Navigation Menu
Gereja Kristen Sulawesi Barat Jemaat Imanuel Bau
January 192016

Gereja Kristen Sulawesi Barat Jemaat Imanuel Bau, pada awalnya adalah Gereja Toraja Mamasa (GTM), namun karena adanya perbedaan budaya, berganti nama menjadi Gereja Kristen Sulawesi Selatan, kemudian pada tahun 2005 berganti nama lagi menjadi Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB). Pergantian nama ini dipengaruhi oleh teritorial, karena daerah Mamuju telah mengalami pemekaran menjadi provinsi Sulawesi Barat, dan di dalamnya termasuk wilayah Bau, Kalumpang.

GKSB bukanlah gereja suku, mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang digunakan dalam ibadah apa pun, meski doa terkadang di campur dengan bahasa daerah yaitu bahasa Kalumpang. GKSB Jemaat Imanuel Bau, memiliki warga jemaat 54 Kepala Keluarga. Di Bau sendiri ada dua gereja yang berkembang, GKSB dan Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), hal inilah yang membuat penduduk terbagi dua, dulunya GKSB memiliki ratusan Kepala Keluarga anggota Jemaat, namun kehadiran GKSI, membuat terjadi pembagian warga yang seimbang.

Pekerjaan penduduk yang menjadi jemaat di GKSB adalah petani dan peternak, mereka menanam cokelat (Kakao) dan juga padi, kemudian mereka juga beternak kerbau dan juga Babi. Maka dengan demikian pendapatan warga jemaat atau penduduk menengah ke bawah. Warga Jemaat masih hidup dengan kesederhanaan dan sangat menekankan gotong royong. Selain itu Warga Jemaat juga masih memberikan persembahan berupa natura atau hasil panennya. GKSB Jemaat Imanuel Bau memiliki 7 orang Penatua dan 1 orang Pendeta. Pendeta di tempat ini seharusnya sudah pensiun, namun karena belum adanya pengganti, maka pendeta yang sudah pensiun diperpanjang lagi masa kerjanya selama 3 tahun.

Kesulitan menjadi pelayan di tempat seperti ini adalah pendeta harus bekerja keras dan ikut bertani untuk membiayai kehidupannya, karena Warga Jemaat tidak mampu rutin untuk membiayai pendeta. GKSB Jemaat Imanuel Bau, pada saat sedang melakukan pembangunan gedung gereja berupa plafon dan juga flester dinding gereja. Plafon gereja dibuat dari kayu yang sudah menjadi papan, dan papan ini diperoleh dari pemberian warga jemaat, artinya warga jemaat menyumbangkan papan yang dipunyainya. Pasir untuk felster tembok juga berasal dari warga jemaat yang secara bergotong royong mencari pasir di anak sungai.

GKSB Jemaat Imanuel Bau mempunyai kegiatan ibadah Sekolah Minggu yang dilaksanakan di gereja pada pukul 07.00 WITA. Kemudian dilanjutkan dengan ibadah Umum pada pukul 09.00 WITA. Setelah ibadah Umum ada lagi dua ibadah yang dilangsungkan di rumah-rumah dan waktu pelaksanaannya bersamaan pada pukul 11.30 WITA, yakni ibadah Persekutuan Perempuan dan ibadah Pemuda. Selain kegiatan pada hari Minggu, GKSB juga mempunyai kegiatan ibadah Rumah Tangga yang dilaksanakan pada hari Rabu dan hari Sabtu. Ibadah Rumah Tangga dibagi dua kelompok yakni, kelompok Sion dan juga kelompok Elim. Pelaksanaan ibadah Rumah Tangga pada pukul 19.00 WITA, namun keseringan ditentukan oleh kedatangan warga jemaat. Pada tahun ini tidak ada pengadaan katekisasi. Kegiatan yang sering dilakukan gereja, di luar yang biasa adalah pesta panen dan juga mengunjungi kebun-kebun yang akan hendak ditanami tumbuhan, seperti padi dan cokelat. Di daerah ini Kopi memang juga di tanam, namun jarang di jual kebanyak untuk dikonsumsi saja.

Kehidupan warga jemaat berkecukupan dan rasa kekeluargaan masih tinggi. Ada sebuah hal yang sangat menarik di Bau ini, yaitu ketika seseorang berpesta atau ada warga yang meninggal, maka seluruh warga tidak boleh bekerja ke Kebun, semuanya tinggal di dalam kampung. Di Bau ini juga memiliki tiga jajaran kepemimpinan, yang dikenal dengan Lalikan Tallu. Lalikan Tallu ini terdiri atas Pemimpin Gereja, Tua-tua Adat (Tobara) dan Kepala Desa. Ketiga pemimpin ini harus hadir dalam setiap acara yang hendak dilakukan.

gksb1 gksb2 gksb3 gksb4 gksb5

 

More Information»
GKI Sidoarjo

GKI Sidoarjo

Sidoarjo, Jawa Timur

January 192016

Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sidoarjo merupakan salah satu jemaat lokal yang berada di Klasis Madiun, Sinode Wilayah Jawa Timur, dan Sinode GKI. Tema pelayanan GKI Sidoarjo 2012-2016 adalah membangun tubuh Kristus memperbaharui persekutuan, sedangkan sub tema pelayanan tahun ini adalah membangun diri sebagai pelayan tubuh Kristus. Gereja ini didewasakan pada 11 Mei 1977 dari induk gerejanya, yaitu GKI Diponegoro. Saat ini, GKI Sidoarjo mempunyai satu pendeta jemaat dalam diri Pdt. Leonard Andrew Imanuel dan satu calon pendeta dalam diri Pnt. Yozes Rezon Suwignyo. Selain itu, gereja ini juga mempunyai satu pendeta emeritus, yaitu Pdt. Yusak Santoso, yang memasuki masa emeritasi sejak 1 Desember 2014.

GKI Sidoarjo mengadakan tiga kali Kebaktian Umum setiap minggunya, yaitu pkl. 06.00 WIB, pkl. 08.30 WIB, dan pkl. 17.00 WIB. Kegiatan lain di hari minggu adalah Kebaktian Pemuda/Remaja pada pkl. 08.00 WIB dan Kebaktian Tunas Remaja pada pkl. 09.30 WIB. Sementara itu, Kebaktian Anak diadakan pada pkl. 08.00 WIB dan 08. 30 WIB di beberapa pos kebaktian, antara lain: Pondok Jati, Taman Jenggala, Petra, Tanggulangin, dan Puri Indah. Hal ini dikarenakan keterbatasan ruangan yang ada di gereja untuk mengadakan Kebaktian Anak pada hari minggu.

GKI Sidoarjo mempunyai beberapa komisi, yaitu: Komisi Anak, Komisi Pemuda/Remaja-Tunas Remaja, Komisi Dewasa, Komisi Warga Usia Lanjut, Komisi Liturgi Musik Gerejawi, Komisi Beasiswa, Komisi Pengembangan Pelayanan Kesehatan Masyarakat, Komisi Pelayanan Kedukaan, dan Komisi Guru Pendidikan Agama Kristen. Di luar komisi ini, ada juga bagian yang mengurusi tentang hari-hari besar yang akan dilakukan oleh gereja. Bagian ini dinamakan Panitia Hari Besar.

Dalam bidang persekutuan jemaat, GKI Sidoarjo juga mempunyai beberapa kelompok jemaat, yaitu: Febe-Naomi, Ayub-Yakub, Maria, Simson-Debora, Dorkas, Smirna, Lidya-Abraham, Petrus, dan Yosafat. Kelompok-kelopok ini biasanya mengadakan persekutuan 1-2 kali dalam sebulan yang dinamakan Kebaktian Doa Malam Kelompok (KDMK). Dalam kemajelisan, Majelis Jemaat GKI Sidoarjo dibagi dalam enam bagian, yaitu: Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ), Bidang I (Persekutuan dan Pembinaan), Bidang II (Kesaksian dan Pelayanan), dan Bidang III (Penatalayanan dan Keesaan), Bidang IV (Sarana dan Prasarana), dan Bidang V (Ministerium). Masing-masing bidang terdiri dari ketua bidang dan sekretaris, serta pendamping masing-masing komisi. Bidang V hanya mempunyai anggota saja termasuk Pdt. Leonard dan Pnt. Yozes sebagai calon pendeta.

Ada banyak kegiatan-kegiatan gereja selama satu minggu, antara lain: katekisasi, pemahaman Alkitab (PA) khusus dan umum, Pembinaan Iman Kristen (PIK), perkunjungan, latihan-latihan paduan suara, latihan pemazmur dan pemandu nyanyian umat, latihan musik dan persekutuan doa pemuda/remaja dan tunas remaja, kegiatan-kegiatan olahraga (bulu tangkis, tenis meja, dan futsal, rapat majelis/bidang/komisi, rakertasi (rapat kerja dan konsultasi), rapat triwulan, pemeriksaan kesehatan rutin, dan sebagainya. Selain itu, kebaktian umum di GKI Sidoarjo biasanya juga diadakan khotbah pengajaran dengan sebuah tema khusus atau kebaktian penerimaan jemaat bagi anggota jemaat baru. GKI Sidoarjo mempunyai satu bakal jemaat (Bajem) di Blitar dengan satu tenaga pelayanan penuh waktu dalam diri Ibu Tiurma M. S. Tobing.

Gereja ini dikenal sebagai salah satu GKI yang menjunjung sikap keterbukaan terhadap penganut agama dan kepercayaan lain. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatan GKI Sidoarjo dalam beberapa diskusi lintas iman. Selain itu, GKI Sidoarjo juga pernah menjadi tuan rumah diskusi lintas iman yang digagas oleh kelompok Gusdurian Sidoarjo dan kelompok-kelompok pluralis lainnya di kota ini.

gkis1 gkis2 gkis3 gkis4 gkis5

More Information»
Silsilah Dialogue Movement Zamboanga
January 192016

Silsilah Dialogue Movement (SDM) merupakan lembaga yang mempromosikan dialog untuk mewujudkan perdamaian antar umat beragama.. Silsilah berdiri pada tahun 1984, tepatnya 09 Mei yang dipelopori oleh seorang missioner dari Italia bernama Sebastiano D’Ambra yang akrab disapa dengan Fr. Seb. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan spiritualitas “Dialogue starts from God and bring people back to God.” Demikianlah refleksi dari perjalanan hidup Fr. Seb terkhusus dalam perjalanan spiritualitasnya dan komunikasinya dengan Tuhan. Dilandasi oleh spirit tersebut, maka Silsilah mempromosikan budaya dialog untuk menciptakan hidup yang harmonis diantara manusia dengan sesamanya dan dengan ciptaan yang lainnya.

Untuk itu ada empat pilar yang diusung oleh Silsilah, 1. Dialog dengan Tuhan; 2.Dialog dengan diri sendiri; 3. Dialog dengan sesama; 4. Dialog dengan ciptaan lainnya. Dilandasi oleh hal tersebut maka Silsilah memiliki program-program yang membentuk formasi untuk mempromosikan keempat pilar tersebut.

Adapun program regular yang dilakukan Silsilah adalah sebagai berikut :

  • Silsilah Summer Course on Muslims-Christian Dialogue
  • SilPeace Youth Program
  • Silsilah Dialogue Institute
  • Silsilah Media Desk
  • Silsilah Forums in 18 areas/cities of Mindanao and Manila
  • Silsilah Peace and Development Services (SPDS)
  • Silsilah Elementary School and other Kindergarten Schools
  • Dialogue with Creation (DWC) Program
  • Center for Holistic Health Care (CHHC)
  • Inter-Faith Council of Leaders (IFCL)
  • Friends of Zamboanga Watershed Movement (FZWM)

Program-program tersebut merupakan upaya Silsilah untuk terus menciptakan dan mempromosikan nilai-nilai dialog. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman tinggal bersama lembaga ini, saya melihat dan merasakan bahwa Silsilah merupakan satu-satunya lembaga yang mempromosikan dialog melalui pendekatan spiritual. Inilah perbedaan dengan lembaga-lembaga lainnya yang berada di daerah Mindanao- Philippina.

sdm1 sdm2 sdm3 sdm4 sdm5

More Information»
Protestant Church in Sabah (PCS) Tinangol
January 192016

pcs4 pcs5 pcs6 pcs1 pcs2 pcs3PCS Tinangol adalah sebuah gereja yang berada dalam satu kawasan kaum Rungus. Pada tahun 1956 kampung Tinangol yang ditempati oleh suku kaum Rungus didatangi oleh seorang missionaris yaitu Rev. Heinrich Honneger dan seorang penginjil yaitu Penginjil Majimil Tuorong. Pada tahun. Beberapa tahun berlalu, tahun 1959 diresmikan sebuah jemaat di Tinangol dan tahun 1968 PCS Tinangol memiliki bangunan secara mandiri.

PCS Tinangol dapat dikatakan memiliki lokasi yang cukup baik. Hal ini terlihat dari segi penataan lokasi gereja yang strategis. PCS Tinangol berada dalam pusat kampung. Rumah yang berada di kampung Tinangol adalah rumah panjang yang terbagi menjadi empat blok, tiga blok membentuk huruf “U” dan di tengah-tengah dari huruf tersebut adalah lapangan bola serta paling atas adalah gereja. Ini yang menjadi keunikan bagi PCS Tinangol. Selebihnya yang tidak tinggal di rumah panjand disebt sebagai blok 4. Pembentukan dari penataan lokasi ini sendiri dibentuk oleh ketua kampung.

Pada tahun 1962 ketua kampung dan ketua gereja diketuai oleh orang yang sama. Dalam arti ketua kampung juga menjadi ketua gereja. Ini menjadi hal yang pertama kali dalam sejarah PCS Tinangol. Pada tahun 2015 PCS Tinangol memiliki jumlah anggota jemaat yang cukup banyak mencakup 100 kepala keluarga. Banyaknya jumlah kepala keluarga tersebut memberikan sebuah ide baru untuk membentuk ketua gereja. Ketua gereja ini dibentuk sebanyak delapan orang, sehingga setiap satu orang ketua gereja memiliki 10 lebih kepala keluarga. Berbeda dari tugas ketua gereja yang juga menjadi ketua kampung. Ada satu ketua kampung yang juga dijadikan ketua gereja dan yang lainnya adalah jemaat saja.

Kita dapat melihat perbedaan yang jauh dari masyarakat yang tinggal di Tinangol dari tahun yang lampau dengan sekarang yang lebih modern (contohnya masuk pengaruh teknologi dan banyak pemikiran baru). Ada perubahan dari segi pekerjaan,  dahulu banyak masyarakat Rungus yang banyak tinggal di rumah untuk bekerja, baik sebagai pengurus ladang dan membuat manik. Konteks zaman dahulu tidak sama dengan yang sekarang. Saat ini banyak orang muda yang bekerja tidak lagi di ladang tetapi memiliki pekerjaan yang beragam. Orang muda banyak yang bekerja dan bersekolah di Kota Kinabalu, banyak yang bekerja di beberapa wilayah,  dan ada juga anggota jemaat yang pergi ke Kuala Lumpur dan lain-lain.  Oleh sebab itu, banyaknya jumlah orang yang tinggal di kampung memilih untuk pergi sementara dari kampung untuk bekerja atau pun sekolah karena adanya sebuah proses berpikir yang lebih terbuka dan gaya hidup.

Meskipun PCS Tinangol sendiri memiliki banyak anggota, namun persoalannya adalah gereja ini tidak memiliki pendeta tetap. Gereja PCS Tinangol hanya memiliki pendeta konseling yaitu dari pendeta Paroki Jemaat dan  pendeta senior. Hal ini menyebabkan cukup sulitnya pelayanan gereja yang diterima oleh anggota jemaat. Sebab anggota jemaat PCS Tinangol memiliki banyak pergumulan yang membutuhkan tenaga pelayanan tetap dari pendeta. Beberapa pergumulan yang dihadapi yaitu persoalan perkawinan, persoalan kehidupan seorang ibu tunggal, persoalan remaja yang banyak tidak datang ke gereja, komitmen dalam pelayanan, dan yang lainnya. Mungkin persoalan ini memiliki kesamaan dengan konteks jemaat yang di kota, tetapi pergumulan untuk memiliki pendeta sampai sekarang belum terjawab melihat kebutuhan jemaat yang banyak.

PCS Tinangol memiliki beberapa bidang pelayanan yaitu pelayanan jemaat secara umum, pelayanan anak, pelayanan belia, pelayanan wanita, dan pelayanan bapak. Masing-masing dari bidang pelayanan tersebut memiliki AJK (Ahli Jawatan Kuasa) yang  bertanggungjawab dalam setiap bidang pelayanan. Oleh sebab itu, pengelolaan bidang pelayanan diharapkan dapat terlaksana dengan baik.

