jakarta Selatan, DKI Jakarta

January 182016

Yayasan Pelita Ilmu (YPI) adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang kesehatan dan pendidikan. YPI didirikan tanggal 4 Desember 1989 oleh tiga tokoh yang saat ini menjabat sebagai Pembina Yayasan, di antaranya: Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI; Prof. dr. Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM; Sri Wahyuningsih, SKM, MSi.

Adapun yang menjadi visi YPI adalah menjadi institusi yang terkemuka dan konsisten dalam mewujudkan masyarakat yang berperilaku hidup sehat, mandiri, dan produktif serta layanan kesehatan yang berkualitas. Misinya adalah memberdayakan masyarakat untuk pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS melalui pendidikan, pendampingan, penjangkauan, dan penghidupan yang berdasar pada prinsip partisipasi, kemitraan, keadilan, transparansi, dan akuntabilitas.

Dalam kinerjanya, YPI memiliki 4 program utama. Pertama, Program Pencegahan. Program ini terdiri atas:

  • Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan AIDS di Sekolah
  • Pendampingan Remaja di Area Publik dan Komunitas
  • Pendampingan Anak dan Remaja di Jalan
  • Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi (PMTCT)
  • Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan AIDS bagi Anak di Lapas
  • Penanggulangan Narkoba Berbasis Masyarakat
  • Penyuluhan bagi Calon Tenaga Kerja Indonesia
  • Kampanye AIDS di Tempat Umum

Kedua, Program  Voluntary Counseling Test (VCT) dan Layanan Kesehatan. Program ini terdiri atas:

  • Layanan Konseling & Tes HIV (VCT) bagi Populasi Resiko
  • Layanan Klinik Kesehatan Remaja
  • Layanan Klinik Keluarga (Umum, Perempuan & Anak)
  • VCT dan CST bagi Warga Binaan Pemasyarakatan

Ketiga, Program Dukungan untuk Orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Program ini terdiri atas:

  • Layanan Sahabat (Buddy Services)
  • Kunjungan Rumah dan Kunjungan Rumah Sakit
  • Layanan Rumah Singgah
  • Terapi Kreatif
  • Bantuan Kerja Mandiri
  • Kelompok Persahabatan Odha
  • Dukungan Kesehatan, Nutrisi, & Pendidikan Odha Anak
  • Dampingan Masalah Diskriminasi
  • Bantuan Biaya Pengobatan dan Perawatan
  • Layanan Rujukan: RS, Puskesmas, Psikolog, dll

Keempat, Program Pendukung Lainnya. Program ini terdiri atas:

  • Pendidikan Keterampilan Hidup (life skill education)
  • Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
  • Fasilitasi Pelatihan (VCT, PMTCT, Peer-Education, dll)
  • Fasilitasi Magang (Home-Care, PMTCT, dll)
  • Fasilitasi Penelitian, Skripsi, Thesis, dll.
  • Penerbitan Materi KIE
  • Layanan Perpustakaan

Luas dan besarnya misi yang diemban oleh YPI selalu dibarengi dengan nilai-nilai dan prinsip kerja luhur. Keenam prinsip nilai yang dipegang teguh, di antaranya:

  1. Kemandirian. YPI selalu berupaya mengemban kemampuan internal dalam pengelolaan program maupun lembaga. YPI selalu berupaya membangun landasan kemampuan dan inisiatif masyarakat beneficiaries untuk menyelesaikan masalah dasar kesehatan mereka.
  2. Transparansi dan akuntabilitas. YPI menjamin aksesibilitas informasi dan pertanggunggugatan dalam pengelolaan program maupun lembaga.
  3. Partisipasi. YPI selalu membuka ruang keterlibatan bagi masyarakat beneficiaries dalam pengelolaan program.
  4. Keadilan gender. YPI selalu beruuapa untuk mengatasi ketimpangan relasi gender dalam pengelolaan program dan lembaga. YPI tidak akan bekerjasama dengan pihak lain maupun menjalankan program yang justru mengukuhkan ketimpangan gender.
  5. Kemitraan. YPI selalu berupaya untuk membangun kerjasama dengan pihak lain: pemerintah, lembaga dana, NGO, korporasi, dan beneficiaries.
  6. Kesetaraan. YPI bekerjasama dengan mitra dan beneficiaries dalam hubungan yang saling menghormati. YPI tidak melakukan diskriminasi terhadap mitra dan beneficiaries.

Diolah dari berbagai sumber: www.ypi.or.id; wawancara staff YPI; modul YPI

Kumpul Bocah diadakan di Sanggar YPI Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN 2015) di Kementerian Sosial RI Stand Informasi dan Layanan Kesehatan YPI di PRJ Senayan Pelatihan Sexual Reproduction Health and Rights (SRHR) di Sanggar YPI Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan AIDS bagi Remaja di LapritaTangerang

More Information»
Yayasan Pendampingan Autis (YPA)

Yayasan Pendampingan Autis (YPA)

Jakarta Utara, DKI Jakarta

January 182016

Yayasan Pendampingan Autis (YPA) adalah sebuah lembaga yang bergerak di bidang pemberdayaan orang-orang penyandang autis, khususnya anak-anak. Lembaga ini sudah berdiri selama 15 tahun sejak tahun 2000. Visi lembaga ini adalah mewujudkan anak-anak penyandang autis agar dapat melakukan berbagai kegiatan dan dapat berpikir serta bertindak secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari di masa mendatang. Misi dari lembaga ini adalah memberikan berbagai upaya berupa terapi dalam berbagai bentuk untuk melatih dan mengembangkan kemampuan anak dalam berbagai bidang. Selain itu YPA juga mengupayakan interaksi dengan orang tua secara intens untuk membentuk kerja sama yang baik dalam proses belajar demi kemajuan anak-anak penyandang autis.

Di dalam kantor YPA terdapat struktur kepengurusan dalam yayasan. Kepengurusan tersebut terbentuk  dan memiliki hubungan dan keterkaitan yang erat serta bekerja sama satu sama lain. Struktur kepengurusan Yayasan Pendampingan Autis yaitu:

  1. Pimpinan Yayasan
  2. Manager Yayasan (Merangkap sebagai pengawas kegiatan terapi di YPA)
  3. Sekretaris
  4. Para terapis.

Untuk terapis sendiri terdiri dari beberapa bagian. Pengelompokan terapi dilakukan berdasarkan jenis terapi yang dilakukan kepada anak-anak penyandang autis. Terapi-terapi yang dijalankan di YPA yaitu:

  1. Applied Behaviour Analysis (ABA)

Applied Behaviour Analysis (ABA) adalah sebuah program terapi yang dirancang sebagai bagian dari pengajaran yang dirancang untuk mengenali berbagai hal yang berhubungan dengan kelakuan atau tindak tanduk anak –anak penyandang autis. Melalui terapi ini orang tua dan terapis dapat mengenali penyebab munculnya perilaku yang ditunjukkan oleh anak dilingkungan sekitarnya. Setelah itu terapis bersama orang tua dapat menemukan cara untuk mengembangkan perilaku anak ke arah yang lebih baik bagi si anak penyandang autis.

Selain untuk melatih kontrol perilaku anak-anak penyandang autis. Terapi ABA juga memberikan pelatihan kemampuan dasar dalam kehidupan yang akan sangat berguna bagi kelangsungan hidup anak-anak penyandang autis. Contohnya melihat, mendengar dan menirukan atau menyamakan berbagai hal yang memiliki kemiripan identik atau pun tidak identik. Setelah itu diharapkan nantinya dengan kemampuan yang telah dimiliki anak mampu berinteraksi dan memahami dinamika lingkungan sekitarnya.

  1. Speech Therapy (Terapi Wicara).

Pada terapi ini anak dilatih untuk berbicara dengan baik dan benar. Beberapa anak penyandang autis terhambat dalam proses interaksi dan komunikasi karena kemampuan untuk berbicara yang kurang, berbicara yang dimaksud adalah pengucapan kata yang kurang baik. Berbagai teknik diajarkan kepada anak untuk menggerakkan mulutnya, hal ini nantinya berkaitan dengan pemanfaatan audio (pendengaran) anak untuk berkomunikasi.

  1. Sensory Integration (SI).

Terapi ini memiliki fungsi untuk melatih kemampuan anak dalam menggunakan safar sensoriknya. Tujuannya adalah agar anak dapat memberikan respon atas apa yang ada di dekatnya. Selain itu kemampuan motorik anak juga dilatih sebagai satu kesatuan dengan upaya melatih kemampuan saraf sensorik anak.

Di tempat ini memang semua orang memiliki tanggung jawab sangat besar, karena harus memberdayakan anak-anak yang terlahir sebagai penyandang autis. Namun di tempat ini saya belajar melalui berbagai hal yang terjadi bahwa dibalik hasil yang baik ada kerja keras dan kerja cerdas. Kerja keras karena harus senantiasa bersabar dan berbesar hati dalam mendidik anak penyandang autis dan kerja cerdas mensiasati berbagai keadaan anak yang berbeda-beda. Namun keceriaan dan rasa kekeluargaan dari semua pihak menjadi semangat melakukan yang terbaik bagi anak-anak penyandang autis.

ypa5 ypa1 ypa2 ypa3 ypa4

More Information»
Pesantren Assalam Bogor

Pesantren Assalam Bogor

Bogor, Jawa Barat

January 182016

Lembaga ini adalah sebuah Pondok Pesantren yang berada di bawah naungan Yayasan Puspita. Pesantren Assalam atau lebih dikenal sebagai Pesantren Inggris berdiri di atas tanah seluas dua hektar yang terletak di Desa Pasir Angin, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dalam bahasa Sunda “pasir” berarti berbukit-bukit, sesuai dengan namanya pesantren ini juga berada di atas tanah yang memiliki kontur tanah berbukit. Susana di tempat ini sangat sejuk karena Pesantren Assalam terletak didaerah pegunungan jauh dari segala keramaian kota.

Ali Qohar dan keluarga adalah pengelola di tempat ini, sudah sekitar dua tahun lamanya pesantren telah berdiri dan berkiprah di dalam dunia pendidikan terkhusus bagi kalangan keluarga kurang mampu. Berawal dari sebuah mimpi dan cita-cita beliau mengawali niat baiknya, atas kerja keras dan bantuan dari segala pihak serta kolega akhirnya semenjak dua tahun yang lalu pesantren ini berdiri diatas tanah dari seseorang yang mewakafkan tanahnya kepada Yayasan Puspita.

Pembagunan pesantren sedang dilakukan hingga detik ini demi meningkatkan mutu serta kualitas pesantren. Saat ini pesantren sudah memiliki dua buah bangunan guna menunjang aktifitas belajar mengajar dan empat buah tempat tinggal untuk para penghuni pesantren, pembangunan tersebut dilakukan secara bertahap. Namun yang disayangkan sampai detik ini tenaga pengajar sangat minim sehingga mereka sangat memerlukan relawan akibatnya kegiatan belajar mengajar tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Karena Pesantren Assalam bukanlah suatu lembaga pendidikan yang bersifat formal.

Hingga saat ini sudah banyak santri laki-laki maupun perempuan yang memilih untuk melanjutkan pendidikan mereka di sini, datang dari berbagai daerah baik Bogor, Jakarta, Bandung, Cirebon dan masih banyak lagi. Dari segala latar belakang dan kini telah dipersatukan dalam satu wadah yang sama. Pesantren Assalam memang lebih menekankan pelayanan dibidang sosial, terlihat jelas bagaimana cara mereka menerima para santri. Pengelola menerima dengan tangan terbuka jika ada orang yang membutuhkan bantuan.

Bagi para santri Pesanten Assalam sudah menjadi keluarga kedua dalam kehidupan mereka, karena segala aktifitas mereka lakukan di tempat ini. Pesantren juga menawarkan berbagai macam pengetahuan yang belum tentu mereka dapatkan di sekolah formal pada umumnya. Walupun masih banyak kekurangan yang lembaga alami namun banyak santri berprestasi hasil didikan pesantren ini, tidak sedikit dari mereka yang sudah menjadi guru untuk sekolah-sekolah yang memerlukan tenaga pengajar.

Pesantren ini menerima siapapun yang ingin datang dan bermukim, mereka tidak memandang suku bahkan memandang agama sekalipun. Hal ini lah yang membuat semua orang nyaman berada di sana, pesantren ini sangat terbuka akan segala keberagaman yang ada. Semua santri wajib berbahasa Inggris di dalam kehidupan sehari-hari oleh karena itu masyaraka sekitar lebih akrab menyebut lembaga ini dengan sebutan pesantren Inggris. Hal itulah yang menjadi daya tarik bagi pesantren sehingga banyak orang yang datang untuk belajar Bahasa Inggris. Hingga pada akhirnya banyak kolega asing yang mau membantu Pesantren Assalam dalam pelayanannya dengan demikian niat baik pengelola dapat berjalan sebagaimana mestinya berkat doa dan bantuan dari segala pihak.

assalam1 assalam2 assalam3 assalam4 assalam5

More Information»
Sanggar SWARA

Sanggar SWARA

Jakarta Timur, DKI Jakarta

January 182016

Sanggar Swara  yang dahulunya dikenal dengan SWARA (Sanggar Waria Remaja) merupakan sebuah lembaga yang memutuskan untuk berdiri secara mandiri dan pada akhirnya memisahkan diri dari Ikatan Srikandi. Sanggar Swara merupakan lembaga yang sudah diakui keberadaanya sejak tahun 2011. Saat ini  Sanggar SWARA memiliki fokus program yakni inklusi sosial yang dijalankan sejak tahun 2014. Program Inklusi sosial yang di jalankan oleh Sanggar SWARA berkaitan dengan usaha teman-teman waria yang ada di Jakarta untuk menjalin hubungan dengan masyarakat yang berada di kawasan Jakarta. Dengan kata lain, Sanggar SWARA tengah membangun hubungan yang baik dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan seperti pembahasan mengenai SOGIE terhadap masyarakat. Tujuan adanya pembahasan pengenalan SOGIE tidak lain agar masyarakat memahami tentang konsep dasar yang berkaitan dengan seks atau jenis kelamin, seksualitas, serta gender yang selama ini seringkali disalah artikan dikalangan masyarakat.

Berbicara tentang isu HIV/AIDS bagi Sanggar SWARA sendiri menganggap sudah diketahui oleh kalangan teman-teman waria.   Dalam hal ini Sanggar SWARA bukannya mengesampingkan persoalan HIV/AIDS, sanggar SWARA sendiri  melihat persoalan ini sudah disosialisasikan sebelumnya, sehingga, penanganan HIV/AIDS untuk saat ini lebih berwujud tindakan berupa membagikan kondom daripada sekadar melakukan penyuluhan atau memberikan info tentang HIV/AIDS. Lebih lanjut,  Sanggar SWARA melihat terdapat kebutuhan lain yang lebih dibutuhkan oleh teman-teman waria yang bearada dikalangan masyarakat diantaranya perihal penerimaan diri dan Hak Sosial. Misalnya pembuatan KTP (dengan identitas tetap sebagai laki-laki) dan pembuatan BPJS. Sehingga, dalam menjalankan aktivitas sosial dan akses kesehatan mereka tetap menerima perlakuan yang sama dengan orang lain atau diterima seperti orang lain pada umumnya. Terlepas dari pandangan mengenai program baru yakni inklusi sosial yang sedang dijalankan, Sanggar SWARA tetap memantau dan mendampingi teman-teman ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) yang dikenal dengan KDS atau Kelompok Dampingan Sebaya.

