Navigation Menu
Gereja Kristen Sulawesi Barat Jemaat Imanuel Bau
January 192016

Gereja Kristen Sulawesi Barat Jemaat Imanuel Bau, pada awalnya adalah Gereja Toraja Mamasa (GTM), namun karena adanya perbedaan budaya, berganti nama menjadi Gereja Kristen Sulawesi Selatan, kemudian pada tahun 2005 berganti nama lagi menjadi Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB). Pergantian nama ini dipengaruhi oleh teritorial, karena daerah Mamuju telah mengalami pemekaran menjadi provinsi Sulawesi Barat, dan di dalamnya termasuk wilayah Bau, Kalumpang.

GKSB bukanlah gereja suku, mereka menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang digunakan dalam ibadah apa pun, meski doa terkadang di campur dengan bahasa daerah yaitu bahasa Kalumpang. GKSB Jemaat Imanuel Bau, memiliki warga jemaat 54 Kepala Keluarga. Di Bau sendiri ada dua gereja yang berkembang, GKSB dan Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), hal inilah yang membuat penduduk terbagi dua, dulunya GKSB memiliki ratusan Kepala Keluarga anggota Jemaat, namun kehadiran GKSI, membuat terjadi pembagian warga yang seimbang.

Pekerjaan penduduk yang menjadi jemaat di GKSB adalah petani dan peternak, mereka menanam cokelat (Kakao) dan juga padi, kemudian mereka juga beternak kerbau dan juga Babi. Maka dengan demikian pendapatan warga jemaat atau penduduk menengah ke bawah. Warga Jemaat masih hidup dengan kesederhanaan dan sangat menekankan gotong royong. Selain itu Warga Jemaat juga masih memberikan persembahan berupa natura atau hasil panennya. GKSB Jemaat Imanuel Bau memiliki 7 orang Penatua dan 1 orang Pendeta. Pendeta di tempat ini seharusnya sudah pensiun, namun karena belum adanya pengganti, maka pendeta yang sudah pensiun diperpanjang lagi masa kerjanya selama 3 tahun.

Kesulitan menjadi pelayan di tempat seperti ini adalah pendeta harus bekerja keras dan ikut bertani untuk membiayai kehidupannya, karena Warga Jemaat tidak mampu rutin untuk membiayai pendeta. GKSB Jemaat Imanuel Bau, pada saat sedang melakukan pembangunan gedung gereja berupa plafon dan juga flester dinding gereja. Plafon gereja dibuat dari kayu yang sudah menjadi papan, dan papan ini diperoleh dari pemberian warga jemaat, artinya warga jemaat menyumbangkan papan yang dipunyainya. Pasir untuk felster tembok juga berasal dari warga jemaat yang secara bergotong royong mencari pasir di anak sungai.

GKSB Jemaat Imanuel Bau mempunyai kegiatan ibadah Sekolah Minggu yang dilaksanakan di gereja pada pukul 07.00 WITA. Kemudian dilanjutkan dengan ibadah Umum pada pukul 09.00 WITA. Setelah ibadah Umum ada lagi dua ibadah yang dilangsungkan di rumah-rumah dan waktu pelaksanaannya bersamaan pada pukul 11.30 WITA, yakni ibadah Persekutuan Perempuan dan ibadah Pemuda. Selain kegiatan pada hari Minggu, GKSB juga mempunyai kegiatan ibadah Rumah Tangga yang dilaksanakan pada hari Rabu dan hari Sabtu. Ibadah Rumah Tangga dibagi dua kelompok yakni, kelompok Sion dan juga kelompok Elim. Pelaksanaan ibadah Rumah Tangga pada pukul 19.00 WITA, namun keseringan ditentukan oleh kedatangan warga jemaat. Pada tahun ini tidak ada pengadaan katekisasi. Kegiatan yang sering dilakukan gereja, di luar yang biasa adalah pesta panen dan juga mengunjungi kebun-kebun yang akan hendak ditanami tumbuhan, seperti padi dan cokelat. Di daerah ini Kopi memang juga di tanam, namun jarang di jual kebanyak untuk dikonsumsi saja.

Kehidupan warga jemaat berkecukupan dan rasa kekeluargaan masih tinggi. Ada sebuah hal yang sangat menarik di Bau ini, yaitu ketika seseorang berpesta atau ada warga yang meninggal, maka seluruh warga tidak boleh bekerja ke Kebun, semuanya tinggal di dalam kampung. Di Bau ini juga memiliki tiga jajaran kepemimpinan, yang dikenal dengan Lalikan Tallu. Lalikan Tallu ini terdiri atas Pemimpin Gereja, Tua-tua Adat (Tobara) dan Kepala Desa. Ketiga pemimpin ini harus hadir dalam setiap acara yang hendak dilakukan.

gksb1 gksb2 gksb3 gksb4 gksb5

 

More Information»
GKI Sidoarjo

GKI Sidoarjo

Sidoarjo, Jawa Timur

January 192016

Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sidoarjo merupakan salah satu jemaat lokal yang berada di Klasis Madiun, Sinode Wilayah Jawa Timur, dan Sinode GKI. Tema pelayanan GKI Sidoarjo 2012-2016 adalah membangun tubuh Kristus memperbaharui persekutuan, sedangkan sub tema pelayanan tahun ini adalah membangun diri sebagai pelayan tubuh Kristus. Gereja ini didewasakan pada 11 Mei 1977 dari induk gerejanya, yaitu GKI Diponegoro. Saat ini, GKI Sidoarjo mempunyai satu pendeta jemaat dalam diri Pdt. Leonard Andrew Imanuel dan satu calon pendeta dalam diri Pnt. Yozes Rezon Suwignyo. Selain itu, gereja ini juga mempunyai satu pendeta emeritus, yaitu Pdt. Yusak Santoso, yang memasuki masa emeritasi sejak 1 Desember 2014.

GKI Sidoarjo mengadakan tiga kali Kebaktian Umum setiap minggunya, yaitu pkl. 06.00 WIB, pkl. 08.30 WIB, dan pkl. 17.00 WIB. Kegiatan lain di hari minggu adalah Kebaktian Pemuda/Remaja pada pkl. 08.00 WIB dan Kebaktian Tunas Remaja pada pkl. 09.30 WIB. Sementara itu, Kebaktian Anak diadakan pada pkl. 08.00 WIB dan 08. 30 WIB di beberapa pos kebaktian, antara lain: Pondok Jati, Taman Jenggala, Petra, Tanggulangin, dan Puri Indah. Hal ini dikarenakan keterbatasan ruangan yang ada di gereja untuk mengadakan Kebaktian Anak pada hari minggu.

GKI Sidoarjo mempunyai beberapa komisi, yaitu: Komisi Anak, Komisi Pemuda/Remaja-Tunas Remaja, Komisi Dewasa, Komisi Warga Usia Lanjut, Komisi Liturgi Musik Gerejawi, Komisi Beasiswa, Komisi Pengembangan Pelayanan Kesehatan Masyarakat, Komisi Pelayanan Kedukaan, dan Komisi Guru Pendidikan Agama Kristen. Di luar komisi ini, ada juga bagian yang mengurusi tentang hari-hari besar yang akan dilakukan oleh gereja. Bagian ini dinamakan Panitia Hari Besar.

Dalam bidang persekutuan jemaat, GKI Sidoarjo juga mempunyai beberapa kelompok jemaat, yaitu: Febe-Naomi, Ayub-Yakub, Maria, Simson-Debora, Dorkas, Smirna, Lidya-Abraham, Petrus, dan Yosafat. Kelompok-kelopok ini biasanya mengadakan persekutuan 1-2 kali dalam sebulan yang dinamakan Kebaktian Doa Malam Kelompok (KDMK). Dalam kemajelisan, Majelis Jemaat GKI Sidoarjo dibagi dalam enam bagian, yaitu: Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ), Bidang I (Persekutuan dan Pembinaan), Bidang II (Kesaksian dan Pelayanan), dan Bidang III (Penatalayanan dan Keesaan), Bidang IV (Sarana dan Prasarana), dan Bidang V (Ministerium). Masing-masing bidang terdiri dari ketua bidang dan sekretaris, serta pendamping masing-masing komisi. Bidang V hanya mempunyai anggota saja termasuk Pdt. Leonard dan Pnt. Yozes sebagai calon pendeta.

Ada banyak kegiatan-kegiatan gereja selama satu minggu, antara lain: katekisasi, pemahaman Alkitab (PA) khusus dan umum, Pembinaan Iman Kristen (PIK), perkunjungan, latihan-latihan paduan suara, latihan pemazmur dan pemandu nyanyian umat, latihan musik dan persekutuan doa pemuda/remaja dan tunas remaja, kegiatan-kegiatan olahraga (bulu tangkis, tenis meja, dan futsal, rapat majelis/bidang/komisi, rakertasi (rapat kerja dan konsultasi), rapat triwulan, pemeriksaan kesehatan rutin, dan sebagainya. Selain itu, kebaktian umum di GKI Sidoarjo biasanya juga diadakan khotbah pengajaran dengan sebuah tema khusus atau kebaktian penerimaan jemaat bagi anggota jemaat baru. GKI Sidoarjo mempunyai satu bakal jemaat (Bajem) di Blitar dengan satu tenaga pelayanan penuh waktu dalam diri Ibu Tiurma M. S. Tobing.

Gereja ini dikenal sebagai salah satu GKI yang menjunjung sikap keterbukaan terhadap penganut agama dan kepercayaan lain. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatan GKI Sidoarjo dalam beberapa diskusi lintas iman. Selain itu, GKI Sidoarjo juga pernah menjadi tuan rumah diskusi lintas iman yang digagas oleh kelompok Gusdurian Sidoarjo dan kelompok-kelompok pluralis lainnya di kota ini.

gkis1 gkis2 gkis3 gkis4 gkis5

More Information»
Silsilah Dialogue Movement Zamboanga
January 192016

Silsilah Dialogue Movement (SDM) merupakan lembaga yang mempromosikan dialog untuk mewujudkan perdamaian antar umat beragama.. Silsilah berdiri pada tahun 1984, tepatnya 09 Mei yang dipelopori oleh seorang missioner dari Italia bernama Sebastiano D’Ambra yang akrab disapa dengan Fr. Seb. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan spiritualitas “Dialogue starts from God and bring people back to God.” Demikianlah refleksi dari perjalanan hidup Fr. Seb terkhusus dalam perjalanan spiritualitasnya dan komunikasinya dengan Tuhan. Dilandasi oleh spirit tersebut, maka Silsilah mempromosikan budaya dialog untuk menciptakan hidup yang harmonis diantara manusia dengan sesamanya dan dengan ciptaan yang lainnya.

Untuk itu ada empat pilar yang diusung oleh Silsilah, 1. Dialog dengan Tuhan; 2.Dialog dengan diri sendiri; 3. Dialog dengan sesama; 4. Dialog dengan ciptaan lainnya. Dilandasi oleh hal tersebut maka Silsilah memiliki program-program yang membentuk formasi untuk mempromosikan keempat pilar tersebut.

