Navigation Menu
GKMI Surakarta

GKMI Surakarta

Surakarta, Jawa Tengah

  • Author: Binsar Pakpahan
  • Date Posted: Wednesday, November 11, 2015
  • Category:
  • Address: Jalan Kedampel 14, Dawung Wetan, Surakarta

GKMI merupakan gereja yang berdiri dari usaha para pedagang keturunan Tionghoa di Kudus, bukan dari hasil pekabaran Injil Zending Belanda maupun dari negara lain. Gereja ini kemudian menyebar ke berbagai daerah, yang awalnya hanya menyebar di sekitar Gunung Muria Kudus. Saat ini GKMI sudah ada di beberapa provinsi selain di Jawa seperti Lampung, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan di Sulawesi Tengah.

GKMI Surakarta memiliki dua jemaat dengan latar belakangan berbeda dan disebut sebagai Rayon 1 (Dawung) dan Rayon 2 (Mojosongo). GKMI Dawung dirintis oleh Pdt. (Em.) Eko yang tidak memiliki latar belakang pendidikan teologi yang formal. Gereja ini berada kota sehingga jemaatnya relatif secara ekonomi menengah ke atas. Sementara GKMI Mojosongo merupakan hasil pekabaran Injil GKMI Kudus. Berada di pinggir kota Solo sehingga jemaatnya secara ekonomi menengah ke bawah.

Awalnya dua gereja ini secara administrasi berbeda, lalu masuk awal tahun 2000-an ada inisitif dari beberapa majelis untuk melakukan proses rayonisasi. Barulah kemudian GKMI Dawung dan GKMI Mojosongo bersatu menjadi satu GKMI Surakarta. Masing-masing jemaat mempunyai majelis, tetapi ada Majelis Pengurus Harian yang mengatur jalannya administrasi yang terdiri dari masing-masing jemaat. Pelayanan pun dilakukan masing-masing. Gembala Jemaat GKMI Surakarta adalah Pdt. Nahum Sudarsono, S.Si (Teol) dan Pdm. Rotua Nurhayati Sinaga, S.Th serta dibantu satu orang asisten gembala bidang musik gereja yaitu Bpk. Widodo, S.M.G.

GKMI sendiri adalah gereja yang beraliran Mennonite. Beberapa penekanan dari gereja ini berbeda dengan gereja arus utama. Pertama soal baptisan hanya dilayankan kepada jemaat dewasa dan tidak kepada anak-anak. Kedua, menekankan lahir baru atau perjumpaan secara pribadi dengan Yesus. Dari paham ini kemudian GKMI tidak memberi tempat pada kontekstualisasi budaya lokal. Ketiga adalah anti-kekerasan. Dari paham ini, GKMI tidak mendorong jemaatnya untuk terlibat dalam ketentaraan, karena tentara identik dengan kekerasan, walaupun di satu sisi tidak anti pada rasa nasionalisme. Keempat adalah GKMI memisahkan peran antara gereja dan pemerintah, sehingga pendeta atau gembala jemaat tidak boleh terlibat dalam pemerintahan. Sekalipun terlibat, maka pendeta tersebut tidak boleh masuk dalam struktur GKMI secara sinodal dan bukan pelayan tugas khusus.

IMG_20150701_132648 IMG_20150630_095512 IMG_20150603_101941 IMG_20150530_213513 IMG_20150526_182007 IMG_20150524_110402

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>