 

More Information»
GMIST Dioskuri Batam

GMIST Dioskuri Batam

Batam, Kepulauan Riau

January 192016

GMIST Dioskuri adalah satu-satunya gereja suku Sangihe Talaud yang berada di Batam. Historisitas perjalanan jemaat mula-mula hingga menjadi jemaat yang sekarang tidak terlepas dari jerih lelah seorang perempuan, yakni ibu pendeta Grietje K. Tolosang, yang sekarang menjadi ketua jemaat GMIST Dioskuri. Segala sesuatu dimulai oleh beliau dari “nol” dan perjuangan tersebut tidaklah sia-sia. Kini gedung gereja telah berdiri sendiri di daerah Tiban Kampung dengan jumlah anggota jemaat hampir 200 Kepala Keluarga (KK). Gedung gereja ini diresmikan pada tahun 2012 oleh Ketua Umum Sinode GMIST. Sekarang, jemaat sudah tidak terbebani dengan pinjam-meminjam lokasi dan perlengkapan ibadah, mengingat sebelum berdirinya gedung gereja ini, hal tersebut selalu dilakukan.

Gereja ini berada di “kawasan” suku Batak, ini ditandai dengan adanya beberapa gereja suku Batak di sekitarnya. Ada gereja HKBP, GBKP, GKPS, dan HKI yang berada se-wilayah dengan GMIST, yaitu di daerah Tiban Kampung. Masyarakat sekitar pun didominasi oleh suku Batak, tetangga-tetangga gereja pun pada umumnya adalah orang Batak. Dari sekian banyak masyarakat sekitar yang ber-suku Batak, tidak ada satupun dari mereka yang datang bergereja di GMIST. Kemungkinan besar adalah karena keberadaan beberapa gereja suku Batak.  Meskipun terlihat seperti individualis, namun pada kenyataannya, gereja-gereja ini sering bekerja sama apabila ingin mengadakan sebuah kegiatan gerejawi dan GMIST Dioskuri paling sering diminta menjadi tuan  rumah.

Sebagian besar KK anggota jemaat GMIST Dioskuri berprofesi sebagai pelaut. Hal ini mendasari penentuan nama “Dioskuri” yang diambil dari Kis. 28:11,  lambang kapal Paulus, yang dipahami artinya yaitu mercusuar. Oleh karena para KK adalah pelaut, maka yang beribadah di GMIST Dioskuri (kebanyakan) adalah kaum perempuan, pemuda/remaja, dan anak sekolah minggu (ASM). Pemuda pun banyak yang sudah menjadi pelaut, jadi kalau mereka sedang tidak tugas, baru mereka dapat mengambil bagian dalam ibadah. Namun begitu, kegiatan peribadahan tetap terlaksana dengan baik.

Ibadah Pelayanan kategorial (Pelka) jemaat terbagi atas Pelka Perempuan, Pelka Laki-laki, Pelka Pemuda/Remaja, dan Pelka Anak. Ibadah Pelka laki-laki tetap diadakan meskipun yang hadir lebih banyak adalah kaum perempuan (ibu-ibu; para istri). Selain itu, terdapat pula ibadah kunjungan rumah tangga (RT). Kaum perempuan selalu mendominasi di setiap kegiatan peribadahan.

Di samping itu, Majelis Jemaat (MJ) memegang peranan yang cukup besar di dalam struktur organisasi gereja dan setiap kegiatan pelaksanaan ibadah. Beberapa MJ adalah kaum laki-laki, namun karena mereka adalah pelaut dan harus berlayar, terkadang –dan hampir selalu- yang menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai MJ adalah para istri. Dengan kata lain, tugas MJ laki-laki tidak terbengkalai karena telah diwakilkan.

Sejauh ini, program atau event-event yang dilakukan oleh gereja berjalan dengan baik. Peran ketua jemaat dan MJ sangat besar dalam pertumbuhan dan perkembangan jemaat, memang tak dapat terelakkan bahwa “badai” dan “gelombang” seringkali menerpa “kapal” Dioskuri dalam pelayarannya. Namun satu hal yang diyakini oleh seluruh anggota jemaat, “Yesus Nakhodaku.” Iman inilah yang memampukan jemaat GMIST Dioskuri Batam dapat bertahan dan berkarya hingga saat ini.

gmist1 gmist2 gmist3 gmist4 gmist5 gmist6

More Information»
Gereja Kristen Pasundan (GKP) Purwakarta
January 192016

Sejarah kehadiran jemaat GKP Purwakarta, berawal pada tahun 1916, Zendeling A. Vermer yang waktu itu berkedudukan di Batavia datang ke Purwakarta untuk membaptiskan beberapa anak dari keturunan Tionghoa di Sekolah Zending, yang lokasinya tepat berada di tempat gedung Gereja yang sekarang. Selanjutnya tanggal 25 Juli 1917 Nederland Zending Vereeninging (NZV) menempatkan A. Ardja sebagai Guru ditempat ini. Pada tahun 1920 NZV menugaskan Zendeling O.E.v.c.Brug dan Dr. Deke untuk mendirikan Rumah Sakit Zending, yang diresmikan pada tanggal 18 Oktober 1930 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yaitu A.C.D.v.d.Graf yang diberi nama Rumah Sakit Bayu Asih.[1]

Tidak ada yang menduga bahwa melalui kehadiran Sekolah dan Rumah Sakit di Purwakarta ternyata semakin memperluas ladang Pekabaran Injil NZV, sehingga pada tanggal 14 Nopember 1934 gedung sekolah diresmikan menjadi gedung Gereja dengan Pendeta Maat rikin. Pada tahun 1941 Pendeta Maat Rikin pindah ke Jemaat Rehoboth Jatinegara, dan pelayanan di Purwakarta digantikan oleh Pendeta Josef Atje, yang pada tanggal 02 Januari 1973 memasuki masa emeritasi. Pada tahun 1977 GKP Purawakarta memanggil seorang calon Pendeta, yaitu Sutarno,STh yang ditahbiskan pada tahun 1978 dan berakhir tahun 1980. GKP Purwakarta saat itu melayani 2 Pos Kebaktian yaitu Pos Kebaktian Sadang dan Pos Kebaktian Jatiluhur. Pos Kebaktian Sadang berdiri menjadi jemaat yang dewasa, pada tanggal 20 Agustus 1981.[2]

Pendeta Jemaat yang (pernah) melayani:

1916 – 1934                : Para Zendeling NZV
1934 – 1941                : Pdt. Maat Rikin
1942 – 1977                : Pdt. Josef Atje
1978 – 1980                : Pdt. Sutarno, S.Th.
1980 – 1984                : Konsulen ( Pdt. Apolos Linggar )
1984 – 1995                : Pdt. Anatona Zebua, S.Th
1996 – 2005                : Pdt. Drs. Agustria Empi
2005 – 2015                : Pdt. Deru Utama Noron, S.Th, M.Min
2015 – sekarang          : Pdt. T. Adama Sihite. M.Th

Anggota jemaat ini cukup beragam, baik itu dalam hal kelompok suku atau budaya maupun kondisi ekonomi. Beragamnya suku dari anggota jemaat ini memang sangat jelas karena GKP bukanlah gereja yang dibentuk atas kesukuan. Oleh karena itulah warga tidak enggan untuk sepenuhnya mengambil bagian dalam persekutuan ini. Sebetulnya, lebih jauh lagi, banyak dari anggota jemaat dari HKBP dan GBKP dan gereja-gereja lain yang ada di Purwakarta saat ini pernah berjemaat di sini dulunya. Istilahnya satu gedung untuk banyak gereja. Namun seiring bertambahnya jumlah anggota dari kelompok itu, tentu atas indikator bahasa dan gereja daerah atau suku, maka mereka berinisiatif membangun gedung gerejanya dan badan administrasinya sendiri. Setelah banyak yang memisahkan diri, akhirnya untuk saat ini jumlah anggota dari jemaat GKP Purwakarta adalah sekitar 160 Kepala Keluarga (KK). Dari pengakuan pendeta yang ada sekarang ini, bahwa jumlah anggota jemaat yang terbilang cukup banyak ini tidaklah efektif dilayani hanya oleh 15 majelis jemaat. 1 pendeta, dan 3 Pengawas Pembendaharaan Gereja (PPJ). Oleh sebab itu jugalah, dalam momentum pemilihan calon majelis di tahun ini, maka jumlah majelis jemaat akan bertambah menjadi 20 orang, sedangkan jumlah PPJ dan pendeta masih tetap seperti semula.[3]

Memang penilaian yang dikatakan beliau bukanlah dinilai dari jumlah anggota jemaat saja, melainkan juga keinginan dari pendeta jemaat yang ingin melihat gereja ini betul-betul aktif dalam pelayanan, baik itu nantinya ke dalam maupun juga ke luar. Pelayanan itu sudah tentu merupakan suatu kebutuhan yang pasti bagi pertumbuhan iman (dan jasmani) anggota jemaat yang ada. Inilah semangat melayani dari bapak Pdt. T. Adama Sihite M.Th, S1 lulusan dari STT Jakarta, yang belum lama disahkan menjadi pendeta jemaat GKP Purwakarta untuk 5-10 tahun ke depan. Semangat melayani beliau pun sebagian besar sudah terangkum seutuhnya di dalam “Arahan Penyusunan Rencana Kerja Jemaat: Agenda 2020” GKP Purwakarta.

[1] Disadur dari tautan situs remi Sinode GKP http://gkp.or.id/?page_id=1755

[2] Ibn

[3] Rekam ulang Jurnal “hasil wawancara” pada tanggal 15 Juni 2015

 

DSC_0404[1] DSC_0353[1] DSC_0404[1] (1)

More Information»
Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB) Betania Sinampangnyo
January 192016

GKLB Betania Sinampangnyo terletak di Kecamatan Pagimana dan letaknya cukup jauh dari kota kabupaten Luwuk. Namun, Kecamatan Pagimana merupakan kecamatan yang memiliki pelabuhan kapal, tempat penyebrangan ke Gorontalo dan Manado. Oleh sebab itu Kecamatan Pagimana tergolong kecamatan yang ramai penduduk dan berlimpah akan hasil laut. Jika ditelusuri secara mendalam, orang-orang yang tinggal di Desa Sinampangnyo juga masih saudara-bersaudara, namun kini telah banyak juga pendatang yang masuk ke Desa Sinampangnyo dan tinggal di sini. Daerah Sinampangnyo (dan juga daerah di Luwuk Banggai) ini sangat terkenal dengan hasil perkebunan kelapa atau niu. Selain itu, minuman khas bernama saguer atau yang lebih dikenal dengan tuak menjadi suatu yang khas di tempat ini. Suku terbesar yang tinggal di Desa Sinampangnyo adalah Suku Saluan.

GKLB Betania Sinampangnyo berada di salah satu desa di Pagimana, yakni Desa Sinampangnyo. Desa Sinampangnyo sendiri terkenal sebagai Desa Kristen karena awal terbentuknya desa ini bersamaan dengan datangnya pekabaran Injil di Kecamatan Pagimana. Kehidupan berjemaat di tempat ini tergolong tidak terlalu baik. Sebagai Desa Kristen, ternyata tidak semua masyarakat yang beragama Kristen datang beribadah di gereja. Alasan pekerjaan di kebun dan lain sebagainya membuat banyak orang tidak ikut dalam kegiatan-kegiatan gerejawi, terlebih khusus kaum bapak dan pemuda. Meski demikian, semua peribadahan Kompelsus (Komisi Pelayanan Khusus) berjalan sesuai jadwal, baik Kompelsus Bapak, Ibu, Pemuda, Remaja, dan Anak. Bahkan bukan hanya jemaat saja yang menghadiri ibadah, tetapi hewan peliharaan (seperti anjing, kucing, bebek, dan ayam) seringkali mengikuti tuannya ketika hendak beribadah sehingga kadang hewan peliharaan pun datang ketika beribadah.

Selama praktek di jemaat GKLB Betania Sinampangnyo ini, banyak hal yang saya pelajari terutama hal-hal yang khas dari daerah ini dan salah satu yang menarik adalah kulinernya yang khas. Semua ikan laut sudah pernah disajikan untuk saya makan. Tentunya mereka menyajikan itu karena mereka menerima saya dengan sangat baik, dan terbukti bahwa bukan hanya orang Jawa saja yang ramah, tetapi orang Sulawesi juga ramah dan hal itulah yang saya rasakan. Salah satu hal unik juga dari kebiasaan jemaat di sini ialah mengucapkan salam dengan menyebutkan “Selamat Pagi”, “Selamat Siang”, “Selamat Sore”, atau “Selamat Malam” bukan seperti kebiasaan orang-orang Kristen pada umumnya yang menyebutkan “Syalom”.

Dalam sisi organisasi, banyak hal baru yang saya temui dan tidak jumpai di gereja-gereja lain. Misalnya saja Ketua dari Kompelsus diangkat menjadi Penatua. Jadi, seandainya seseorang siap untuk menjadi ketua Kompelsus Pemuda, maka ia harus diteguhkan menjadi Penatua. Hal inilah yang mungkin menarik, karena penatua sebagai penanggung jawab kompelsus bukan hanya berdiri sebagai koordinator yang seringkali tidak dapat mengayomi anggota-anggota kompelsus itu, tetapi penatua itu sendiri berasal dari anggota kompelsus dan berada di dalam kepengurusan kompelsus. Dengan demikian, hal ini membuka lebar kesempatan untuk para pemuda bisa berperan dalam organisasi gerejawi. Selain itu juga GKLB tidak memiliki DPA (Daftar Pembacaan Alkitab) sehingga masing-masing jemaat leluasa untuk menentukan tema dan bahan bacaan sesuai konteks dan keadaan jemaat saat itu.

FB_IMG_1438225702238 20150705_081205 20150615_225515 20150531_101013 20150531_100749

More Information»
Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sidomulyo Sragen
January 192016
  1. LETAK GEOGRAFIS

GKJ Sidomulyo terletak di Jl. Kapt.Tendean No. 2 Kel. Sragen Wetan, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen. Dengan wilayah pelayanannya meliputi empat (4) kecamatan, yaitu Kecamatan Sragen untuk wilayah GKJ Sidomulyo Induk, Kecamatan Ngrampal untuk wilayah pelayanan Pep. Bibis dan Pep. Sogo, Kecamatan Gesi untuk wilayah pelayanan Pep. Gesi, dan Kecamatan Tangen untuk wilayah pelayanan Pep. Tangen.

 

  1. SEJARAH SINGKAT

Pada awalnya warga Kristen di Sidomulyo dan sekitarnya beribadah ke Gereja di Kuwungsari yang jaraknya cukup jauh. Beberapa tahun kemudian Bp. Suhardi berkenan meminjamkan rumahnya untuk dipergunakan sebagai tempat ibadah. Kemudian dibentuklah pengurus blok dengan tujuan membantu majelis dalam melaksanakan tugasnya dan Sidomulyo merupakan blok X dari GKJ Sragen.

Pada tanggal 15 Januari 1979, majelis menetapkan blok X menjadi Pepanthan Sidomulyo. Dengan segala upaya dalam hal pengumpulan dana maupun penyertifikatan tanah pada tahun 1984 Pepanthan Sidomulyo dapat mendirikan bangunan rumah ibadah dan ibadah mulai dilaksanakan di Gereja.

Sejak tahun 1987 majelis GKJ Sragen memberi wewenang kepada Pepanthan Sidomulyo bersama-sama Gesi dan Tangen mengadakan rapat majelis sendiri yang disebut Rapat Majelis Sidomulyo cs, kemudian berubah menjadi Rapat Majelis GKJ Sragen wilayah Timur.

Dan pada bulan Maret 1992 majelis GKJ Sragen memutuskan mendewasakan GKJ Sragen Wilayah Timur yang kemudian disepakati dengan nama GKJ Sidomulyo. Tepatnya tanggal 26 Juni 1992 ditetapkan sebagai Hari Pendewasaaan GKJ Sidomulyo.

Adapun wilayah pelayanannya meliputi Pep. Gesi, Pep. Tangen, Pep. Bibis dan Pep. Sogo yang masing-masing telah memiliki rumah ibadah yang memadai kecuali Pep. Sogo yang masih menumpang di rumah salah satu warga jemaat.

Untuk memenuhi panggilan sebagai Gereja yang dewasa penuh dengan struktur kemajelisan yang lengkap, maka Majelis menetapkan panitia pembangunan pastori dan panitia pemanggilan pendeta. Sehingga sewaktu-waktu memanggil pendeta telah siap rumah pendeta (Pastori) dengan segala kelengkapan perabot rumah tangga. Dan panitia pembangunan Pastori telah berhasil mewujudkan Gedung Pastori dan fasilitas rumah tangga yang layak pakai.