Dalam menjalankan programnya, Sanggar SWARA tidak bekerja sendiri. Mereka sering mengadakan kerja sama dengan lembaga yang memiliki fokus isu LGBT , misalnya Arus Pelangi. Sanggar SWARA juga mendapatkan dukungan dana untuk menjalankan program mereka yang tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri seperti Jepang dan Australia. Salah satu cara para staff Sanggar SWARA menjalankan program inklusi sosial dengan melakukan pendampingan dan  membentuk sebuah tim lapangan yaitu CO atau  Community Organizer  yang bertanggungjawab terhadap wilayahnya masing-masing yang dikenal dengan istilah penjangkauan. Tugas seorang CO antara lain melakukan pendampingan teman-teman waria yang sedang sakit, dampingan pembuatan KTP, dampingan teman-teman yang terjaring razia agar mereka dapat dibebaskan, serta membagikan kondom bagi teman-teman waria mengingat mayoritas pekerjaan waria adalah sebagai pekerja seks. Tugas yang dijalankan oleh seorang CO tidak hanya mendampingi teman-teman waria, namun, mereka juga bertugas untuk menghadiri berbagai undangan kegiatan dari lembaga-lembaga yang juga memiliki tujuan pembahasan mengenai LGBT atau yang berkaitan dengan kehidupan sosial dalam masyarakat. Salah satu contoh kegiatan yang dihadiri oleh Sanggar SWARA misalnya kegiatan yang diadakan oleh lembaga Arus Pelangi dan bekerja sama dengan Komnas Perempuan yang membahas tentang kekerasan pada perempuan atau mengenang korban HIV/AIDS yang diadakan oleh YPI  di kementrian sosial, dan masih banyak kegiatan yang diikuti oleh Sanggar SWARA sebagai wujud dari bagian program inklusi sosial yang saat ini sedang mereka jalankan.

Melalui berbagai kegiatan yag diperjuangkan atau yang sedang digerakan oleh Sanggar SWARA terlihat jelas bahwa Sanggar SWARA yang mewakili teman-teman waria hendak menyuarakan bahwa mereka ada diantara masyarakat dan mereka ingin diperlakukan sama oleh masyarakat. Tidak ada kekerasan atau diskriminasi di dalamnya. Sanggar SWARA merupakan contoh perwakilan suara-suara  termarjinalkan yang ingin mendapatkan hak yang sama. Hal yang menarik dalam hal ini, sebagai kaum yang dipandang sebelah mata atau seringkali dimarjinalkan justru melakukan pendekatan secara langsung kepada masyarakat yang terkadang menolak keberadaan mereka. Dengan demikian, adanya ide program inklusi sosial ini sangatlah membantu membangun jembatan bagi masyarakat dan komunitas  waria khususnya di Jakarta.

 

swara6 swara1 swara2 swara3 swara4 swara5

More Information»
Fahmina Institute

Fahmina Institute

Cirebon, Jawa Barat

January 132016

Fahmina sudah ada sejak tahun 1990-an tetapi kegiatan yang dilakukan masih dalam bentuk diskusi. Diskusi yang dilakukan adalah membahas tentang isu-isu pembelaan terhadap orang-orang marjinal seperti isu-isu kerakyatan, kewarganegaraan dan sampai pembelaan tingkat pewacanaan publik. Namun, secara resmi didirikan pada tanggal 10 November 2000 oleh Marzuki Wahid, Affandi Mochtar, Faqihuddin Abdul Kodir dan Husein Muhammad. Pada awalnya, Fahmina didirikan karena pergumulan anak-anak muda dalam hal intelektual yang berakar dari dunia pesantren. Hal ini juga disebabkan karena daerah Cirebon mempunyai banyak sekali pesantren. Kata Fahmina mempunyai arti nalar atau perspektif dan paham Indonesia tentang teks keagamaan dan realitas sosial atau pemahaman tentang keindonesiaan. Oleh sebab itu, visi Fahmina adalah visi yang menjadi cita sosial perjuangan yayasan adalah terwujudnya peradaban manusia yang bermartabat dan berkeadilan berbasis kesadaran kritis tradisi pesantren.

Fahmina bersikap pluralis dan pluralisme meskipun berada di Kota Cirebon yang terkenal dengan Kota Wali Songo(Islam). Fahmina mempunyai tanggung jawab untuk menkaji sosial keagamaan dan melakukan pendampingan terhadap masyarakat marjinal. Fahmina pun mempunyai 4 divisi setelah didirikan secara resmi yaitu:

  1. Islam dan demokrasi

Divisi ini bergerak dalam bidang sosial keagamaan. Kegiatan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan pun dilaksanakan oleh divisi ini. Kegiatan yang dilakukan lebih kepada untuk menciptakan kedamaian dalam masyarakat. Oleh sebab itu, Fahmina pun membentuk Pelita(Pemuda Lintas Iman). Pelita ini mengadakan kegiatan yang dilakukan tidak hanya untuk masyarakat yang beragama Islam tetapi semua agama dan kepercayaan ada didalamnya. Selain itu juga, Pelita mengadakan bakti sosial terhadap masyarakat yang terkena banjir di wilayah Cirebon dan bekerjasama dengan GKI Pengampon.

Fahmina dan Pelita pun akhirnya mendirikan program yang bernama SETAMAN(Sekolah Cinta Perdamaian). Program ini dilakukan untuk memberi dan  menumbuhkan rasa damai di dalam diri masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan tentang cinta damai diantara masyarakat. Out put-nya adalah supaya masyarakat memahami perbedaaan diantara satu dengan yang lainnya. Program ini pun dilakukan tidak hanya untuk agama muslim tetapi semua agama mengikutinya. Pesertanya pun dari berbagai usia, karena cinta damai itu tidak hanya ditanamkan pada orang dewasa saja tetapi juga pada anak-anak remaja supaya tidak terjadi tawuran dan sebagainya.

  1. Islam dan gender

Divisi ini merujuk kepada kesetaraan gender dengan melihat bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama sehingga tercipta keadilan. Divisi ini juga terlibat dalam hal pendampingan trafiking, KDRT dan lainnya yang berkaitan dengan kesetaraan gender. Hak setiap orang perlu diperhatikan oleh orang lain. Oleh sebab itu, Fahmina pun berusaha supaya orang yang merasa tertindas pun mendapatkan perhatian. Terutama perempuan yang terlibat dalam trafiking.

  1. Islam dan penguatan otonomi komunitas

Divisi ini bertujuan untuk menguatkan para komunitas Fahmina. Kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan jurnalisme yang bertujuan untuk kedamaian. Fahmina pun mempunyai komunitas yang bernama Gusdurian. Komunitas ini mencoba belajar mengenai pemikiran-pemikiran Gusdur dalam membangun masyarakat.

  1. Pusat data, informasi dan media

Divisi ini tidak hanya mengkaji tentang informasi agama dan data-data yang dikelola Fahmina. Namun, kegiatan yang dilakukan pun berkaitan dengan perempuan. Kesehatan Reproduksi menjadi topik diskusi. Kesehatan Reproduksi pun belum disadari secara betul oleh santri sehingga Fahmina pun memberikan wawasan mengenai hal tersebut. Kegiatan yang dilakukan adalah seminar dan pelatihan Kesehatan Reproduksi terhadap para santri di pesantren-pesantren daerah Cirebon.

fahmina5 fahmina6 fahmina1 fahmina2 fahmina3 fahmina4

More Information»
Migrant CARE

Migrant CARE

Jakarta Timur, DKI Jakarta

January 132016

Seluruh mahasiswa tingkat satu dan tingkat dua Sekolah Tinggi Teologi Jakarta menjalani masa praktek lapangan sejak tanggal 25 Mei 2015 hingga 07 Agustus 2015. Saya bersama seorang kakak tingkat, Theo Krispanki Dandel, ditempatkan di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berfokus terhadap perlindungan dan pemenuhan hak-hak buruh migrant beserta keluarganya. Menurut definisi yang diberikan, Migrant CARE merupakan sebuah perhimpunan buruh migrant Indonesia yang berdaulat.

Lembaga ini terbentuk oleh rasa solidaritas terhadap kaum buruh migrant yang kerap mengalami masalah-masalah terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia kemudian tidak jarang mengalami pendiskriminasian. Setiap tahunnya angka buruh migrant Indonesia yang mengalami kasus pidana semakin meningkat. Akan tetapi, ternyata tidak semua kasus tersebut dilatarbelakangi niat kaum buruh migrant untuk melakukan tindakan pidana tersebut melainkan oleh karena keterpaksaan dan alasan lainnya. Sayangnya, pemerintah tampaknya sangat lamban dalam menangani dan mencegah permasalahan pidana oleh buruh migrant Indonesia. Hal tersebut menyebabkan angka kriminalitas kaum buruh migrant Indonesia pun meningkat. Dampak lainnya adalah kaum buruh migrant Indonesia merasa semakin dipojokkan dan dipinggirkan. Mereka dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai sampah masyarakat karena telah mencoreng nama baik bangsa Indonesia di mata dunia.

Kedudukan mereka yang seharusnya dapat menjadi sumber devisa negara sepertinya hanya sebuah slogan saja. Hal tersebut mengingat kurang tegasnya Pemerintah dalam memberi perlindungan hukum terhadap buruh migrant Indonesia. Beberapa orang kemudian merasa terdorong untuk mendobrak dan menghancurkan stigma buruk terhadap kaum buruh migrant. Mereka mulai berkumpul dalam suatu perhimpunan. Mereka kemudian memberikan sebuah nama kepada perhimpunan yang dibentuk tersebut. Nama ‘Migrant CARE’ akhirnya dirasa pas dan diresmikan pada bulan Oktober tahun 2004.

Sampai saat ini, orang-orang yang dulu berjuang membentuk perhimpunan tersebut, masih bertahan di Migrant CARE. Salah satunya adalah Ibu Anis Hidayah yang saat ini juga merangkap sebagai Direktur Eksekutif Migrant CARE. Ada juga beberapa staff lain yang terus bertahan membela kaum buruh migrant, seperti Pak Wahyu, Mbak Indah, Mbak Musliha, Mbak Bariyah, Mas Nur, Mas Anas dan lainnya. Saya dan Kak Theo memang terbiasa memanggil staff Migrant CARE dengan sebutan “Mbak” atau “Mas”. Oleh karena sebagian besar staff Migrant CARE berasal dari wilayah Jawa, khususnya Banyuwangi.

Saat ini, Migrant CARE berlokasi di Jalan Perhubungan VIII No. 52, Rawamangun, Jakarta Timur. Migrant CARE hadir di tengah-tengah masyarakat dan terus mencoba berbaur dengan kehidupan lingkungan sekitar. Hal tersebut dapat terlihat dari pemilihan lokasinya yang berada persis di tengah-tengah kompleks perumahan. Bangunan yang dipilih sebagai kantor sekretariat Migrant CARE juga adalah sebuah rumah bertingkat tiga sehingga kehadirannya tidak terkesan “mengekseklusifkan” diri. Pada tingkat pertama, terdapat ruang tamu, ruangan Divisi Bantuan Hukum, Ruangan Divisi Data dan Pengetahuan Migrasi, serta dapur dilengkapi ruang makan. Pada lantai dua, terdapat ruangan Divisi Kebijakan Penanganan Advokasi, ruangan Divisi Advokasi berbasis IT, dan ruangan kebendaharaan. Pada lantai teratas atau lantai tiga, terdapat shelter yang biasa digunakan sebagai rumah singgah bagi buruh migrant dan atau keluarganya. Tidak jarang shelter tersebut juga digunakan oleh kerabat staff Migrant CARE yang datang dari luar daerah.

Migrant CARE melayani mulai hari Senin hingga Jumat, pada pukul 09.00 WIB hingga 17.00 WIB. Sejauh ini, berdasarkan pengamatan yang saya lakukan ada banyak tugas yang dilakukan oleh staff Migrant CARE. Divisi Bantuan Hukum malayani pengaduan kasus dan melaporkan pengaduan kemudian men follow up kasus tersebut ke badan resmi pemerintah, seperti BNP2TKI (Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia), Kementerian Luar Negeri, Direktur Jenderal Imigrasi, dan lain sebagainnya. Divisi Data dan Pengetahuan Migrasi lebih banyak melakukan pendataan dan pengaturan mediasi Migrant CARE. Divisi Kebijakan dan Penanganan Advokasi lebih banyak melakukan pengawasan dan peninjauan ulang Undang-Undang terkait buruh migrant. Divisi Advokasi berbasis IT lebih banyak membuat program berbasis IT untuk memperluas jaringan terhadap perlindungan buruh migrant.

Demikianlah dekskripsi singkat yang dapat saya jabarkan mengenai Migrant CARE. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang terus mencoba hadir dan melayani masyarakat. Oleh karena Migrant CARE hadir dari, oleh, dan untuk masyarakat. Migrant CARE juga hadir sebagai jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan pemerintah maupun sebaliknya. Suatu harapan bersama bahwa kehadiran Migrant CARE sedikit banyak membantu penanganan dan penyelesaian masalah pelanggaran HAM yang dialami oleh buruh migrant Indonesia.

migrant5 migrant4 migrant3 migrant2 migrant1

More Information»
Sanggar Rebung Cendani

Sanggar Rebung Cendani

Depok, Jawa Barat

January 132016

Sanggar Rebung Cendani merupakan taman bacaan anak-anak atau yang kerap disebut bale bacaan (taman bacaan geratis). Sanggar Rebung Cendani dirintis pada tahun 2001 oleb Bpk. Josep Budisantoso atau yang kerap kali disapa sebagai pak Budi. Daerah yang menjadi fokus dari Sanggar Rebung Cendani adalah daerah-daerah pinggir Jakarta, seperti Depok, Bogor. Namun sepanjang perjalanannya, Sanggar Rebung Cendani juga sudah membuka TBM (taman bacaan masyarakat) di daerah-daerah lain seperti: Sukabumi, Ujung Genteng, Kediri. Hingga saat ini, Sanggar Rebung Cendani sudah memiliki 80 TBM (taman bacaan Masyarakat) di berbagai kota. Jika berbicara mengenai taman bacaan pasti akan mengarah pada sesuatu yang dapat dibaca, yakni buku. Buku dapat membuat pembaca merasakan luasnya dunia, banyak hal yang akan didapat dengan membaca. Tidak semua buku dapat memberikan informasi dan membuka jendela dunia, diperlukan buku-buku yang bermutu, bernilai dan berkualitas baik. Sanggar Rebung Cendani memiliki tugas untuk menyediakan dan memastikan buku-buku yang hendak dikirim ke daerah-daerah tersebut. Setiap buku diseleksi sehingga buku itu bisa sampai di TBM (taman bacaan masyarakat). Memastikan setiap anak di TBM membaca buku-buku berkualitas merupakan fokus dari Sanggar Rebung Cendani. Anak-anak yang berada di daerah pinggiran atau kampung, kerap kali menjadi korban budaya, sosial, dan putus sekolah karena kemiskinan, bekerja di bawah umur. Waktu yang seharusnya anak-anak gunakan untuk bermain dan belajar harus berubah menjadi waktu bekerja untuk keperluan makan. Hal-hal inilah yang membuat anak susah berkembang karena lemahnya daya imajinasi dan kemampuan untuk berpikir dengan luas. Buku merupakan cara yang dipakai oleh Sanggar Rebung Cendani untuk membantu anak-anak yang berada di daerah pinggiran atau kampung. Buku menjadi media yang sanggat bermanfaat untuk mendekatkan anak dengan lingkungan sekitarnya bahkanlingkungan yang jauh lebih luas. Anak menjadi mudah untuk mendapatkan informasi dari dunia luar dan pada akhirnya akan meningkatkan wawasan dan pengetahuan anak. Dengan demikian, anak-anak yang berasal dari daerah atau kampung-kampung pun dapat merasakan dan membaca buku-buku yang bagus dan bermutu baik dari segi gambar, warna, kertas, jenis huruf maupun pesan yangdisampaikan oleh buku tersebut. Buku-buku yang dimiliki oleh Sanggar Rebung Cendani merupakan buku-buku yang berasal dari sumbangan para donator, toko buku, gereja, dosen, dan para sahabat Sanggar Rebung Cendani. Tidak hanya itu, Sanggar Rebung Cendani juga membeli buku di toko buku yang tentu saja harganya tidak murah. Para sukarelawan berasal dari lingkungan pelajar dan mahasiswa yang memiliki fokus pada dunia pendidikan anak, psikologi dan sosial. Sanggar Rebung Cendani mengajak anak-anak untuk cinta baca dan menjadikan membaca sebagai sebuah budaya. Sanggar Rebung Cendani berharap, kelak akan memiliki ratusan bahkan ribuan TBM yang tidak hanya berada di pulau Jawa tetapi juga di daerah-daerah lain.