Adapun program regular yang dilakukan Silsilah adalah sebagai berikut :

  • Silsilah Summer Course on Muslims-Christian Dialogue
  • SilPeace Youth Program
  • Silsilah Dialogue Institute
  • Silsilah Media Desk
  • Silsilah Forums in 18 areas/cities of Mindanao and Manila
  • Silsilah Peace and Development Services (SPDS)
  • Silsilah Elementary School and other Kindergarten Schools
  • Dialogue with Creation (DWC) Program
  • Center for Holistic Health Care (CHHC)
  • Inter-Faith Council of Leaders (IFCL)
  • Friends of Zamboanga Watershed Movement (FZWM)

Program-program tersebut merupakan upaya Silsilah untuk terus menciptakan dan mempromosikan nilai-nilai dialog. Berdasarkan pengamatan dan pengalaman tinggal bersama lembaga ini, saya melihat dan merasakan bahwa Silsilah merupakan satu-satunya lembaga yang mempromosikan dialog melalui pendekatan spiritual. Inilah perbedaan dengan lembaga-lembaga lainnya yang berada di daerah Mindanao- Philippina.

sdm1 sdm2 sdm3 sdm4 sdm5

More Information»
Yayasan Pulih

Yayasan Pulih

Jakarta Selatan, DKI Jakarta

January 192016

Kekerasan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Terjadi di rumah, sekolah, lingkungan rumah, pekerjaan, dalam hubungan, misalnya ketika berpacaran, hubungan rekan kerja, dan masih banyak hal-hal lain yang sebenarnya masuk ke dalam kategori kekerasan. Tidak menutup kemungkinan bahwa kekerasan sebenarnya juga terjadi di sekitar kita.

Masih sangat banyak masyarakat yang tidak peduli dan tidak tanggap dengan permasalahan yang tanpa disadari adalah sebuah kekerasan. Tidak terhitung lagi banyaknya orang-orang yang mengalami kekerasan dan tak terhitung juga orang-orang yang belum menyadari bahwa dirinya sebenarnya sudah mengalami atau menjadi pelaku kekerasan itu sendiri.

Sasaran kekerasan pada umumnya adalah perempuan dan anak (bukan berarti tidak ada laki-laki dewasa yang menjadi korban kekerasan). Perempuan dan anak (khususnya anak perempuan), dapat dikatakan terlampau sering mendapatkan perlakuan tidak adil dari pihak yang merasa lebih tinggi dan merasa lebih berkuasa.

Yayasan Pulih adalah sebuah lembaga sosial yang bergerak dalam penanganan trauma dan psikososial serta berfokus kepada kasus kekerasan dan bencana alam yang menimpa perempuan dan anak. Pulih menyediakan layanan psikologis berupa konseling bagi korban kekerasan. Tidak hanya korban kekerasan, Pulih juga menyediakan layanan psikologis untuk tes minat bakat, dan hal-hal lain yang mendukung pendidikan.

Yayasan Pulih terletak di Jalan Teluk Peleng No. 63 A Komplek TNI AL-Rawa Bambu, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Bangunan Pulih terlihat seperti rumah. Memiliki tiga ruang konseling (satu ruangan di bawah, dua ruangan di atas), dua kamar mandi, satu perpustakaan, dan satu ruang kerja. Di belakang, tinggal Mbak Puji dan keluarga (yang sekarang sudah kembali dan tinggal di Jawa).

Layanan konseling dibuka mulai pukul 09.00-17.00 dan libur hari Sabtu-Minggu. Layanan konseling Pulih berusaha tidak memberatkan klien dengan biaya yang tetap (dapat disesuaikan dengan keadaan klien) meskipun biaya normalnya adalah Rp100.000/sesi (Sabtu dapat digunakan untuk konseling dengan jadwal khusus. Biaya konseling Rp250.000/sesi: 2 jam).

Kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan seksual merupakan kekerasan yang paling banyak terjadi dan ditangani di Pulih. Lebih dari 5000 kasus KDRT yang sudah terjadi dan mayoritas penyintasnya adalah perempuan usia 25-40 tahun. Kekerasan ini menjadi siklus yang akan terus berlangsung apabila tidak mendapat penanganan yang cepat. Seorang pelaku kekerasan pada umumnya merupakan lanjutan dari orang tua yang dulunya juga melakukan kekerasan. Begitu pula dengan kekerasan seksual.

Pada dasarnya setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Menangis, berteriak, bercerita, berdiam, merupakan beberapa contoh dari banyak cara yang dapat dilakukan ketika seseorang mendapat sebuah masalah.

Kadang memang seorang korban tak butuh solusi, melainkan seseorang yang mau mendengar semua ceritanya. Pulih menyediakan jasa psikolog yang terdiri dari psikolog pendidikan, anak, dan dewasa. Kategori umur yang diberikan batas dewasa adalah diatas 18 tahun. Psikolog-psikolog Pulih tidak selalu ada di Pulih, dan akan ada di kantor pada saat klien sudah membuat janji melalui telepon.

Beberapa klien yang kurang paham dengan prosedur, kadang datang tiba-tiba dan mencari psikolog. Pulih tidak dapat melayaninya karena keterbatasan waktu psikolog yang tidak selalu ada di Pulih. Namun, dalam keadaan darurat, biasanya Pulih akan memberikan jalan keluar lain dengan merujuk klien untuk datang ke mitra(-mitra) Pulih.

Dalam sosialisasi dengan masyarakat, Pulih juga membuat kegiatan-kegiatan, iklan masyarakat, advokasi kebijakan, artikel di media, dan buku-buku materi psikoedukasi yang membantu masyarakat yang belum mengerti menjadi mengerti dengan kekerasan secara sederhana (buku-buku yang disediakan Pulih menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami).

yp1 yp2 yp3 yp4 yp5

More Information»
Yayasan Reef Check Indonesia
January 192016

Reef Check yang saat ini menjadi nama dari sebuah organisasi awalnya hanya merupakan sebuah metode pengecekan terumbu karang yang ada di Indonesia, tepatnya di Karimun Jawa tahun 1997. Tahun 2001 mulailah dibentuk sebuah Jaringan Kerja Reef Check Indonesia (JKRI) karena penggunaan metode Reef Check di Indonesia semakin meluas. Jaringan tersebut dibentuk untuk memperkuat program konservasi di Indonesia. Pertumbuhan kebutuhan untuk konservasi terumbu karang di Indonesia menyebabkan terbentuknya Yayasan Reef Check Indonesia (YRCI). Organisasi ini akhirnya terbentuk pada tahun 2005 dan memiliki kantor pusat di Denpsar, Bali. Tanggal 22 Oktober menjadi peringatan setiap tahun sebagai Reef Check Day Indonesia.

Reef Check memiliki moto “Working together for better reefs and future” dan organisasi ini bergerak di bidang pemantauan terumbu karang untuk masa depan yang lebih baik. Reef check memiliki visi untuk memberikan kontribusi kepada manajemen terumbu karang atau asosiasi ekosistem untuk kesejahteraan bersama; dengan, untuk, dan oleh rakyat semuanya mengutamakan masa depan yang lebih baik. Organisasi ini memiliki 3 pilar yang menjadi penopang untuk mendukung terlaksananya visi tersebut: Manajemen kolaboratif, Pendidikan dan kesadartahuan masyarakat, serta sains dan teknologi.

Visi dari Reef Check belum lengkap tanpa kehadiran dari misi yang Reef Check miliki yaitu:

  1. Meningkatkan kesadartahuan masyarakat mengenai ekosistem pesisir dan laut Indonesia.
  1. Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pelestarian ekosistem persisir dan laut Indonesia serta menginisiasi dan memfasiliatasi para pemegang kepentingan untuk bersama mengelola ekosistem pesisir dan laut secara terpadu.
  1. Mendukung penyedian data-data, informasi dan teknologi yang berlandaskan sains untuk pengelolaaan pesisir dan laut secara terpadu.
  1. Berperan serta aktif dalam mendukung terbentuknya kebijakan pengelolaan ekosistem pesisir dan laut secara terpadu

Saat ini dalam kegiatan praktek lapangan di Reef Check saya terlibat di dalam salah satu program Reef Check yaitu Photovoices. Program Photovoices tersebut merupakan salah satu program yang berkaitan dengan pengembangan Kawasan Konservasi Perairan. Kegiatan ini berlangsung di wilayah Jemeluk Amed dan Tulamben sejak bulan April-Agustus. Program ini merupakan kerjasama antara Reef Check dengan Lensa Masyarakat Nusantara, Coral Reef Alliance, dan Conservative Indonesia. Program ini mengharapkan masyarakat dapat mengangkat isu-isu yang terjadi di wilayahnya sendiri melalui foto-foto. Data tersebut dapat digunakan sebagai bukti nyata kepada pemerintah ketika mereka akan menyampaikan aspirasinya. Foto-foto tersebut diambil oleh beberapa fotografer desa yang sudah dipilih dan diajarkan teknik-teknik dasar fotografi.

Saya dalam program tersebut bertugas untuk mendatangi para fotografer dan menggali informasi dari foto-foto mereka. Proses penggalian informasi tersebut ditujukan untuk mengetahui latar belakang dari foto tersebut, kisah yang sebenarnya tersirat dalam foto tersebut, dan harapan yang ingin disampaikan oleh para fotografer. Tidak hanya hal tersebut tetapi para fotografer diharapkan juga memiliki solusi dari masalah yang mereka lihat. Saya juga bisa melihat langsung kegiatan yang setiap hari dilakukan oleh masyarakat Amed dan Tulamben. Contohnya:mengikuti kegiatan pembuatan gula aren, ikut melaut dengan nelayan, dan melihat langsung kegiatan dari para porter wanita untuk mengangkat tabung dan peralatan selam lainnya, dan tentunya melihat secara langsung kemajuan dari daerah pariwisata tersebut tetapi masih banyak hal yang diabaikan.

Reef Check juga mempunyai beberapa program di wilayah lain seperti di Kabupaten Buleleng, di Pacung dan Pemuteran, Karangasem, di Amed dan Tulamben, Papua Barat yaitu di Raja Ampat, Nusa Tenggara Timur di Lamakera, dan beberapa tempat lainnya. Kegiatan Reef Check lainnya yang sempat saya ikuti selama internship adalah Coral Watch, Bukan Pasar Ikan Biasa, dan beberapa kegiatan lainnya.

rc2 rc3 rc4 rc5 rc1

More Information»
Protestant Church in Sabah (PCS) Tinangol
January 192016

pcs4 pcs5 pcs6 pcs1 pcs2 pcs3PCS Tinangol adalah sebuah gereja yang berada dalam satu kawasan kaum Rungus. Pada tahun 1956 kampung Tinangol yang ditempati oleh suku kaum Rungus didatangi oleh seorang missionaris yaitu Rev. Heinrich Honneger dan seorang penginjil yaitu Penginjil Majimil Tuorong. Pada tahun. Beberapa tahun berlalu, tahun 1959 diresmikan sebuah jemaat di Tinangol dan tahun 1968 PCS Tinangol memiliki bangunan secara mandiri.