Sedangkan Panitia Pemanggilan Pendeta telah melaksanakan dua (2) kali pemanggilan pendeta. Yang pertama atas diri Pdt. Drs. Nugroho Adi, M.Th yang nampaknya Tuhan belum menghendaki pemanggilan tersebut. Selanjutnya Panitia mengadakan pemanggilan yang kedua atas diri Pdt. Drs. Ely Subagyo dengan proses pemanggilan berlangsung lancar dan kali ini Tuhan telah menghendaki GKJ Sidomulyo memiliki seorang Gembala Jemaat yang diteguhkan pada tanggal 13 Desember 1997.

Dengan kelengkapan tenaga Pelayan di aras Kemajelisan, GKJ Sidomulyo mengembangkan pelayanannya baik kedalam maupun keluar. Pengembangan pelayanan kedalam adalah penatan pada ppenguatan pengorganisasian guna melakukan peningkatan dan pengembangan pelayanan yang tapis dan mampu menjawab tantangan jaman. Strategi pelayanan kategorial, pewilayahan dan profesi ditempuh oleh GKJ Sidomulyo. Dan hal tersebut semakin memperkuat GKJ Sidomulyo dalam kiprah pelayanannya diaras klasis dan Sinode sebagai wujud kebersamaan yang lebih luas. Telah beberapa kali menjadi penyelenggara sidang Klasis yang semakin inovatif dan modern, bahkan GKJ Sidomulyo telah mampu menjadi ajang even terbesar dilingkup GKJ, yaitu sebagai Gereja Pelaksana Sidang Sinode GKJ ke 25, tepatnya pada tanggal 11 – 13 September 2012 yang lalu. Sejarah besar terukir dalam kehidupan jemaat GKJ Sidomulyo.

Semuanya itu belum membuat segenap GKJ Sidomulyo puas, masih ada kerinduan besar untuk dapat menjadi berkat bagi masyarakat Sragen Asri dalam bidang : pendidikan, perdamaian dan kesejahteraan bersama. Ditengah pergulatan masyarakat dengan merebaknya rasa individualisme dan tindak kekerasan, pada Ulang Tahun ke-23 ini mengangkat tema : GUMREGAH NYAWIJI LELADOS GUSTI. Merupakan spirit kehidupan segenap warga jemaat GKJ Sidomulyo sebagai Gereja Tuhan untuk ikut mengukir karya Tuhan dalam kehidupan bersama.

 

  1. KEADAAN SAAT INI

Rencana Operasional GKJ Sidomulyo pada tahun 2015 disusun oleh Majelis Gereja bersama Pengurus Komisi dengan mengacu pada Renstra GKJ Sidomulyo Tahun 2012-2017. Dengan Visi, Misi, Strategi dan Rencana Operasional sebagai berikut :

  1. VISI 2012 – 2017 :

Menjadi Gereja Kristen Jawa yang mengasihi Allah, Sesama dan Lingkungan alam semesta dengan menjadi murid, saksi dan hamba Allah yang mengutamakan keakraban, keterbukaan, kepedulian untuk memberitakan Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat.

  1. MISI :

Persekutuan (koinonia)

  1. Mewujudkan kebaktian Minggu yang hidup dan berkenan dihadapan Allah, dengan pemberitaan Firman Allah dalam suasana yang dinamis dan membaharui, serta kontektual dalam kehidupan warga gereja dan masyarakat yang sesuai dengan ajaran GKJ.
  2. Meningkatkan Spiritualitas warga gereja dengan mendalami Firman Tuhan, kehidupan doa dan persekutuan.
  3. Mewujudkan hubungan yang akrab, rendah hati, saling membangun, dinamis dan dalam semangat kekeluargaan antar warga gereja dan simpatisan, tanpa membedakan jenis kelamin, usia, etnis, ekonomi, latar belakang budaya dan status pernikahan.

Pelayanan (Diakonia)

  1. Meningkatkan pelayanan kasih gereja, membangun dialog dan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka mewujudkan pelayanan melalui pendidikan, kesehatan dan pelayanan kemanusian
  2. Meningkatkan kepedulian terhadap kaum marginal terutama warga gereja dalam rangka membangun kemandirian.

Kesaksian (Marturia)

  1. Meningkatkan pekabaran injil dan membangun kerjasama dengan Gereja tetangga atau lembaga pekabaran Injil yang lain.
  2. Mendorong anggota Jemaat untuk menerapkan nilai nilai kristiani dalam melaksanakan tugas, pekerjaan, dan pelayanannya serta dalam hidup bermasyarakat.

Penunjang

Meningkatkan sistem menajemen dan sumber daya (Man, Money, Material) untuk mendukung pelayanan dengan memperhatikan prinsip efisiensi dan efektifitas.

IMG_4048 IMG_4167 IMG_4283 IMG_4288 IMG_4290 IMG_4538

More Information»
Gereja Anguwuloa Masehi Indonesia Nias (AMIN) Jemaat Tetehösi
January 192016

Gereja ini bertempat tidak jauh dari jalan utama di pulau Nias. Letaknya memang agak masuk ke dalam sebuah desa, yaitu desa Tetehösi. Namun, gereja ini tidak sulit untuk ditemukan karena letaknya cukup strategis mengingat pertigaan yang menjadi jalan masuk ke arah gereja biasa digunakan sebagai pasar pekan. Gereja ini memiliki susunan yang unik karena letaknya ada di atas perbukitan. Oleh karena itu, ada banyak anak tangga yang harus dilalui sebelum kita sampa ke gedung gereja. Jemaat Tetehösi ternyata adalah jemaat awal dari Gereja AMIN. Selain sejarah yang membuktikan itu, letaknya yang berdekatan dengan kantor pusat sinode juga menjadi sebuah tanda. Gereja ini sudah mengalami beberapa kali pembangunan. Awalnya, gereja ini hanya sebesar rumah tinggal biasa. Namun, dibangun menjadi lebih besar karena banyak orang yang datang beribadah. Saat dibangun, seorang tetua negeri, yaitu negeri idanoi, memimpikan sebuah bentuk rumah ibadah. Oleh karena itu, dibangunlah gereja ini menyerupai salib layaknya gereja katolik.

Awalnya, gereja ini memiliki 3 (tiga) menara. 2 menara sejajar dengan mimbar yang merupakan tempat diletakannya lonceng, dan yang satu berada di depan. Sayangnya, ketiga menara itu sudah roboh, 2 menara sengaja dirobohkan sedangkan yang satu menara roboh karena gempa bumi tsunami. Di dalam gedung gereja terdapat sebuah sayap besar dan 2 mimbar besar yang masih asli sejak tahun 1950. Jemaat tempat ini percaya, mimbar dan sayap ini memiliki kekuatan mistis yang akan menolak setiap pengkhotbah yang memiliki tujuan lain di atas mimbar. Setiap tiang yang berdiri mengitari bangunan gereja juga diberikan perhiasan yang diletakan di sebuah tempat dekat tiang tersebut. Persiahan itua dalah emas dan perak. Jemaat ini berusaha untuk mengikuti pembangunan bait Allah namun hanya menggunakan simbol saja. Tangga yang ada di depan gereja pun memiliki arti lain, yaitu kemerdekaan Indonesia. Sayangnya, jumlah tangga sudah mengalami perubahan. Awalnya, gereja ini berisikan orang-orang dari negeri idanoi yang merupakan negeri gabungan dari 8 desa. Inilah yang menyababkan gereja ini bernama gereja Anguwuloa Masehi Idanoi Nias. Seturut berkembangnya zaman, kata idanoi diubah menjadi indonesia. Munculnya gereja inipun dikarenakan kepala negeri Idanoi merasa perlu untuk mendirikan gereja bagi rakyatnya dan akhirnya dibangunlah gereja ini. Awalnya, masyarakat negeri idanoi beribadah di Helefanikha, sebuah desa yang di dalamnya terdapat gereja. Gereja di Helefanikha pun awalnya adalah anggota BNKP. Karena letaknya yang terlalu jauh, kepala negeri Idanoi merasa perlu untuk membangun gereja. Ketika gereja ini berdiri, jemaatnya sangat banyak, mengingat gereja ini diperuntukan bagi masyarakat negeri Idanoi yang terdiri dari 8 desa. Namun, karnea Amin sudah memiliki sinode, maka jemaat yang meresa letak gereja terlalu jauh akhirnya membangun gereja di desanya. Sekarang, jemaat Tetehösi hanya terdiri dari 6 desa. 2 desa lain yang letaknya cukup jah memilih untuk membangun gerejanya sendiri yang masuk ke dalam anggota sinode gereja AMIN.

Selain gereja yang bersejarah, gereja ini juga bagus menjadi tempat pariwisata. Gereja ini berletak dekat dengan pantai yang menawarkan pemandangan menarik. Jika di perkotaan kita diharuskan untuk membayar ketika pergi ke pantai maka di sini kita bisa masuk sesuka hati. Mengapa? karena di Nias pantai adalah taman bermain, halaman rumah, bahkan tempat berkebun bukan sekadar tempat berwisata. Udara di desa Tetehösi inipun masih bersih karena tidak ada polusi yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik layaknya di perkotaan. Secara umum, gereja ini patut dikunjungi sebagai gereja yang bersejarah mulai dari arsitektur sampai ke bentuk bangunannya. Suasana khas pedesaanpun menjadi tawaran lain bagi warga perkotaan yang sudah bosan dengan kesibukan. Pariwasata yang ditawarkanpun sangat menarik dan itu bisa kita dapatkan secara Cuma-Cuma. Gereja ini, AMIN jemaat Tetehösi, adalah tempat yang harus dikunjungi jika kita datang ke Pulau Nias.

amin1 amin2 amin3 amin4 amin5 amin6 amin7

More Information»

Gereja Batak Karo Protestan atau GBKP Pasar IV sudah berdiri 32 tahun, dan akan merayakan hut ke 33 pada tanggal 23 Agustus 2015. Gereja ini memiliki 1 pendeta yang tidak lama lagi akan pindah menjadi pejabat klasis, karena beliau terpilih menjadi ketua klasis. GBKP Pasar IV terdiri dari 7 Sektor yaitu, sektor selasa 1, sektor Mazmur, sektor selasa 2A, sektor selasa 2B, sektor Philadelpia, sektor Filipi, dan sektor Elshadai. Masing-masing sektor memiliki kurang lebih 40 kepala keluarga. Masing-masing sektor juga memiliki pertua dan diaken yang juga menjadi wakil umat ketika ingin menyampaikan pendapatnya. Setiap minggunya akan diadakan ibadah rumah tangga per sektor atau biasa disebut perpulungen jabu-jabu (pjj).

GBKP Pasar IV merupakan gereja yang bertumbuh, baik dari segi diakonia, marturia, dan koinonia. Gereja tersebut memiliki hanya satu kali jadwal ibadah umum yaitu pada hari minggu, pukul 7.30 sampai selesai. Ibadah umum di GBKP Pasar IV Selayang II ini cukup kreatif dalam segi musik gereja. Tim ibadah GBKP Pasar IV mulai menggunakan drum, gitar, bass, dan alat musik karo seperti kulcapi dan keteng-keteng. Lagu-lagu yang digunakan tidak saja berbahasa karo, tetapi ada juga yang berbahasa Indonesia.

Kebaktian Anak dan Kebaktian Remaja (KAKR) dilaksanakan setelah ibadah umum selesai, atau lebih tepatnya dimulai pada pukul 10 pagi. Ibadah KAKR ini dibagi menjadi 4 kelas yaitu, anak balita, anak kecil, anak tanggung, dan anak remaja. Kakak guru yang tersedia juga cukup banyak. Minggu sore, sekitar pukul 14.30 biasanya dilangsungkan PA Permata (Pemuda). biasanya PA Permata ini dilakukan di gereja atau di rumah-rumah pemuda, sesuai siapa yang menjadi tuan rumah pada minggu itu. Biasanya PA ini dibimbing oleh pertua atau diaken. PA lansia dilakukan setelah pulang ibadah umum, kira-kira pukul 11 pagi. Dalam sebulan biasanya ada PA gabungan Moria (Kaum Ibu), dan PA gabungan Mamre (Kaum Bapak).

Kegiatan yang cukup mendukung di GBKP Pasar IV Selayang II ini adalah adanya klinik gratis untuk jemaat yang dibuka setiap minggu. Pemeriksaan kesehatan dilakukan bergantian, missal minggu pertama akan ada pemeriksaan asam urat, minggu ke dua kolesterol, dan lain-lainnya. Ketersediaan dokter di gereja ini dapat dikatakan mencukupi untuk berlangsungnya klinik kesehatan tersebut. Setiap hari kamis, pukul 19.30 akan diadakan sermon pertua dan diaken. Pada sermon ini biasanya akan dibahas bahan PJJ minggu depan, dan membahas kegiatan gereja selama sepekan.

gbkp3 gbkp4 gbkp5 gbkp6 gbkp7 gbkp8 gbkp9 gbkp10 gbkp1 gbkp2

More Information»
GPIB Bukit Karmel

GPIB Bukit Karmel

Singkep, Kepulauan Riau

January 182016

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Bukit Karmel berada tepat di Kota Dabo, Pulau Singkep, Kepulauan Riau. Tidak ada data jelas yang menunjukkan kapan gereja (persekutuan) ini terbangun. Ada yang mengatakan pada tahun 1985, ada yang mengatakan lebih dari tahun tersebut. Pendeta yang berdomisili di sini saat ini pun sempat mencari data hingga ke Batam, karena GPIB Bukit Karmel dulunya merupakan bakal gereja dari GPIB di Batam. Dengan demikian, tidak jelas juga sudah berapa tahun gereja (persekutuan) ini berdiri, dan kapan ulang tahun (tanggal dan bulan) GPIB Bukit Karmel. Yang jelas ialah bahwa berdirinya gereja dalam bentuk bangunan disahkan oleh Majelis Sinode GPIB pada 24 Mei, tahun 1992 oleh Pdt. O. E. Ch. Wuwungan, D.Th, dan kelak akan dijadikan sebagai hari ulang tahun dan beridirinya GPIB Bukit Karmel.

GPIB Bukit Karmel memiliki lahan gereja yang cukup luas, yaitu sekitar 3000 m2, dan luas bangunan gereja sekitar 400 m2. Tepat di belakang gereja (masih dalam satu wilayah yang ditembok, sekeliling lahan gereja), terdapat rumah pastori, dengan dua kamar tidur, sebagai rumah bagi pendeta yang bertugas di gereja ini. Pada 10 November tahun 1996 dibangunlah sebuah pastori dan gedung serbaguna yang tepat didirkan bersebelahan dan menempel satu dengan yang lainnya, yang ditahbiskan oleh Pdt. Junus Beeh S.Th. Lalu pada 26 September tahun 2011 Pdt. Daniel Lumentut S.Th, Ketua Musyawarah Pelayanan (Mupel) Kepulauan Riau meresmikan bangunan yakni satu guest house, untuk pendeta tamu atau juga tamu yang berkunjung ke GPIB Bukit Karmel, juga kantor sekretariat gereja tepat di sebelah guest house, meskipun sampai saat ini belum ada pegawai yang bekerja untuk kantor gereja (semua masih ditangani oleh pendeta). Guest house yang dimiliki oleh GPIB Bukit Karmel sudahlah cukup layak, karena di dalamnya sudah tersedia kamar mandi, televisi, dan sebuah kipas angin (ke depannya akan ditambahkan Air Conditioner atau pendingin ruangan)

Terdapat beberapa ibadah yang rutin di lakukan di GPIB Bukit Karmel. Pada hari Selasa pukul 19.00, setiap 2 minggu sekali, dilaksanakan Ibadah Persekutuan Kaum Bapak (PKB); hari Rabu pukul 18.30, diadakan Ibadah Rumah Tangga (IRT); hari Jumat pukul 17.00, diadakan Ibadah Persekutuan Kaum Perempuan (PKP); hari Sabtu pukul 19.00, diadakan Ibadah Gerakan Pemuda (GP); dan pada hari Minggu diadakan Ibadah Minggu pada pukul 10.00. Ibadah Pelayanan Anak (PA) dan Persekutuan Teruna (PT) diadakan hari Minggu pukul 08.00. Biasanya jemaat yang datang dalam Ibadah Minggu sekitar 100 orang

Kegiatan rutin lainnya ialah pada tiap bulan, minggu pertama, diadakan Ibadah Diakonia dan pembagian beras bagi beberapa jemaat. Dalam beberapa waktu sekali pun diadakan ibadah gabungan bersama gereja-gereja BKSG (Badan Kerjasama Gereja-gereja) yang ada di Pulau Singkep ini, dari Gereja Karismatik, hingga Gereja Katolik. terdapat juga komisi-komisi seperti Komisi Musik Gereja dan Komisi Pelayanan dan Kesaksian.

Pada umumnya, jemaat-jemaat GPIB Bukit Karmel bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di berbagai bidang, yakni guru, kepala sekolah, polisi, hingga kejaksaan. Jemaat lainnya membuka kios dan berwiraswasta. Terdapat 64 KK (Kepala Keluarga) yang terdaftar di GPIB Bukit Karmel.