IMG_7384680602753 IMG_3317362945537 20150623_115454 20150529_160835 20150529_160828

More Information»
People Like Us Satu Hati
January 112016

Komunitas People Like Us Satu Hati (PLUSH) dibentuk di Yogyakarta pada tanggal 10 Desember 2006. PLUSH resmi mendapatkan akta notaris sebagai organisasi berbasis komunitas pada bulan Maret 2008. Fokus kerja PLUSH adalah advokasi dan hak asasi manusia (HAM), selain itu PlUSH merupakan wadah bagi komunitas LGBT yang ada di Yogyakarta untuk berkumpul dan berbagi. Dari sinilah permasalahan mendasar yang dialami komunitas, serta ide-ide kreatif muncul agar komunitas LGBT dapat memperjuangkan hak-haknya.

Alasan utama fokus kerja PLUSH dalam bidang advokasi dan HAM karena masyarakat masih mempunyai pandangan yang sangat negatif terhadap keberadaan komunitas LGBT dan negara belum mengakui keberadaan komunitas LGBT.  Hal tersebut menyebabkan diskriminasi serta pelanggaran HAM masih dirasakan komunitas LGBT di Indonesia, bahkan muncul upaya dari kelompok tertentu untuk mendiskriminasi komunitas LGBT melalui RUU dan peraturan tertentu. Oleh karena itu, perlu adanya usaha untuk mendidik masyarakat agar menyadari keberagaman dan mengedepankan isu-isu sosial di Indonesia, termasuk LGBT yang merupakan bagian dari keberagaman sosial.

Visi PLUSH, terwujudnya tatanan masyarakat yang bersendikan nila-nilai kesetaraan. Misi PLUSH, pertama: menumbuhkan kesadaran kritis untuk membangun kesepakatan tentang nilai-nilai kesetaraan malalui advokasi, kedua: mengembangkan pendidikan, pelatihan, dan penelitian berbasis gender dan seksualitas, ketiga: mengembangkan layanan dasar dan pendampingan untuk korban situasi konflik, krisis, dan bencana berbasis HAM.

Struktur kepengurusan PLUSH mencakup badan pengawas dan badan pengurus. Badan pengawas beranggotakan lima orang, tugasnya mengawasi kerja badan pengurus dan memberikan masukan. Badan pengawas juga mewakili suara komunitas dalam memberi masukan terhadap progam yang dijalankan di PLUSH. Badan pengurus mencakup ketua, sekretaris, bendahara, kasir, koordinator divisi penelitian dan pengembangan, koordinator divisi media dan kampanye, koordinator divisi penguatan basis, koordinator divisi konseling. Tugas mereka membuat dan melaksanakan program PLUSH. Masa kepungurusan badan pengawas maupun bapan pengurus tiga tahun.

Program kerja kepengurusan PLUSH 2014-2017 :

  1. Pertemuan Rutin Komunitas dilakukan minimal satu bulan satu kali, contohnya pemutaran film, arisan cantik, bedah buku, dll. Program bertujuan menciptakan ruang aman serta nyaman bagi komunitas LGBT untuk berbagi dan bagi PLUSH untuk mengetahui kebutuhan komunitas dalam melaksanakan programnya.
  2. Pelatihan SOGIE dan HAM dilakukan secara rutin, mengingat pemahaman masyarakat dan komunitas akan SOGIE serta HAM adalah kunci agar hak-hak LGBT dapat terpenuhi. PLUSH juga memberi pelatihan khusus bagi komunitas LGBT untuk menjadi fasilitator bagi pendidikan SOGIE dan HAM.
  3. Peningkatan kapasistas bermanfaat bagi kehidupan dan pengembangan organisasi. Mengikuti pelatihan yang diadakan pihak lain atau oleh PLUSH sendiri.
  4. Advokasi kebijaksanaan dilaksanakan melalui kerja sama dengan organisasi lain untuk mengadvokasi kebijakan yang diskriminatif pada LGBT. Namun PLUSH juga terlibat dalam advokasi kebijakan lain yang diskriminatif.
  5. Konseling untuk memberi dukungan moral dan pengetahuan pada komunitas dalam menghadapi masalah sehari-hari.
  6. Kampanye digital sebagai sarana kampanye rutin dan edukasi publik.
  7. Kampanye publik seperti mencetak KIE, berjejaring aliansi jurnalis independen, dan mengadakan event-event publik baik di kampus, sekolah, dll.
  8. Pendampingan bagi peneliti dengan harapan dapat dihasilkan produk akademik yang tidak bias dan menjadi amunisi advokasi bagi gerakan LGBT di Indonesia.

Kegiatan rutin dengan dosen, guru, pemimpin agama, mahasiswa, pemerintah, dan warga kampung tempat PLUSH berada untuk menjalin hubungan baik dan memberikan edukasi.

plush1 plush5 plush4 plush3 plush2

More Information»
Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP)/Marsinah FM
January 112016

FBLP adalah sebuah serikat buruh yang menaungi dan menindak lanjuti isu-isu yang terjadi di konteks kehidupan buruh. FBLP sendiri memiliki beberapa divisi seperti radio komunitas yakni Marsinah FM, Sanggar Tipar, Pelangi Mahardhika dll. FBLP berdiri pada tanggal 5 Juni 2009, dan sekarang diketuai oleh bu Jumisih dibantu oleh kak Atin, kak Lanang, ka Dian septy, mas Atmo dan bang Putera serta teman-teman lainnya yang juga adalah buruh. Serikat ini berlandaskan pada komitmen untuk memperjuangkan hak para buruh serta kesetaraan terhadap buruh khususnya buruh perempuan. Hal ini dikarenakan masih cukup banyaknya pelecehan dan penyimpangan tindakan ataupun semacamnya yang terjadi di KBN-Cakung terhadap buruh. Sampai saat ini jumlah anggota FBLP sudah mencapai 5000 orang dan memiliki beberapa cabang di pabrik-pabrik khususnya di bidang garmen (pakaian). Selain itu, FBLP ini sendiri menjadi sarana bagi para buruh untuk membagikan keluhan yang terjadi khususnya di lapangan pekerjaan untuk kemudian dapat didiskusikan dan ditinjau ulang apakah sudah sesuai dengan UUD ketenagakerjaan atau sebaliknya. Sebagai bentuk pembelaan yang militan terkait keadilan terhadap para buruh, pada tahun 2010 FBLP pernah memimpin aksi mogok kerja bersama yang menuntut kenaikan UMP sebagaimana yang telah diputuskan oleh pemerintah. Kemudian mengenai Marsinah FM yang adalah salah satu divisi yang bergerak di bidang komunikasi dan penyebaran informasi. Marsinah memiliki visi dan misi untuk memberikan penyuluhan dan perluasan informasi kepada khalayak ramai terkait dengan perkembangan politik, sosial dan ekonomi bangsa Indonesia. Radio Marsinah sendiri berdiri pada tanggal 21 April 2012 dan masih beroperasi sampai pada saat ini, meski hanya beradius sekitar 2,5 Km. Marsinah FM memiliki beberapa program siaran yakni : Siaran Bebas, Bollywood Hits, Dangdut Asyik, Pop dll. Untuk jadwal siaran sendiri dimulai dari hari senin s/d jumat pukul 16.00-23.00 WIB dan Sabtu- Minggu pukul 11.00 -23.00 WIB. Selain itu Marsinah FM juga membagikan berita-berita yang terajadi di Indonesia khususnya yang berkaitan dengan ketenagakerjaan dan konteks kehidupan buruh. Semua usaha ini dilakukan untuk dapat membuat para buruh di Indonesia tidak buta UUD khususnya tentang ketenagakerjaan, dan kemudian membagikan pengalaman dari berita-berita yang terjadi di tanah air. Perjuangan FBLP dan Marsinah FM ialah untuk menyejahterakan kehidupan buruh khususnya perempuan dari tindak penyelewengan yang dilakukan para pengusaha pabrik-pabrik.

fblp1fblp2sisco3 sisco1

More Information»
Perempuan Mahardika

Perempuan Mahardika

Jakarta Timur, DKI Jakarta

January 112016

Perempuan Mahardika adalah organisasi massa perempuan yang terdiri dari individu-individu dan seksi-seksi perempuan serta organisasi kerakyatan multisektor yang bertujuan untuk membebaskan kaum perempuan dari penindasan baik secara ekonomi, budaya, dan militerisme sehingga tercapai suatu sistem yang adil dan setara. Melawan budaya patriarki dan ideologi kapitalis juga merupakan fokus utama dari lembaga ini untuk mewujudkan apa yang mereka cita-citakan. Perempuan Mahardika hadir di tengah-tengah masyarakat membangun jaringan dengan beberapa organisasi untuk bergerak dalam lima isu utama yang dipandang penting. Isu kekerasan seksual, isu buruh perempuan, isu orientasi seksual dan gender, isu perempuan dan politik, serta sekolah feminis. Untuk isu kekerasan seksual yang menjadi sasaran adalah kampus-kampus untuk didirikan basis anti kekerasan seksual. Membangun jaringan dengan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta untuk memberikan advokasi kepada korban kekerasan seksual. Untuk isu buruh perempuan Perempuan Mahardika juga turut andil dalam berdirinya Federasi Buruh Lintas Pabrik suatu serikat buruh yang menaungi buruh perempuan sektor garmen dan tusuk gigi. Pelangi Mahardika juga organisasi yang didirikan untuk menaungi kasus LBT Perempuan yang mendapatkan diskriminasi di tempat kerja ataupun stigma negative dalam masyarakat. Untuk isu kekerasan seksual Perempuan Mahardika telah berhasil menyelenggarakan konferensi perempuan muda seluruh pulau Jawa yang bertemakan melawan kekerasan seksual. Lembaga ini juga banyak membahas tentang politik yang dilancarkan ole horde baru untuk meredam kekuasaan perempuan dan gerakan emansipasi wanita. Komodifikasi tubuh perempuan atau tubuh perempuan yang menjadi objek pemuasan ekonomi oleh orang-orang kapitalis juga merupakan salah satu isu yang dianggap penting dan menjadi pembahasan khusus dalam basis-basis di universitas tempat Perempuan Mahardika membuat jaringannya.

sisco5 sisco4 sisco2

More Information»
Gaylam (Gaya Lentera Muda Lampung)

Gaylam (Gaya Lentera Muda Lampung)

Bandar Lampung, Lampung

January 112016

Gaya Lentera Muda Lampung atau yang biasa disingkat Gaylam adaah organisasi GWL (Gay, Waria, LSL) yang didirikan pada tahun 2008. Tujuan dibentuknya Gaylam sendiri dalah untuk memberdayakan para gay dan juga waria agar bisa memiliki kemampuan yang juga berkompeten sama seperti orang-orang hetero pada umumnya. Organisasi yang bersifat kerelawanan ini diketuai oleh Rendie Arga yang biasa dipanggil teteh Rendie. Gaylam sendiri memiliki organisasi yang terdiri dari ketua, wakil ketua, bendahara, manager program&evaluasi, dan serta masih ada bagian-bagian lainnya yang nantinya bisa dilihat sendiri pada struktur organisasi. Pengurus dan anggota Gaylam sendiri sampai saat ini sudah cukup banyak, namun sayangnya masih ada beberapa orang yang seenaknya datang dan pergi dari organisasi Gaylam ini. Dibawah naungan Gaylam juga ada dua organisasi LBT yang bernama Gendhis, khusus untuk para kaum lesbian, biseksual, dan juga trandgender. Selain itu ada juga organisasi GWL khusus untuk remaja yang diperuntukkan bagi mereka para gay,waria, dan LSL yang masih berumur 15-24 tahun.

Gaylam sendiri juga memiliki rumah kesekretariatan dan rumah kreatif Gaylam yang mereka miliki sejak tahun 2012. Sebelum-sebelumnya banyak yang bercerita bahwa Gaylam dulu sebelum memiliki rumah kesekretariatan hanya bisa mengumpul di salah satu rumah pengurus ataupun anggota Gaylam. Namun sekarang ini pertemuan ataupun rapat bisa digunakan di tempat kesekretariatan. Rumah kreatif Gaylam juga ada di dalam tempat kesekretariatan ini, rumah kreatif gaylam adalah salah satu divisi yang sedang dijalankan oleh Gaylam dengan tujuan menjadikan para GWL lebih berkreatif dan berdaya. Tak heran Gaylam sudah pernah dan selalu mengikuti kegiatan festival Krakatau yang biasanya diadakan pada akhir Agustus. Dengan adanya rumah kreatif Gaylam para GWL disediakan pengetahuan lebih untuk dapat membuat kostum karnaval yang biasanya mereka gunakan untuk festival Krakatau. Selain adanya pembuatan kostum, rumah kreatif Gaylam juga memberdayakan anak-anak remaja sebagai dancer yang kini sering mengikuti lomba-lomba dancer di bebagai tempat.