PCS Tinangol dapat dikatakan memiliki lokasi yang cukup baik. Hal ini terlihat dari segi penataan lokasi gereja yang strategis. PCS Tinangol berada dalam pusat kampung. Rumah yang berada di kampung Tinangol adalah rumah panjang yang terbagi menjadi empat blok, tiga blok membentuk huruf “U” dan di tengah-tengah dari huruf tersebut adalah lapangan bola serta paling atas adalah gereja. Ini yang menjadi keunikan bagi PCS Tinangol. Selebihnya yang tidak tinggal di rumah panjand disebt sebagai blok 4. Pembentukan dari penataan lokasi ini sendiri dibentuk oleh ketua kampung.

Pada tahun 1962 ketua kampung dan ketua gereja diketuai oleh orang yang sama. Dalam arti ketua kampung juga menjadi ketua gereja. Ini menjadi hal yang pertama kali dalam sejarah PCS Tinangol. Pada tahun 2015 PCS Tinangol memiliki jumlah anggota jemaat yang cukup banyak mencakup 100 kepala keluarga. Banyaknya jumlah kepala keluarga tersebut memberikan sebuah ide baru untuk membentuk ketua gereja. Ketua gereja ini dibentuk sebanyak delapan orang, sehingga setiap satu orang ketua gereja memiliki 10 lebih kepala keluarga. Berbeda dari tugas ketua gereja yang juga menjadi ketua kampung. Ada satu ketua kampung yang juga dijadikan ketua gereja dan yang lainnya adalah jemaat saja.

Kita dapat melihat perbedaan yang jauh dari masyarakat yang tinggal di Tinangol dari tahun yang lampau dengan sekarang yang lebih modern (contohnya masuk pengaruh teknologi dan banyak pemikiran baru). Ada perubahan dari segi pekerjaan,  dahulu banyak masyarakat Rungus yang banyak tinggal di rumah untuk bekerja, baik sebagai pengurus ladang dan membuat manik. Konteks zaman dahulu tidak sama dengan yang sekarang. Saat ini banyak orang muda yang bekerja tidak lagi di ladang tetapi memiliki pekerjaan yang beragam. Orang muda banyak yang bekerja dan bersekolah di Kota Kinabalu, banyak yang bekerja di beberapa wilayah,  dan ada juga anggota jemaat yang pergi ke Kuala Lumpur dan lain-lain.  Oleh sebab itu, banyaknya jumlah orang yang tinggal di kampung memilih untuk pergi sementara dari kampung untuk bekerja atau pun sekolah karena adanya sebuah proses berpikir yang lebih terbuka dan gaya hidup.

Meskipun PCS Tinangol sendiri memiliki banyak anggota, namun persoalannya adalah gereja ini tidak memiliki pendeta tetap. Gereja PCS Tinangol hanya memiliki pendeta konseling yaitu dari pendeta Paroki Jemaat dan  pendeta senior. Hal ini menyebabkan cukup sulitnya pelayanan gereja yang diterima oleh anggota jemaat. Sebab anggota jemaat PCS Tinangol memiliki banyak pergumulan yang membutuhkan tenaga pelayanan tetap dari pendeta. Beberapa pergumulan yang dihadapi yaitu persoalan perkawinan, persoalan kehidupan seorang ibu tunggal, persoalan remaja yang banyak tidak datang ke gereja, komitmen dalam pelayanan, dan yang lainnya. Mungkin persoalan ini memiliki kesamaan dengan konteks jemaat yang di kota, tetapi pergumulan untuk memiliki pendeta sampai sekarang belum terjawab melihat kebutuhan jemaat yang banyak.

PCS Tinangol memiliki beberapa bidang pelayanan yaitu pelayanan jemaat secara umum, pelayanan anak, pelayanan belia, pelayanan wanita, dan pelayanan bapak. Masing-masing dari bidang pelayanan tersebut memiliki AJK (Ahli Jawatan Kuasa) yang  bertanggungjawab dalam setiap bidang pelayanan. Oleh sebab itu, pengelolaan bidang pelayanan diharapkan dapat terlaksana dengan baik.

 

More Information»

Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Indonesia atau yang biasa disingkat Babesrehab BNN, merupakan suatu lembaga yang terletak di Jl. Mayjen HR Edi Sukma kilometer 21, Desa Wates Jaya, kecamatan Lido, kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lembaga ini memiliki luas 11 hektar. Adapun organisasi BNN ini dipimpin oleh seorang Kepala Balai Besar kemudian ada juga para staf dibawahnya. Lembaga ini menjadi tempat rehabilitas untuk pemulihan para korban pengguna narkoba. Lembaga ini memiliki kapasitas hingga 500 orang yang direhabilitas. Jumlah para pengguna narkoba yang sedang direhabilitas saat ini kurang lebih ada 370 orang, mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, termasuk agama.

Para pengguna narkoba yang sedang direhabilitasi di tempat ini disebut resident. Di BNN, terdapat beberapa rumah sebagai tempat rehabilitasi para resident. Rumah-rumah tersebut yaitu Detoks, Entry Unit, House of Faith, House of Hope, HoC (House of Change), Re-entry, serta Female. Di setiap rumah rehabilitas, ada susunan pengurusnya yakni deputy, mayor, serta konselor. Bagi resident yang baru pertama kali masuk, tempat mereka adalah di Detoks. Umumnya para resident yang ditempatkan di rumah detoks rentan mengalami sakau. Para resident masih susah untuk menjalankan peraturan-peraturan yang ada, sehingga mereka hanya berada di dalam rumah tersebut dan belum diijinkan untuk keluar apalagi berinteraksi dengan orang lain.

Di rumah detoks terdapat satpam-satpam yang menjaga para resident di rumah ini. Para resident berada di rumah ini kurang lebih selama 2 minggu, sebelum pindah ke rumah Entry Unit. Setelah keluar dari Detoks, resident akan dipindahkan ke rumah Entry Unit. Ketika berada dirumah ini, mereka mulai belajar untuk memahami peraturan-peraturan yang akan mereka jalani selanjutnya pada masa rehabilitasi mereka. Di rumah ini, para resident diawasi oleh mayor, mereka juga tidak lagi dikurung di dalam rumah saja. Mereka sudah bisa keluar dari rumah, namun hanya sebatas di depan rumah. Sama seperti di Detoks, para resident akan berada di Entry Unit selama 2 minggu sebelum mereka pindah ke beberapa rumah lagi yang sudah memiliki program-program.

Selanjutnya ada House of Faith, yaitu rumah rehabilitas bagi pengguna narkoba laki-laki. Usia para resident di rumah ini yakni di bawah 35 tahun. Di rumah ini, para resident sudah mulai menjalankan program-program yang ada agar melatih tingkah laku mereka. Para resident akan berada di rumah ini selama 4 bulan. Para resident di rumah ini adalah mereka yang baru pertama kali direhabilitas, sedangkan di House of Hope merupakan rumah untuk para pengguna narkoba yang sudah pernah menjalani rehabilitas. Di House of Hope, para resident adalah laki-laki yang berumur diatas 30 tahun. Mereka akan menjalankan program yang ada, yang bermanfaat untuk mengubah pola pikir mereka supaya tidak lagi terikat pada narkoba. Para resident akan menjalankan program-program di rumah ini selama 4 bulan.

Selanjutnya ada House of Change, yaitu rumah untuk para pegawai negeri sipil serta pejabat Negara. Program yang dijalankan di HoC sama dengan di rumah Hope, perbedaannya adalah HoC dikhususkan bagi pegawai negeri sipil. Para resident menjalankan program di rumah ini juga selama 4 bulan. Setelah menjalani semua program yang ada, para resident akan dipindahkan ke rumah selanjutnya yaitu Re-entry. Re-entry adalah rumah terakhir untuk semua program rehabilitas yang sudah dijalani para resident. Mereka akan diamati dan dipersiapkan untuk dapat kembali ke tengah masyarakat. Meskipun mereka sudah siap dipulangkan, namun mereka akan terus berada dalam pantauan konselor. Para resident akan menjalankan program di rumah ini selama 1 bulan.

Selain rumah-rumah yang sudah dijelaskan, ada juga rumah yang dikhususkan untuk para pengguna narkoba perempuan, yaitu rumah  female. Rumah female dibagi menjadi 4 yakni Detoks, Entry Unit, Green, dan Re-Entry. Total dari semua program yang dijalani para pecandu adalah 6 bulan. Konsep yang mendasari semua program yang dijalani di Babesrehab BNN ini disebut dengan konsep Therapeutic Community (TC). TC adalah sekelompok orang yang mempunyai masalah yang sama, mereka berkumpul untuk saling membantu dalam mengatasi masalah yang mereka hadapi. Istilah yang sering digunakan adalah man helping man to help himself, yaitu seseorang menolong orang lain untuk menolong dirinya sendiri.

bnn1bnn2

More Information»
Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo

Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo

Palangkaraya, Kalimantan Tengah

January 192016

Yayasan BOS berdiri sejak 1991 dengan nama awal Balikpapan Orangutan Society (Perhimpunan Pencinta Orangutan Balikpapan). Pada tahun 1998 nama tersebut berubah menjadi Yayasan Penyelamatan Orangutan Balikpapan (The Balikpapan Orangutan Survival Foundation). Pada tahun 2003, berubah nama lagi menjadi Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo (Yayasan BOS), karena mengalami perluasan wilayah kerja ke Kalimantan Tengah. Yayasan BOS merupakan organisasi non-profit Indonesia dengan cabang di duabelas negara di dunia. Pemeriksaan pembukuan Yayasan BOS dilakukan oleh Multinasional Auditor Company, dan Yayasan BOS beroperasi di bawah perjanjian resmi dengan Kementrian Kehutanan untuk melestarikan orangutan dan ekosistemnya dengan melibatkan masyarakat sekitar. Yayasan BOS merupakan pengelola konservasi primata terbesar di dunia.

Sepuluh tahun terakhir penyusutan dan kerusakan hutan dataran rendah yang terjadi di Sumatera dan Kalimantan telah mencapai titik kritis yang dapat membawa bencana ekologi skala besar bagi masyarakat. Bagi orangutan di Kalimantan, kerusakan kawasan hutan telah menurunkan jumlah habitat orangutan sebesar 1,5-2% per tahun. Selain itu, ancaman perburuan untuk dijadikan satwa peliharaan dan sumber makanan bagi masyarakat sekitar juga memperburuk nasib orangutan. Fakta menunjukkan bahwa orangutan adalah jangkar pengikat sebuah ekosistem hutan, dan manusia memerlukan keberadaan sang Bumi untuk bisa terus hidup. Selain itu, bumi perlu ekosistem dan ekosistem hanya ada jika elemen-elemennya ada.