Saat ini yang menjadi Ketua Majelis Jemaat GPIB Bukit Karmel ialah Pdt. Jepry Yuwanto Daminto, S.Si. Teol yang menjabat dari tahun 2013, dan majelis

Pengurus saat ini: Diaken O. Sitorus, Diaken Pasaribu, Diaken Sihombing, Penatua Laia, Penatua Silaban, dan Penatua Ginting.

karmel1 karmel2 karmel3 karmel4 karmel5

More Information»
Covenant Sanctuary Church

Covenant Sanctuary Church

Sabah, Malaysia

January 182016

Covenant Sanctuary Church adalah salah satu gereja lokal yang terdapat di Sandakan, Sabah-Malaysia. gereja ini didirkan oleh seorang pengusaha yang terkenal di Sabah, yaitu Mr. Vela Tan. Beliau mendirikan gereja ini pertama kali di daerah Talisai-Sabah. Mr. Vela merupakan seorang pengusaha di bidang kelapa sawit. Banyak para pekerjanya yang tidak dapat beribadah dan hal ini membuat Mr. Vela berpikiran bahwa sebagai seorang manusia para pekerja itu tidak bisa hanya untuk mencari kebutuhan jasmani saja berupa uang, tetapi juga harus ada usaha-usaha menumbuhkan spiritualitas mereka, melalui ibadah. Akhirnya dibangunlah gereja kecil di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit tersebut. Tujuan awal dari pembangunan gereja ini adalah agar para pekerja Mr. Vela yang beragama Kristen dapat beribadah dan tidak mengalami kekeringan spiritualitas.

Gereja Covenant Sanctuary Church ini sudah berdiri kurang lebih 20 tahun lamanya. Terdapat dua kelompok jemaat yang beribadah di gereja ini. Kelompok Bahasa Melayu dan juga Bahasa Inggris. Kelompok Bahasa Melayu mayoritas terdiri dari orang-orang asing seperti orang Toraja, Filipina, dan juga ada orang lokal yang termasuk di dalamnya. Sedangkan jemaat berbahasa Inggris, mayoritas terdiri dari orang-orang China dan India.

Kedua kelompok jemaat ini juga masing-masing memiliki gembala atau pendetanya. Untuk kelompok Bahasa Melayu, memiliki pendeta perempuan dan laki-laki. Yaitu Pastor Berlan dan Pastor Erna Ginting. Kedua pendeta ini awalnya adalah misionaris dari Indonesia yang dipanggil langsung oleh Mr. Vela Tan untuk melayani jemaat di Covenant Sanctuary Church bagi kelompok Bahasa Melayu. mereka sudah mulai melayani sejak tahun 2000. Berarti sudah 15 tahun lamanya mereka mendedikasikan diri mereka untuk pelayanan di Covenant Sanctuary Church. Sedangkan kelompok berbahasa Inggris biasanya yang melayani adalah Mr. Vela sendiri atau juga adik-adiknya.

Gereja Covenant Sanctuary ini memiliki enam pos pelayanan atau bagian jemaat dari gereja induk yang terdapat di Batu 9, Sandakan-Sabah. Yaitu di daerah Sugut, Lahad Datu, Talisai, Gum-gum, Sapi, Tanjung Selor (Kalimantan Utara), dan juga Filipina. Masing-masing gereja memiliki gembalanya sendiri.

csc3 csc4 csc5 csc1 csc2

More Information»

“This place is nothing more than barren wasteland.” Kalimat ini yang muncul di pikiran saya pertama kali ketika sampai di Timor Leste. Betapa tidak, cuaca yang panas menyengat dan debu yang tebal menyambut saya ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di bandara internasional Presidente Nicolau Lobato Dili. Ditambah dengan langit yang cerah tanpa ada awan, membuat keringat saya menjadi semakin bercucuran. Saya belum menyadari, bahwa ‘there is more than meets the eye’ di negara yang pernah menjadi bagian dari Indonesia dan memisahkan diri pada tahun 1999.

Saya ditempatkan di sebuah Distrik (kabupaten dalam pengertian Indonesia) Aileu, sebuah daerah yang berada di tengah pegunungan yang berjarak sekitar 47 kilometer dari ibukota Dili. Walaupun dipisahkan oleh jarak yang tidak begitu jauh, keadaan 2 kota ini begitu berbeda. Dili, sebagai ibukota tentu saja memiliki keadaan yang jauh lebih maju dari Aileu, dan karena dekat dengan laut, tentu saja udaranya panas. Aileu sendiri merupakan daerah yang subur karena berada di daerah pegunungan. Selain itu Aileu juga memiliki udara yang dingin. Udara yang dingin ini berbeda sekali dengan pandangan saya di Timor Leste. Saya mengira pada awalnya semua Timor Leste ini memiliki udara yang panas dan kekeringan melanda di mana-mana. Akan tetapi saya berada di daerah subur, di mana air, pertanian, perkebunan sayur dan kopi merupakan pemandangan yang wajar dan normal.

Timor Leste adalah negara yang hampir 90% penduduknya menganut agama Katolik, sehingga gereja sangat mudah di jumpai di Timor Leste, dan tidak terkecuali di Aileu. Gereja tempat saya CP adalah Igreja Protestante iha Timor Lorosae/IPTL (Gereja Protestan ada di Timor Leste) atau ketika zaman Indonesia bernama Gereja Kristen Timor Timur Jemaat Betania Aileu. Saya tinggal bersama dengan keluarga pendeta yang melayani di gereja.

Gereja tempat saya menjalani CP ini bukanlah gereja yang besar. Bisa dibilang bahkan sebagai gereja yang sangat sederhana. Pada hari minggu, jemaat yang datang ke gereja tidak lebih dari 20 orang. Bahkan seringkali dibawah 15 orang. Orang-orang Kristen merupakan minoritas apabila dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang beragama Katolik. Akan tetapi walaupun sedikit, hal tersebut tidak mengurangi semangat jemaat untuk datang ke gereja. Jemaat rela datang dan berjalan kali berkilo-kilometer setiap minggunya demi datang ke gereja. Mereka beribadah dengan sungguh-sungguh, dan selalu bersukacita di dalam Tuhan. Hal ini sudah sangat jarang ditemukan di gereja-gereja perkotaan, di mana jemaat datang ke gereja hanya karena merupakan rutinitas dan hatinya berada di tempat lain.

Selama saya di sini, saya sudah berkeliling ke banyak gereja IPTL, baik itu berada di daerah Aileu sampai ke daerah lain seperti di distrik Same dan Suai. Setiap saya datang ke daerah yang baru, saya melihat adanya suatu sukacita dan kebahagiaan di dalamnya. Mereka tidak terlalu membutuhkan teknologi dan kemudahan lainnya yang ditawarkan oleh kota-kota besar, akan tetapi rasa kekeluargaan dan persaudaraan. Saya disambut dan dianggap saudara oleh masyarakat. Mereka mau dan rela memberi dalam segala kekurangannya. Walaupun mereka terlihat kekurangan dan kesulitan dalam hidupnya, jemaat IPTL adalah orang-orang yang bersukacita di dalam Tuhan.

Mereka mempunyai banyak hal yang  mungkin banyak orang lain yang tinggal di daerah yang dianggap lebih baik punya. Ada banyak hal yang harus dialami secara langsung dan lama, dan tidak dinilai berdasarkan pemahaman pribadi dan pertama kali. Sebuah komunitas Kristus yang penuh cinta kasih dan sukacita.

IMG_20150711_103446 IMG_20150607_110312 IMG_20150531_105828 IMG_20150726_121942 IMG_20150711_103914

More Information»
  1. IPTL

IPTL adalah singkatan dari Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e. IPTL ini merupakan kelanjutan dari Gereja Kristen Timor Timur (GKTT), yang pada zaman Indonesia turut menjadi bagian dari PGI. Namun namanya kemudian berganti, seiring dengan kemerdekaan negara Timor Leste. Pada mulanya, GKTT ini memiliki 13 buah klasis. Namun kemudian berkurang karena beberapa alasan, antara lain karena kurangnya tenaga pelayan. Kini, IPTL memiliki 5 buah klasis dan salah satu di antaranya ialah klasis leste yang terdiri dari 3 distrik, yakni Baucau, Lautem, dan Viqueque.

  1. Profesi Umat

Pada umumnya, umat di IPTL berprofesi sebagai petani. Profesi ini menuntut waktu yang banyak, bahkan terkadang umat harus rela bermalam di kebun atau sawahnya, guna menjaga hasil tanaman yang akan dipanen dari ancaman para pencuri. Bagi umat yang telah menjadi Kristen sepenuhnya, mereka memiliki sikap terbuka kepada pendeta. Sikap terbuka inipun disambut baik oleh pendeta di desa Buruma (distrik Baucau). Sang pendeta menyambut baik keterbukaan umat dengan cara berkunjung ke kebun umat, sembari membantu umat untuk melakukan kegiatan panen.

  1. Jemaat-jemaat di Klasis Leste

Selama menjalani kegiatan CP I, saya tinggal bersama ketua klasis leste di desa Buruma. Jemaat di tempat ini ialah jemaat IPTL “Maranatha”, Buruma yang pada tanggal 9 Juli 2015 genap berusia 36 tahun. Namun selama kegiatan CP I ini, saya juga mendapat kesempatan untuk mengunjungi jemaat-jemaat lain di ketiga distrik. Saat berkunjung ke jemaat-jemaat lain, saya menemukan tiga buah jemaat yang sedang melakukan pembangunan dan renovasi gedung gereja. Salah satunya ialah jemaat di wilayah Beacho. Saya sempat mengambil gambar dari umat di tempat ini yang sedang bekerjasama untuk membangun gedung gereja yang baru.

  1. Tantangan Pelayanan

Sama seperti gereja pada umumnya, IPTL juga berhadapan dengan tantangan pelayanannya sendiri. Selain tenaga pelayan yang kurang, jarak jemaat-jemaat yang berjauhan dan medan pelayanan yang kurang baik menjadi tantangan tersendiri bagi IPTL. Untuk mencapai rumah umat pun, terkadang para pelayan harus siap melewati pematang sawah dan jarak yang cukup jauh. Namun syukurlah, karena sampai saat ini pelayanan IPTL tidak kalah dengan tantangan pelayanan yang ada.

20150715_172950iptlk1 20150603_114723

More Information»
GKS Jemaat Kayuri

GKS Jemaat Kayuri

Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

January 122016

Gereja ini berada di sebuah Desa yang dinamakan Desa Kayuri dan masyarakatnya mayoritas adalah Kristen. Luas wilayah Kayuri adalah 20,6 Km2 dan penduduk yang berada di daerah ini adalah penduduk dari Sumba dan juga Sabu. Percampuran orang Sumba dan Sabu tidak mengalami masalah dalam kehidupan sehari-hari. Hanya yang berbeda adalah adat istiadat mereka dalam melakukan acara-acara adat saat kematian dan pernikahan.

Masyarakat di Kayuri hidup dari berkebun, suluh ikan, mncari siput, masak garam, nelayan dan menjadi guru (PNS). Tidak banyak yang menjadi supir truck, pekerja toko, ataupun PNS lain yang harus bertugas di Waingapu. Mereka termasuk pekerja keras, mereka bisa melakukan pekerjaannya dalam waktu yang lama dan cukup bertekun dengan pekerjaannya. Hal itu dikarenakan kehidupan mereka memang benar-benar tergantung dari hasil yang mereka dapatkan. Hasil itu bisa dijual ataupun untuk mereka makan sendiri.

Mereka dapat menjualnya di emperan toko atau berjalan keliling tetapi di hari Kamis dan Jumat mereka dapat menjual di pasar. Hari Kamis dan Jumat memang khusus hari pasar, sehingga masyarakat di daerah Kayuri, Melolo dapat berbelanja di pasar pada hari itu.

Gereja GKS Jemaat Kayuri awalnya cabang dari gereja GKS Melolo yang letaknya tidak jauh dari Melolo. GKS Jemaat Kayuri berisikan kurang lebih 800 KK dengan jumlah keseluruhan dari 3 cabang gereja, yaitu : cabang Rende, Tamburi, Hanggaroru beserta 2 ranting yang dihasilkan cabang. Ranting itu diadakan untuk masyarakat yang rumahnya jauh dari cabang, diadakan untuk memudahkan mereka beribadah. Di daerah cabang memang jarak rumah jemaat dengan gereja bia sekitar 4-5 kilo dan mereka hampir kebanyakan berjalan kaki. Di bagian pusatpun demikian namun lebih banyak menggunakan motor.

Gereja GKS ini memang bertujuan untuk melakukan Pekabaran Injil d tingkat jemaat, di tingkat Klasis, dan juga sinodal. Sehingga di gereja masing-masing fokus utamanya adalah Pekabaran Injil. Memang di daerah Sumba, khusus di Kayuri juga masih banyak orang yang beraliran kepercayaan Merapu. Mereka-mereka inilah yang didekati dan diinjilkan supaya mereka menjadi percaya kepada Yesus.

Selain program PI, adalagi program sekolah minggu dan pemuda yang dilaksanakan di gereja dan cabang masing-masing. Sekolah minggu di pusat diadakan juga di dua tempat berbeda untuk menjangkau anak-anak yang jauh dari pusat, yaitu di Hadambiwa dan Kokur. Mereka beribadah dalam kesederhanaan tetapi tetap penuh sukacita dan semangat.

Selain itu, ibadah hari Minggu yang dilakukan masing-masing baik d pusat maupun di cabang serta ranting. Ibadah di pusat dipimpin oleh pendeta, sedangkan di cabang dan ranting dipimpin oleh guru Injil dan juga kaum awam. Hanya pada saat perjamuan kudus maka pendeta harus berkeliling untuk memimpin ibadah perjamuan kudus.

GKS Jemaat Kayuri banyak membuat acara-acara dengan melakukan kerjaama dengan sinode ataupun wahana visi Indonesia.

Kegiatan yang dilakukan seperti lomba sepakbola, lomba menyanyi, pemberian sembaki gratis, acara pembinaan guru sekolah minggu, dsb. Antusias anak pemuda sangat besar pada acara lomba namun pada acara yang bersifat pengetahuan kurang mendapat perhatian yang ebesar perlombaan. Inilah gambaran GKS Jemaat Kayuri.

10408776_10200758244715946_3195434286807948587_n 11705216_10200841262471338_4304672932320558674_n 11694122_10200825930408046_6302301058619564360_n 11049633_10200823265261419_2149312032952459397_n

More Information»
GBKP Runggun Dolat Rayat

GBKP Runggun Dolat Rayat

Karo, Sumatera Utara

January 112016

Runggun/Majelis Jemaat GBKP Dolat Rayat yang dulunya merupakan anggota dari Klasis Berastagi, kini sudah menjadi bagian dari Klasis Barus-Sibayak yang baru saja dimekarkan tepat ketika saya melakukan Collegium Pastorale I di tempat ini. GBKP Dolat Rayat terletak di Kecamatan Dolat Rayat Berastagi, Kab Karo Sumatera Utara. Kebanyakan penduduk yang tinggal di daerah Dolat Rayat ini merupakan pendatang, baik itu Batak Toba, Jawa, namun kebanyakan pendatang yang saya maksudkan di sini ialah pendatang dari Desa luar Dolat Rayat. GBKP Dolat Rayat juga merupakan salah satu saluran tangan Tuhan kepada umatnya di daerah Berastagi.

Kebanyakan anggota jemaat GBKP Dolat Rayat bekerja sebagai petani ladang, misalnya ; petani jeruk, tomat, kubis, cabai, dan lain-lain. Jemaat GBKP Dolat Rayat juga menerima dampak negatif dari erupsi Gunung Sinabung yang saat ini bisa dikatakan menjadi trending topik masyarakat Karo pada umumnya, karena tanaman-tanaman mereka menjadi terganggu proses panennya akibat erupsi Gunung Sinabung. GBKP Dolat Rayat juga aktif dalam melayani dalam bidang kategorial seperti MORIA (kaum ibu), MAMRE (kaum bapa), PERMATA (Pemuda/i), KA-KR (Anak-anak dan Remaja). Saya tidak tahu pasti kapan tepatnya gereja GBKP Dolat Rayat berdiri untuk menjadi saluran tangan Tuhan kepada umatnya di tempat ini, namun yang pasti GBKP Dolat Rayat sudah ada sejak lama. Jemaat GBKP Dolat Rayat 90% adalah suku Karo, 10% lagi merupakan pendatang. Ada 13 jumlah Pertua(Penatua)/Diaken. Ketua Majelis : Pt. Rahabeam Bangun, Sekretaris : Pt. Terangmin br Ginting, Bendahara : Pt. dr. Rehmenda br Sembiring.