Sampai saat ini Gaylam sendiri sudah mengikuti banyak sekali program-program baik itu diadakan oleh Gaylam sendiri ataupun diadakan oleh mitra kerja Gaylam yang bekerja sama dengan Gaylam. Pertemuan-pertemuan ataupun pelatihan-pelatihan diikuti oleh organisasi Gaylam dengan baik sampai sekarang ini. Bahkan tak jarang juga adanya pengurus atau anggota Gaylam yang mengikuti pelatihan di luar Lampung seperti Jakarta atau Bogor untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh lembaga lainnya. Selain itu program-program yang dimiliki oleh Gaylam tidak sepenuhnya selalu dilakukan setiap harinya. Contohnya adanya jadwal menonton film LGBT bersama, biasanya diadakan setiap hari Jumat sebelum diadakannya sholat berjamaah di sekret Gaylam. Selain itu adanya pertemuan ataupun pelatihan juga biasanya dilakukan bila memang Gaylam diundang untuk hadir pada acara tersebut.

Akhir-akhir ini yang dikerjakan oleh para anggota Gaylam adalah mengerjakan kostum festival yang akan mereka ikuti dalam acara Festival Krakatau yang akan diadakan pada tanggal 30 Agustus mendatang. Mulai dari merancang atau mendesain sampai dengan membuat kostum adalah salah satu kegiatan yang dilakukan baik oleh pengurus ataupun anggota Gaylam. Selain kegiatan tersebut, adapun yang dilakukan oleh komunitas Gaylam saat-saat ini adalah mengrimkan nggota atau pengurusnya mengikuti berbagai macam pelatihan yang diadakan oleh organisasi GWL lainnya baik di Bandar Lampung sendiri ataupun di luar Bandar Lampung. Bahkan kadang-kadang Gaylam mengikuti pelatihan yang diadakan oleh para organisasi yang ada di Jakarta seperti Arus Pelangi, dll.

 

gaylam1 gaylam5 gaylam4 gaylam3 gaylam2

More Information»
Bank Sampah “My Darling” (Masyarakat Sadar Lingkungan)
December 312015

Bank Sampah My Darling (BSMD) adalah program pemerintah sebagaimana tertulis dalam UU no. 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, UU no. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, peraturan pemerintah no. 81 tahun 2012 tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah, peraturan daerah no. 10 tahun 2006 tentang organisasi perangkat daerah dan interuksi Walikota Jakarta Selatan no. 127 tahun 2012 tentang pelaksanaan pengelolaan bank sampah dan rumah kompos di wilayah kota administrasi Jakarta Selatan.

BSMD sendiri dibentuk oleh masyarakat. Yeni Mulyani adalah Direktur BSMD yang menjadikan garasi rumahnya menjadi tempat BSMD. Sejak tahun 2000, ia sudah mendaur ulang sampah dan membuka bank sampahnya pada tahun 2012. Pada saat itu, BSMD adalah satu-satunya bank sampah yang diresmikan oleh Walikota Jakarta Selatan. Bu Yeni yang dulunya aktif di PKK mengajak teman-temannya untuk dapat berkarya sambil menghasilkan uang melalui produk-produk hasil daur ulang. Sayangnya, sekitar tiga bulan setelah peresmian, ia justru ditinggalkan oleh teman-temannya.

BSMD melakukan jam operasional pada hari rabu dan sabtu dari jam 10.00-13.00. sampai saat ini, nasabah yang tercatat di BSMD hanya sekitar 30 nasabah. Padahal tidak banyak orang yang diperlukan untuk mengoperasikan bank sampah. Bank sampah hanya memerlukan seorang direktur, biro keuangan, customer service, teller, divisi pencatatan dan divisi pengepakan, tapi sekarang Bu Yeni mengoperasikan bank sampahnya hanya seorang diri.

Sekitar setahun setelah BSMD diresmikan, BSMD langsung digandeng dan menjadi CSR (Corporate Social Responsibility) dari PT. PLN. PT. PLN juga mempercayakan Bu Yeni untuk membina dan memberikan rekomendasi terhadap bank sampah yang layak bekerja sama dengan perusahaan milik negara tersebut. Bu Yeni justru jarang mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah. Ia merasa pemerintah tidak peduli dengan bank sampah yang telah dibentuknya, sehingga sudah dua kali ia mengembok pagar bank sampah saat perlombaan Adiwiyata. Pemerintah mungkin melihat tindakannya sebagai pemberontakan atau pembangkangan, padahal ia hanya ingin pemerintah memperhatikannya lebih lagi.

Facebook adalah media tempat Bu Yeni mencurahkan isi hatinya. Media sosial ini juga menjadi sarana yang mempertemukan Bu Yeni dengan banyak orang yang kreatif dan perduli dengan lingkungan. Sarana yang mempertemukan Bu Yeni dengan banyak orang ini juga membuatnya sering kali melakukan pelatihan dan pembinaan di berbagai tempat.

Gaya yang asyik dan pembawaannya yang menyenangkan membuat Bu Yeni banyak didatangi oleh kaum muda. Bukan hanya orang muda, stasiun televisi, koran dan berbagai media pemberitaan juga banyak menyorot dirinya. Motto Bu Yeni dalam menangani sampah adalah menjadikan sampah sebagai gaya hidup. Hal inilah yang membuatnya menarik perhatian. Ia biasanya mengenakan barang-barang bertema daur ulang, mulai dari anting, kalung, gelang dan juga tas. Ia juga tidak malu ketika memulung di jalanan atau di pasar. Menjadi pusat perhatian justru menjadi tujuannya, agar banyak orang yang melihat bahwa sampah bisa menjadi barang yang indah dan bernilai.

Tidak hanya itu saja, ibu yang memiliki satu orang anak ini juga tidak memasang tarif bagi pelayanannya di dunia sosial. ia juga tidak takut bila ada yang meniru hasil karyanya atau takut disaingi oleh orang lain. Ia justru berharap semakin banyak orang yang dapat mendaur ulang sampah menjadi barang yang indah dan bernilai.

1514970_858140874270851_3500005757869184126_n

More Information»
House of Stray

House of Stray

Jakarta Selatan, DKI Jakarta

December 312015

Rumah singgah House of Stray (HOS) merupakan sebuah rumah singgah sosial yang fokus pada perlindungan hewan anjing. Rumah singgah HOS didirikan pada tanggal 12 september 2012 dan didirikan oleh seorang wanita yang bernama bu Vidya. Rumah singgah HOS sendiri mempunyai sebuah shelter bagi hewan anjing-anjing yang telah di rescue. Shelter ini berlokasi di Desa curug, kecamatan Gunung Sindur, kabupaten Bogor. Di shelter itu sendiri sudah menampung banyak anjing-anjing hasil Rescue, yang sekarang ini total sudah menampung 70 anjing. Di shelter HOS ditinggali oleh empat orang karyawan atau Kennell boy yang bertugas untuk memberikan makan dan membersihkan kandang anjing setiap harinya.

Program atau kegiatan di rumah singgah HOS sendiri yaitu fokus pada me-rescue anjing-anjing yang telantar di jalanan atau anjing yang dibuang oleh pemiliknya. Rescue anjing ini merupakan kegiatan utama yang dilakukan oleh HOS. Selama berdirinya HOS, sudah banyak anjing yang terselamatkan hasil dari rescue HOS. Kegiatan rescue ini sendiri tidak setiap dilakukan. Rescue dilakukan apabila ada laporan dari masyarakat yang melihat seekor anjing terlantar atau tidak mempunyai pemilik. Laporan terhadap anjing yang terlantar dilakukan lewat fanspage HOS di Facebook. Tidak saja lewat laporan dari masyarakat, rescue dilakukan bisa dari inisiatif HOS untuk mencari anjing-anjing terlantar atau dibuang oleh pemiliknya. Akan tetapi, kegiatan itu tidak dilakukan setiap hari.

Selain kegiatan me-rescue anjing, HOS juga melakukan kegiatan mensterilisasi anjing. Sterilisasi anjing merupakan sebuah upaya untuk menekan populasi anjing yang sudah terlampau banyak. Sterilisasi anjing ini wajib dilakukan oleh HOS setelah melakukan rescue. Sterilsasi ini memprioritaskan terhadap anjing betina, namun tidak menutup kemungkinan terhadap anjing jantan. Manfaat dari sterilisasi anjing adalah mencegah timbulnya penyakit terhadap anjing, seperti penyakit kanker payudara, rahim, prostat dan lain-lain. Selain mensterilasasi anjing, HOS juga aktif melakukan pengobatan terhadap anjing yang mengidap penyakit. Kita tahu bahwa anjing yang di rescue kebanyakan mengidap penyakit. Otomatis HOS mempunyai kewajiban untuk mengobati anjing yang sakit.

Tidak saja melakukan kegiatan-kegiatan seperti rescue dan sterilasasi anjing. HOS mempunyai sebuah program yang bernama Orang Tua Asuh (OTA). OTA merupakan sebuah program yang diperuntukan bagi orang-orang yang ingin menjadi Orang tua asuh bagi anjing-anjing hasil rescue. OTA ini bertujuan untuk membantu HOS dalam memenuhi kebutuhan bagi anjing itu sendiri. Menjadi OTA di HOS cukup mudah, yaitu dengan memberikan Rp350.000/bulan. OTA ini sendiri direspon baik oleh masyarakat yang peduli terhadap anjing-anjing yang terlantar. Sudah semua anjing yang berada di HOS mempunyai OTA.

Program selanjutnya di HOS yaitu adopted. Program adopted ini merupakan sebuah kegiatan yang di peruntukan bagi masyarakat yang ingin mengadopsi atau memiliki anjing-anjing di HOS. Berbeda dengan OTA, Program adopted ini memiliki banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh adopter yang ingin mengadopsi anjing-anjing di HOS. Syarat-syaratnya adalah anjing tidak boleh dijual, anjing tidak boleh dibunuh atau dipotong, Rumah harus aman bagi anjing dan lain-lain. HOS juga melakukan survei ke tempat adopter untuk memastikan aman dari lingkungan.

Kesimpulannya,  program dan kegiatan yang dijalankan di HOS bertujuan huntuk melindungi dan menjaga anjing itu sendiri. Bagi HOS, anjing merupakan hewan yang harus dilindungi dan dijaga habitatnya, karena anjing merupakan sahabat terbaik bagi manusia yang harus dilindungi oleh kita semua sebagai manusia


HOS1 HOS2 HOS3 HOS4 HOS5

More Information»
Orangutan Foundation International

Orangutan Foundation International

Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah

December 222015

Orangutan Foundation International adalah tempat perawatan dan pelestarian orangutan Kalimantan yang berada di Kalimantan tengah. Lembaga ini didirikan oleh Dr. Birute Marija Filomena Galdikas yang lahir pada 1946 di Jerman. Ia tumbuh besar di Toronto, dan menjadi warga Negara Canada. Saat ini ia juga sebagai warga Negara Indonesia karena penelitiannya di bidang antropologi, tepatnya ia meneliti tentang orangutan yang berada di Kalimantan. Pada awalnya, ia menjadi sarjana di bidang Psikologi dan Biologi, namun ia mengambil Antroprologi pada gelar master dan doktornya. Pada umur 25 tahun, Ia memulai penelitiannya di Tanjung Puting, Kalimantan tengah. Melihat keadaan Kalimantan yang mengancam ekosistem orangutan, dengan adanya pertambangan, kebun sawit, industri kayu, dan lain sebagainya, Dr.Birute akhirnya melakukan advokasi mengenai orangutan dan pelestarian orangutan. Upaya advokasi ini akhirnya dapat menjadi rehabilitasi dan ia dapat merawat orangutan yang menjadi yatim piatu. Itulah keadaan awal mula didirikannya Orangutan Care Center and Quarantine (OCCQ) dan lahirnya OFI. Seiring bertambahnya waktu, tempat ini semakin berkembang, dan hingga saat ini, sudah ada kurang lebih 300 orangutan yang dirawat di OCCQ, dengan lebih dari 70 karyawan yang setia hari berada di OCCQ. Kegiatan yang dilakukan di OCCQ adalah memberi makan kepada orangutan, merawat mereka dengan memberikan berbagai aktivitas untuk bermain di dalam kandang, melepas mereka ke hutan untuk beberapa jam, sehingga mereka tetap merasakan habitat aslinya, yaitu hutan. Selain itu, di OCCQ juga terdapat Nursery center, yaitu tempat perawatan untuk bayi orangutan yang masih butuh perawatan intensif. Bayi-bayi itu dirawat dengan beberapa karyawan yang ditugaskan disana. Mereka dimandikan setiap hari, diberi susu, diberikan makanan, dan dilepas ke hutan secara rutin setiap harinya. Makanan mereka adalah buah-buahan yang disediakan setiap harinya dengan bantuan para karyawan. Tidak hanya itu, OFI juga memperhatikan orangutan yang sudah dilepasliarkan maupun orangutan yang sudah liar karena lahir di hutan lepas. Mereka mendirikan camp-camp di beberapa tempat, seperti Tanjung Putting, Filomena, Tanjung Harapan, dan masih ada lagi beberapa camp yang didirikan untuk memantau kondisi dan pergerakan orangutan di sekitarnya. Salah satu camp yang saat ini menjadi objek wisata adalah camp Leakey yang berada di area Taman Nasional Tanjung Puting.  Saat ini, di OCCQ juga terdapat beberapa hewan lain, seperti Beruang, kera, binturong, dan burung kasuari. Hewan-hewan ini juga dipelihara dan dirawat oleh OCCQ OFI dengan membuatkan kandang untuk mereka, memberi makan setiap hari secara rutin, membersihkan kandang, dan membuat kegiatan untuk mereka bermain di dalam kandang. Orangutan Foundation International juga membuka kesempatan untuk setiap orang yang mempunyai kerinduan untuk membantu di OCCQ maupun di camp. Mereka datang dari berbagai Negara, termasuk kami (saya dan Timotius), dan kami inilah yang disebut volunteer OFI. Untuk setiap orang yang ingin membantu, bisa mendaftarkan diri melalui website OFI dan melakukan wawancara sebelumnya dengan pihak OFI.

20150629_121456 20150604_153535 20150602_121140 20150706_125019 20150629_124937

More Information»
Deaf Art Community

Deaf Art Community

Kraton, DI Yogyakarta

December 222015

Deaf Art Community merupakan sebuah komunitas seni tuli. Secara khusus mereka memang berfokus pada seni teater. Tidak mengherankan karena pembina mereka, Broto Wijayanto, merupakan alumnu ISI (Institut Seni Indonesia) jurusan seni teater. Teater ini pula yang menjadi awal pertemuan Pak Broto dengan teman-teman tuli, hingga pada akhirnya Pak Broto “terjebur” bersama teman-teman tuli untuk kemudian membentuk Deaf Art Community. Dengan kata lain, teaterlah yang menyatukan komunitas ini.

Lewat ketekunan mereka di bidang tater, mereka sudah berkeliling ke berbagai tempat untuk mementaskan berbagai macam judul teater. Mayoritas teater yang mereka mainkan berangkat dari pergumulan mereka seputar kehidupan mereka sebagai seorang tuna rungu. Lewat teater tersebut mereka berusaha menyuarakan semuanya. Mulai dari keluh kesah mereka, harapan mereka, dan mereka menceritakan sendiri keunikan dalam kehidupan mereka sebagai seorang tuli.