Dari tujuh hutan hujan pengikat ozon utama di dunia, tiga di antaranya berada di Indonesia. Orangutan sebagai makhluk hidup yang tergantung pada keberadaan hutan dapat dianggap sebagai wakil terbaik dari struktur keanekaragaman hayati hutan hujan tropis yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu, orangutan dapat menjadi spesies paying untuk konservasi hutan hujan tropis. Tiap kilometer hutan dihuni orangutan dengan kepadatan satu hingga lima individu ekor dan dapat menyediakan habitat bagi lima jenis burung rangkong paling sedikit, lima puluh jenis pohon buah-buahan, limabelas jenis liana, dan berbagai jenis hewan lainnya. Berdasarkan jenis morfologi dan genetik yang terdapat pada populasi orangutan Borneo terdapat tiga kelompok sub-spesies yang berbeda, yaitu:

  1. Pongo pygmaeus pygmaeus di bagian Barat Laut Kalimantan, Utara Sungai Kapuas sampai Timur Laut Serawak
  2. Pongo pygmaeus wurmbii di Barat Daya Kalimantan, bagian Selatan Sungai Kapuas, dan bagian Barat Sungai Barito
  3. Pongo pygmaeus morio di Sabah dan bagian Timur Kalimantan sampai sejauh Sungai Mahakam.

Oleh karena kesadaran akan paparan di atas, Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo berinisiatif untuk terus melindungi kelestarian orangutan berikut habitatnya dengan fasilitas dan program terencana.

Tiga fokus utama Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo adalah:

  1. Reintroduksi Orangutan.
  2. Rehabilitasi dan Perlindungan Habitat Alami
  3. Informasi, Program Pendidikan, dan Program Pemberdayaan Masyarakat.

Reintroduksi orangutan merupakan pelaksanaan program yang pertama kali dikembangkan secara ilmiah oleh Dr. Herman Rijksen dan menjadi Program Reintroduksi Orangutan satu-satunya yang diakui pemerintah Indonesia. Program reintroduksi ini bertujuan untuk mengembalikan orangutan ke habitat aslinya. Dua program reintroduksi yang dimiliki oleh Yayasan BOS adalah Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Timur di Samboja Lestari dan Program Reintroduksi Orangutan Kalimantan Tengah di Nyaru Menteng. Setelah program reintroduksi orangutan, ada juga program sosialisasi dan program pelepasan kembali.

PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia yang didirikan oleh Yayasan BOS memanfaatkan skema Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Restorasi Ekosistem (IUPHHK-RE) untuk mendapatkan kawasan pelepasliaran orangutan. PT. RHOI saat ini dipercaya pemerintah untuk mengelola kawasan hutan seluas 86.450 ha sebagai kawasan pelepasan kembali orangutan Kalimantan ke habitat alaminya. Seluruh areal tersebut telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehutanan melalui SK No.464/Menhut II/2010 per tanggal 18 Agustus 2010. Pemilihan lokasi tersebut melibatkan instansi terkait, seperti PHKA cq, Balai Konservasi Sumber Daya Alam, universitas dan lembaga lainnya. Kekayaan dan keanekaragaman hayati yang tinggi pada areal PT. RHOI di Kalimantan Timur digambarkan dari ditemukannya 395 jenis pohon dan 294 jenis fauna. Penerapan peran sosial hutan dilakukan dengan mengupayakan peningkatan kesejahteraan dan pemberdayaan masyarakat sekitar melalui pengikutsertaan masyarakat secara aktif dalam kegiatan perusahaan, pemanfaatan jasa lingkungan, pendidikan dan upaya lainnya yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

Program rehabilitasi dan perlindungan habitat alami bagi Yayasan BOS tidak hanya bertujuan untuk merehabilitasi lahan kritis atau melindungi areal hutan melalui pengelolaan sumber daya hutan, namun juga untuk memberdayakan masyarakat lokal yang hidup di sekitar hutan untuk melakukan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan tanpa harus memberikan dampak negatif terhadap alam. Salah satu program yang berada dalam program rehabilitasi lahan dan perlindungan habitat alami adalah pengendalian kebakaran di areal hutan melalui pembentukan regu api. Melalui Program Konservasi Kawasan Mawas, Yayasan BOS juga mulai mengupayakan pencegahan kebakaran dan menjaga stabilitas hidrologi, juga merestorasi dan merehabilitasi kawasan bekas terbakar yang dilakukan dengan melibatkan segenap masyarakat sekitar dalam program agroforestry. Dua program milik Yayasan BOS yang berfokus pada kegiatan perlindungan habitat orangutan dan rehabilitasi lahan, yaitu: Program Rehabilitasi Lahan Samboja Lestari dan Program Konservasi Kawasan Mawas.

Bagi Yayasan BOS, pendidikan adalah alat yang sangat penting untuk berhubungan dengan masyarakat, terutama mereka yang belum memiliki pengertian dasar mengenai konservasi satwa liar dan habitatnya. Salah satu kunci keberhasilan upaya penyelamatan satwa dan alam adalah pendidikan generasi muda dan komitmen masyarakat. Untuk menyelamatkan orangutan dari kepunahan, Yayasan BOS juga menjalin komunikasi dan kerjasama dengan berbagai organisasi lingkungan dalam maupun luar negeri. Keterlibatan secara aktif Yayasan BOS terlihat dari keikutsertaanya dalam menyusun strategi aksi dan konservasi orangutan Indonesia untuk tahun 2007-2017. Selain itu, Yayasan BOS juga mengadakan pengembangan situs Yayasan BOS, serta kegiatan kunjungan dan program di sekolah-sekolah, kampanye pengembangan kesadaran masyarakat, pameran, lokakarya, pelatihan para guru dan publikasi buku-buku untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat.

Salah satu upaya dalam mengurangi tekanan masyarakat terhadap kawasan konservasi adalah dengan meningkatkan berbagai aktifitas dalam penguatan kapasitas dan pengembangan ekonomi masyarakat melalui pengorganisasian serta pengelolaan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan.

ou1 ou2 ou3 ou4 ou5

More Information»
GMIST Dioskuri Batam

GMIST Dioskuri Batam

Batam, Kepulauan Riau

January 192016

GMIST Dioskuri adalah satu-satunya gereja suku Sangihe Talaud yang berada di Batam. Historisitas perjalanan jemaat mula-mula hingga menjadi jemaat yang sekarang tidak terlepas dari jerih lelah seorang perempuan, yakni ibu pendeta Grietje K. Tolosang, yang sekarang menjadi ketua jemaat GMIST Dioskuri. Segala sesuatu dimulai oleh beliau dari “nol” dan perjuangan tersebut tidaklah sia-sia. Kini gedung gereja telah berdiri sendiri di daerah Tiban Kampung dengan jumlah anggota jemaat hampir 200 Kepala Keluarga (KK). Gedung gereja ini diresmikan pada tahun 2012 oleh Ketua Umum Sinode GMIST. Sekarang, jemaat sudah tidak terbebani dengan pinjam-meminjam lokasi dan perlengkapan ibadah, mengingat sebelum berdirinya gedung gereja ini, hal tersebut selalu dilakukan.

Gereja ini berada di “kawasan” suku Batak, ini ditandai dengan adanya beberapa gereja suku Batak di sekitarnya. Ada gereja HKBP, GBKP, GKPS, dan HKI yang berada se-wilayah dengan GMIST, yaitu di daerah Tiban Kampung. Masyarakat sekitar pun didominasi oleh suku Batak, tetangga-tetangga gereja pun pada umumnya adalah orang Batak. Dari sekian banyak masyarakat sekitar yang ber-suku Batak, tidak ada satupun dari mereka yang datang bergereja di GMIST. Kemungkinan besar adalah karena keberadaan beberapa gereja suku Batak.  Meskipun terlihat seperti individualis, namun pada kenyataannya, gereja-gereja ini sering bekerja sama apabila ingin mengadakan sebuah kegiatan gerejawi dan GMIST Dioskuri paling sering diminta menjadi tuan  rumah.

Sebagian besar KK anggota jemaat GMIST Dioskuri berprofesi sebagai pelaut. Hal ini mendasari penentuan nama “Dioskuri” yang diambil dari Kis. 28:11,  lambang kapal Paulus, yang dipahami artinya yaitu mercusuar. Oleh karena para KK adalah pelaut, maka yang beribadah di GMIST Dioskuri (kebanyakan) adalah kaum perempuan, pemuda/remaja, dan anak sekolah minggu (ASM). Pemuda pun banyak yang sudah menjadi pelaut, jadi kalau mereka sedang tidak tugas, baru mereka dapat mengambil bagian dalam ibadah. Namun begitu, kegiatan peribadahan tetap terlaksana dengan baik.

Ibadah Pelayanan kategorial (Pelka) jemaat terbagi atas Pelka Perempuan, Pelka Laki-laki, Pelka Pemuda/Remaja, dan Pelka Anak. Ibadah Pelka laki-laki tetap diadakan meskipun yang hadir lebih banyak adalah kaum perempuan (ibu-ibu; para istri). Selain itu, terdapat pula ibadah kunjungan rumah tangga (RT). Kaum perempuan selalu mendominasi di setiap kegiatan peribadahan.

Di samping itu, Majelis Jemaat (MJ) memegang peranan yang cukup besar di dalam struktur organisasi gereja dan setiap kegiatan pelaksanaan ibadah. Beberapa MJ adalah kaum laki-laki, namun karena mereka adalah pelaut dan harus berlayar, terkadang –dan hampir selalu- yang menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai MJ adalah para istri. Dengan kata lain, tugas MJ laki-laki tidak terbengkalai karena telah diwakilkan.

Sejauh ini, program atau event-event yang dilakukan oleh gereja berjalan dengan baik. Peran ketua jemaat dan MJ sangat besar dalam pertumbuhan dan perkembangan jemaat, memang tak dapat terelakkan bahwa “badai” dan “gelombang” seringkali menerpa “kapal” Dioskuri dalam pelayarannya. Namun satu hal yang diyakini oleh seluruh anggota jemaat, “Yesus Nakhodaku.” Iman inilah yang memampukan jemaat GMIST Dioskuri Batam dapat bertahan dan berkarya hingga saat ini.

gmist1 gmist2 gmist3 gmist4 gmist5 gmist6

More Information»
Gereja Kristen Pasundan (GKP) Purwakarta
January 192016

Sejarah kehadiran jemaat GKP Purwakarta, berawal pada tahun 1916, Zendeling A. Vermer yang waktu itu berkedudukan di Batavia datang ke Purwakarta untuk membaptiskan beberapa anak dari keturunan Tionghoa di Sekolah Zending, yang lokasinya tepat berada di tempat gedung Gereja yang sekarang. Selanjutnya tanggal 25 Juli 1917 Nederland Zending Vereeninging (NZV) menempatkan A. Ardja sebagai Guru ditempat ini. Pada tahun 1920 NZV menugaskan Zendeling O.E.v.c.Brug dan Dr. Deke untuk mendirikan Rumah Sakit Zending, yang diresmikan pada tanggal 18 Oktober 1930 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, yaitu A.C.D.v.d.Graf yang diberi nama Rumah Sakit Bayu Asih.[1]