Gereja GBKP Dolat Rayat mulai berdiri pada tahun 1980. Sejak tahun tersebut, Gereja GBKP Dolat Rayat menjadi saluran tangan Tuhan untuk menjamah setiap jemaatNya yang tinggal di sekitar daerah Desa Dolat Rayat. Kurang lebih ada 124 KK, jumlah jiwa ialah 424 orang yang menjadi anggota resmi jemaat GBKP Dolat Rayat. Jumlah anggota MORIA 114 orang, MAMRE 98 orang, PERMATA 75 orang, KA-KR 144 orang. yang menjadi anggota resmi Runggun GBKP Dolat Rayat. Khusus untuk pemuda-pemudi GBKP Dolat Rayat, banyak yang sudah tidak tinggal di Dolat Rayat, melainkan sudah pergi untuk merantau ke tempat-tempat lain. Sidang Majelis Jemaat di Runggun GBKP Dolat Rayat diadakan tiap minggu ke-2 setiap bulannya.

Penatua/Diaken ikut serta dan aktif dalam melakukan pelayanan tiap anggota jemaat GBKP Dolat Rayat. Setiap 3 bulan sekali diakan siding Koordinasi yang beranggotakan Penatu/Diaken dan pengurus Kategorial dan guru Sekolah Minggu. Mereka mengadakan siding Koordinasi tersebut untuk membenahi pelayanan yang sudah dilakukan untuk jemaat GBKP Dolat Rayat dalam rangka melakukan peningkatan dalam tiap-tiap bidang pelayanan yang ada di Runggun GBKP Dolat Rayat. Banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan ketika melakukan Collegium Pastorale I di Runggun GBKP Dolat Rayat. Secara umum jemaat Runggun GBKP Dolat Rayat sangat menerima kehadiran mahasiswa CP di tempat mereka. GBKP Dolat Rayat juga sebelumnya sudah menerima beberapa mahasiswa yang diutus oleh kampus (bukan hanya STT Jakarta) untuk melakukan Collegium Pastorale I dan II di gereja mereka. Jemaat GBKP Dolat Rayat sangat ramah memperlakukan tiap mahasiswa yang melakukan Collegium CP I di tempat mereka. Namun kegiatan-kegiatan gereja yang ada di Runggun GBKP Dolat Rayat kurang memiliki perhatian khusus dalam bidalam pelayanan “musik gereja.” Sehingga di gereja ini sangat kekurangan pemusik pengiring ibadah di setiap hari minggu. Yang selalu menjadi pemusik utama di gereja GBKP Dolat Rayat ialah Ketua Majelis Jemaat itu sendiri.

 

dolat4 dolat5 dolat3 dolat2 dolat1 dolat7 dolat6

More Information»
BNKP Jemaat Lahewa

BNKP Jemaat Lahewa

Nias Utara, Sumatera Utara

January 112016

BNKP jemaat Lahewa, terletak di dekat Pasar Lahewa, sekitar 200 M dari pasar Lahewa atau kira-kira 75 KM ke sebelah Utara Gunungsitoli. Mayoritas masyarakat yang tinggal di daerah pasar Lahewa adalah Islam sehingga jemaat BNKP Lahewa ada yang tinggal di lingkungan Islam.

BNKP jemaat Lahewa merupakan satu dari 16 jemaat yang ada di BNKP resort 35. Secara keseluruhan BNKP resort 35 memiliki jumlah jemaat lebih dari 10.000 jemaat jiwa dan sekitar 6.400 jiwa ada di jemaat Lahewa. Artinya, jemaat lahewa merupakan jemaat paling besar di BNKP resort 35. Mayoritas Jemaat adalah Ono Niha (Orang Nias) dan beberapa juga adalah Orang Batak. Orang Batak adalah pendatang di gereja ini. Mayoritas jemaat di BNKP jemaat Lahewa berprofesi sebagai petani, namun ada juga jemaat yang berprofesi sebagai guru dan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tempat tinggal jemaat ada yang didekat gedung gereja, namun mayoritas jauh dari gedung gereja. Tempat tinggal jemaat, paling jauh dari gedung gereja sekitar 7 KM. Jadi bisa dikatakan, cakupan wiyalah BNKP jemaat Lahewa adalah sekitar 49KM2.

BNKP jemaat Lahewa dipimpin oleh pendeta majelis, Pdt. Ameni Ndraha, S.Th. dan dua orang pendeta fungsional, Pdt. Sudila Harefa, S.Th. dan Pdt. Yamani Waruwu, S.Th. Ketiga pendeta tersebut adalah perempuan. Di gereja ini, pendeta bekerja sama dengan  Badan Pekerja Majelis Jemaat Lahewa (BPMJ) yang seluruhnya, berjumlah 6 orang, adalah laki-laki. BPMJ menjadi pekerja atau pelaksana dari keputusan majelis yang berjumlah sekitar 150 orang di jemaat ini.

Gedung gereja BNKP Jemaat Lahewa cukup baik dan besar. Di dekat gedung gereja BNKP jemaat Lahewa terdapat sekolah (TK, SD, SMP) milik sinode BNKP yang dalam kepengurusannya melibatkan jemaat BNKP Lahewa. Guru-guru di sekolah serta kepala yayasan sekolah-sekolah BNKP tersebut adalah jemaat BNKP Lahewa. Tiap Minggu jemaat BNKP Lahewa juga memberikan satu kantong persembahan untuk membantu sekolah yang ada itu.

Di BNKP jemaat Lahewa ada tiga jadwal kebaktian, yaitu kebaktian pagi menggunakan bahasa Indonesia (masuk jam 08.00), kebaktian siang menggunakan bahasa daerah, Li-Niha/bahasa Nias (masuk jam 10.30), dan kebaktian remaja (masuk jam 14.00). Jemaat di lembaga ini mayoritas menggunakan Li-Niha dalam kehidupan sehari-hari. Adat Nias masih kuat dalam kehidupan jemaat sehingga gereja harus berinteraksi dengan tokoh-tokoh adat Ono Niha.

Layaknya gereja atau sinode lainnya, BNKP jemaat Lahewa juga memiliki kategorial atau komisi dalam jemaat, komisi lingkungan, pemuda, perempuan, bapak dan lainnya.

lahewa4 lahewa3 lahewa2 lahewa1 lahewa5

More Information»
Council of Churches of Malaysia

Council of Churches of Malaysia

Selangor, Malaysia

January 112016

Council of Churches of Malaysia (CCM) is an ecumenical fellowship of Churches and Christian Organisations in Malaysia. It is one of the three constituent members of the Christian Federation of Malaysia (CFM). The message “that they may all be one … that the world may believe” (Jesus’ prayer for this followers, from John 17:21). By 1947, the Malayan Christian Council (MCC) was mooted and formed, finding official inauguration on 9th January 1948. The MCC was an unprecedented act of faith of the churches on Malaysian soil to stay and grow together through ecumenical cooperation. The CCM celebrated fifty years of united witness and service in 1997. It salutes the founding fathers of the ecumenical movement in our country. It is grateful to all the leaders, past and present who have contributed to the well-being of the organisation. It expresses its appreciation to the whole people of God of all the member churches who have sustained and developed the vision of greater unity of the churches in witness and service.

The past few years have been a time of tremendous change in the history of the nation and among the people of Malaysia. Our country joined the international community of independent nations in 1957. It went through periods of difficult social and political strife. More recently, rapid economic development is propelling Malaysia into the future bringing new and unprecedented opportunities but at the same time also challenging the values and traditions of our rich past.

The churches too have undergone profound transformations, from communities depending on foreign missions, they have become autonomous bodies, fully responsible for their life and witness in society. As a minority the churches have learned to hold together faithfulness to the gospel of Jesus Christ and peaceful relations with our Muslim neighbours and fellow Malaysians of other faiths.

During all those years, the Council of Churches of Malaysia has been the focal point of ecumenical cooperation and commitment and the instrument of common witness of its member Churches (CCM website 2015).

IMG_0428 IMG_0639 IMG_0259 IMG_0328 IMG_0353

More Information»
GKI Sumut Medan

GKI Sumut Medan

Medan, Sumatera Utara

January 112016

Gedung gereja GKI Sumut Medan berdiri pada tanggal 16 Agustus 1915 oleh pemerintah Belanda dengan nama Gereformeerd de Kerk (ibadah berbahasa Belanda), dan sejak tanggal 11 September 1969 berubah menjadi Gereja Gereformeerd Indonesia Sumatera Utara (ibadah berbahasa Jawa dan Indonesia), dan kemudian pada Sidang Sinode II Gereja Gereformeerd Indonesia, yang diadakan pada tanggal 17-19 April 1974 di Medan,  menetapkan perubahan nama gereja menjadi Gereja Kristen Indonesia Sumatera Utara, disingkat GKI Sumut Medan. GKI Sumut Medan resmi menjadi anggota Dewan Gereja-gereja Indonesia (DGI) pada tanggal 10 Juli 1976. Gereja ini kemudian mendapat pengakuan pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Bimas Kristen Depag RI No.146 tahun 1988 tertanggal 2 Juli 1988.

Letak GKI Sumut Medan yang berada di pusat kota Medan dan berdiri persis di depan Mall Sun Plaza menjadi faktor pendukung bagi perkembangan gereja. Hal ini tentunya dapat menarik perhatian bagi orang-orang yang ingin beribadah, misalnya para pengunjung mall Sun Plaza, semula hanya menyempatkan diri beribadah atau sebagai partisipan, namun karena pelayanan dan keramahan yang ditunjukkan GKI Sumut Medan membuat mereka tertarik menjadi anggota gereja yang tetap.

Adapun anggota jemaat GKI Sumut Medan mempunyai latar belakang suku beragam, yaitu: Batak Toba, Simalungun, Karo, Nias, Minang, Jawa, Ambon, Toraja, dan Tionghoa. Kini jumlah anggota jemaat tetap sebanyak 343 KK ditambah beberapa partisipan (data akhir tahun 2014). Pada hakekatnya, wilayah pelayanan GKI Sumut Medan mencakup wilayah kota Medan, Belawan, dan Tanjung Morawa. Dengan tersebarnya tempat tinggal anggota jemaat ini, maka GKI Sumut Medan menetapkan ada lima wilayah pelayanan, yaitu: wilayah 1: Medan Barat, Johar, Selayang, dan Tuntungan; wilayah 2: Medan Sunggal dan Helvetia; wilayah 3: Medan Timur, Medan Deli, Percut Sei Tuan dan Tembung; wilayah 4: Amplas, Juanda, dan Tanjung Morawa; dan wilayah 5: Deli Tua, Namorambe, Simalingkar, dan Pancur Batu.

Di samping itu, GKI Sumut Medan memiliki 4 bakal jemaat, yaitu: (1) Bajem Kwala Mencirim, yang terletak di Jl.Namo Ukur, Kec. Sei Bingei, Kab. Langkat, dengan jumlah anggota jemaat 40 KK; (b) Bajem Mandiangin, yang terletak di Dusun V Desa Ajibaho, Kec. Sibirubiru, Kab. Deli Serdang, dengan jumlah anggota jemaat 36 KK; (c) Bajem Namocancan, yang terletak di Dusun IV Desa Ajibaho, Kec. Sibirubiru, Kab. Deli Serdang, dengan jumlah anggota jemaat 21 KK; dan (d) Bajem Denai, yang terletak di Jl. Jermal III, Kec. Medan Denai, dengan jumlah anggota jemaat 30 KK. Adapun jumlah anggota majelis GKI Sumut Medan, adalah: 3 orang pendeta: Pdt.Nuran Ady Suyatno, S.Th., Pdt. Eka Helena Siregar, S.Th., dan Pdt. Luther Novryaman Lase, M.Th., 1 orang guru Injil: Pnt.GI. Onoda Duha, 1 orang orientasi pendeta: Cln. Pdt. Esterlina, S.Th., dan 44 Penatua dan Diaken. Jumlah seluruh Majelis Jemaat adalah 49 orang, yang diketuai oleh Pnt. Anung Gunawan.

Pelayanan GKI Sumut Medan mencakup tiga bidang: (a) Koinonia: seksi kebaktian, yang melaksanakan 4 kali ibadah minggu umum, yaitu pukul 06.00 WIB, 08.00 WIB, 10.30 WIB, dan 17.00 WIB; ibadah Sekolah Minggu pukul 08.00 WIB di gedung Graha lantai 1 dan 2; ibadah Remaja pukul 08.00 WIB di gedung Graha lantai 3. PA wilayah dilaksanakan setiap hari Jumat, dan kebaktian kategorial (komisi Anak, Remaja, Pemuda, Wanita, dan Pria), serta kebaktian khusus lainnya; (b) Marturia: komisi musik gerejawi mengiringi nyanyian jemaat di dalam setiap kebaktian; dan (c) Diakonia: komisi Pendidikan, Kedukaan, Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial dan Ekonomi (Dikkesra). Di samping itu, ada kepanitiaan tertentu.

Tahun 2015 merupakan tahun sejarah bagi GKI Sumut Medan yang akan melangsungkan Syukuran Jubileum 100 tahun, ibadah puncak dilaksanakan pada tanggal 15-16 Agustus 2015.

 

Acara Colour Run Pemuda GKI Sumut Medan Bersama Komisi Pemuda dan Remaja GKI Sumut Medan acara Retreat di Samosir Bersama Pdt.Nuran Ady dan Pemuda bajem Kwala Mencirim Monitoring kak Linna Gunawan Kunjungan Komisi Anak GKI Sumut Medan ke Yapentra Khotbah di bajem Kwala Mencirim Mengantar Peduli Kasih GKI Sumut Medan untuk Pengungsi Sinabung Pemuda GKI Sumut Medan dalam ibadah Ekspresif

More Information»

Gereja Silo Naikoten 1 Kupang terletak di pusat kota Kupang. Gereja tersebut berada di tengah-tengah komplek sekolah SMA Kristen. Keberadaan gereja Silo sendiri pada lokasi yang bermayoritas Kristen. Gereja ini memiliki 2 orang pendeta, yakni Ibu Pdt. Magdalena Adam-Manu, S.Th  yang adalah ketua majelis jemaat Silo dan bpk Pdt. Folkes Pellondo’u, S.Th (Emr) sebagai wakil ketua serta, 1 orang pendeta pelayan umum, yaitu Ibu Pdt. Herlissa Wattimury, Ssi.Teol. Dalam kebaktian umum Minggu ada 3 kali peribadahan yang dilakukan. Kebaktian I dari 06-07.30 WITA; Kebaktian II dari 08.00-09.30; Kebaktian III dari 17.00-18.30 Jemaat dari gereja Silo berasal dari daerah sekitar NTT dan juga luar NTT, yaitu Sabu, Timor, Rote, Alor, Sumba, dan daerah sekita NTT lainnya, serta Manado, Ambon.

Namun, kebanyakan jemaat yang lebih dominan di gereja Silo sendiri adalah jemaat yang berasal dari Rote. Meskipun terdiri dari banyak suku dan bahasa yang berbeda-beda, akan tetapi jemaat Gereja Silo tersebut memiliki hubungan kekeluargaan, kepedulian terhadap sesama jemaat sangat baik. Selain itu, gereja Silo mempunyai semangat berpelayanan yang sangat baik. Hal ini terlihat dari setiap keaktifan program yang bergerak pada bidangnya masing-masing. Masing-masing program tersebut adalah Majelis Jemaat Harian, terdiri dari bidang dan programnya, yakni Bidang Koinonia yang didalamnya terdapat Program Peningkatan Disiplin Majelis Harian jemaat serta Jemaat, Penguatan Persekutuan Wilayah, Peningkatan Kapisitas Organisasi Gereja.

Ada juga Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Ibadah dan Kesaksian, Bidang Koinonia terdapat program Pembinaan dan Peningkatan Pemahaman Alkitab, Peningkatan Peranan Penatua dan Diaken. Bidang Marturia terdapat program perayaan Hari-hari Gerejawi, Perayaan Hari Ulangtahun Lembaga, Pembinaan Katekisasi. Bidang Liturgia terdapat program Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Ibadah; UPP Penelitian dan Pengembangan, bidang Koinonia terdapat program Membangun dan Mengembangkan Dialog dengan Jemaat, Dalam bidang Oikonomia terdapat program Peningkatan Kapisitas Manajemen Organisasi Gereja, dan Penyusunan Data Base Jemaat yang Aktual dan Akurat; UPP Diakonia ada bidang Marturia yang memiliki  program perayaan Hari-hari Raya Gerejawi, Bidang Liturgia ada Program Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Ibadah, Bidang Diakonia terdapat Program Peningkatan Diakonia Pendidikan dan Kesehatan, Pemberdayaan Jemaat dan Masyarakat, Kegiatan Sosial dan Bantuan Bencana (yang pada tanggal 27 Juli 2015) memberikan bantuan berupa beras , pakaian layak pakai untuk bencana kelaparan yang terjadi di Amanuban Selatan, So’e. UPP Anak dan Remaja terdapat program Pembinaan dan Peningkatan Pemahaman Alkitab, Klasis/Sinodal/Undangan di bidang Koinonia dan program ada bidang Marturia, Liturgia, Diakonia, dan Oikonomia. UPP Pemuda terdapat program Pembinaan dan Peningkatan Pemahaman Alkitab, Pengembangan Pola Pekabar Injil (yang beberapa waktu lalu melakukan pelayanan ibadah tersebut di gereja pedalaman di Leloboko, So’e dan gereja Panria, Warsalelang- Pantar Timur, Alor. Juga UPP Perempuan dan UPP Kaum Bapak pada bidang programnya masing-masing. Jemaat dari gereja Silo Naikoten 1 Sendiri terdari ± 1000 jemaat yang hadir di setiap ibadah Minggu. Gereja Silo juga memiliki 1 pos pelayanan, yaitu Pos Hubibi Efrata yang terletak di daerah Naikolan, Kupang- NTT.