Sebagai sebuah komunitas seni, DAC tidak membatasi diri dalam seni teater. Banyak hal-hal seni lainnya yang mereka geluti, mulai dari seni rupa, seni tari hingga seni musik. Seni rupa yang mereka tunjukkan adalah  lewat pembuatan topeng-topeng yang nantinya diperjualbelikan. Selain topeng, produk dari teman-teman tuli lainny juga diperjualbelikan, seperti mug, kaos, pigura, pin, dll. Semuanya itu dilakukan sebagai salah satu cara menyalurkan kemampuan teman-teman dan menopang operasional komunitas ini. Produk ini juga menjadi awal Pak Broto mengajarkan anak-anak ini tuli hidup mandiri dalam kekuarangan mereka.

Sementara itu menarik untuk melihat kiprah teman-teman tuli menggeluti bidang seni tari dan musik. Kedua hal ini membutuhkan kemampuan yang menjadi kekurangan mereka, pendengaran. Pertanyaan terbesar adalah, “Bagaimana mereka bisa mendengar?”. Jawabannya adalah detak jantung. Mereka mampu mendengar lewat getaran suara dari musik yang mereka mainkan. Ketika menari, mereka mendengar musik pengiring dengan jantung mereka, begitu juga ketika mereka memainkan jimbe. Mereka menggunakan jantung mereka untuk menyamakan tempo dan ketukan, meskipun mereka tidak bisa mendengar.

Komunitas ini sendiri sudah berjalan kira-kira 10 tahun. Keberadaan mereka cukup diakui melihat cukup banyaknya stasiun televisi swasta maupun negeri yang mengundang mereka menjadi narasumber acara mereka. Komunitas ini pun sudah melahirkan banyak tuli-tuli yang berprestasi baik itu ditingkat nasional maupun internasional. Kebanyakan dari mereka yang berprestasi mengangkat dunia tuli mereka menjadi sebuah hal luar biasa, baik dibidang seni maupun akademis.

Namun, tidak semua tuli memiliki kesempatan yang sama. Kesempatan yang diberikan mereka, terutama dalam dunia kerja sangat sempit. Padahal, ini sangat penting untuk membantu mereka dapat  hidup normal seperti orang-orang lain yang dapat mendengar. Pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab, nampaknya belum mampu bertindak secara optimal mengatasi permasalahan yang dialami teman-teman tuli.

Madre menjadi jalan keluar yang teman-teman tuli memperoleh lapangan pekerjaan. Usaha yang dibangun Pak Broto dan rekannya bertujuan untuk itu. Meskipun mereka tuli, banyak dari mereka yang berkeluarga baik itu dengan sesama tuli maupun dengan normal. Untuk menghidupi keluarganya, mereka perlu sebuah pekerjaan. Oleh karena itu, Kedai Madre ini menjadi langkah awal DAC untuk memberikan kesempatan teman-teman tuli bekerja dan menjadi tempat bagi mereka belajar untuk berwirausaha. Dengan terbatasnya kesempatan dan perhatian pihak-pihak lain saat ini, membuat kesempatan bagi diri sendiri nampaknya menjadi cara paling tepat dan cepat untuk menunjukkan diri mereka bisa dan sama dengan orang lain yang bisa mendengar.

 dac1 dac2 dac3 dac4 dac5

More Information»
Panti Kasih

Panti Kasih

Sukabumi, Jawa Barat

December 32015

Badan Panti Kasih didirikan pada 5 september 1975  oleh GKI Sukabumi. Panti ini berdiri atas inisiatif dan kerinduan beberapa anggota jemaat GKI Sukabumi yang ingin menampung , merawat, dan memberi pelayanan kepada para lansia yang tidak memiliki keluarga atau kerabat. Namun seiring dengan berjalannya waktu, panti ini juga menerima para lansia yang masih memiliki keluarga yang karena beberapa alasan tidak bisa tinggal bersama mereka. Lembaga ini dipimpin oleh Badan Pengurus yang terdiri dari ketua, wakil, sekretaris, bendahara, dan seksi-seksi. Merekalah yang merancang program-program, mencari donatur, dan mengurus kepentingan-kepentingan lain demi kemajuan dan kebaikan Panti Kasih.

Saat ini Panti Kasih dihuni oleh dua puluh satu orang. Mereka ditempatkan di kamar yang dihuni oleh satu atau dua orang. Dalam kesehariannya, mereka dirawat dan dilayani oleh para perawat yang berjumlah enam orang, tiga perawat laki-laki mengurus opa-opa dan tiga perawat perempuan mengurus oma-oma. Selain mengurus opa dan oma, para perawat terutama laki-laki juga bertugas untuk membersihkan kamar dan aula, menyapu halaman, dan menjaga pintu gerbang. Di samping itu, panti ini juga mempekerjakan dua orang tukang masak, satu orang tukang cuci, dan satu orang supir. Tentu saja, para karyawan ini dipimpin oleh seorang ibu Asrama.

Setiap hari opa dan oma bangun pada pukul 05.00 untuk mandi. Untungnya panti memiliki fasilitas water heater (air panas) sehingga mereka tidak perlu takut kedinginan. Setelah mandi, ada beberapa di antara mereka yang berolahraga atau sekedar duduk-duduk di teras menikmati udara pagi. Sekitar pukul 06.45 mereka sarapan pagi. Biasanya, sebagian dari mereka yang masih sehat dan dapat berjalan akan berkumpul di meja makan. Namun,  bagi opa dan oma yang sakit atau yang tidak dapat berjalan, makanan akan diantar ke kamar mereka. Selain makan pagi, siang, dan malam, opa dan oma juga diberikan cemilan sesuai dengan kesehatan mereka. Biasanya cemilan itu akan diberikan dua setengah jam usai mereka makan. Terkadang cemilan itu didapat dari donatur.

Setelah selesai sarapan, opa dan oma akan berkumpul di aula untuk ibadah pagi. Biasanya, jam dimulainya ibadah tergantung pada siapa yang memimpin. Ada yang dimulai pada pukul 07.30, 08.15, bahkan 08.30. Para pemimpin ibadah tersebut adalah para penatua dan pendeta GKI Sukabumi. Namun, setiap jumat ibadah akan dipimpin oleh oma Marta, salah satu penghuni panti Kasih. Setelah itu, jika ibadah yang berdurasi tiga puluh menit itu telah usai, sebagian dari mereka akan berjemur untuk kesehatan tulang mereka. Seperti itulah rutinitas mereka sehari-hari.

Selain rutinitas di atas, kesehatan opa dan oma selalu diperiksa secara rutin oleh salah satu perawat. Tekanan darah mereka diukur dan dicatat pada buku khusus. Di samping itu, setiap tahun panti ini juga mendapat pelayanan dari Akademi Keperawatan Kota Sukabumi dalam rangka kuliah kerja.

Setiap Minggu opa dan oma turut dalam Kebaktian I.  Mereka akan tiba di gereja setengah jam sebelum ibadah dimulai. Tentu mereka akan ditemani oleh seorang perawat perempuan dan laki-laki. Namun, bagi opa dan oma yang bergereja lain, mereka akan dijemput dan diantar oleh anggota jemaat gereja tersebut. Selain kebaktian Minggu, beberapa opa dan oma juga ikut serta dalam Ibadah Lansia yang diadakan setiap Jumat.

Hari ulang tahun  penghuni Panti Kasih akan diadakan secara masal, dengan membuat tumpeng atau kue. Biasanya ulang tahun mereka dirayakan setiap Desember.

 

ega5 ega4 ega3 ega2 ega1

More Information»
Yayasan Inter Medika

Yayasan Inter Medika

Jakarta Pusat, DKI Jakarta

November 292015

Yayasan Inter Medika adalah lembaga yang saat ini bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS. Orang-orang yang mengalami HIV/AIDS akan menadapatkan advokasi dan konseling dari para anggota Yayasan Inter Medika. Orang-orang yang akan melakukan pemeriksaan mengenai statusnya HIV atau tidak biasanya akan diberikan advokasi mengenai HIV.

Dalam menjalankan programnya di bidang HIV/AIDS, Yayasan Inter Medika biasanya bekerja sama dengan pemerintah seperti Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) untuk mendapatkan kondom gratis. Yayasan Inter Medika sendiri tidak menjual kondom tersebut. Kondom itu kembali dibagikan secara gartis oleh Yayasan Inter Medika demi keamanan para pekerja seks laki-laki yang berhubungan dengan laki-laki.

Salah satu fokus Yayasan Inter Medika saat ini adalah memberikan pemahaman kepada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki agar menggunakan kondom. Pemahaman ini diberikan agar mereka bisa terus menggunakan kondom dalam berhubungan seksual. Kemudian, menjangkau orang-orang yang berkemungkinan besar mengalami HIV juga menjadi tugas besar yang diemban oleh para anggota Yayasan Inter Medika. Mengapa hal ini dikatakan tugas besar Yayasan Inter Medika, karena orang-orang yang mereka ajak gengsi untuk melakukan pemeriksaan, apalagi mengenai HIV.

Kemudian, orang-orang yang mengalami HIV terus disemangati. Mereka didorong untuk mau meminum obat mereka. Obat yang diminum seumur hidupnya. Ini juga yang menjadi salah satu kesulitan karena harus mengajak mereka untuk semangat ketika meminum obat seumur hidupnya. Ada beberapa orang yang memang putus obat sehingga harus mengganti obatnya ke yang lebih tinggi kelasnya, seperti lini 2.

Pada bidang advokasi, Yayasan Inter Medika juga bekerja sama dengan pemerintah dan beberapa orang dari USAID. Hal ini dilakukan agar ketika para anggota Yayasan Inter Medika berhadapan dengan para polisi atau orang-orang yang mempunyai peraturan keras sehingga tidak bisa mendengar lembaga, maka pemerintah atau USAID pun diminta kerja sama untuk memberikan advokasi kepada para polisi yang mendiskriminasi dan sebagainya.

Pada titik lain, Yayasan Inter Medika sendiri memiliki anggota yang amat ramah. Keterbukaan juga menjadi salah satu hal yang patut dibanggakan oleh Yayasan Inter Medika. Tentunya keterbukaan terhadap kehadiran orang lain. Keterbukaan inilah yang membuat Yayasan Inter Medika sendiri tidak terjebak pada kekakuan pada orang lain. Mereka menuangkan keterbukaan ini di dalam kebersamaan yang sedang kami jalani. Keterbukaan dan hospitalitas dari para anggota Yayasan Inter Medika kiranya perlu dialami sendiri agar tidak memandang mereka dengan mata penuh kebencian.

Pada kenyataannya, coming out memang perlu dilakukan oleh orang-orang yang termarjinalkan atau yang tidak diakui keberadaannya oleh yang mayoritas. Para anggota Yayasan Inter Medika pun membuktikan hal itu. Hal ini ditunjukkan melalui keterbukaan mereka. Bahkan, kebanyakan dari mereka malah lebih nyaman untuk menjalani kehidupannya dengan terbuka. Tentunya terbuka dalam hal ini adalah dengan tidak menyembunyikan identitas mereka.

Mereka lebih nyaman untuk menjadi diri sendiri. Walaupun ketika melakukan hal itu, mereka harus mengorbankan segala sesuatunya, seperti diusir dan sebagainya.

Tindak diskriminasi memang masih amat tinggi terhadap kaum homoseksual. Namun, tindak diskriminasi seperti beriringan dengan kehendak untuk menyembunyikan identitas mereka. Oleh sebab itu, Yayasan Inter Medika juga bergerak untuk mengajak orang-orang untuk tidak malu mengakui orientasi dan identitas seksual mereka. Hal ini tentunya bergerak pada program jangka panjang mereka.erma1 erma2
tony1 tony3
tony5

More Information»
PERCIK (Persemaian Cinta Kemanusiaan)
November 112015

Percik (Persemaian Cinta Kemanusian) adalah lembaga independen yang didirikan untuk penelitian sosial, demokrasi dan keadilan sosial. Percik didirikan pada 1 Februari 1996 oleh 12 staf akademik UKSW yang keluar dari universitas tersebut karena menolak beberapa kebijakan dari pengurus yayasan. Lembaga Percik menjadi wadah baru untuk mewujudkan idealisme mereka mengenai masyarakat yang demokratis dan berkeadilan sosial.

Direktur Percik yang disebut dengan kepala kampung adalah pak Pradjarta. Beliau merupak salah satu dari 12 orang yang mendirikan Percik. Pak Pradjarta juga orang yang memberi ide mengenai tempat kerja atau kantor Percik. Lokasi Percik berada di tengah persawahan, dipenuhi pepohonan hijau dan akrab dengan alam. Tempat kerja ini diberi nama Kampoeng Percik. Para staf juga dipanggil dengan warga kampung, dan semua staf juga sangat akrab, jabatan tidak membuat batas atau jarak pada mereka. Di tempat ini setiap orang memiliki hak untuk mengungkapakan inspirasi merela. Di temapat ini adat istiadat Jawa dan kesederhanaan sangat dipertahankan. Di Kampoeng Percik terdapat lima rumah joglo yang menjadi tempat bekerja, aula dan perpustakaan.

Siapa saja boleh datang ke Percik untuk mengenal, belajar ataupun berkegiatan di kampung ini. Untuk perpustakaan Percik siapa pun boleh bergabung. Saat ini banyak mahasiswa yang bergabung menjadi member di perpustakaan Percik. Dilihat dari sisi kelengkapannya perpustakaan Percik cukup lengkap. Percik juga banyak menerbitkan buku-buku hasil penelitian dan seminar Internasional mereka. Dalam menerbitkan buku mereka banyak bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama dan masyarakat. Tidak hanya belajar dari buku-buku yang ada di perpustakaan Percik tetapi banyak mahasiswa yang datang ke sini untuk mewawancarai staf Percik dalam hal politik dan sejarah. Beberapa staf Percik merupakan lulusan S-2 dari luar negeri khususnya Belanda. Sekarang juga ada beberapa staf Percik yang sedang menyelesaikan S-2 atau S-3 mereka.

Hal yang sangat menari dari Percik adalah jam kerja. Di sini tidak ada jam kerja yang mutlak. Semua orang memiliki kebebasan untuk datang dengan sesuka hati mereka, akan tetapi kebebasan ini tidak membuat mereka tidak bertanggung jawab. Mereka memang datang dengan sesuka hati mereka tidak jarang mereka bekerja hingga malam bahkan dini hari.

Percik mempunyai relasi yang sangat banyak sebagai LSM. Tidak hanya kerjasama dengan lembaga atau institusi yang ada di Indonesia, tetapi Percik juga mempunyai banyak relasi di luar negeri. Tidak jarang Percik kehadiran tamu penting baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena banyaknya tamu Percik dari luar negeri, pemimpin lembaga ini membuat kebijakan untuk memberi kursus bahasa Inggris untuk para staf rumah tangga.

