Navigation Menu
GMIBM Efrata Poigar

GMIBM Efrata Poigar

Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara

  • Author: Binsar Pakpahan
  • Date Posted: Saturday, October 31, 2015
  • Category:
  • Address: Jalan Trans Poigar 2, Kecamatan Poigar 2, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara

Gereja Masehi Injili di Bolang Mongondow (GMIBM) merupakan salah satu gereja yang cukup besar di daerah Sulawesi Utara. Saya dipercayakan untuk melakukan CP 1 di GMIBM Efrata kecamatan Poigar 2 . GMIBM Efrata Poigar ada di Jln. Trans . Gereja ini memiliki 1 orang pemimpin yakni Pdt. Nikson A. Manoppo, S. Th. Gereja ini memiliki latar belakang jemaat yang sebagian besarnya bekerja sebagai petani. Namun, ada juga yang bekerja sebagai PNS dan pekerja swasta. Jumlah umat yang ada di GMIBM Efrata kurang lebih 800 orang, 223 KK. Jemaat ini memiliki 9 sektor pelayanan. Kehidupan jemaat di sini sangat beragam, dengan berbagai macam karakter. Sayangnya kehidupan jemaat di sini hanya menjadikan persekutuan bergereja sebagai formalitas belaka tanpa memaknai persekutuan itu. Kehidupan perekonomian yang sangat minim di jemaat ini membuat Ketua Majelis Jemaat yakni Pdt Nikson harus memutar otaknya dan berusaha membantu menaikan perekonomian jemaat. Gereja ini punya banyak program. Program-program yang mereka lakukan adalah program pembangunan kuncistori, renovasi gedung gereja, dan membuka usaha toko dengan tujuan untuk membantu perekonomian jemaat. Ada juga beberapa kegiatan perlombaan untuk mempererat kebersamaan jemaat. Jemaat ini punya beberapa hal yang mungkin tidak dimiliki semua orang. hal-hal tersebut adalah hospitalitas yang tinggi, kekeluargaan yang sangat baik, rasa toleransi yang tinggi dengan orang lain, juga terlihat mereka saling peduli. Di lain sisi, pelayanan yang ada di jemaat ini, sangat membutuhkan perhatian khusus dari pendeta dan sinode. Selama saya berada di jemaat ini, saya sangat prihatin pada cara kerja majelis yang tidak mau tahu dengan kebutuhan jemaat, persekutuan pemuda yang sangat minim, Sekolah Minggu yang sangat memprihatinkan, serta kurangnya rasa tanggung jawab pada setiap pengurus sektor. Jemaat ini pun memperlihatkan kepada saya kehidupan mereka yang mabuk-mabukan, suka berjudi, suka mengeluarkan kata-kata kotor (makian), dan sulit untuk ada dalam persekutuan ibadah. Para pelayan yang ada di gereja ini pun masih harus dilatih dan dilengkapi dengan persiapan yang matang untuk melayani jemaat. Sayangnya, di gereja ini tidak ada persiapan sama sekali antara pendeta dengan majelis untuk ibadah Minggu. Setiap majelis diberikan kesempatan untuk berkhotbah di hari Minggu, tetapi persiapan yang mereka lakukan adalah persiapan sendiri-sendiri, bukan persiapan bersama, dan keadaan seperti ini baru saya temui di GMIBM Efrata Poigar.

Bukan saja majelis, tetapi tidak aja juga persiapan untuk seluruh Guru Sekolah Minggu (GSM). Lebih mirisnya lagi, ada 27 GSM tetapi yang aktif hanya 1-2 GSM. Hal ini berpengaruh pada adik-adik layan, mereka menjadi malas untuk datang ke Sekolah Minggu. Mereka lebih memilih untuk bermain dan nonton TV di rumah dari pada pergi ke Sekolah Minggu. Selain itu, tidak ada pembagian kelas di Sekolah Minggu sesuai dengan jenjang mereka. Hal ini pun berdampak buruk kepada semua adik-adik layan karena setiap jenjang punya daya tangkap dan cerna yang berbeda-beda. Bukan saja tidak adanya pembagian kelas, tetapi juga tidak ada kreativitas apa pun yang diajarkan kepada adik-adik layan. Di sinilah terlihat bahwa kebutuhan rohani dan pengembangan kreativitas bagi adik-adik layan sangat minim. Keadaan jemaat dan pelayanan yang seperti ini menjadi perhatian khusus bagi pendeta yang sedang memimpin di jemaat ini, harus ada perubahan yang dilakukan.

 

gmibm1 gmibm2 gmibm3 gmibm4

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>