Navigation Menu
DIAN (Dialog Antariman) Interfidei

DIAN (Dialog Antariman) Interfidei

Sleman, Yogyakarta

  • Author: Binsar Pakpahan
  • Date Posted: Tuesday, November 10, 2015
  • Category:
  • Address: Jalan Banteng Utama No 59, Perum Banteng Baru, Sleman, Yogyakarta 55581

Institut Dialog Antariman di Indonesia atau Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia, disingkat Institut DIAN/Interfidei.

Institut Dialog Antar-iman di Indonaesia (Institut DIAN/Interfidei) didirikan pada 20 Desember 1991 di Yogyakarta, Indonesia dengan akte notaries no.38 (de jure). Secara resmi dipublikasikan kepada masyarakat luas sebagai sebuah Lembaga (de facto), tanggal 10 Agustus 1992. Pendirinya adalah, Dr. Th. Sumartana (alm.), Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D. (alm), Dr. Daniel Dhakidae, Zulkifly Lubis, dan Dr. Djohan Effendi.

Latarbelakang Pendirian

Historis:

Internasional. 1) Konflik yang disebabkan oleh perang dingin; 2) Kesadaran baru untuk menghormati agama lain serta pandangan ideologi yang berbeda; 3) Kegiatan dialog antaragama dan antarideologi menuju perdamaian dunia.

Nasional. 1) Persoalan Kemanusiaan yang terjadi di erah 1960-an sampai 1980-an : kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, ketidakadilan hukum, ekonomi; 2) Konflik social-politik serta kesadaran tentang dialog dan rekonsiliasi; 3) Keterpanggilan para tokoh untuk mengembangkan sikap positif dan menjalin kerjasama untuk membangun masyarakat damai, produktif dan sejahtera; 4) Tantangan kooptasi dan politisasi negara terhadap agama-agama serta formalisasi agama oleh institusi agama.

Filosofis:

Agama-agama merupakan unsur penting dan berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kehidupan religius dalam konteks apapun tidak mungkin dilepaskan dari tanggungjawab untuk memecahkan masalah-masalah social-kemanusiaan. Dialog dianggap sebagai jalan keluar dari berbagai konflik di masyarakat; konflik antaragama, antargolongan, antara agama dan negara, agama dan ideologi, dsb.

Mengapa “dialog antariman”

“Iman”, adalah ungkapan otentik dari korelasi antara keyakinan dan realitas kehidupan, yang berhubungan erat dengan pengalaman konkrit kehidupan sehari-hari. Karena itu bisa dibicarakan bersama dalam suasana bebas dan terbuka. “Iman” sebagai esensi agama/kepercayaan, mendorong kepada dialog yang dilakukan setiap orang secara individual, bukan sebagai lembaga. “Dialog”, tidak bertujuan menghapus pebedaan, tetapi merupakan langkah menjalin komunikasi dan ungkapan kesediaan untuk saling mendengar, menghormati dan terbuka. “Dialog” mengandung konflik inheren pada hubungan antarmanusia, sekaligus menjanjikan sebuah akhir yang lebih dewasa untuk menghadapi dan menyelesaikan konflik.

Status dan Fungsi

Institut ini tidak berkedudukan mewakili agama sebagai institusi, tetapi sebagai perkumpulan dari para pemeluk agama yang terikat oleh imannya. Ruang lingkup kerja Institut ini berkaitan dengan dan melibatkan seluruh agama dan setiap wujud kepercayaan di masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta kehidupan tanpa kekerasan dan menghargai keutuhan alam semesta. Institut ini sebagai Forum di mana gagasan keimanan yang tumbuh dari diskursus dinamika kemajemukan, serta pengalaman konkrit di masyarakat didialogkan bersama.

Clipboard06 Clipboard07 Clipboard08 Clipboard09 Clipboard10 Clipboard11

Post a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>