Maya R. Beri 02 Maya R. Beri 03 Maya R. Beri 05 Maya R. Beri Maya R. Beri 04

More Information»
Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e (IPTL) Graca Loes
December 312015

Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e  (IPTL) adalah gereja Protestan pertama di Timor Leste.  IPTL sudah hadir di Timor Leste saat masih bersatu dengan Indonesia yang dikenal dengan GKTT (Gereja Kristen di Timor-Timor). Akan tetapi, Timor Leste merdeka dan memutuskan  mengganti nama menjadi Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e (IPTL).  Sinode IPTL terletak di pusat keramaian kota Dilli, di jalan Comoro. Sinode IPTL sudah terbentuk sejak 9 Juli 1988, dan pada tahun 2015 baru saja merayakan ulang tahun yang ke 27. IPTL sampai saat ini memiliki 72 jemaat mandiri yang tersebar dalam 4 Klasis. Salah satunya adalah IPTL Graca Loes yang berada dalam Klasis Oeste (Klasis Barat). Jarak yang ditempuh dari Dilli menuju Loes sejauh 60 km dan di sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan tebing dan laut yang indah.  IPTL Graca Loes terletak tidak jauh dari perbatasan Timor Leste dan Atambua (Indonesia). IPTL Graca Loes adalah salah satu jemaat yang cukup berkembang dibanding beberapa jemaat lain yang ada di Klasis Oeste, yang berdiri sejak tahun 1989. Pada masa Indonesia jemaat ini sangat berkembang pesat baik secara kuantitas dan kualitas. Akan tetapi,  kerusuhan tahun 1999  membuat banyak jemaat yang mengungsi dan memilih untuk menetap di Atambua (Indonesia). Banyak jemaat yang enggan kembali ke Timor Leste karena trauma dengan kerusuhan berdarah tersebut.

Terletak dipinggir jalan, IPTL Graca Loes berdiri kokoh . Loes dikenal dengan tanahnya yang subur dan dingin, sehingga tumbuhan palawija tumbuh subur di Loes.  Jemaat Loes  memiliki pekerjaan yang beragam, tetapi sebagian besar sebagai petani. Loes juga dikenal sebagai daerah penghasil pisang, karena berbagai jenis pisang dapat di temukan di sana. Ada juga jemaat  yang memilih untuk berternak hewan, berdagang dan juga mencari ikan di sungai dan di laut. Jemaat Loes hingga tahun 2015 mencapai 57 kepala keluarga, kurang lebih 250 orang jemaat yang terdaftar. Jemaat dilayani oleh seorang guru Injil dan seorang Majelis yang berdomisili dekat dengan gereja. Jemaat Loes belum memiliki pendeta jemaat, sehingga guru Injil-lah yang sebagian besar melakukan pelayanan di gereja. Setiap minggunya kegiatan gerejawi yang dilaksanakan adalah ibadah Minggu, Ibadah Rumah Tangga dan Sekolah Minggu. Tingkat kehadiran jemaat setiap minggunya mencapai 40-50 orang. Namun demikian, ada keunikan dalam jemaat Graca Loes, bahwa dalam setiap kegiatan ibadah didominasi oleh kehadiran anak Sekolah Minggu dan Pemuda. Bahkan jika ada ibadah-ibadah syukur atau peresmian gereja,  peran anak Sekolah Minggu dan pemuda lebih dominan. Partisipasi orangtua dalam kegiatan gerejawi sangat minim di Graca Loes. Tanpa kehadiran anak sekolah minggu dan pemuda, gereja akan kosong. IPTL Graca Loes memiliki generasi-generasi muda yang sangat antusias dalam kegiatan gerejawi meskipun dalam segala keterbatasannya. Jemaat Graca Loes banyak yang berdomisili secara menyebar di Loes dan tak jarang ada yang harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam untuk sampai ke gereja. Namun demikian, jarak tidak menyurutkan semangat untuk mengikuti ibadah. Jemaat-jemaat Loes berusaha memberikan yang terbaik di tengah segala keterbatasan. Saat ini IPTL Grasa Loes menjadi salah satu jemaat yang bertumbuh di Klasis Oeste.  Meskipun dalam komunitas yang kecil IPTL Graca Loes mampu memperlihatkan  eksistensinya untuk menjadi jemaat yang terus bertumbuh di dalam iman.

wanda2 wanda3 wanda4 wanda5 wanda1

More Information»
AIC Pyeongtaek

AIC Pyeongtaek

Pyeongtaek, Gyeonggi-do

November 112015

Antioch Indonesia Community (AIC) didirikan pada 25 Juni 1995 untuk memenuhi kebutuhan perubahan misi yang terjadi di Korea Selatan. Sebelumnya, orang Korea selalu mengirimkan misionaris ke luar negara mereka untuk memberitakan injil bagi orang lain yang masih belum menerima Yesus. Namun, pada tahun 1995 terjadi perubahan yang sangat drastis di Korea Selatan oleh karena banyaknya pekerja asing yang datang untuk bekerja di Korea atau yang kita kenal sebagai tenaga kerja asing, sekarang berganti nama menjadi buruh migran. Pada awalnya komunitas ini didirikan dengan nama Antioch International Community (AIC), namun seiring berjalannya waktu komunitas ini berubah menjadi sarana misi bagi orang-orang Indonesia. Alasan mengapa gereja ini diberikan nama tersebut adalah karena kerinduan untuk mengikuti jejak Gereja Antiokhia dalam Kisah Para Rasul sebagai gereja yang misioner. Namun, melalui rapat pelayan Gereja AIC, nama gereja ini kemudian diubah dengan pertimbangan  bahwa gereja ini bukan lagi bersifat Internasional seperti pada waktu didirikan, melainkan telah menjadi sebuah gereja khusus yang berfokus untuk orang Indonesia. Maka pada 25 Juni 2013 nama Antioch International Community menjadi Antioch Indonesia Community. Gereja ini dilayani oleh orang-orang Korea yang fasih berbahasa Indonesia dan menjalankan semua pelayanan, seperti ibadah, fellowship, dan konseling dengan menggunakan bahasa Indonesia. Orang Korea pada waktu itu tidak mempedulikan hak-hak dan kesejahteraan para buruh migran atau pekerja asing. Tetapi gereja AIC datang untuk membantu para buruh migran. Selain melayani dalam hal peribadahan, gereja ini juga melayani dalam hal membantu mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan hak-hak dan kesejahteraan para buruh migran dengan kasih. Akibatnya, banyak orang yang datang untuk meminta bantuan dari gereja AIC. Tempat awal pertama kali AIC berdiri adalah di daerah Ansan, namun seiring berkembang dan bertambahnya jumlah buruh migran yang datang untuk beribadah ke AIC ataupun meminta bantuan, maka AIC memutuskan untuk membuka cabang lagi di AIC Incheon. Pada tahun 2000, berdirilah gereja AIC di Incheon yang dilayani oleh misionaris Kim Gyo Shin atau Ibu Elisabeth. Pada tahun 2001 berdiri jugalah cabang AIC yang ketiga, yaitu di Suwon yang sekarang di pimpin oleh Pak Pendeta Rendy Sanger. Jumlah kehadiran jemaat dalam setiap ibadah Minggu di kedua gereja tersebut semakin meningkat. Gereja AIC melihat dan mempertimbangkan kebutuhan buruh migran yang semakin meningkat dan jarak jauh yang harus mereka tempuh untuk beribadah, maka gereja ini membuka kembali satu lagi di daerah Pyongtaek. Pada bulan Desember 2006, resmilah dibuka cabang gereja “AIC Pyeongtaek” yang dipimpin oleh Pendeta Maju Manurung.

Visi dan Misi Gereja AIC adalah untuk memberitakan injil kepada orang-orang Indonesia yang  bekerja di Korea Selatan dan menjadikan mereka murid Yesus. Gereja mengadakan persekutuan doa pada hari-hari biasa, ibadah umum dan pertemuan sel pada hari Minggu, serta KKR/ retreat pada hari-hari libur besar di Korea.  Setiap hari Sabtu sore setelah pulang kerja para pekerja akan berkumpul di gereja. Pukul 9.00 PM mereka akan mengadakan persekutuan doa , berbagi Firman dan kesaksian, dilanjutkan dengan makan malam sambil fellowship.  Gereja juga menyediakan berbagai bentuk pelayanan sosial secara gratis, seperti penerjemahan bahasa, belajar bahasa Korea, konsulitasi masalah pekerjaan, medical check up, dan tempat tinggal (shelter).

IMG_20150628_154901 IMG_20150627_161515

More Information»
AIC Incheon

AIC Incheon

Incheon, Korea Selatan

November 112015

Antioch Indonesia Community (AIC) didirikan pada 25 Juni 1995 untuk memenuhi kebutuhan perubahan misi yang terjadi di Korea Selatan. Sebelumnya, orang Korea selalu mengirimkan misionaris ke luar negara mereka untuk memberitakan injil bagi orang lain yang masih belum menerima Yesus. Namun, pada tahun 1995 terjadi perubahan yang sangat drastis di Korea Selatan oleh karena banyaknya pekerja asing yang datang untuk bekerja di Korea atau yang kita kenal sebagai tenaga kerja asing, sekarang berganti nama menjadi buruh migran. Pada awalnya komunitas ini didirikan dengan nama Antioch International Community (AIC), namun seiring berjalannya waktu komunitas ini berubah menjadi sarana misi bagi orang-orang Indonesia. Alasan mengapa gereja ini diberikan nama tersebut adalah karena kerinduan untuk mengikuti jejak Gereja Antiokhia dalam Kisah Para Rasul sebagai gereja yang misioner. Namun, melalui rapat pelayan Gereja AIC, nama gereja ini kemudian diubah dengan pertimbangan  bahwa gereja ini bukan lagi bersifat Internasional seperti pada waktu didirikan, melainkan telah menjadi sebuah gereja khusus yang berfokus untuk orang Indonesia. Maka pada 25 Juni 2013 nama Antioch International Community menjadi Antioch Indonesia Community. Gereja ini dilayani oleh orang-orang Korea yang fasih berbahasa Indonesia dan menjalankan semua pelayanan, seperti ibadah, fellowship, dan konseling dengan menggunakan bahasa Indonesia. Orang Korea pada waktu itu tidak mempedulikan hak-hak dan kesejahteraan para buruh migran atau pekerja asing. Tetapi gereja AIC datang untuk membantu para buruh migran. Selain melayani dalam hal peribadahan, gereja ini juga melayani dalam hal membantu mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan hak-hak dan kesejahteraan para buruh migran dengan kasih. Akibatnya, banyak orang yang datang untuk meminta bantuan dari gereja AIC. Tempat awal pertama kali AIC berdiri adalah di daerah Ansan, namun seiring berkembang dan bertambahnya jumlah buruh migran yang datang untuk beribadah ke AIC ataupun meminta bantuan, maka AIC memutuskan untuk membuka cabang lagi di AIC Incheon. Pada tahun 2000, berdirilah gereja AIC di Incheon yang dilayani oleh misionaris Kim Gyo Shin atau Ibu Elisabeth. Pada tahun 2001 berdiri jugalah cabang AIC yang ketiga, yaitu di Suwon yang sekarang di pimpin oleh Pak Pendeta Rendy Sanger. Jumlah kehadiran jemaat dalam setiap ibadah Minggu di kedua gereja tersebut semakin meningkat. Gereja AIC melihat dan mempertimbangkan kebutuhan buruh migran yang semakin meningkat dan jarak jauh yang harus mereka tempuh untuk beribadah, maka gereja ini membuka kembali satu lagi di daerah Pyongtaek. Pada bulan Desember 2006, resmilah dibuka cabang gereja “AIC Pyeongtaek” yang dipimpin oleh Pendeta Maju Manurung.

Visi dan Misi Gereja AIC adalah untuk memberitakan injil kepada orang-orang Indonesia yang  bekerja di Korea Selatan dan menjadikan mereka murid Yesus. Gereja mengadakan persekutuan doa pada hari-hari biasa, ibadah umum dan pertemuan sel pada hari Minggu, serta KKR/ retreat pada hari-hari libur besar di Korea.  Setiap hari Sabtu sore setelah pulang kerja para pekerja akan berkumpul di gereja. Pukul 9.00 PM mereka akan mengadakan persekutuan doa , berbagi Firman dan kesaksian, dilanjutkan dengan makan malam sambil fellowship.  Gereja juga menyediakan berbagai bentuk pelayanan sosial secara gratis, seperti penerjemahan bahasa, belajar bahasa Korea, konsulitasi masalah pekerjaan, medical check up, dan tempat tinggal (shelter).


IMG_20150628_121819 IMG_20150624_212007_HDR

IMG_20150625_213437_1435238733075

More Information»
AIC Suwon

AIC Suwon

Suwon, Gyeonggi-do

November 112015

Antioch Indonesia Community. Didirikan seorang missionaris Korea dari Gereja Onnuri bernama Park Kwan Gu pada tahun 1995. Saat itu gereja AIC pertama didirikan di Ansan dan masih bernama Antioch International Community. Gereja AIC ditujukan untuk menjangkau orang-orang asing, khususnya orang Indonesia untuk dapat beribadah sesuai dengan konteks bahasa dan budaya mereka. Sehingga, pada awalnya gereja ini memiliki jemaat para pekerja migran dan pelajar asing dari berbagai negara di luar Korea Selatan. Akan tetapi, semakin lama, jemaat dari Indonesia semakin bertambah dan dari negara lain semakin sedikit. Oleh sebab itu, AIC kemudian berganti nama menjadi Antioch Indonesia Community.

Gereja AIC dihadirkan untuk menjangkau jemaat Indonesia yang ada di Korea. Selain itu, pekabaran Injil disampaikan secara kontekstual dan menyeluruh, dengan ikut serta menolong para pekerja migran dan pelajar Indonesia di Korea dalam permasalahan yang berkaitan dengan keberadaan mereka sebagai kaum migran di Korea. Antioch Indonesia Community kini hadir di 4 (empat) kota besar: Ansan, Incheon, Suwon, dan Pyeongtaek. Keempat AIC berintegrasi dalam visi misi yang sama dan beberapa kegiatan bersama sebagai satu jemaat AIC.

AIC Suwon didirikan pada tahun 2001 dengan gembala jemaat pertama bernama Lee Eun Jun. Hingga tahun 2015, gembala jemaat di AIC Suwon telah mengalami beberapa kali pergantian dan kini Pdt. Rendy Padang menjadi gembala di AIC Suwon. Visi AIC Suwon tahun 2014-2015 adalah “Melangkah Menuju Kedewasaan.” Beberapa program rutin yang dilaksanakan di AIC Suwon adalah Renungan Pagi (bagi jemaat yang berada di shelter) setiap hari pukul 10.00, Persekutuan Sabtu setiap Sabtu pukul 21.00, dan Ibadah Raya setiap Minggu pukul 10.30, Kunjungan Pabrik (sesuai kondisi), Retreat, Retreat PGI-Korea, Kebersamaan Liburan Musim Panas, dan lain-lain. Jemaat AIC Suwon sebagian besar adalah pekerja migran, hanya beberapa yang mahasiswa.

AIC Suwon - Christnadi (2) AIC Suwon - Christnadi (1) AIC Suwon - Christnadi (5) AIC Suwon - Christnadi (4) AIC Suwon - Christnadi (3)

More Information»
HKBP Sukadono

HKBP Sukadono

Medan, Sumatera Utara

November 112015

Gedung HKBP Sukadono terletak dipinggir kota Medan, sekitar satu jam dari pusat kota Medan menuju arah timur laut dan 30 menit dari rumah tinggal saya. Selain itu yang memudahkan untuk mencari Gereja satu ini adalah karena lokasinya berdekatan dengan sebuah Lembaga Pemasyarakatan (LP) tentu hal ini memudahkan karena LP di medan hanya ada satu.