Tidak ada yang menduga bahwa melalui kehadiran Sekolah dan Rumah Sakit di Purwakarta ternyata semakin memperluas ladang Pekabaran Injil NZV, sehingga pada tanggal 14 Nopember 1934 gedung sekolah diresmikan menjadi gedung Gereja dengan Pendeta Maat rikin. Pada tahun 1941 Pendeta Maat Rikin pindah ke Jemaat Rehoboth Jatinegara, dan pelayanan di Purwakarta digantikan oleh Pendeta Josef Atje, yang pada tanggal 02 Januari 1973 memasuki masa emeritasi. Pada tahun 1977 GKP Purawakarta memanggil seorang calon Pendeta, yaitu Sutarno,STh yang ditahbiskan pada tahun 1978 dan berakhir tahun 1980. GKP Purwakarta saat itu melayani 2 Pos Kebaktian yaitu Pos Kebaktian Sadang dan Pos Kebaktian Jatiluhur. Pos Kebaktian Sadang berdiri menjadi jemaat yang dewasa, pada tanggal 20 Agustus 1981.[2]

Pendeta Jemaat yang (pernah) melayani:

1916 – 1934                : Para Zendeling NZV
1934 – 1941                : Pdt. Maat Rikin
1942 – 1977                : Pdt. Josef Atje
1978 – 1980                : Pdt. Sutarno, S.Th.
1980 – 1984                : Konsulen ( Pdt. Apolos Linggar )
1984 – 1995                : Pdt. Anatona Zebua, S.Th
1996 – 2005                : Pdt. Drs. Agustria Empi
2005 – 2015                : Pdt. Deru Utama Noron, S.Th, M.Min
2015 – sekarang          : Pdt. T. Adama Sihite. M.Th

Anggota jemaat ini cukup beragam, baik itu dalam hal kelompok suku atau budaya maupun kondisi ekonomi. Beragamnya suku dari anggota jemaat ini memang sangat jelas karena GKP bukanlah gereja yang dibentuk atas kesukuan. Oleh karena itulah warga tidak enggan untuk sepenuhnya mengambil bagian dalam persekutuan ini. Sebetulnya, lebih jauh lagi, banyak dari anggota jemaat dari HKBP dan GBKP dan gereja-gereja lain yang ada di Purwakarta saat ini pernah berjemaat di sini dulunya. Istilahnya satu gedung untuk banyak gereja. Namun seiring bertambahnya jumlah anggota dari kelompok itu, tentu atas indikator bahasa dan gereja daerah atau suku, maka mereka berinisiatif membangun gedung gerejanya dan badan administrasinya sendiri. Setelah banyak yang memisahkan diri, akhirnya untuk saat ini jumlah anggota dari jemaat GKP Purwakarta adalah sekitar 160 Kepala Keluarga (KK). Dari pengakuan pendeta yang ada sekarang ini, bahwa jumlah anggota jemaat yang terbilang cukup banyak ini tidaklah efektif dilayani hanya oleh 15 majelis jemaat. 1 pendeta, dan 3 Pengawas Pembendaharaan Gereja (PPJ). Oleh sebab itu jugalah, dalam momentum pemilihan calon majelis di tahun ini, maka jumlah majelis jemaat akan bertambah menjadi 20 orang, sedangkan jumlah PPJ dan pendeta masih tetap seperti semula.[3]

Memang penilaian yang dikatakan beliau bukanlah dinilai dari jumlah anggota jemaat saja, melainkan juga keinginan dari pendeta jemaat yang ingin melihat gereja ini betul-betul aktif dalam pelayanan, baik itu nantinya ke dalam maupun juga ke luar. Pelayanan itu sudah tentu merupakan suatu kebutuhan yang pasti bagi pertumbuhan iman (dan jasmani) anggota jemaat yang ada. Inilah semangat melayani dari bapak Pdt. T. Adama Sihite M.Th, S1 lulusan dari STT Jakarta, yang belum lama disahkan menjadi pendeta jemaat GKP Purwakarta untuk 5-10 tahun ke depan. Semangat melayani beliau pun sebagian besar sudah terangkum seutuhnya di dalam “Arahan Penyusunan Rencana Kerja Jemaat: Agenda 2020” GKP Purwakarta.

[1] Disadur dari tautan situs remi Sinode GKP http://gkp.or.id/?page_id=1755

[2] Ibn

[3] Rekam ulang Jurnal “hasil wawancara” pada tanggal 15 Juni 2015

 

DSC_0404[1] DSC_0353[1] DSC_0404[1] (1)

More Information»
Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB) Betania Sinampangnyo
January 192016

GKLB Betania Sinampangnyo terletak di Kecamatan Pagimana dan letaknya cukup jauh dari kota kabupaten Luwuk. Namun, Kecamatan Pagimana merupakan kecamatan yang memiliki pelabuhan kapal, tempat penyebrangan ke Gorontalo dan Manado. Oleh sebab itu Kecamatan Pagimana tergolong kecamatan yang ramai penduduk dan berlimpah akan hasil laut. Jika ditelusuri secara mendalam, orang-orang yang tinggal di Desa Sinampangnyo juga masih saudara-bersaudara, namun kini telah banyak juga pendatang yang masuk ke Desa Sinampangnyo dan tinggal di sini. Daerah Sinampangnyo (dan juga daerah di Luwuk Banggai) ini sangat terkenal dengan hasil perkebunan kelapa atau niu. Selain itu, minuman khas bernama saguer atau yang lebih dikenal dengan tuak menjadi suatu yang khas di tempat ini. Suku terbesar yang tinggal di Desa Sinampangnyo adalah Suku Saluan.

GKLB Betania Sinampangnyo berada di salah satu desa di Pagimana, yakni Desa Sinampangnyo. Desa Sinampangnyo sendiri terkenal sebagai Desa Kristen karena awal terbentuknya desa ini bersamaan dengan datangnya pekabaran Injil di Kecamatan Pagimana. Kehidupan berjemaat di tempat ini tergolong tidak terlalu baik. Sebagai Desa Kristen, ternyata tidak semua masyarakat yang beragama Kristen datang beribadah di gereja. Alasan pekerjaan di kebun dan lain sebagainya membuat banyak orang tidak ikut dalam kegiatan-kegiatan gerejawi, terlebih khusus kaum bapak dan pemuda. Meski demikian, semua peribadahan Kompelsus (Komisi Pelayanan Khusus) berjalan sesuai jadwal, baik Kompelsus Bapak, Ibu, Pemuda, Remaja, dan Anak. Bahkan bukan hanya jemaat saja yang menghadiri ibadah, tetapi hewan peliharaan (seperti anjing, kucing, bebek, dan ayam) seringkali mengikuti tuannya ketika hendak beribadah sehingga kadang hewan peliharaan pun datang ketika beribadah.

Selama praktek di jemaat GKLB Betania Sinampangnyo ini, banyak hal yang saya pelajari terutama hal-hal yang khas dari daerah ini dan salah satu yang menarik adalah kulinernya yang khas. Semua ikan laut sudah pernah disajikan untuk saya makan. Tentunya mereka menyajikan itu karena mereka menerima saya dengan sangat baik, dan terbukti bahwa bukan hanya orang Jawa saja yang ramah, tetapi orang Sulawesi juga ramah dan hal itulah yang saya rasakan. Salah satu hal unik juga dari kebiasaan jemaat di sini ialah mengucapkan salam dengan menyebutkan “Selamat Pagi”, “Selamat Siang”, “Selamat Sore”, atau “Selamat Malam” bukan seperti kebiasaan orang-orang Kristen pada umumnya yang menyebutkan “Syalom”.

Dalam sisi organisasi, banyak hal baru yang saya temui dan tidak jumpai di gereja-gereja lain. Misalnya saja Ketua dari Kompelsus diangkat menjadi Penatua. Jadi, seandainya seseorang siap untuk menjadi ketua Kompelsus Pemuda, maka ia harus diteguhkan menjadi Penatua. Hal inilah yang mungkin menarik, karena penatua sebagai penanggung jawab kompelsus bukan hanya berdiri sebagai koordinator yang seringkali tidak dapat mengayomi anggota-anggota kompelsus itu, tetapi penatua itu sendiri berasal dari anggota kompelsus dan berada di dalam kepengurusan kompelsus. Dengan demikian, hal ini membuka lebar kesempatan untuk para pemuda bisa berperan dalam organisasi gerejawi. Selain itu juga GKLB tidak memiliki DPA (Daftar Pembacaan Alkitab) sehingga masing-masing jemaat leluasa untuk menentukan tema dan bahan bacaan sesuai konteks dan keadaan jemaat saat itu.

FB_IMG_1438225702238 20150705_081205 20150615_225515 20150531_101013 20150531_100749

More Information»

Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK-HAM) Solo, adalah sebuah organisasi non profit, independen, mandiri, yang merupakan kumpulan orang-orang berlatar belakang gerakan mahasiswa, organisasi sosial, serta bersifat pluralis, dengan komitmen pada penegakan Hak Asasi Manusia khususnya Hak Asasi Perempuan. Didirikan pertama kali pada tanggal 20 November 1998 serta terdaftar pada Akta Notaris No. 4, tanggal 6 Januari 1999 oleh kantor Notaris Sunarto, S.H di Jl. Prof. Dr. Supomo 20 A Surakarta dalam bentuk Yayasan.

SPEK-HAM menyadari  bahwa terjadinya berbagai bentuk ketidakadilan di masyarakat. Dan pada kenyataannya problem sosial, ekonomi, politik, dan budaya di masyarakat masih menempatkan perempuan dalam posisi paling terpinggirkan diantara kelompok masyarakat yang termiskinkan. Hal ini disebabkan oleh konsep pembangunan yang berpihak pada kekuatan modal dan pasar. Akumulasi modal dan kebutuhan pasar terbukti gagal menyelesaikan berbagai persoalan kebutuhan dasar dan hak dasar masyarakat, persoalan dominasi ideologi/budaya, persoalan kelas, gender, dan lingkungan. Kebutuhan dasar dan hak dasar masyarakat tidak menjadi prioritas untuk dipenuhi, sehingga berbagai bentuk ketidakadilan menjadi muara atas situasi kemiskinan yang diciptakan. Dalam situasi ini, kelompok perempuan yang secara kultural dan struktural terdiskriminasi menjadi bagian paling menderita dan terlemahkan oleh Negara.

Untuk itu sejak awal berdirinya, SPEK-HAM telah melakukan berbagai upaya penguatan dan pembangunan kesadaran masyarakat sipil. Upaya-upaya ini dilakukan sebagai komitmen organisasi untuk ikut berkontribusi dalam proses perubahan sosial menuju tatanan masyarakat yang lebih adil dan bermartabat, dengan menggunakan perspektif gender, hak asasi manusia, pluralisme, dan keseimbangan lingkungan sebagai landasan gerak organisasi dalam memperjuangkan visi, misi, dan tujuannya.