Saat ini Percik berdiri sebagai lembaga advokasi dan penelitian. Dari yang saya ketahui pada umumnya kegiatan Percik lebih banyak berjalan pada lintas iman. Program-program yang dimiliki Percik adalah pengembangan desa, Kata Hawa, Sobat (anak, muda dan dewasa), Fasilitator PBA (Pernikahan Beda Agama) dan lainnya. Selama saya di sini staf Percik lebih banyak melakukan penelitian-penelitian mengenai konflik-konflik agama yang ada di beberapa kabupaten di Jawa Tengah.  Hasil penelitian mereka dilampirkan ke dalam jurnal-jurnal dan kemungkinan besar jurnal ini akan mereka bukukan.

Saat ini juga Percik disibukkan dengan beberapa klien pasangan beda agama. Sebagai fasilitator, pada umumnya Percik sebagi tempat konsultasi dan sebagai lembaga penghubung pasangan kepada tokoh-tokoh agama dan mengurus dalam hal hukum seperti  catatan sipil. Dan banyak lagi kesibukan yang dilakukan Percik walaupun secara kasat mata mereka jarang terlihat di kantor.

percik4 percik3 percik2 percik1

More Information»
Keluarga Besar Waria Yogyakarta (KEBAYA)
November 112015

Keluarga Besar Waria Yogyakarta bisa dikatakan sebagai sebuah LSM yang bergerak pada bidang penyuluhan penyakit AIDS. Lembaga yang berdiri pada 18 Desember 2006 ini diprakarsai oleh seorang waria yang bernama Mami Vinolia. Sebenarnya KEBAYA bukan merupakan murni sebuah LSM, KEBAYA hanyalah merupakan rumah singgah bagi para penderita AIDS. Disini para penderita AIDS dapat berkumpul dan saling memberikan support satu sama lain.

Pada awal pendiriannya, KEBAYA sebenarnya hanya berfokus kepada para waria yang terkena AIDS. Namun seiring berjalannya waktu rumah singgah (shelter) KEBAYA pada akhirnya juga menerima mereka yang bukan waria supaya turut bergabung dan dirawat di KEBAYA.

Saat ini KEBAYA sudah menjadi organisasi pemerintah dan memiliki sekitar 400 anggota. Saat ini dari 400 anggota KEBAYA ada sekitar 60 anggota yang sudah terinfeksi virus HIV dan sudah mau untuk mengakui bahwa dirinya adalah seorang  ODHA. Namun sebenarnya diluar 60 orang tersebut masih banyak anggota KEBAYA yang sudah menyandang status sebagai ODHA namun masih belum mau mengakui dan belum mau terbuka kepada orang-orang di sekitarnya.

KEBAYA memiliki Visi untuk menurunkan angka infeksi HIV dan penanganan kasus AIDS di kalangan waria di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sementara Misi KEBAYA adalah untuk meningkatkan taraf hidup waria dengan masyarakat lainnya sebagai Warga Negara Indonesia.

Pada awal pembentukannya KEBAYA memiliki tujuan untuk:
Memberikan informasi, edukasi, dan advokasi kepada kelompok waria tentang HIV dan AIDS.
Memberikan konseling dan dukungan psikososial kepada kelompok waria yang berisiko tertular HIV dan teman-teman waria yang sudah menyandang status sebagai ODHA.
Melakukan pendampingan kepada teman-teman waria di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tujuan yang ditulis di atas sebenarnya adalah tujuan awal pembentukan KEBAYA. Namun seiring berjalaanya waktu KEBAYA akhirnya juga menjadi rumah singgah dan tempat tingga bari teman-teman penyandang status ODHA. Baik yang waria, perempuan, ataupun laki-laki. Keanggotaan KEBAYA terbuka untuk siapa saja yang ingin tergabung didalamnya dan rumah singgah KEBAYA bersedia menerima teman-teman ODHA baru untuk dirawart dan diberikan support baik dalam bentuk medis maupun psikologi di KEBAYA.

Saat ini kegiatan yang dilakukan KEBAYA adalah melakukan peningkatan pengatahuan dan kesadaran Mitra Strategis terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV, dan AIDS. Selain itu KEBAYA juga melakukan pendidikan keterampilan kepada para waria usia lanjut dan KEBAYA juga melakukan kegiatan “Violet Community” yaitu sebuah pertemuan kelompok sebaya agar para penderita HIV dapat saling berinteraksi dan memberikan semangat antar satu sama lain.

Pada saat ini KEBAYA mendapatkan dukungan dana dari sebuah instansi Amerika Serikat yang bernama  Global Fund. Bantuan itu diberikan kepada Nahdhatul Ulama terlebih dahulu dan dana tersebut akan dialirkan ke Spiritia (Organisasi yang berfokus pada HIV/AIDS dalam skala nasional) lalu oleh Spiritia akan disalurkan ke KEBAYA untuk wilayah DIY. Selain itu, dana yang KEBAYA dapatkan juga berasal dari kantong mami Vinolia sendiri selaku pendiri dan pemimpin KEBAYA saat ini. Hingga kini mami Vinolia masih sering dipanggil oleh unversitas-unversitas untuk memberikan pengajaran mengenai HIV/AIDS. Hasil dari mami Vinolia melakukan seminar itulah yang juga digunakan untuk biaya operasional KEBAYA.

Rencana program yang akan KEBAYA lakukan adalah agar bisa bekerjasama dengan badan-badan pemerintah maupun swasta lainnya untuk melakukan program-program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Daerah Istimewa Yogyakarta.

kebaya4 kebaya3 kebya2 kebaya1

More Information»
PPK Tabitha

PPK Tabitha

Jakarta Pusat, DKI Jakarta

November 112015

Sesuai namanya, PPK (Perkumpulan Penghiburan Kedukaan) Tabitha merupakan sebuah lembaga milik Gereja Kristen Indonesia yang bergerak di bidang kedukaan. Kegiatan sehari-hari mereka jelas sangat berhubungan dengan masalah kedukaan. Pada awalnya lembaga ini dibuat untuk membantu orang-orang yang miskin. Pendiri lembaga ini ialah Pak Liman, dialah yang mengusulkan bahwa betapa perlunya gereja-gereja membantu jemaat miskin dalam hal kedukaan.

Nama Tabitha yang Bahasa Yunaninya ialah Dorkas dipilih karena Tabitha adalah seorang anak perempuan yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Maka, harapan para pendiri PPK Tabitha adalah agar PPK Tabitha dapat melakukan pelayanan bagi jemaat-jemaat miskin yang berduka di seluruh gereja di DKI Jakarta. Motonya PPK Tabitha ialah “Sobat Di Kala Duka”.

Saat ini, ketua umum pengurus PPK Tabitha ialah Bapak Tan Tiong Gie, sedangkan wakil ketua PPK Tabitha ialah Bapak Imanuel Kristo. Di bawah mereka, terdapat jajaran pengurus yang bertugas untuk mengawasi PPK Tabitha, di bawah para pengurus, ada yang bertugas di kantor pusat sebagai manager, dan kebetulan salah satu Manager di PPK Tabitha yaitu Bapak Edwin Andries Lasut, Manager Operasional PPK Tabitha harus berpulang ke rumah Bapa di Sorga pada tanggal 19 Juni 2015. Di bawah manager ada juga karyawan yang bertugas di kantor pusat sebagai front office, kasir, dan lain-lain. Selain itu ada juga karyawan yang terdapat di Gudang 1 dan Gudang 2 serta para petugas lapangan.

Kegiatan mereka mulai dari orang-orang di gudang 2 yaitu di Pamulang yang mempernis peti-peti kemudian diantarkan ke gudang 1 yang berada di Jalan Hemat . Kemudian dilanjutkan dengan koordinasi keluarga yang berduka kepada pihak PPK Tabitha ketika mereka menginginkan pelayanan dari PPK Tabitha. Setelah itu sales berhubungan dengan keluarga yang sedang mengalami kedukaan, sales memberitahukan kepada keluarga mengenai paket-paket pelayanan yang ada di Tabitha,  setelah kedua belah pihak sepakat, lalu sales mengabarkan kepala piket yang berada di gudang 1 untuk mengantarkan peti ke rumah duka atau tempat persemayaman yang sudah dipilih oleh keluarga tersebut.

Kemudian para kru mengantarkan peti yang berasal dari gudang di Jl. Hemat ke rumah duka atau rumah orang yang berduka tersebut sembari mengingatkan surat-surat yang harus dilengkapi untuk prosesi pemakaman/kremasi, dan untuk pembuatan akta kematian, mereka juga biasanya didampingi oleh pemandu, tugas pemandu ialah mendampingi keluarga yang berduka tersebut dari awal pengantaran peti sampai pemakaman/kremasi, mereka diwajibkan untuk mengikuti seluruh kegiatan ibadah yang berlangsung di sana, mengingatkan kembali segala jenis surat yang harus dilengkapi.

Biasanya pemandu mengikuti ibadah penghiburan, tutup peti, malam kembang, serta ibadah pelepasan. Pada saat menuju ke pemakaman, pemandu mengatur mobil-mobil, mengambil karcis parkir untuk digabung kemudian dibayar oleh keluarga sehingga mereka dapat mengikuti iring-iringan dan tidak tertinggal. Bila keluarga menginginkan prosesi kremasi, maka setelah selesai acara kremasi pemandu akan mengantarkan keluaga untuk mengurus administrasi di kantor krematorium. Namun bila keluarga menginginkan acara pemakaman, maka ada petugas dari PPK Tabitha yang mengurus tanah makam, serta mengurus segala jenis surat yang harus diserahkan ke kantor TPU tersebut.

Setelah selesai acara kremasi/pemakaman, maka petugas PPK Tabitha akan mengurus akta kematian, akta kematian dapat diserahkan kepada catatan sipil bila keluarga sudah melengkapi surat-surat untuk akta kematian. Harapan PPK Tabitha untuk menjadi Sobat Di Kala Duka memang sungguh dirasakan oleh orang-orang yang berduka sendiri karena mereka merasa terbantu dengan adanya petugas-petugas di PPK Tabitha. Saat ini, PPK Tabitha sudah melayani semua strata, tidak hanya orang yang miskin saja. Namun, mereka masih memiliki paket peti untuk orang yang tidak mampu, yaitu peti diakonia dan harganya lebih miring dibandingkan harga peti-peti yang lain.

Clipboard06 Clipboard04 Clipboard03 Clipboard02tabitha

More Information»
Pondok Pesantren Al-Mizan

Pondok Pesantren Al-Mizan

Majalengka, Jawa Barat

November 112015

Pondok Pesantren Al-Mizan berdiri sejak tahun 1998, di daerah Ciborelang, Jatiwangi, Majelengka, Jawa Barat. Berdirinya Pondok Pesantren Al-Mizan berawal dari keinginan luhur keluarga Haji Muhammad Kosim Fauzan dan istri untuk mengembangkan dakwah Islam sekaligus menjadi benteng umat dari kecenderungan materialisme di masayarakat, khususnya moral di kalangan generasi muda. Keinginan luhur tersebut semakin diperkuat dengan adanya Kiai Zaenal Muhyidin dan Kiai Maman Imanulhaq yang ikut serta menentukan eksistensi Pondok Pesantren Al-Mizan bahkan hingga terbentuknya sebuah lembaga pendidikan yang disebut Yayasan Al-Mizan Langen Sari. Untuk itu, H. Muhammad Kosim Fauzan, Kiai Zaenal Muhyidin, dan Kiai Maman Imanulhaq disebut sebagai Trimurti Yayasan Al-Mizan Langen Sari.

Pondok Pesantren Al-Mizan merupakan pondok psantren yang berbasis Nahdatul Ulama (NU) dengan ajaran Islam Ahlusunnah Waljamaah (ahli yang mengikuti kebiasaan dan perilaku Nabi Muhammad SAW, terutama sunnahnya). NU sendiri memiliki cara berpikir moderat yang dasar pemikirannya berasal dari Al-Quran dan Sunnah, tetapi tidak melupakan realitas dan konteks masa kini. Al-Mizan merupakan salah satu kosakata dari bahasa Arab yang artinya adalah “seimbang”. Pondok Pesantren Al-Mizan dinaungi oleh Yayasan Al-Mizan Langen Sari. Untuk itu, pendidikan di dalam Yayasan Al-Mizan Langen Sari mengkolaborasikan antara ilmu Al-Quran, Intelektual, IPTEK, dan moral, serta teori-teori dalam kemasan lembaga pendidikan yang setara dengan tetap berbasis pada nilai-nilai kepesantrenan, moralitas, dan kebangsaan.

Pondok Pesantren Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian, dan kemanusiaan. Semuanya itu dilaksanakan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berpikir, terbuka dalam bersikap, berdaya dalam bermartabat, dan berkeadilan dalam tatanan kehidupan.

Pondok Pesantren Al-Mizan mendidik santri-santrinya untuk memiliki semangat membangun peradaban yang memanusiakan manusia. Pondok Pesantren Al-Mizan menjadi sebuah pesantren yang mengibarkan panji cinta sejati dan persaudaraan abadi bagi seluruh umat manusia. Demi mewujudkan hal tersebut, santri-santri sering dididik untuk menjadi umat Islam yang sejati dan bangsa Indoesia yang sejati. Santri-santri di sini selalu dibiasakan oleh dewan Kiai dan Ustadz untuk memiliki watak inklusif dan menjunjung tinggi pluralisme. Dialog dengan antar umat beragama, mengikuti pelatihan teknologi dan informasi (IT), serta memelihara silaturahmi antar pesantren lain menjadi bagian dari kegiatan-kegiatan satri di luar pondok. Selain itu, di dalam pondok, para santri dididik untuk menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, dan istiqomah (setia pada kewajiban).

Pesantren adalah sebuah wadah berdakwah yang Rahmatan-Lil-Alamin (rahmat bagi seluruh alam) dengan mengajak tanpa mengejek, merangkul tanpa memukul, dan berargumen tanpa sentimen.” – KH. Maman Imanulhaq.

ALMIZAN4 ALMIZAN2 ALMIZAN3 ALMIZAN6 ALMIZAN1

More Information»
Urban Poor Consortium

Urban Poor Consortium

Jakarta Timur, DKI Jakarta

November 102015

Urban Poor Consortium (UPC) adalah lembaga independen dan nirlaba yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat miskin di daerah perkotaan. UPC didirikan pada tanggal  24 September 1997 dalam bentuk konsorsium yang beranggotakan lembaga dan individu, gabungan antara aktivis NGO, seniman, professional seperti arsitek, wartawan, antropolog, dan sebagainya. Keragaman latar belakang ini didasarkan pada pemahaman tentang permasalahan yang menjadi fokus permasalahan upc, kemiskinan kota, yang diasumsikan kompleks dan multi-segi (urbanpoor.or.id)

UPC berfokus pada masyarakat miskin di daerah perkotaan karena memiliki permasalahan yang lebih kompleks daripada masyarakat miskin di pedesaan. UPC memiliki tiga strategi dalam pelaksanaan kegiatannya. Strategi yang pertama adalah pengorganisasian. Strategi ini dimaksudkan untuk membuat rakyat miskin yang jumlahnya sangat banyak untuk diorganisasikan. Strategi yang kedua adalah advokasi. Strategi ini dimaksudkan untuk berusaha mengubah sistem atau struktur yang selama ini menyebabkan ketidakadilan atau bahkan yang menyebabkan kemiskinan. Dan strategi yang ketiga adalah jaringan. Strategi ini dimaksudkan untuk memperluas jaringan UPC dalam pengorganisasian rakyat miskin dan pelaksanaan advokasi.