Ketika tiba di HKBP Sukadono, kita akan disambut oleh sebuah pagar biru yang cukup panjang, dan setinggi orang dewasa. Setelah itu kita akan langsung berhadapan dengan gedung Gereja yang cukup besar. Di sebelah kiri ada bangunan yang menjadi rumah tinggal Pendeta Resort/Mentor saya, dan tepat diatasnya adalah gedung Sekolah Minggu. Di sebelah kanan Gereja ada sebuah bangunan yang pengerjaannya masih berlangsung. Menurut Mentor saya, gedung itu nantinya akan dijadikan sebagai rumah untuk Biblevrouw dan diatasnya adalah gedung tambahan untuk kegiatan Sekolah Minggu.

Bila ingin masuk ke dalam gedung Gereja, kita akan melalui sebuah pintu coklat yang cukup besar. Setelah itu kita akan menemui dua buah pilar yang menopang balkon lantai dua. Setelah kita melalui dua pilar tadi, nampaklah bagian altar dan tempat pemusik. Di bagian depan-tengah terdapat sebuah salib besar berwarna perak menempel di dinding dan di bawah salib terdapat meja altar. Di sebelah kiri altar terdapat mimbar besar untuk Pelayan Firman, sementara di sebelah kanan meja altar terdapat beberapa kursi untuk pelayan ibadah dan sebuah mimbar kecil. Di belakang kursi pelayan ibadah ada ruang konsistori.

Bergeser ke sebelah kanan, kita akan melihat beberapa alat musik yang biasanya digunakan untuk mengiringi umat bernyanyi dalam ibadah. Di situ juga diletakkan sebuah mesin pengatur setelan sound system. Alat musik yang ada adalah dua buah keyboard, satu set drum, satu unit gitar listrik, satu unit gitar bass. Semuanya disusun rapi dan tidak berantakan. Bila kita berbalik dan melihat ke arah umat atau pintu masuk, maka kita akan melihat hamparan kursi untuk jemaat. Sejauh yang saya hitung, tak kurang dari 400 orang bisa ditampung dalam gereja ini. Bahkan bisa lebih dari itu bila lantai dua juga digunakan. Dari depan meja altar kita bisa melihat ada dua buah pintu yang juga bisa digunakan selain pintu masuk utama. Keduanya berada di samping kiri dan kanan umat. Masih dari tempat yang sama, kita akan bisa melihat sebuah tali yang digunakan untuk membunyikan lonceng ketika peribadahan akan dimulai.

Ada satu jenis pelayanan yang disediakan oleh gereja ini yang sudah jarang ditemukan di gereja lainnya, yaitu persekutuan janda. Karena tak banyak ditemukan di gereja lainnya, saya menganggap ini adalah salah satu ciri khas yang dimiliki oleh HKBP Sukadono. Meskipun anggota persekutuan ini tidak banyak, tetapi persekutuan ini tetap aktif dalam memberi kontribusi bagi gereja terkhusus dalam peribadahan. Terbukti dengan konsistennya persekutuan ini menyanyikan pujian dalam ibadah dengan formasi paduan suara.

Secara garis besar, umat HKBP Sukadono bekerja sebagai pekerja lepas. Hanya sebagian kecil saja yang bekerja pada satu instansi tertentu. Bahkan tak sedikit yang mendapat penghasilan dari beternak dan berdagang. Meskipun demikian, banyak anak-anak dari keluarga dalam jemaat ini yang bekerja dan berhasil di perantauan. Ini yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi kebanyakan keluarga dalam jemaat HKBP Sukadono.

foto

More Information»
GKMI Surakarta

GKMI Surakarta

Surakarta, Jawa Tengah

November 112015

GKMI merupakan gereja yang berdiri dari usaha para pedagang keturunan Tionghoa di Kudus, bukan dari hasil pekabaran Injil Zending Belanda maupun dari negara lain. Gereja ini kemudian menyebar ke berbagai daerah, yang awalnya hanya menyebar di sekitar Gunung Muria Kudus. Saat ini GKMI sudah ada di beberapa provinsi selain di Jawa seperti Lampung, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan di Sulawesi Tengah.

GKMI Surakarta memiliki dua jemaat dengan latar belakangan berbeda dan disebut sebagai Rayon 1 (Dawung) dan Rayon 2 (Mojosongo). GKMI Dawung dirintis oleh Pdt. (Em.) Eko yang tidak memiliki latar belakang pendidikan teologi yang formal. Gereja ini berada kota sehingga jemaatnya relatif secara ekonomi menengah ke atas. Sementara GKMI Mojosongo merupakan hasil pekabaran Injil GKMI Kudus. Berada di pinggir kota Solo sehingga jemaatnya secara ekonomi menengah ke bawah.

Awalnya dua gereja ini secara administrasi berbeda, lalu masuk awal tahun 2000-an ada inisitif dari beberapa majelis untuk melakukan proses rayonisasi. Barulah kemudian GKMI Dawung dan GKMI Mojosongo bersatu menjadi satu GKMI Surakarta. Masing-masing jemaat mempunyai majelis, tetapi ada Majelis Pengurus Harian yang mengatur jalannya administrasi yang terdiri dari masing-masing jemaat. Pelayanan pun dilakukan masing-masing. Gembala Jemaat GKMI Surakarta adalah Pdt. Nahum Sudarsono, S.Si (Teol) dan Pdm. Rotua Nurhayati Sinaga, S.Th serta dibantu satu orang asisten gembala bidang musik gereja yaitu Bpk. Widodo, S.M.G.

GKMI sendiri adalah gereja yang beraliran Mennonite. Beberapa penekanan dari gereja ini berbeda dengan gereja arus utama. Pertama soal baptisan hanya dilayankan kepada jemaat dewasa dan tidak kepada anak-anak. Kedua, menekankan lahir baru atau perjumpaan secara pribadi dengan Yesus. Dari paham ini kemudian GKMI tidak memberi tempat pada kontekstualisasi budaya lokal. Ketiga adalah anti-kekerasan. Dari paham ini, GKMI tidak mendorong jemaatnya untuk terlibat dalam ketentaraan, karena tentara identik dengan kekerasan, walaupun di satu sisi tidak anti pada rasa nasionalisme. Keempat adalah GKMI memisahkan peran antara gereja dan pemerintah, sehingga pendeta atau gembala jemaat tidak boleh terlibat dalam pemerintahan. Sekalipun terlibat, maka pendeta tersebut tidak boleh masuk dalam struktur GKMI secara sinodal dan bukan pelayan tugas khusus.

IMG_20150701_132648 IMG_20150630_095512 IMG_20150603_101941 IMG_20150530_213513 IMG_20150526_182007 IMG_20150524_110402

More Information»
GPIL Jemaat Wasuponda

GPIL Jemaat Wasuponda

Luwu Timur, Sulawesi Selatan

November 102015

Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL) merupakan salah satu organisasi gereja yang bergabung menjadi anggota Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). GPIL Jemaat Wasuponda, klasis Nuha-Towuti,  berdiri sekitar tahun 1970-an setelah sekitar empat tahun melakukan ibadah-ibadah di rumah-rumah penduduk. Dengan jumlah warga jemaat sekitar 80 kk, GPIL Wasuponda merupakan gereja yang tergolong sedang di Wasuponda sebab ada sekitar 15 gereja di Wasuponda ini dari berbagai aliran dan sebagian ada yang lebih besar.

Pada saat ini, pendeta di GPIL Jemaat Wasuponda adalah Pdt. Lukas Paoganan, S.Th. Ia memimpin jemaat ini bersama dengan 16 anggota majelis lainnya yang terdiri dari 13 orang penatua dan 3 orang diaken/syamas. Karena GPIL termasuk organisasi gereja Presbiterial-Sinodal, maka baik pendeta maupun majelisnya diusulkan dan dipilih oleh anggota jemaat.

Berada di wilayah Wasuponda yang sarat pendatang, GPIL Jemaat Wasuponda ini memiliki tantangan tersendiri. Angota jemaat berasal dari beraneka ragam suku seperti suku Padoe, Toraja, Seko, Rongkong, dan suku-suku campuran lainnya dengan asal yang berbeda-beda juga. Suku Padoe sebagai penduduk asli Wasuponda merupakan anggota jemaat terbesar, sementara suku-suku lainnya berasal dari berabagai wilayah bahkan dari Sulawesi Tengah. Dengan keadaan yang demikian keluar masuk anggota jemaat berpotensi lebih besar terjadi.

Pekerjaan dan tingkat pendidikan anggota juga beraneka ragam. Sebagain besar jemaat berpendidikan Sekolah Menengah Atas ke bawah, dan sebagian kecil berpendidikan Diploma dan yang lebih tinggi. Dengan tingkat pendidikan itu, lapangan pekerjaan pun beraneka ragam mulai dari pegawai negeri, karyawan PT. Vale, karyawan kontraktor, kerja bangunan, dan petani. Keberadaan PT Vale (dulu PT INCO) menjadi salah satu penggeliat utama perekonomian Wasuponda, termasuk bagi anggota Jemaat GPIL Wasuponda.

Pelayanan utama jemaat ini secara keseluruhan masih berkaitan dengan kegiatan-kegiatan peribadahan. Jadwal peribadahan sepanjang minggu selalu ada setiap hari, kecuali hari Selasa. Peribadahan, selain ibadah umum, dilakukan berdasarkan kategori-kategori yaitu Persekutuan Kaum Bapak (PKB), Persekutuan Wanita (PW), Persekutuan Pemuda (PP) dan Remaja, Sekolah Minggu. Selain itu juga ada ibadah rumah tangga. Dengan semua kategori itu, aktivitas peribadahan hampir dilakukan setiap hari.

Selain aktivitas peribadahan, GPIL Jemaat Wasuponda juga mengelola sebuah TK yang cukup besar. TK Kalvari GPIL Wasuponda, demikian nama TK itu, memiliki lebih dari 100 siswa yang dibagai menjadi lima kelas di bawah bimbingan lima guru TK dan satu kepala sekolah.

Gedung Gereja GPIL Wasuponda Ibadah Sekolah Minggu GPIL Wasuponda Ibadah Umum GPIL Wasuponda Retret Pemuda GPIL Wasuponda TK Kalvari GPIL Wasuponda

More Information»
PCS Jemaat Pekan Menggatal

PCS Jemaat Pekan Menggatal

Sabah, Malaysia

November 102015

Protestant Church in Sabah (PCS) Jemaat Pekan Menggatal adalah sebuah Gereja Kristen Protestan beraras Lutheran di Sabah yang terbentuk melalui semangat persekutuan beberapa orang Kristen awam bersuku bangsa Rungus di Kampung Mansiang (salah satu Kampung di Pekan Menggatal, Kota Kinabalu). Alkisah, beberapa Bapak dan Ibu yang sudah terdaftar sebagai anggota Gereja PCS Parokhi Kota Kinabalu membuat persekutuan di dalam perumahan di Kampung Mansiang secara bergilir-ganti sejak tahun 2002. Perlahan persekutuan tersebut semakin bertambah jumlah pengikutnya, sehingga terkumpulah cita-cita mereka untuk melembaga menjadi sebuah Gereja. Dengan usaha yang cukup bersemangat, akhirnya, persekutuan ini dilembagakan menjadi Gereja oleh Sinode PCS di tahun 2006 setelah sepakat mengembangkan persekutuan rumah ke rumah ke sebuah Lot bangunan di Pekan Menggatal, Kota Kinabalu. Mereka memilih sebuah Lot bangunan, karena untuk membangun sebuah Gedung Gereja di Kota Kinabalu bukan perkara yang mudah dan murah melainkan harus melalui proses yang panjang di bawah pengawasan pemerintah Negeri Sabah. Dengan kesepakatan menyewa Lot bangunan di Pekan Menggatal tersebut, Gereja ini kemudian termasuk ke dalam kumpulan PCS di Parokhi Kota Kinabalu.

Sebagai sebuah Gereja, PCS Pekan Menggatal tidak dapat terlepas dari sistem organisasi agar pelayanan dan persekutuan Gereja menjadi lebih terstruktur dan sistematis, serta yang lebih penting menurunalihkan ketentuan Sinode Pusat PCS. Secara organisatoris Gereja ini diatur oleh Ketua Majlis, Timbalan Ketua Majlis, Setiausaha (Sekretaris), Timbalan Setiausaha, Bendahari. Masing-masing unit mengupayakan terciptanya aktivitas pelayanan dan persekutuan Gereja yang membangun hubungan dengan sesama dan dengan Kristus, pemimpin Gereja. Alhasil, aktivitas pelayanan dan persekutuan Gereja terjelma di dalam Ibadah raya Ahad 1 dan 2, Ibadah Sekolah Minggu 1 dan 2, Persekutuan Doa Jumat malam, Latihan Ibadah Sabtu malam, Persekutuan Kaum Ibu-Bapak, dan Persekutuan Belia (muda-mudi).  Di masa CP 2 ini, aktivitas pelayanan dan persekutuan Gereja pun turut saya alami dan rasakan. Setiap aktivitas yang saya ikuti penuh rasa dan terkadang mengejutkan, karena ada beberapa model yang berbeda dari Gereja beraras Lutheran di Indonesia yang pernah saya kunjungi. Akan tetapi, Gereja yang baru berusia 10 tahun ini terus berupaya mengembangkan pelayanan dan persekutuannya agar dapat menjadi Gereja Kristus yang bermanfaat di Kota Kinabalu.

Clipboard29 Clipboard28 Clipboard27 Clipboard26 Clipboard25

More Information»
GPIB Jemaat “Ebenhaezer” Tanjung Batu

GPIB Jemaat “Ebenhaezer” Tanjung Batu

Pulau Kundur, Kepulauan Riau

November 102015

GPIB Jemaat “EBENHAEZER” Tanjung Batu merupakan salah satu gereja GPIB yang berada di wilayah pelayanan Kepulauan Riau. Gereja ini beralamatkan di Jl. Usman Harun No. 1 RT 01/RW 01 Tanjung Batu Kota, Kabupaten Karimun, Pulau Kundur Kepulauan Riau 29162. Gereja ini terletak di daerah kota Tanjung Batu. Walaupun di sebut sebagai kota, namun jika dibandingkan dengan jakarta maka kota Tanjung Batu ini masih sangat jauh berbeda.

Jemaat yang ada di GPIB Jemaat “EBENHAEZER” Tanjung Batu ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik dari segi suku, budaya, dan pekerjaan. Ada jemaat yang berasal dari suku batak, suku asli daerah Tanjung Batu (suku laut), dan suku Tionghoa. Untuk pekerjaannya, ada beberapa jemaat yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS), bekerja di kapal, berdagang, beternak, dan lain-lain.

Jumlah jemaat yang ada di gereja pusat GPIB Jemaat “EBENHAEZER” Tanjung Batu sekitar 60 kepala keluarga (KK). Namun, selain di pusatnya ini, GPIB Jemaat “EBENHAEZER” Tanjung Batu ini memiliki tiga pos pelayanan, yaitu Pos Pelkes Karunia Prayun yang jumlah jemaatnya sekitar 17 KK, Pos Pelkes Tanjung Medan yang jumlah jemaatnya sekitar 8 KK, dan Pos Pelkes Teluk Kelapa, yang jumlah jemaatnya sekitar 14 KK. Dari pusatnya, yaitu GPIB Jemaat “EBENHAEZER” Tanjung Batu, butuh waktu 1 jam perjalanan untuk dapat sampai ke Pos Pelkes Karunia Prayun menggunakan sepeda roda dua atau empat karena masih berada di pulau yang sama. Sedangkan untuk menuju ke Pos Pelkes Teluk Kelapa dan Tanjung Medan yang berada di Pulau Mendol (berbeda pulau), dibutuhkan waktu perjalanan sekitar 30 menit dengan menggunakan speedboat dan dilanjutkan dengan menggunakan sepeda roda dua sekitar 30 menit juga.

Jumlah jemaat yang tidak terlalu banyak ini membuat Ibadah Hari Minggu (IHM) hanya dilaksanakan satu kali saja. Namun, selain IHM, di gereja ini masih ada ibadah-ibadah lain yang dilaksanakan. Salah satunya yaitu ibadah rumah tangga yang dilaksanakan setiap hari Rabu malam. Seperti gereja GPIB pada umumnya, di GPIB Jemaat “EBENHAEZER” Tanjung Batu juga terdapat 6 Pelayanan Kategorial (Pelkat). Keenam pelkat tersebut yaitu Pelayanan Anak (PA), Persekutuan Taruna (PT), Gerakan Pemuda (GP), Persekutuan Kaum Perempuan (PKP), Persekutuan Kaum Bapak (PKB), dan Persekutuan Kaum Lanjut Usia (PKLU).