Berdasarkan kerangka pikir tersebut di atas, SPEK-HAM melihat perjuangan untuk  mendapatkan hak-hak dan pemenuhan atas kebutuhan dasar masyarakat merupakan mandat organisasi. SPEK-HAM merumuskan tiga strategi utama, yaitu: pengorganisasian kelompok masyarakat miskin, pendidikan kritis untuk perubahan pola pikir, dan advokasi untuk pemenuhan kebutuhan dasar dan perlindungan hak dasar masyarakat sipil. Dari semua tahapan tersebut di atas, proses pembangunan gerakan sosial menuju masyarakat yang berkeadilan sosial dengan menggunakan perspektif gender, hak asasi manusia, pluralisme, dan lingkungan, menjadi dimensi terpenting.

mtf_mNmKT_103.jpg IMG_20150527_152924 IMG_20150527_155143 IMG_20150530_092652 IMG_20150530_094227 IMG_20150530_094244

More Information»
Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sidomulyo Sragen
January 192016
  1. LETAK GEOGRAFIS

GKJ Sidomulyo terletak di Jl. Kapt.Tendean No. 2 Kel. Sragen Wetan, Kecamatan Sragen, Kabupaten Sragen. Dengan wilayah pelayanannya meliputi empat (4) kecamatan, yaitu Kecamatan Sragen untuk wilayah GKJ Sidomulyo Induk, Kecamatan Ngrampal untuk wilayah pelayanan Pep. Bibis dan Pep. Sogo, Kecamatan Gesi untuk wilayah pelayanan Pep. Gesi, dan Kecamatan Tangen untuk wilayah pelayanan Pep. Tangen.

 

  1. SEJARAH SINGKAT

Pada awalnya warga Kristen di Sidomulyo dan sekitarnya beribadah ke Gereja di Kuwungsari yang jaraknya cukup jauh. Beberapa tahun kemudian Bp. Suhardi berkenan meminjamkan rumahnya untuk dipergunakan sebagai tempat ibadah. Kemudian dibentuklah pengurus blok dengan tujuan membantu majelis dalam melaksanakan tugasnya dan Sidomulyo merupakan blok X dari GKJ Sragen.

Pada tanggal 15 Januari 1979, majelis menetapkan blok X menjadi Pepanthan Sidomulyo. Dengan segala upaya dalam hal pengumpulan dana maupun penyertifikatan tanah pada tahun 1984 Pepanthan Sidomulyo dapat mendirikan bangunan rumah ibadah dan ibadah mulai dilaksanakan di Gereja.

Sejak tahun 1987 majelis GKJ Sragen memberi wewenang kepada Pepanthan Sidomulyo bersama-sama Gesi dan Tangen mengadakan rapat majelis sendiri yang disebut Rapat Majelis Sidomulyo cs, kemudian berubah menjadi Rapat Majelis GKJ Sragen wilayah Timur.

Dan pada bulan Maret 1992 majelis GKJ Sragen memutuskan mendewasakan GKJ Sragen Wilayah Timur yang kemudian disepakati dengan nama GKJ Sidomulyo. Tepatnya tanggal 26 Juni 1992 ditetapkan sebagai Hari Pendewasaaan GKJ Sidomulyo.

Adapun wilayah pelayanannya meliputi Pep. Gesi, Pep. Tangen, Pep. Bibis dan Pep. Sogo yang masing-masing telah memiliki rumah ibadah yang memadai kecuali Pep. Sogo yang masih menumpang di rumah salah satu warga jemaat.

Untuk memenuhi panggilan sebagai Gereja yang dewasa penuh dengan struktur kemajelisan yang lengkap, maka Majelis menetapkan panitia pembangunan pastori dan panitia pemanggilan pendeta. Sehingga sewaktu-waktu memanggil pendeta telah siap rumah pendeta (Pastori) dengan segala kelengkapan perabot rumah tangga. Dan panitia pembangunan Pastori telah berhasil mewujudkan Gedung Pastori dan fasilitas rumah tangga yang layak pakai.

Sedangkan Panitia Pemanggilan Pendeta telah melaksanakan dua (2) kali pemanggilan pendeta. Yang pertama atas diri Pdt. Drs. Nugroho Adi, M.Th yang nampaknya Tuhan belum menghendaki pemanggilan tersebut. Selanjutnya Panitia mengadakan pemanggilan yang kedua atas diri Pdt. Drs. Ely Subagyo dengan proses pemanggilan berlangsung lancar dan kali ini Tuhan telah menghendaki GKJ Sidomulyo memiliki seorang Gembala Jemaat yang diteguhkan pada tanggal 13 Desember 1997.

Dengan kelengkapan tenaga Pelayan di aras Kemajelisan, GKJ Sidomulyo mengembangkan pelayanannya baik kedalam maupun keluar. Pengembangan pelayanan kedalam adalah penatan pada ppenguatan pengorganisasian guna melakukan peningkatan dan pengembangan pelayanan yang tapis dan mampu menjawab tantangan jaman. Strategi pelayanan kategorial, pewilayahan dan profesi ditempuh oleh GKJ Sidomulyo. Dan hal tersebut semakin memperkuat GKJ Sidomulyo dalam kiprah pelayanannya diaras klasis dan Sinode sebagai wujud kebersamaan yang lebih luas. Telah beberapa kali menjadi penyelenggara sidang Klasis yang semakin inovatif dan modern, bahkan GKJ Sidomulyo telah mampu menjadi ajang even terbesar dilingkup GKJ, yaitu sebagai Gereja Pelaksana Sidang Sinode GKJ ke 25, tepatnya pada tanggal 11 – 13 September 2012 yang lalu. Sejarah besar terukir dalam kehidupan jemaat GKJ Sidomulyo.

Semuanya itu belum membuat segenap GKJ Sidomulyo puas, masih ada kerinduan besar untuk dapat menjadi berkat bagi masyarakat Sragen Asri dalam bidang : pendidikan, perdamaian dan kesejahteraan bersama. Ditengah pergulatan masyarakat dengan merebaknya rasa individualisme dan tindak kekerasan, pada Ulang Tahun ke-23 ini mengangkat tema : GUMREGAH NYAWIJI LELADOS GUSTI. Merupakan spirit kehidupan segenap warga jemaat GKJ Sidomulyo sebagai Gereja Tuhan untuk ikut mengukir karya Tuhan dalam kehidupan bersama.

 

  1. KEADAAN SAAT INI

Rencana Operasional GKJ Sidomulyo pada tahun 2015 disusun oleh Majelis Gereja bersama Pengurus Komisi dengan mengacu pada Renstra GKJ Sidomulyo Tahun 2012-2017. Dengan Visi, Misi, Strategi dan Rencana Operasional sebagai berikut :

  1. VISI 2012 – 2017 :

Menjadi Gereja Kristen Jawa yang mengasihi Allah, Sesama dan Lingkungan alam semesta dengan menjadi murid, saksi dan hamba Allah yang mengutamakan keakraban, keterbukaan, kepedulian untuk memberitakan Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat.

  1. MISI :

Persekutuan (koinonia)

  1. Mewujudkan kebaktian Minggu yang hidup dan berkenan dihadapan Allah, dengan pemberitaan Firman Allah dalam suasana yang dinamis dan membaharui, serta kontektual dalam kehidupan warga gereja dan masyarakat yang sesuai dengan ajaran GKJ.
  2. Meningkatkan Spiritualitas warga gereja dengan mendalami Firman Tuhan, kehidupan doa dan persekutuan.
  3. Mewujudkan hubungan yang akrab, rendah hati, saling membangun, dinamis dan dalam semangat kekeluargaan antar warga gereja dan simpatisan, tanpa membedakan jenis kelamin, usia, etnis, ekonomi, latar belakang budaya dan status pernikahan.

Pelayanan (Diakonia)

  1. Meningkatkan pelayanan kasih gereja, membangun dialog dan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka mewujudkan pelayanan melalui pendidikan, kesehatan dan pelayanan kemanusian
  2. Meningkatkan kepedulian terhadap kaum marginal terutama warga gereja dalam rangka membangun kemandirian.

Kesaksian (Marturia)

  1. Meningkatkan pekabaran injil dan membangun kerjasama dengan Gereja tetangga atau lembaga pekabaran Injil yang lain.
  2. Mendorong anggota Jemaat untuk menerapkan nilai nilai kristiani dalam melaksanakan tugas, pekerjaan, dan pelayanannya serta dalam hidup bermasyarakat.

Penunjang

Meningkatkan sistem menajemen dan sumber daya (Man, Money, Material) untuk mendukung pelayanan dengan memperhatikan prinsip efisiensi dan efektifitas.

IMG_4048 IMG_4167 IMG_4283 IMG_4288 IMG_4290 IMG_4538

More Information»
Women’s Crisis Center “Pandulangu Angu” GKS
January 192016

Mencermati dan memahami situasi serta kondisi yang tengah dihadapi kaum perempuan Sumba, Komisi Perempuan Gereja Kristen Sumba mencoba turut aktif dalam memberikan kepeduliannya. Semakin maraknya kasus dan permasalahan tentang kekerasan di dalam rumah tangga, membuat Komisi Perempuan berinisiatif membentuk sebuah gerakan menentang tindak kekerasan didasari budaya yang telah berakar kuat dalam kehidupan masyarakat Sumba. Women’s Crisis Center  “Pandulangu Angu”, hadir sebagai perwujudan gerakan tersebut.

Hasil keputusan Sidang Sinode GKS pada Juli 2014, mengesahkan sebuah pusat pelayan perempuan dan anak korban kekerasan bernama Women’s Crisis Center “Pandulangu Angu”. Bergerak di bidang pastoral, WCC hadir sebagai lembaga pendampingan dan pelayanan terpadu korban kekerasan. Memulai kegiatan pada 1 September 2014, lembaga ini mengawali langkahnya dengan mengirim beberapa perutusan untuk melakukan studi banding dan penelitian mendalam tentang angka kekerasan yang terjadi di Pulau Sumba. Dimotori oleh beberapa Pendeta perempuan GKS beserta  Vikaris-vikaris muda, lembaga ini telah berjalan selama satu tahun. Kegiatan-kegiatan yang sudah ataupun sedang berjalan diantaranya; training konselor, diskusi interaktif di Radio, studi banding dan menjalin kerja sama dengan beberapa lembaga terkait, kampanye yang menyuarakan “STOP KEKERASAN pada PEREMPUAN” (disesuaikan dengan peringatan Hari Anti Kekerasan dan Hari Perempuan Internasional), mengadakan seminar tentang “Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Perjanjian Lama”, serta melakukan sosialisasi terhadap Komisi Perempuan GKS. Sambil menantikan kegiatan-kegiatan yang telah dijadwalkan, WCC membukakan pintunya untuk setiap klien yang hendak melaporkan seputar tindak kekerasan yang terjadi baik di keluarga atau bahkan di masyarakat.

Kegiatan awal yang telah ditempuh pihak WCC membuahkan hasil. WCC mendapat dukungan baik tenaga maupun dana dari beberapa pihak terkait. Salah satunya ialah beberapa lembaga swadaya masyarakat sekitar pulau Sumba yang bergerak di bidang perlindungan perempuan dan anak. Selain itu, lembaga ini juga mendapat dukungan dalam bentuk pendanaan dari beberapa negara, antara lain Belanda dan Jerman. Dukungan dan bantuan tersebut telah diraih dari hasil kerja sama antarkedua belah pihak tersebut.