UPC merumuskan lima indikator masyakarat miskin yang sudah diberdayakan, yaitu:

  1. sejahtera secara fisik yang meliputi sandang, pangan dan papan;
  2. memiliki akses kepada sumber daya seperti pendidika, kesehatan dan lain-lain;
  3. mempunyai kesadaran kritis akan kondisi kemiskinan yang dialami;
  4. terlibat dalam pengambilan keputusan; dan
  5. melakukan pengontrolan.

Ada lima kegiatan utama UPC dalam rangka pemberdayaan rakyat miskin, yaitu:

  1. tabungan masyarakat,
  2. kelompok belajar anak-anak,
  3. gerakan hidup sehat alami,
  4. pemenuhan hak-hak dasar masyarakat, dan

UPC mendampingi sebuah organisasi rakyat miskin yang disebut JRMK (Jaringan Rakyat Miskin Kota). JRMK adalah organisasi otonom yang memiliki kepengurusan sendiri dan semua anggotanya adalah rakyat miskin. JRMK berdiri pada tahun 2009 secara resmi. Kepengurusan JRMK, selain Ketua, Sekretaris, dan Bendahara, memiliki lima divisi, yaitu Hak Dasar, Jaringan, Ekonomi, KBA, dan GHSA (Gerakan Hidup Sehat Alami). Kelima divisi tersebut merupakan lima program utama JRMK yang terkait dengan lima kegiatan utama UPC.

Pertama, divisi hak dasar atau yang sering juga disebut advokasi adalah divisi JRMK yang bertugas untuk memperjuangkan pemenuhan hak-hak dasar rakyat miskin perkotaan. Hak tersebut berupa hak tempat tinggal, hak atas layanan kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Bila ada penggusuran dari pemerintah terhadap rumah-rumah warga maka divisi advokasi bertugas membantu. Bahkan tak jarang mereka ikut membentuk pertahanan di depan para petugas satpol PP yang akan menggusur warga. Divisi advokasi/hak dasar juga membantu warga agar bisa mengurus akta kelahiran, layanan BPPJS, Kartu Jakarta Pintar, Kartu Jakarta Sehat, dan sebagainya. Divisi advokasi membantu agar warga mampu mengurus hal-hal tersebut secara mandiri.

Kedua, divisi jaringan adalah bagian JRMK yang berfungsi untuk memperluas jaringan JRMK. Divisi ini berusaha mencari instansi-instasi lain yang bisa membantu JRMK. Bantuan tersebut dapat berupa bantuan pakaian bekas, makanan dan minuman bagi warga-warga miskin yang terkena gusuran atau bencana banjir.

Ketiga, divisi ekonomi adalah bagian JRMK yang berhubungan dengan KUBE, salah satu kegiatan JRMK, KUBE adalah singkatan dari Kelompok Usaha Bersama. KUBE adalah kegiatan tabungan warga. Uang-uang mereka dikumpulkan dan disimpan. Uang tersebut bisa diolah untuk mendapat penghasilan tambahan. Uang tersbut juga dapat dicairkan sebagai bentuk pinjaman.

Keempat, divisi KBA adalah bagian JRMK yang mengurus Kelompok Belajar Anak-Anak (KBA). Hingga saat ini KBA yang berada dibawah naungan JRMK tinggal satu yaitu KBA Bersama di Kampung Marlina, Muara Baru, Jakarta Utara. KBA ini merupakan bentuk Pendidikan Usia Dini yang mempunyai kurikulum sendiri rancangan UPC. Salah satu kurikulum khas KBA ini adalah pembelajaran tentang bencana alam beserta penyebab, pencegahan dan penanggulangan.

Kelima, divisi GHSA adalah bagian JRMK yang berusaha memperhartikan kesehatan masyarakat miskin. Program didasrkan pada keyakinan bahwa kesehatan yang alami akan lebih terjangkau daripada pengobatan rumah sakit. Hal itu seperti kata pepatah bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.

Clipboard24 Clipboard23 Clipboard22 Clipboard21 Clipboard20 Clipboard19

More Information»
Arus Pelangi

Arus Pelangi

Jakarta Selatan, DKI Jakarta

November 102015

Berbeda dengan Amerika Serikat yang sudah terbuka dengan isu-isu mengenai LGBT, di Indonesia masih sangat tabu ketika membicarakan mengenai LGBT. Meskipun sebenarnya LGBT sudah ada di Indonesia sejak lama, bahkan pada masa penjajahan dulu. Terdapat beberapa lembaga yang menangani mengenai isu-isu LGBT ini, salah satunya ada GAYa NUSANTARA, Metamorfosa, dan Arus Pelangi

Arus pelangi merupakan lembaga yang menangani dan konsentrasi terhadap isu LGBT. Arus Pelangi yang berlokasikan di Jl. Tebet Timur IIIA nomor 30 ini sudah berdiri pada tahun 2006 yang didirikan oleh Sembilan orang pendiri dan semakin lama semakin berkembang dengan program-program yang diberikan. Arus Pelangi sendiri sudah empat kali mengalami perpindahan kantor, hal itu disebabkan karena keamanan yang tidak mendukung teman-teman LGBT. Arus Pelangi dibuat  karena dasar perihatin para pendiri yang melihat bahwa tidak ada lembaga yang fokus memperhatikan LGBT, banyak lembaga yang menangani kasus anak dan perempuan akan tetapi tidak dengan LGBT. Arus Pelangi memiliki empat pilar sebagai tugas utama mereka yaitu Advokasi, Kampanye, Pendidikan, dan Pengorganisasian.

Arus Pelangi ini merupakan lembaga non profit non pemerintah yang perkumpulannya berbasis anggota. Arus Pelangi ini menganut prinsip independen, menolak bully, anti kekerasan, anti diskriminasi, kesetaraan gender, dan beberapa hal lainnya. Lembaga ini juga memiliki visi misi yaitu, terwujudnya tatanan masyarakat yang memiliki nilai pada kesetaraan gender, menghormati dan memahami teman-teman di komunitas LGBT, dan tidak melakukan kekerasan terhadapat LGBT.

Arus Pelangi memiliki banyak kegiatan yang diselenggarakan seperti misalnya work shop, pelatihan, dan juga Rumah Belajar Pelangi. Rumah Belajar Pelangi sendiri bisa dibilang sebagai sekolahnya orang-orang yang belum tahu mengenai LGBT, sehingga dalam proses di Rumah Belajar Pelangi ini akan dijelaskan dan diberikan pelajaran baik mengenai SOGIE, HAM, ataupun mengenai Hukum-hukum yang digunakan dalam kasus LGBT. Pelajaran-pelajaran tersebut merupakan dasar untuk mengenal LGBT.

Struktur organisasi yang ada di Arus Pelangi terdiri atas Sembilan pendiri, Ketua Badan Pengawas, Ketua Arus Pelangi, Bendahara, Sekertaris Umum, dan Koor. Program. Jam oprasional untuk para staf di Arus Pelangi ini ialah jam sepuluh pagi sampai dengan jam lima sore, meskipun terkadang ketika ada kegiatan mereka harus datang lebih dulu dan pulang larut malam. Di Arus Pelangi rata-rata para stafnya memiliki kemampuan berbahasa asing (Inggris) sangat fasih, hal itu disebabkan karena banyaknya kegiatan yang diikuti oleh mereka tidak hanya di Indonesia tetapi di luar Indonesia.

Arus Pelangi terbuka dengan orang baru yang ingin mengenal LGBT, akan tetapi Arus Pelangi ini sangat ketat mengenai keamanan kantor mereka. Setiap hari kantor Arus Pelangi dalam keadaan terkunci rapat oleh gembok, hal itu disebabkan keamanan yang ketat. Setiap orang yang ingin ke Arus Pelangi jika pihak luar harus melapor terlebih dahulu jika ingin mengunjungi kantor, dan jika staf harus memiliki kunci sendiri atau harus membunyikan lonceng/bel untuk masuk ke Arus Pelangi. Hal itu disebabkan karena lingkungan yang masih tabu dengan isu-isu LGBT. Ketakutan teman-teman di Arus Pelangi terhadap masyarakat yang masih belum terima mengenai LGBT, khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Arus Pelangi sendiri bekerja sama dengan lembaga-lembaga LGBT lainnya, seperti misalnya SWARA, GAYa NUSANTARA, PLUS, dan lembaga LGBT lainnya. Arus pelangi sendiri cukup terkenal di kalangan komunitas LGBT.

Clipboard14 Clipboard15 Clipboard18 Clipboard16 Clipboard17

More Information»
DIAN (Dialog Antariman) Interfidei
November 102015

Institut Dialog Antariman di Indonesia atau Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia, disingkat Institut DIAN/Interfidei.

Institut Dialog Antar-iman di Indonaesia (Institut DIAN/Interfidei) didirikan pada 20 Desember 1991 di Yogyakarta, Indonesia dengan akte notaries no.38 (de jure). Secara resmi dipublikasikan kepada masyarakat luas sebagai sebuah Lembaga (de facto), tanggal 10 Agustus 1992. Pendirinya adalah, Dr. Th. Sumartana (alm.), Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D. (alm), Dr. Daniel Dhakidae, Zulkifly Lubis, dan Dr. Djohan Effendi.

Latarbelakang Pendirian

Historis:

Internasional. 1) Konflik yang disebabkan oleh perang dingin; 2) Kesadaran baru untuk menghormati agama lain serta pandangan ideologi yang berbeda; 3) Kegiatan dialog antaragama dan antarideologi menuju perdamaian dunia.

Nasional. 1) Persoalan Kemanusiaan yang terjadi di erah 1960-an sampai 1980-an : kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, ketidakadilan hukum, ekonomi; 2) Konflik social-politik serta kesadaran tentang dialog dan rekonsiliasi; 3) Keterpanggilan para tokoh untuk mengembangkan sikap positif dan menjalin kerjasama untuk membangun masyarakat damai, produktif dan sejahtera; 4) Tantangan kooptasi dan politisasi negara terhadap agama-agama serta formalisasi agama oleh institusi agama.

Filosofis:

Agama-agama merupakan unsur penting dan berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kehidupan religius dalam konteks apapun tidak mungkin dilepaskan dari tanggungjawab untuk memecahkan masalah-masalah social-kemanusiaan. Dialog dianggap sebagai jalan keluar dari berbagai konflik di masyarakat; konflik antaragama, antargolongan, antara agama dan negara, agama dan ideologi, dsb.

Mengapa “dialog antariman”

“Iman”, adalah ungkapan otentik dari korelasi antara keyakinan dan realitas kehidupan, yang berhubungan erat dengan pengalaman konkrit kehidupan sehari-hari. Karena itu bisa dibicarakan bersama dalam suasana bebas dan terbuka. “Iman” sebagai esensi agama/kepercayaan, mendorong kepada dialog yang dilakukan setiap orang secara individual, bukan sebagai lembaga. “Dialog”, tidak bertujuan menghapus pebedaan, tetapi merupakan langkah menjalin komunikasi dan ungkapan kesediaan untuk saling mendengar, menghormati dan terbuka. “Dialog” mengandung konflik inheren pada hubungan antarmanusia, sekaligus menjanjikan sebuah akhir yang lebih dewasa untuk menghadapi dan menyelesaikan konflik.

Status dan Fungsi

Institut ini tidak berkedudukan mewakili agama sebagai institusi, tetapi sebagai perkumpulan dari para pemeluk agama yang terikat oleh imannya. Ruang lingkup kerja Institut ini berkaitan dengan dan melibatkan seluruh agama dan setiap wujud kepercayaan di masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta kehidupan tanpa kekerasan dan menghargai keutuhan alam semesta. Institut ini sebagai Forum di mana gagasan keimanan yang tumbuh dari diskursus dinamika kemajemukan, serta pengalaman konkrit di masyarakat didialogkan bersama.

Clipboard06 Clipboard07 Clipboard08 Clipboard09 Clipboard10 Clipboard11

More Information»
ICRP (Indonesian Conference on Religions and Peace)
November 102015

ICRP adalah sebuah organisasi berbadan hukum yayasan yang bersifat non-sektarian, non-profit, non-pemerintah, dan independen. ICRP mempromosikan dan memperluas dialog serta kerjasama lintas iman. ICRP dibangun oleh para tokoh dari berbagai agama dan kepercayaan di Indonesia, ICRP berusaha mempromosikan dialog dalam pengembangan kehidupan beragama yang demokratis, humanis dan pluralis. ICRP diresmikan tanggal 12 Juli 2000, namun jauh sebelum itu, Presiden RI Abdurrahman Wahid, upaya-upaya dialog lintas agama sudah tumbuh dan berkembang di Indonesia. ICRP bersama berbagai lembaga dan individu yang peduli memperjuangkan pluralisme dan perdamaian  lebih mempertegas upaya-upaya tersebut demi menegakkan keadilan dalam berbagai perspektif gender, HAM, kehidupan beragama, ekonomi, sosial, dan politik. ICRP turut aktif mengembangkan studi perdamaian dan resolusi konflik, serta memperjuangkan hak-hak sipil, kebebasan beragama, dan berkeyakinan.

Adapun visi misi ICRP. Visi : masyarakat yang damai dan sejahtera dalam konteks memajemukan agama dan kepercayaan di Indonesia. Salah satu visinya adalah menumbuhkembangkan multikulturalisme dan pluralisme dalam kehidupan masyarakat.

Saat ini staff yang aktif adalah Muhammad Monib sebagai direktur ICRP, Nurhabibie Rifai sebagai program manager, Muayati sebagai bagian keuangan, Lucia Wanehe sebagai sekretaris, Mukhlisin sebagai pimpinan redaksi online ICRP, Erton sebagai konstributor ICRP online dan Ahmad Nurcholis sebagai Ketua Pusat Studi Agama dan Perdamaian. Program yang sedang dijalankan oleh ICRP adalah Sekolah Agama yang bertema: Agama dan Perdamaian dalam perspektif agama-agama. Sekolah Agama ini, dijalankan dalam dua semester. Jadwal pelaksanaan: setiap minggu kedua dan minggu keempat, Jumat pukul 19.00 WIB-21.00 WIb.

Clipboard01 Clipboard02 Clipboard03 Clipboard04 Clipboard05

More Information»
Yayasan Internasional Animal Rescue Indonesia
November 102015

YIARI ini berlokasi di Curug Nangka-  Bogor, yayasan ini berdiri sejak tahun 2007 sampai dengan sekarang. Yayasan ini merupakan kantor cabang dari YIAR YUK, terdapat dua kantor yang pertama di Ketapang- Kalimantan yang khusus untuk menyelamatkan  orang utan dan kedua di Curug Nangka. Yayasan ini didanai oleh kantor pusat dan beberapa lembaga asing yang membantu untuk menopang YIARI. Yayasan ini bukan milik pemerintah melainkan milik asing, meskipun demikian YIARI berada dibawah kementerian kehutanan. Sehingga berkerjasama dengan BKSDA atau PPS. Fokus utama yayasan ini menyelamatkan satwa terkhususnya adalah primata, primata yang diselamatkan seperti orang utan, macaca, beruk dan kukang.

