Navigation Menu
Migrant CARE

Migrant CARE

Jakarta Timur, DKI Jakarta

  • Author: Binsar Pakpahan
  • Date Posted: Wednesday, January 13, 2016
  • Category:
  • Address: Jalan Perhubungan VIII No. 52, Rawamangun, Jakarta Timur

Seluruh mahasiswa tingkat satu dan tingkat dua Sekolah Tinggi Teologi Jakarta menjalani masa praktek lapangan sejak tanggal 25 Mei 2015 hingga 07 Agustus 2015. Saya bersama seorang kakak tingkat, Theo Krispanki Dandel, ditempatkan di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berfokus terhadap perlindungan dan pemenuhan hak-hak buruh migrant beserta keluarganya. Menurut definisi yang diberikan, Migrant CARE merupakan sebuah perhimpunan buruh migrant Indonesia yang berdaulat.

Lembaga ini terbentuk oleh rasa solidaritas terhadap kaum buruh migrant yang kerap mengalami masalah-masalah terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia kemudian tidak jarang mengalami pendiskriminasian. Setiap tahunnya angka buruh migrant Indonesia yang mengalami kasus pidana semakin meningkat. Akan tetapi, ternyata tidak semua kasus tersebut dilatarbelakangi niat kaum buruh migrant untuk melakukan tindakan pidana tersebut melainkan oleh karena keterpaksaan dan alasan lainnya. Sayangnya, pemerintah tampaknya sangat lamban dalam menangani dan mencegah permasalahan pidana oleh buruh migrant Indonesia. Hal tersebut menyebabkan angka kriminalitas kaum buruh migrant Indonesia pun meningkat. Dampak lainnya adalah kaum buruh migrant Indonesia merasa semakin dipojokkan dan dipinggirkan. Mereka dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai sampah masyarakat karena telah mencoreng nama baik bangsa Indonesia di mata dunia.

Kedudukan mereka yang seharusnya dapat menjadi sumber devisa negara sepertinya hanya sebuah slogan saja. Hal tersebut mengingat kurang tegasnya Pemerintah dalam memberi perlindungan hukum terhadap buruh migrant Indonesia. Beberapa orang kemudian merasa terdorong untuk mendobrak dan menghancurkan stigma buruk terhadap kaum buruh migrant. Mereka mulai berkumpul dalam suatu perhimpunan. Mereka kemudian memberikan sebuah nama kepada perhimpunan yang dibentuk tersebut. Nama ‘Migrant CARE’ akhirnya dirasa pas dan diresmikan pada bulan Oktober tahun 2004.

Sampai saat ini, orang-orang yang dulu berjuang membentuk perhimpunan tersebut, masih bertahan di Migrant CARE. Salah satunya adalah Ibu Anis Hidayah yang saat ini juga merangkap sebagai Direktur Eksekutif Migrant CARE. Ada juga beberapa staff lain yang terus bertahan membela kaum buruh migrant, seperti Pak Wahyu, Mbak Indah, Mbak Musliha, Mbak Bariyah, Mas Nur, Mas Anas dan lainnya. Saya dan Kak Theo memang terbiasa memanggil staff Migrant CARE dengan sebutan “Mbak” atau “Mas”. Oleh karena sebagian besar staff Migrant CARE berasal dari wilayah Jawa, khususnya Banyuwangi.

Saat ini, Migrant CARE berlokasi di Jalan Perhubungan VIII No. 52, Rawamangun, Jakarta Timur. Migrant CARE hadir di tengah-tengah masyarakat dan terus mencoba berbaur dengan kehidupan lingkungan sekitar. Hal tersebut dapat terlihat dari pemilihan lokasinya yang berada persis di tengah-tengah kompleks perumahan. Bangunan yang dipilih sebagai kantor sekretariat Migrant CARE juga adalah sebuah rumah bertingkat tiga sehingga kehadirannya tidak terkesan “mengekseklusifkan” diri. Pada tingkat pertama, terdapat ruang tamu, ruangan Divisi Bantuan Hukum, Ruangan Divisi Data dan Pengetahuan Migrasi, serta dapur dilengkapi ruang makan. Pada lantai dua, terdapat ruangan Divisi Kebijakan Penanganan Advokasi, ruangan Divisi Advokasi berbasis IT, dan ruangan kebendaharaan. Pada lantai teratas atau lantai tiga, terdapat shelter yang biasa digunakan sebagai rumah singgah bagi buruh migrant dan atau keluarganya. Tidak jarang shelter tersebut juga digunakan oleh kerabat staff Migrant CARE yang datang dari luar daerah.

Migrant CARE melayani mulai hari Senin hingga Jumat, pada pukul 09.00 WIB hingga 17.00 WIB. Sejauh ini, berdasarkan pengamatan yang saya lakukan ada banyak tugas yang dilakukan oleh staff Migrant CARE. Divisi Bantuan Hukum malayani pengaduan kasus dan melaporkan pengaduan kemudian men follow up kasus tersebut ke badan resmi pemerintah, seperti BNP2TKI (Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia), Kementerian Luar Negeri, Direktur Jenderal Imigrasi, dan lain sebagainnya. Divisi Data dan Pengetahuan Migrasi lebih banyak melakukan pendataan dan pengaturan mediasi Migrant CARE. Divisi Kebijakan dan Penanganan Advokasi lebih banyak melakukan pengawasan dan peninjauan ulang Undang-Undang terkait buruh migrant. Divisi Advokasi berbasis IT lebih banyak membuat program berbasis IT untuk memperluas jaringan terhadap perlindungan buruh migrant.

Demikianlah dekskripsi singkat yang dapat saya jabarkan mengenai Migrant CARE. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang terus mencoba hadir dan melayani masyarakat. Oleh karena Migrant CARE hadir dari, oleh, dan untuk masyarakat. Migrant CARE juga hadir sebagai jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan pemerintah maupun sebaliknya. Suatu harapan bersama bahwa kehadiran Migrant CARE sedikit banyak membantu penanganan dan penyelesaian masalah pelanggaran HAM yang dialami oleh buruh migrant Indonesia.

migrant5 migrant4 migrant3 migrant2 migrant1

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>