Tidak hanya bersosialisasi mengenai isu gender (kekerasan terhadap perempuan), namun lembaga ini juga hadir sebagai pendamping dan pembina pemuda-pemudi Sumba dalam menjalani suka duka masa mudanya. Sebagai contoh, WCC seringkali diundang dalam beberapa kegiatan yang diadakan pemuda-pemudi gereja atau non-gereja seperti retreat, diskusi ringan, seminar, atau pembinaan semacamnya. Sehingga tercapai misi dari lembaga ini, yaitu untuk dapat membangun, memberi kepercayaan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap isu-isu yang dihadapi seiring perkembangan zaman.

“Pandulangu Angu” yang berarti menolong sesama, merupakan seruan yang ingin disampaikan kepada masyarakat Sumba dalam memahami kehidupan bermasyarakat. Menolong sesama atau mengasihi sesama yang dipahami sejalan dengan ajaran Kristen menjadi jati disi tersendiri bagi lembaga ini dalam menjalankan misi pengajaran iman Kristen.

wcc1 wcc2 wcc3 wcc4 wcc5

More Information»
Gereja Anguwuloa Masehi Indonesia Nias (AMIN) Jemaat Tetehösi
January 192016

Gereja ini bertempat tidak jauh dari jalan utama di pulau Nias. Letaknya memang agak masuk ke dalam sebuah desa, yaitu desa Tetehösi. Namun, gereja ini tidak sulit untuk ditemukan karena letaknya cukup strategis mengingat pertigaan yang menjadi jalan masuk ke arah gereja biasa digunakan sebagai pasar pekan. Gereja ini memiliki susunan yang unik karena letaknya ada di atas perbukitan. Oleh karena itu, ada banyak anak tangga yang harus dilalui sebelum kita sampa ke gedung gereja. Jemaat Tetehösi ternyata adalah jemaat awal dari Gereja AMIN. Selain sejarah yang membuktikan itu, letaknya yang berdekatan dengan kantor pusat sinode juga menjadi sebuah tanda. Gereja ini sudah mengalami beberapa kali pembangunan. Awalnya, gereja ini hanya sebesar rumah tinggal biasa. Namun, dibangun menjadi lebih besar karena banyak orang yang datang beribadah. Saat dibangun, seorang tetua negeri, yaitu negeri idanoi, memimpikan sebuah bentuk rumah ibadah. Oleh karena itu, dibangunlah gereja ini menyerupai salib layaknya gereja katolik.

Awalnya, gereja ini memiliki 3 (tiga) menara. 2 menara sejajar dengan mimbar yang merupakan tempat diletakannya lonceng, dan yang satu berada di depan. Sayangnya, ketiga menara itu sudah roboh, 2 menara sengaja dirobohkan sedangkan yang satu menara roboh karena gempa bumi tsunami. Di dalam gedung gereja terdapat sebuah sayap besar dan 2 mimbar besar yang masih asli sejak tahun 1950. Jemaat tempat ini percaya, mimbar dan sayap ini memiliki kekuatan mistis yang akan menolak setiap pengkhotbah yang memiliki tujuan lain di atas mimbar. Setiap tiang yang berdiri mengitari bangunan gereja juga diberikan perhiasan yang diletakan di sebuah tempat dekat tiang tersebut. Persiahan itua dalah emas dan perak. Jemaat ini berusaha untuk mengikuti pembangunan bait Allah namun hanya menggunakan simbol saja. Tangga yang ada di depan gereja pun memiliki arti lain, yaitu kemerdekaan Indonesia. Sayangnya, jumlah tangga sudah mengalami perubahan. Awalnya, gereja ini berisikan orang-orang dari negeri idanoi yang merupakan negeri gabungan dari 8 desa. Inilah yang menyababkan gereja ini bernama gereja Anguwuloa Masehi Idanoi Nias. Seturut berkembangnya zaman, kata idanoi diubah menjadi indonesia. Munculnya gereja inipun dikarenakan kepala negeri Idanoi merasa perlu untuk mendirikan gereja bagi rakyatnya dan akhirnya dibangunlah gereja ini. Awalnya, masyarakat negeri idanoi beribadah di Helefanikha, sebuah desa yang di dalamnya terdapat gereja. Gereja di Helefanikha pun awalnya adalah anggota BNKP. Karena letaknya yang terlalu jauh, kepala negeri Idanoi merasa perlu untuk membangun gereja. Ketika gereja ini berdiri, jemaatnya sangat banyak, mengingat gereja ini diperuntukan bagi masyarakat negeri Idanoi yang terdiri dari 8 desa. Namun, karnea Amin sudah memiliki sinode, maka jemaat yang meresa letak gereja terlalu jauh akhirnya membangun gereja di desanya. Sekarang, jemaat Tetehösi hanya terdiri dari 6 desa. 2 desa lain yang letaknya cukup jah memilih untuk membangun gerejanya sendiri yang masuk ke dalam anggota sinode gereja AMIN.

Selain gereja yang bersejarah, gereja ini juga bagus menjadi tempat pariwisata. Gereja ini berletak dekat dengan pantai yang menawarkan pemandangan menarik. Jika di perkotaan kita diharuskan untuk membayar ketika pergi ke pantai maka di sini kita bisa masuk sesuka hati. Mengapa? karena di Nias pantai adalah taman bermain, halaman rumah, bahkan tempat berkebun bukan sekadar tempat berwisata. Udara di desa Tetehösi inipun masih bersih karena tidak ada polusi yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik layaknya di perkotaan. Secara umum, gereja ini patut dikunjungi sebagai gereja yang bersejarah mulai dari arsitektur sampai ke bentuk bangunannya. Suasana khas pedesaanpun menjadi tawaran lain bagi warga perkotaan yang sudah bosan dengan kesibukan. Pariwasata yang ditawarkanpun sangat menarik dan itu bisa kita dapatkan secara Cuma-Cuma. Gereja ini, AMIN jemaat Tetehösi, adalah tempat yang harus dikunjungi jika kita datang ke Pulau Nias.

amin1 amin2 amin3 amin4 amin5 amin6 amin7

More Information»

Gereja Batak Karo Protestan atau GBKP Pasar IV sudah berdiri 32 tahun, dan akan merayakan hut ke 33 pada tanggal 23 Agustus 2015. Gereja ini memiliki 1 pendeta yang tidak lama lagi akan pindah menjadi pejabat klasis, karena beliau terpilih menjadi ketua klasis. GBKP Pasar IV terdiri dari 7 Sektor yaitu, sektor selasa 1, sektor Mazmur, sektor selasa 2A, sektor selasa 2B, sektor Philadelpia, sektor Filipi, dan sektor Elshadai. Masing-masing sektor memiliki kurang lebih 40 kepala keluarga. Masing-masing sektor juga memiliki pertua dan diaken yang juga menjadi wakil umat ketika ingin menyampaikan pendapatnya. Setiap minggunya akan diadakan ibadah rumah tangga per sektor atau biasa disebut perpulungen jabu-jabu (pjj).

GBKP Pasar IV merupakan gereja yang bertumbuh, baik dari segi diakonia, marturia, dan koinonia. Gereja tersebut memiliki hanya satu kali jadwal ibadah umum yaitu pada hari minggu, pukul 7.30 sampai selesai. Ibadah umum di GBKP Pasar IV Selayang II ini cukup kreatif dalam segi musik gereja. Tim ibadah GBKP Pasar IV mulai menggunakan drum, gitar, bass, dan alat musik karo seperti kulcapi dan keteng-keteng. Lagu-lagu yang digunakan tidak saja berbahasa karo, tetapi ada juga yang berbahasa Indonesia.

Kebaktian Anak dan Kebaktian Remaja (KAKR) dilaksanakan setelah ibadah umum selesai, atau lebih tepatnya dimulai pada pukul 10 pagi. Ibadah KAKR ini dibagi menjadi 4 kelas yaitu, anak balita, anak kecil, anak tanggung, dan anak remaja. Kakak guru yang tersedia juga cukup banyak. Minggu sore, sekitar pukul 14.30 biasanya dilangsungkan PA Permata (Pemuda). biasanya PA Permata ini dilakukan di gereja atau di rumah-rumah pemuda, sesuai siapa yang menjadi tuan rumah pada minggu itu. Biasanya PA ini dibimbing oleh pertua atau diaken. PA lansia dilakukan setelah pulang ibadah umum, kira-kira pukul 11 pagi. Dalam sebulan biasanya ada PA gabungan Moria (Kaum Ibu), dan PA gabungan Mamre (Kaum Bapak).

Kegiatan yang cukup mendukung di GBKP Pasar IV Selayang II ini adalah adanya klinik gratis untuk jemaat yang dibuka setiap minggu. Pemeriksaan kesehatan dilakukan bergantian, missal minggu pertama akan ada pemeriksaan asam urat, minggu ke dua kolesterol, dan lain-lainnya. Ketersediaan dokter di gereja ini dapat dikatakan mencukupi untuk berlangsungnya klinik kesehatan tersebut. Setiap hari kamis, pukul 19.30 akan diadakan sermon pertua dan diaken. Pada sermon ini biasanya akan dibahas bahan PJJ minggu depan, dan membahas kegiatan gereja selama sepekan.

gbkp3 gbkp4 gbkp5 gbkp6 gbkp7 gbkp8 gbkp9 gbkp10 gbkp1 gbkp2

More Information»

Bandungwangi merupakan satu-satunya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bersifat nirlaba di Indonesia dari dan untuk kepentingan Pekerja Seks Perempuan (PSP). Bandungwangi berdiri pada tahun 1995 sebagai sebuah kelompok informal PSP yang memiliki kepedulian terhadap permasalahan kesehatan reproduksi di kalangan PSP, termasuk HIV/AIDS. Kemudian, pada tahun 1999 kelompok ini diresmikan menjadi sebuah Yayasan. Sampai saat ini, Bandungwangi selalu berusaha untuk menguatkan kualitas pelayanan mereka. Seluruh pelaksana harian Bandungwangi adalah perempuan yang memiliki pengalaman kerja sebagai (PSP). Hal tersebut menjadi kekuatan utama Bandungwangi dalam memastikan pemahaman dan kepedulian yang tinggi serta tulus dalam membantu dan mendampingi para PSP. Pengecualian hanya berlaku bagi penjaga kantor/keamanan. Wilayah kerja Bandungwangi adalah Propinsi DKI Jakarta, yaitu Jakarta Timur dan Jakarta Utara.

VISI

Perempuan Indonesia yang Sehat, Sejahtera, dan Tanpa Diskriminasi.

  • Sehat: Perubahan perilaku hidup sehat, memahami reproduksi dan hak seksualitas
  • Sejahtera: Memiliki pekerjaan lain, mampu keluar dari dunia prostitusi, dan bebas dari eksploitasi seksual
  • Tanpa diskriminasi: tidak ada perbedaan, terhapusnya stigma dan diskriminasi, perlindungan dan penegakan hukum.