Organisasi YIARI terdiri dari divisi SLC, SRM, Animal management, edukasi sosial, keamaan dan lapangan. Staff yang berkerja dikantor adalah orang-orang berpendidikan tinggi, karena untuk mengatur organisas dan berurusan dengan pihak-pihak tertentu. Sedangkan staff yang berkerja sebagai kipper, memonitoring kukang dan keamanan adalah masyarakat yang tinggal di sekitar kantor YIARI. Yayasan ini membantu memperbaiki perekonomian untuk masyarakat sekitar. Selain itu bahan makan pun diambil dari masyarakat sekitar.

Program yang dibuat oleh YIARI lebih banyak kepada anak-anak sekolah, universitas dan mereka akan memulai mensosialisasikan mengenai penyelamatan primata kepada masyarkat luas. Seminar mengenai kukang dan macaca sering dilakukan dalam menyuarakan penyelamatan primata. Melalui sosial media mereka mekampanyekan agar tidak terjadi jual beli. YIARI juga membuat petisi online mengenai penghentian perdagangan kukang, dari data yang didapat masyarakat asing yang sangat antusias untuk menandatangani petisi dibandingkan dengan masyarkat Indonesia sendiri. YIARI juga mendata melalui online masyarakat yang telah bergabung dengan sebuah komunitas pencinta binatang yang berada di Indonesia. Cara ini dilakukan untuk mengetahui sudah berapa masyarakat yang memelihara binatang yang termasuk katagori langka dan dilindungi.

YIARI sangat menyuarakan agar masyarakat luas tidak memelihara ataupun menangkap primata. Karena semakin banyak permintaan dari pasar maka perburuan di alam akan semakin banyak pula. Ini yang akan dihentikan oleh YIARI agar tidak terjadi perburuan oleh pemburu. Yayasan ini bermaksud untuk mengembalikan sisi liar dari satwa itu sendiri. Karena kebanyakan macaca, beruk dan kukang sudah tidak memiliki sisi liar sehingga YIARI berusaha untuk mengembalikkan mereka kembali kea lam.  Selain itu, YIARI merima macca atau kukang yang berasal dari penyitaan BKSDA atau pemilik yang langsung memberikannya kepada YIARI untuk di kembalikan ke alam. Sebelum macaca atau kukang di masukkan ke kandang dengan yang lain mereka harus menjalani karantina dan pemeriksaan kesehatan ataupun pemeriksaan gigi. Macaca, beruk dan kukang yang secara fisik dan kesehatannya baik akan di lepas liarkan di habitat asli mereka seperti di lampung, Kalimantan, jawa dan ujung kulon. YIARI akan terus berusaha untuk menyelamatkan satwa dan melepasliarkan pada habitat aslinya.

Clipboard13Clipboard02 Clipboard03 Clipboard04 Clipboard05

More Information»
Talita Kum

Talita Kum

Surakarta, Jawa Tengah

November 102015

Talita Kum adalah sebuah Organisasi LBT yang memfasilitasi komunitas-komunitas LBT yang ada di Solo. Bertempat di jalan Duku No. 16b, Leweyan, Kerten, Surakarta. Lembaga ini lahir karena kebutuhan dari masyarakat Solo yang memiliki orientasi seksual non meanstream lebih khususnya ialah lesbian, biseksual, dan trangender yang dikelompokan dari female to male yaitu priawan dan transman.

Lembaga ini diresmikan pada tanggal 8 Maret 2009. Saat itu kak Joe yang menjadi direktur utama Talita Kum yang pertama. Kini kak Reny Kistiyantilah yang menjadi direktur utama Talita Kum sejak tahun 2012. Organisasi ini tidak memiliki keanggotaan yang tetap. Mereka menetapkan sistem “yang ingin ikut bergabung, langsung bergabung saja”, jadi tidak ada anggota resmi dan tetap. Secara keseluruhan, organisasi ini memiliki komunitas dampingan yang cukup banyak, mencangkup selurh kota Solo. Meski ada juga lesbian yang tidak bergabung dengan komunitas.

Organisasi ini berkecimpung dalam pemenuhan dan perjuangan hak-hak LBT. Karena saat ini LBT sendiri menjadi kelompok yang termarjinalkan. Mereka sering mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari masyarakat. Bahkan kerap kali mereka mendapat kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat, lingkungan mereka bekerja, lingkungan sekolah, bahkan keluarga mereka sendiri juga menjadi pelaku kekerasan. Priawan dan transmanlah yang sering mendapatkan perlakuan seperti itu karena ekspresi mereka yang paling terlihat berbeda dari norma yang berlaku di masyarakat. Kekerasan ini menjadi indikator belum terpenuhinya hak asasi manusia untuk para LBT. Maka, perjuangan hak asasi manusia untuk para LBT menjadi fokus utama organisasi ini agar kekerasan tidak lagi terjadi.

Untuk memperjuangkan hak-hak LBT, Talita Kum menjalin kerja sama. Saat ini, Talita Kum sudah bekerja sama dengan berbagai organisasi untuk mendukung pemenuhan hak-hak untuk LBT. Baik organisasi LGBT atau organisasi di luar LGBT. Talita Kum menjalin kerja sama dengan organisasi LGBT lain seperti Gaya Mahardhika, Gessang, PLUSH, dan lain-lain. Selain organisasi LGBT, Talita Kum juga menjalin kerja sama dengan lembaga non LGBT namun mendukung kesetaraan status, gender, dan hak asasi manusia seperti SPEK-HAM, YIFoS, Jejer Wadon, dan masih banyak lagi yang lain. Talita Kum juga didukung oleh Ardhanary Institute dan HIVOS dalam pendanaan. Institusi ini menjadi sponsor mereka dalam berbagai acara meski kerja sama di antara keduanya dengan Talita Kum masing-masing berbeda.

Talita Kum memang bukan satu-satunya organisasi LBT di Jawa Tengah, namun organisasi ini adalah organisasi yang paling aktif dari organisasi LBT lainnya. Meski saat mahasiswa PL tahun 2015 datang ke sana, kami hanya mengikuti beberapa kegiatan saja, namun kegiatan yang dilakukan Talita Kum begitu banyak. Banyak kegiatan dan diskusi seminar yang difasilitasi oleh Talita Kum mengenai SOGIEB, isu seksualitas, dan masih banyak lagi. Talita Kum juga sering melakukan acara kebersamaan dengan komunitas dampingannya. Futsal, renang, jalan-jalan bareng, dan bermain musik bersama menjadi contohnya. Kegiatan futsal selalu rutin dilakukan selama dua minggu sekali. Banyak sekali LBT yang terlibat di dalamnya. Sesekali juga Talita Kum merencanakan liburan bersama dengan anggota-anggotanya sebagai kegiatan kebersamaan dan refresing. Selain itu Talita Kum sering mengadakan kegiatan nonton bersama dan berdiskusi setelahnya.  Talita Kum juga aktif mengikuti kegiatan dari organisasi lain, baik organisasi LGBT atau organisasi lainnya yang masih membahas isu gender, seksualita, dan LGBTIQ. Jadi, banyak pengetahuan dan pengalaman yang kami dapat di Talita Kum.

t.k3 IMG-20150718-WA0000 IMG_20150627_205158 IMG-20150614-WA0001 IMG_20150610_152403

More Information»
Migrant CARE

Migrant CARE

Jakarta Timur, Indonesia

February 212014

Migrant CARE adalah organisasi non-govermental (NGO) yang fokus mengupayakan kesejahteraan buruh migran dan keluarganya. Beberapa upaya dilakukan demi mencapai tujuan tersebut, antara lain sebagaimana yang menjadi motto dari Migrant CARE: counseling, advocacy, research, education. Counseling berarti Migrant CARE memberikan penyuluhan/sosialisasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan buruh migran kepada masyarakat. Advocacy berarti Migrant CARE terbuka dalam menerima pengaduan serta memberi bantuan hukum bagi buruh migran dan keluarganya. Research berarti Migrant CARE turut serta dalam meneliti masyarakat dan menyajikan data aktual terkait buruh migran. Education berarti Migrant CARE turut berperan serta menunjang pendidikan serta pelatihan yang layak sebagai bekal baik pengetahuan maupun keterampilan untuk bekerja di luar negeri kepada buruh migran.

Pengupayaan kesejahteraan buruh migran merupakan suatu hal yang penting karena mereka juga bagian dari masyarakat yang seharusnya dijamin kehidupannya oleh negara. Namun, sampai saat ini banyak dari mereka yang tidak mendapatkan hak-haknya sebagai seorang pekerja. Banyak buruh migran yang gajinya tidak dibayar, tidak bisa pulang, diancam, disiksa, bahkan dibunuh, dan lainnya. Migrant CARE hadir untuk menyuarakan keberadaan buruh migran kepada seluruh lapisan masyarakat serta berjuang mengupayakan kesejahteraan bagi mereka dan keluarganya.

Dalam pekerjaannya, Migrant CARE memiliki 4 divisi.

  • Divisi Program Advokasi Berbasis Teknologi. Divisi ini dalam pekerjaannya lebih sering berada di bandara, memantau bagaimana arus migrasi dan melayani para buruh migran yang hendak berangkat atau yang hendak pulang ke Indonesia.
  • Divisi Advokasi Kebijakan. Divisi ini bergerak aktif dalam mengadvokasi buruh migran lewat pembuatan Undang-undang dan peraturan-peraturan terkait. Divisi ini terus memantau bagaimana perkembangan dari pembuatan serta turut memberikan masukan demi tercipta peraturan yang merangkul kaum buruh migran.
  • Divisi Pengembangan Informasi dan Pengetahuan Migrasi. Divisi ini fokus pada penyerapan informasi mengenai buruh migran lewat pemberitaan media atau juga penelitian. Divisi ini bertanggung jawab dalam menyediakan data yang valid mengenai buruh migran.
  • Divisi Advokasi Bantuan Hukum. Divisi ini bergerak dalam memberikan layanan bantuan hukum bagi buruh migran dan keluarganya. Tugas dari divisi ini antara lain: menerima pengaduan kasus buruh migran dari keluarga/kerabat/buruh migran itu sendiri; membuat laporan kasus serta surat kuasa yang ditandatangani oleh pihak buruh migran; melaporkan kasus tersebut ke lembaga pemerintahan (Kemenlu, BNP2TKI, Depnaker, dll); memantau proses penyelesaian kasus tersebut dengan meminta perkembangan kasus ke lembaga-lembaga pemerintahan terkait.

Solidaritas antarstaf Migrant CARE sangat baik. Dengan bangunan rumah yang dijadikan Kantor Migrant CARE serta prinsip kekeluargaan turut menciptakan suasana bekerja yang efektif dan nyaman. Dengan prinsip kekeluargaan tersebut Migrant CARE melayani dan memperjuangkan hak-hak kaum buruh migran.

Migrant CARE mampu memberikan gambaran faktual terkait buruh migran di lapangan kepada masyarakat. Apa yang terjadi dengan buruh migran di luar negeri; bagaimana lingkungan dan keluarga buruh migran; di mana titik permasalahan dari kasus-kasus buruh migran; bagaimana seharusnya kaum buruh migran diperlakukan; itu semua adalah beberapa hal yang dapat dijawab oleh Migrant CARE. Oleh karena itulah Migrant CARE juga menjadi mitra pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan yang merangkul salah satu kaum yang termarjinalkan ini.

Lembaga ini sangat dianjurkan untuk menjadi tempat Praktik Lapangan STT Jakarta.

migrant care1 migrant care2 migrant care3 migrant care4

More Information»
All Listing Types All Locations Any Rating

Listing Results

  • Yayasan Pulih

    Yayasan Pulih

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Reef Check Indonesia

    Yayasan Reef Check Indonesia

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Badan Narkotika Nasional (Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional)

    Badan Narkotika Nasional (Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo

    Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK–HAM)

    Yayasan Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK–HAM)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Women’s Crisis Center “Pandulangu Angu” GKS

    Women’s Crisis Center “Pandulangu Angu” GKS

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Perkumpulan Bandungwangi (Bantuan Dukungan Perkawanan dan Saling Melindungi)

    Yayasan Perkumpulan Bandungwangi (Bantuan Dukungan Perkawanan dan Saling Melindungi)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan GAYa Nusantara

    Yayasan GAYa Nusantara

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Komunitas Sahabat Anak

    Yayasan Komunitas Sahabat Anak

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Kristen Trukajaya

    Yayasan Kristen Trukajaya

    Praktik Lapangan

    Read more
  • LAYAK (Layanan Anak dan Keluarga)

    LAYAK (Layanan Anak dan Keluarga)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Binawarga

    Binawarga

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Pelita Ilmu (YPI)

    Yayasan Pelita Ilmu (YPI)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Pendampingan Autis (YPA)

    Yayasan Pendampingan Autis (YPA)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Pesantren Assalam Bogor

    Pesantren Assalam Bogor

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Sanggar SWARA

    Sanggar SWARA

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Fahmina Institute

    Fahmina Institute

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Migrant CARE

    Migrant CARE

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Sanggar Rebung Cendani

    Sanggar Rebung Cendani

    Praktik Lapangan

    Read more
  • People Like Us Satu Hati

    People Like Us Satu Hati

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP)/Marsinah FM

    Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP)/Marsinah FM

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Perempuan Mahardika

    Perempuan Mahardika

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Gaylam (Gaya Lentera Muda Lampung)

    Gaylam (Gaya Lentera Muda Lampung)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Bank Sampah “My Darling” (Masyarakat Sadar Lingkungan)

    Bank Sampah “My Darling” (Masyarakat Sadar Lingkungan)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • House of Stray

    House of Stray

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Orangutan Foundation International

    Orangutan Foundation International

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Deaf Art Community

    Deaf Art Community

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Panti Kasih

    Panti Kasih

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Inter Medika

    Yayasan Inter Medika

    Praktik Lapangan

    Read more
  • PERCIK (Persemaian Cinta Kemanusiaan)

    PERCIK (Persemaian Cinta Kemanusiaan)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Keluarga Besar Waria Yogyakarta (KEBAYA)

    Keluarga Besar Waria Yogyakarta (KEBAYA)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • PPK Tabitha

    PPK Tabitha

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Pondok Pesantren Al-Mizan

    Pondok Pesantren Al-Mizan

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Urban Poor Consortium

    Urban Poor Consortium

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Arus Pelangi

    Arus Pelangi

    Praktik Lapangan

    Read more
  • DIAN (Dialog Antariman) Interfidei

    DIAN (Dialog Antariman) Interfidei

    Praktik Lapangan

    Read more
  • ICRP (Indonesian Conference on Religions and Peace)

    ICRP (Indonesian Conference on Religions and Peace)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Internasional Animal Rescue Indonesia

    Yayasan Internasional Animal Rescue Indonesia

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Talita Kum

    Talita Kum

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Migrant CARE

    Migrant CARE

    Praktik Lapangan

    Read more