Walaupun anggota masing-masing pelkat belum begitu aktif mengikuti persekutuan, namun kegiatan peribadahan dari keenam pelkat ini terus dijalankan. Ibadah Pelkat PA dilaksanakan pada hari Minggu pagi, yaitu pukul 07.00 WIB di gedung gereja. Ibadah pelkat PT dan GP dilaksanakan bersamaan, yaitu pada hari Sabtu pukul 19.00 WIB di gedung gereja. Ibadah pelkat PKP dilaksanakan pada hari Kamis, yaitu pukul 15.00 WIB di rumah-rumah jemaat. Ibadah pelkat PKB dilaksanakan dua minggu sekali, yaitu pada hari Minggu kedua dan keempat pada pukul 19.00 WIB di gedung gereja. Sedangkan ibadah pelkat PKLU dilaksanakan satu bulan sekali yaitu pada tanggal 10, pukul 10.00 WIB di gedung gereja. Selain kegiatan peribadahan ini, masih ada kegiatan lain yang dilakukan di gereja ini. Beberapa contoh kegiatan rutin lainnya yang dilaksanakan adalah persiapan pemandu lagu yang dilaksanakan setiap hari Kamis dan persiapan para presbiter untuk pelayanan dalam IHM yang dilaksanakan setiap hari Jumat.

20150621_105440 20150614_105747 20150615_080235

More Information»
GBKP Ujung Serdang

GBKP Ujung Serdang

Medan, Sumatera Utara

November 102015

Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Ujung Serdang ini lahir dari pemekaran GBKP Bangun Mulia. Sebelum GBKP Ujung Serdang berdiri, beberapa keluarga orang Kristen Karo, yang tinggal di desa Ujung Serdang telah menjadi jemaat di GBKP Bangun Mulia. Pada tanggal 10 Desember 1969, Saudara Rembak Barus, Jadi Ginting, dan Jabab Barus, membahas rencana pendirian gereja GBKP di Ujung Serdang. Mereka sepakat untuk membentuk Tim Formatur Pembangunan Gereja GBKP Ujung Serdang yang diketuai oleh Jadi Ginting. Kemudian, pada tanggal 15 Desember 1969, Tim Formatur Pembangunan Gereja GBKP Ujung Serdang menyampaikan rencana mereka kepada BP GBKP Bangun Mulia. Rencana itu pun segera disetujui oleh BP GBKP Bangun Mulia dan pada hari itu juga dibentuklah Panitia Pembangunan GBKP Ujung Serdang.

Panitia Pembangunan GBKP Ujung Serdang yang telah terbentuk itu segera bekerja untuk mengurus pengadaan tanah pertapakan GBKP Ujung Serdang. Pada tanggal 6 Januari 1970, Panitia Pembangunan mengajukan surat permohonan kepada perkebunan PTP IX Tembakau Deli Tanjung Morawa. Permohonan itu pun disetujui oleh pihak perkebunan dan mereka menyerahkan tanah ukuran 40m x 50m (Luas: 2000 m2).

Pada tanggal 12 Juli 1970, setelah selesai kebaktian di GBKP Bangun Mulia, jemaat mengadakan gotong royong untuk membersihkan tanah pertapakan gereja, yang dihadiri oleh 58 orang. Sebagai dana pembangunan, jemaat pada waktu itu dikenakan tanggungan 10 kaleng padi tiap keluarga dan 5 kaleng padi bila keluarganya tidak lengkap. Dari pengumpulan itu diperoleh uang sebesar Rp. 112.150,-. Pada tanggal 28 Juli 1970 dimulailah pembangunan gedung gereja ukuran 7m x 14m, Ruang Persikapen (Persiapan) ukuran 2m x 2m, dinding batu, rangka atap dari bambu, dan lantai tanah. Pembangunan ini dikerjakan oleh jemaat secara gotong royong. Pada waktu itu, bangku-bangku untuk sementara dibuat dari bambu.

Setelah pembangunan gedung gereja selesai, pada tanggal 6 Agustus 1970 diadakanlah kebaktian pertama di Ujung Serdang. Kebaktian itu dilaksanakan di dalam gereja yang baru selesai dibangun. Pemimpin kebaktian kali pertama itu adalah Pdt. M. Perangin-angin dari GBKP Bangun Mulia. Pada saat itu, jumlah anggota jemaat sudah ada 50 kepala keluarga.

Daerah pelayanan GBKP Ujung Serdang meliputi Desa Ujung Serdang, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Jemaatnya terdiri dari suku Karo, Jawa, Batak Toba, dan Simalungun. Mata pencaharian jemaat pada umumnya bertani dan beternak.

Pada tanggal 12 Juni 1988 dilaksanakan lelang-lelang untuk mengumpulkan dana pembangunan GBKP Ujung Serdang. Hasil dari lelang-lelang ini diperoleh uang sebesar Rp. 3.600.000,-. Dengan dana yang ada, bangunan gereja GBKP Ujung Serdang dijadikan permanen.

Pemilihan Pertua-Diaken (Penatua-Diaken) pertama kali diadakan pada tahun 1974. Pemilihan Pertua-Diaken ini dilakukan untuk mengadakan pelayan Tuhan yang akan melayani jemaat GBKP Ujung Serdang. Pertua yang terpilih pada waktu itu adalah Pt. Kolam Sitepu; Pt. Rintang Tarigan; Pt. Nunggu Sipayung; dan Pt. Bapak Panampat Barus. Lalu, Diaken yang terpilih, yakni Dk. Rembak Barus, Dk. Bapak Berto Tarigan, dan Dk. Aman Depari.

Pada tahun 1974 berbagai pelayanan kategorial mulai dibentuk. Dibentuklah lembaga Mamre (persekutuan kaum bapak GBKP). Lembaga Moria (persekutuan kaum ibu GBKP) pun dibentuk. Kemudian, lembaga Permata (persekutuan kaum muda-mudi GBKP) juga dibentuk. Masih pada tahun yang sama, telah mulai diadakan Kebaktian Anak/Kebaktian Remaja (KA/KR).

Pada saat Sidang Sinode GBKP tanggal 5-11 Nopember 1984, yang diadakan di Cibubur, Jakarta, Perkumpulan di Ujung Serdang disahkan menjadi Runggun (Majelis) Gereja Ujung Serdang.

Intan R _ GBKP Ujung Serdang (situasi ibadah umum) Intan R _ GBKP Ujung Serdang Intan R _ GBKP Ujung Serdang (kelas anak kecil) Intan R _ GBKP Ujung Serdang (Masuk Rumah Baru) Intan R _ GBKP Ujung Serdang (pergantian kepengurusan Lansia)

More Information»
GMIBM Efrata Poigar

GMIBM Efrata Poigar

Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara

October 312015

Gereja Masehi Injili di Bolang Mongondow (GMIBM) merupakan salah satu gereja yang cukup besar di daerah Sulawesi Utara. Saya dipercayakan untuk melakukan CP 1 di GMIBM Efrata kecamatan Poigar 2 . GMIBM Efrata Poigar ada di Jln. Trans . Gereja ini memiliki 1 orang pemimpin yakni Pdt. Nikson A. Manoppo, S. Th. Gereja ini memiliki latar belakang jemaat yang sebagian besarnya bekerja sebagai petani. Namun, ada juga yang bekerja sebagai PNS dan pekerja swasta. Jumlah umat yang ada di GMIBM Efrata kurang lebih 800 orang, 223 KK. Jemaat ini memiliki 9 sektor pelayanan. Kehidupan jemaat di sini sangat beragam, dengan berbagai macam karakter. Sayangnya kehidupan jemaat di sini hanya menjadikan persekutuan bergereja sebagai formalitas belaka tanpa memaknai persekutuan itu. Kehidupan perekonomian yang sangat minim di jemaat ini membuat Ketua Majelis Jemaat yakni Pdt Nikson harus memutar otaknya dan berusaha membantu menaikan perekonomian jemaat. Gereja ini punya banyak program. Program-program yang mereka lakukan adalah program pembangunan kuncistori, renovasi gedung gereja, dan membuka usaha toko dengan tujuan untuk membantu perekonomian jemaat. Ada juga beberapa kegiatan perlombaan untuk mempererat kebersamaan jemaat. Jemaat ini punya beberapa hal yang mungkin tidak dimiliki semua orang. hal-hal tersebut adalah hospitalitas yang tinggi, kekeluargaan yang sangat baik, rasa toleransi yang tinggi dengan orang lain, juga terlihat mereka saling peduli. Di lain sisi, pelayanan yang ada di jemaat ini, sangat membutuhkan perhatian khusus dari pendeta dan sinode. Selama saya berada di jemaat ini, saya sangat prihatin pada cara kerja majelis yang tidak mau tahu dengan kebutuhan jemaat, persekutuan pemuda yang sangat minim, Sekolah Minggu yang sangat memprihatinkan, serta kurangnya rasa tanggung jawab pada setiap pengurus sektor. Jemaat ini pun memperlihatkan kepada saya kehidupan mereka yang mabuk-mabukan, suka berjudi, suka mengeluarkan kata-kata kotor (makian), dan sulit untuk ada dalam persekutuan ibadah. Para pelayan yang ada di gereja ini pun masih harus dilatih dan dilengkapi dengan persiapan yang matang untuk melayani jemaat. Sayangnya, di gereja ini tidak ada persiapan sama sekali antara pendeta dengan majelis untuk ibadah Minggu. Setiap majelis diberikan kesempatan untuk berkhotbah di hari Minggu, tetapi persiapan yang mereka lakukan adalah persiapan sendiri-sendiri, bukan persiapan bersama, dan keadaan seperti ini baru saya temui di GMIBM Efrata Poigar.

Bukan saja majelis, tetapi tidak aja juga persiapan untuk seluruh Guru Sekolah Minggu (GSM). Lebih mirisnya lagi, ada 27 GSM tetapi yang aktif hanya 1-2 GSM. Hal ini berpengaruh pada adik-adik layan, mereka menjadi malas untuk datang ke Sekolah Minggu. Mereka lebih memilih untuk bermain dan nonton TV di rumah dari pada pergi ke Sekolah Minggu. Selain itu, tidak ada pembagian kelas di Sekolah Minggu sesuai dengan jenjang mereka. Hal ini pun berdampak buruk kepada semua adik-adik layan karena setiap jenjang punya daya tangkap dan cerna yang berbeda-beda. Bukan saja tidak adanya pembagian kelas, tetapi juga tidak ada kreativitas apa pun yang diajarkan kepada adik-adik layan. Di sinilah terlihat bahwa kebutuhan rohani dan pengembangan kreativitas bagi adik-adik layan sangat minim. Keadaan jemaat dan pelayanan yang seperti ini menjadi perhatian khusus bagi pendeta yang sedang memimpin di jemaat ini, harus ada perubahan yang dilakukan.

 

gmibm1 gmibm2 gmibm3 gmibm4

More Information»
GBKP Runggun Perumnas Simalingkar

GBKP Runggun Perumnas Simalingkar

Medan, Sumatera Utara

February 212014

Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Runggun (musyawarah) Perumnas Simalingkar, Deliserdang, Medan, memiliki jemaat + 750 KK yang berdomisili di wilayah Perumnas Simalingkar dan sekitarnya. Latar belakang pendidikan jemaat sebagian besar bergelar S-1 dengan berbagai macam pekerjaan. Ada yang menjadi wiraswasta, guru, dosen, pengusaha, karyawan, dsb.

Gereja ini dilayani oleh satu pendeta dan 65 pelayan (Pertua dan Diaken). Dan memiliki sejumlah kegiatan gereja yang dilaksanakan hampir setiap hari, seperti hari Senin dan Rabu ada PJJ (Perpulungen Jabu-Jabu) atau kebaktian rumah tangga; hari Selasa PA Mamre (kaum bapak) dan lansia; hari Kamis PA Moria (kaum ibu); hari Jumat PA Permata.

Jemaat di GBKP Perumnas Simalingkar termasuk jemaat yang kritis dalam menanggapi persoalan-persoalan mengenai kehidupan jemaat maupun para pelayan. Misalnya mengenai khotbah yang dilayankan oleh Pertua, jemaat banyak yang tidak setuju karena pertua dianggap tidak berkompeten untuk berkhotbah. Apalagi bebicara tentang para pelayan yang dianggap hanya “modal gelar jabatan”, yaitu para pelayan yang menyandang gelar pertua atau diaken tetapi tidak mencerminkan hidup sebagai hamba Tuhan, karena tidak memiliki sikap teladan bagi jemaat.

Hal yang menarik bagi saya di dalam kehidupan di gereja ini ialah “Permata” (sebutan untuk kaum muda). Jumlah mereka diperkirakan sekitar 400 pemuda. Oleh karena itu mereka dibagi 4 wilayah, yaitu Tesalonika 1, Tesalonika 2, Tesalonika 3, dan Tesalonika 4. Kehidupan pemuda di gereja ini sangat aktif dan giat dalam keterlibatan pelayanan di gereja. Mereka senang berolahraga bersama di gereja, mengadakan retreat, dan Penelahan Alkitab. Namun demikian kehidupan pemuda di tempat ini bukan tidak bermasalah. 2 sampai 4 orang saya ketahui memiliki keluarga yang cukup “berantakan”. Mulai dari orangtua yang bercerai, anak muda yang kecanduan obat-obatan terlarang, seks bebas, dsb. Dari sejumlah persoalan yang muncul dalam kehidupan mereka sayangnya perhatian pelayan (Pendeta, Pertua, dan Diaken) sangat kurang, bahkan tidak pernah menjangkau kehidupan mereka, sehingga banyak pemuda yang kemudian memilih untuk tidak pergi ke gereja.

20150529_110836 20150608_182115 20150606_173653 20150701_183342 20150705_190059

More Information»
All Listing Types All Locations Any Rating

Listing Results

  • Gereja Kristen Sulawesi Barat Jemaat Imanuel Bau

    Gereja Kristen Sulawesi Barat Jemaat Imanuel Bau

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GKI Sidoarjo

    GKI Sidoarjo

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Silsilah Dialogue Movement Zamboanga

    Silsilah Dialogue Movement Zamboanga

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Protestant Church in Sabah (PCS) Tinangol

    Protestant Church in Sabah (PCS) Tinangol

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GMIST Dioskuri Batam

    GMIST Dioskuri Batam

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Gereja Kristen Pasundan (GKP) Purwakarta

    Gereja Kristen Pasundan (GKP) Purwakarta

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB) Betania Sinampangnyo

    Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB) Betania Sinampangnyo

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sidomulyo Sragen

    Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sidomulyo Sragen

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Gereja Anguwuloa Masehi Indonesia Nias (AMIN) Jemaat Tetehösi

    Gereja Anguwuloa Masehi Indonesia Nias (AMIN) Jemaat Tetehösi

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GBKP Pasar IV Selayang II Medan

    GBKP Pasar IV Selayang II Medan

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GPIB Bukit Karmel

    GPIB Bukit Karmel

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Covenant Sanctuary Church

    Covenant Sanctuary Church

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Igreja Protestante iha Timor Lorosae (IPTL) Betania Aileu

    Igreja Protestante iha Timor Lorosae (IPTL) Betania Aileu

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e (IPTL) Klasis Leste

    Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e (IPTL) Klasis Leste

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GKS Jemaat Kayuri

    GKS Jemaat Kayuri

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GBKP Runggun Dolat Rayat

    GBKP Runggun Dolat Rayat

    Collegium Pastorale

    Read more
  • BNKP Jemaat Lahewa

    BNKP Jemaat Lahewa

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Council of Churches of Malaysia

    Council of Churches of Malaysia

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GKI Sumut Medan

    GKI Sumut Medan

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Silo Naikoten 1

    Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Silo Naikoten 1

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e (IPTL) Graca Loes

    Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e (IPTL) Graca Loes

    Collegium Pastorale

    Read more
  • AIC Pyeongtaek

    AIC Pyeongtaek

    Collegium Pastorale

    Read more
  • AIC Incheon

    AIC Incheon

    Collegium Pastorale

    Read more
  • AIC Suwon

    AIC Suwon

    Collegium Pastorale

    Read more
  • HKBP Sukadono

    HKBP Sukadono

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GKMI Surakarta

    GKMI Surakarta

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GPIL Jemaat Wasuponda

    GPIL Jemaat Wasuponda

    Collegium Pastorale

    Read more
  • PCS Jemaat Pekan Menggatal

    PCS Jemaat Pekan Menggatal

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GPIB Jemaat “Ebenhaezer” Tanjung Batu

    GPIB Jemaat “Ebenhaezer” Tanjung Batu

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GBKP Ujung Serdang

    GBKP Ujung Serdang

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GMIBM Efrata Poigar

    GMIBM Efrata Poigar

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GBKP Runggun Perumnas Simalingkar

    GBKP Runggun Perumnas Simalingkar

    Collegium Pastorale

    Read more