MISI

  • Membantu pemerintah dalam memberdayakan perempuan dan anak perempuan yang bekerja dalam dunia prostitusi melalui penjangkauan, pendampingan, penyuluhan, pelatihan, pemeriksaan, dan pengembangan ekonomi secara aktif
  • Bekerjasama dengan pemerintah dan organisasi lain untuk mengatasi permasalahan perempuan dan anak perempuan dalam kesehatan reproduksi, hak seksualitas dan kesetaraan gender

Program

  • Penguatan kapasitas pekerja sekerja seks perempuan dalam Hak dan kesehatan reproduksi & seksualitas termasuk HIV/AIDS
  • Fasilitasi pengembangan dan pengelolaan jaringan dan dukungan pengelolaan jaringan dan dukungan sebaya di antara PSP
  • Pemberdayaan PSP agar mampu bertahan di dunia prostitusi atau mendapatkan pekerjaan lain yang dirasa lebih sesuai
  • Memastikan anak perempuan (dibawah 18 tahun) keluar dari dunia prostitusi sesegera mungkin dan memiliki bekal kecakapanm ketrampilan & rencana hidup yang berkualitas.

Dalam mencapai setiap tujuan dan program, Bandungwangi menyadari bahwa mereka tidak mungkin bekerja sendiri. Oleh karena itu, Bandungwangi berusaha untuk terus mengembangkan dan menjaga hubungan baik dengan para ahli dan organisasi terkait, terutama yang bergerak dalam bidang hak dan kesehatan reproduksi & seksualitas (HKR&S), kesetaraan gender, hak-hak asasi manusia, dan pemberdayaan diri. Kemudian, sejak berdiri di tahun 1999, Bandungwangi telah menerima dana dari EPOCH/USAID, ASA/USAID, Japan Embassy, Plan International, Individu-individu peduli, The Body Shop International, Ministry of Women Empowerment, ILO, UNFPA, dan Aids Fonds.

Beberapa keberhasilan utama sejak Bandungwangi berdiri, yaitu (1) Berhasil memberikan pendidikan seputar HKR&S terutama HIV/AIDS kepada sekitar 12.500-13.000 PSP. Sekitar 2.000 PSP diantaranya adalah PSP muda yang berusia dibawah 18 tahun; (2) Berhasil memberikan pendampingan kepada sekitar 10.000-12.000 PSP dalam menguatkan kecakapan dan pengelolaan hidup bagi mereka termasuk pelatihan keterampilan untuk dijadikan sumber pendapatan. Sekitar 1.000 PSP adalah PSP muda berusia dibawah 18 tahun; (3) Sekitar 1,200-1,300 perempuan yang terpaksa menjadi PSP karena fasilitasi langsung dan tidak langsung Bandungwangi telah menemukan pekerjaan lain yang mereka rasa lebih sesuai dan dapat memberikan kedamaian pikiran; (4) Memberikan pendidikan dan penyebaran informasi kepada lebih dari 5 juta orang mengenai PSP dan hak asasi manusia melalui media massa dan rapat-rapat advokasi dengan para penentu kebijakan dan program.

psp3 psp4 psp5 psp6 psp1 psp2

More Information»
Yayasan GAYa Nusantara

Yayasan GAYa Nusantara

Surabaya, Jawa Timur

January 182016

GAYa Nusantara adalah pelopor organisasi gay di Indonesia yang terbuka dan bangga akan jati dirinya, serta tidak mempermasalahkan keragaman seks, gender, dan seksualitas dan berbagai latar belakang lainnya. Organisasi non profit ini didirikan pada 1 Agustus 1987 oleh Dede Oetomo sebagai perkumpulan untuk memperjuangkan kepedulian akan hak-hak LGBTIQ. Lembaga ini sesuai dengan perjalanan waktu berubah bentuk menjadi sebuah yayasan. Pada 27 Juni 2012, Yayasan GAYa Nusantara mendapat pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI.

Yayasan GAYa Nusantara memiliki motto: “encourage people to be proud of their sexuality.” GAYa Nusantara memiliki keyakinan bahwa identitas gender dan orientasi seksual di masyarakat sangat beragam. Heteroseksual bukanlah satu-satunya orientasi seksual yang normal. Identitas gender  bukan hanya perempuan dan laki-laki. LGBTIQ memiliki hak asasi yang sama dengan individu yang lain.  Visi dari Yayasan GAYa Nusantara adalah: terciptanya suatu Indonesia yang menghargai, menjamin, dan memenuhi hak asasi manusia di mana orang dapat hidup dalam kesetaraan, kemerdekaan, dan keanekaragaman hal-hal yang berkaitan dengan tubuh, identitas, dan ekspresi gender dan orientasi seksual.  Sedangkan misi dari Yayasan GAYa Nusantara adalah: (1) melakukan penelitian, publikasi, dan pendidikan dalam bidang HAM, gender dan seksualitas, kesehatan, dan kesejahteraan seksual. (2) Menyediakan pelayanan dan menghimpun informasi seputar HAM, seks, gender dan seksualitas, kesehatan, dan kesejahteraan seksual. (3) Memelopori dan mendorong gerakan LGBTIQ.

Yayasan GAYa Nusantara memiliki nilai-nilai dasar:

  1. Humanisme: menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan (HAM).
  2. Kesetaraan: tidak ada perbedaan atas dasar apapun (seks, gender, orientasi, ras, suku, agama, dll).
  3. Demokrasi: pengambilan keputusan yang terbuka, partisipatif dengan kemampuan menerima perbedaan dan kesetaraan.
  4. Propilihan: menghargai semua pilihan yang dibuat oleh setiap orang.
  5. Nonkekerasan: lebih mengutamakan dialog untuk mencapai kesepakatan dan berbudaya sekuat mungkin untuk menghindari kekerasan secara fisik, psikis, sosial, dan budaya, sebagai bagian dari upaya penegakan HAM dan memerangi ketidakadilan.
  6. Solidaritas: menghargai dan menghormati setiap orang.
  7. Kemandirian: kebebasan untuk menentukan arah dan tujuan organisasi, tanpa dipengaruhi oleh kepentingan-kepentingan pihak lain.
  8. Keterbukaan: konsisten dan jujur dalam memberikan fakta dan informasi yang sesungguhnya sejauh untuk kepentingan dan tujuan organisasi serta visi dan misi.
  9. Kerelawanan: bekerja tanpa pamrih yang mengutamakan kepentingan dan tujuan organisasi sesuai visi dan misi.

Kegiatan yang dilaksanakan di Yayasan GAYa Nusantara dibagi ke dalam tiga divisi:

-Divisi Penelitian dan Pendidikan: melakukan penelitian bertema seksualitas, kursus gender dan seksualitas, maupun workshop untuk pengembangan kapasitas.

-Divisi Penyadaran Publik dan Advokasi: menyediakan media publikasi antara lain terbitan, website, film pendek. Melakukan advokasi seperti media wacth, dokumentasi kasus. Melakukan kegiatan publik seperti pemutaran film, bedah buku, dialog publik, program radio dan televisi, pameran seni, pertunjukan seni. Melakukan pengembangan dan pemeliharaan, serta pemetaan dan kunjungan ke organisasi/komunitas gay, lesbian, dan waria di daerah.

-Divisi Pelayanan Kesejahteraan dan Kesehatan Seksual: secara fisik melakukan komunikasi perubahan perilaku (program HIV/AIDS), kampanye safe sex.  Secara psiko-sosial melakukan konseling (email, telepon, surat, dan tatap muka).

Beberapa keberhasilan yang telah dicapai oleh Yayasan GAYa Nusantara antara lain:

-Membangun kerjasama mutualis dengan enam rumah sakit dan delapan PKM (Pusat Kesehatan Masyarakat/Puskesmas) dalam menyediakan layanan pengobatan IMS (infeksi menular seksual) dan VCT (voluntary conseling test) di Surabaya, yaitu: RS. Dr. Soetomo, RS. Soewandhie, RSJ. Menur, RSAL, RS. Bhayangkara, RSP. Karangtembok, PKM. Perak Timur, PKM. Kedungdoro, PKM. Putat Jaya, PKM. Sememi, PKM. Kedurus, PKM. Jagir, PKM. Dupak, PKM. Pucang.

-Menjadi inisiator layanan mobile clinic berbasis komunitas dan juga menjadi pusat kajian gender dan seksualitas.

-Memperkuat jaringan antara MK (Manejer kasus) dan konselor dari Yayasan GAYa Nusantara  dengan MK dan konselor dari PKM untuk menyediakan layanan VCT dan PDP (perataan dukungan dan pengobatan,) di kota Surabaya.

-Membentuk dan menguatkan empat KDS (kelompok dampingan sosial) positif: Recoffen 1, Recoffen 2, HCS, DAN No Name.

-Mengorganisir komunitas Gay dan LSL (Laki-laki yang bermain seks dengan laki-laki) melalui gerakan dua puluh kelompok sesuai minat di Surabaya (Adhinata Family, Astinapura, Grande, Walper, M2M, Geng Party, DDS, Miscas, Borju, Lembayung Sutra, IPM, Nelangseng, JAE, PBC, PKI, CS, Orgy, Rumpik, dan Risky Grup).

-Mendorong lahirnya Perda HIV dan peningkatan anggaran HIV & AIDS pada APBD Kota Surabaya pada tahun 2013.

-Menjadi bagian dari jaringan GWL-Ina (Gay, Waria, LSL-Indonesia) dalam pergerakan advokasi dan juga untuk mengurangi stigma dan diskriminasi pada komunitas LGBT.

gn1 gn2 gn3 gn4 gn5

More Information»
Yayasan Komunitas Sahabat Anak

Yayasan Komunitas Sahabat Anak

Jakarta Pusat, DKI Jakarta

January 182016

Yayasan Komunitas Sahabat Anak (Sahabat Anak / SA) dirintis oleh sekelompok volunteer yang memulai kegiatan pelayanan kepada anak-anak marginal pada tahun 1997. Pada awalnya SA bergerak dalam usaha memenuhi kebutuhan dari anak-anak binaan, tapi dalam perkembangannya SA melakukan transisi paradigma dari pemenuhan kebutuhan anak ke pemenuhan hak-hak anak. Setiap orang yang terlibat dalam program dan kegiatan SA menunjukkan komitmen yang kuat terhadap  bilai dasar yayasan, yakni, bahwa setiap anak adalah manusia, ciptaan Allah, yang berharga dan mulia.

SA menyadari bahwa anak-anak yang terlibat dan aktif berperan di SA merupakan anak-anak yang rentan menjadi korban tindak kekerasan, penelantaran dan eksploitasi. SA berkomitmen menjunjung tinggi prinsip perlindungan anak dan berusaha mendukung hak bagi setiap anak, khususnya anak jalanan. Sesuai dengan Konvensi Hak Anak Internasional (KHAI), setiap anak memilki hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang, mendapatkan perlindungan dari bahaya, dan juga berpartisipasi. SA bekerja dengan  berpegang kepada pemenuhan keempat dsar anak tersebut.

Seblum berbentuk yayasan, Sahabat Anak adalah sebuah komunitas saja, namun akibat perkembangan yang terus maju dan para pengurus merasakan perlunya sebuah payung hokum dalam melaksanakan setip kegiatan maka pada tahun 2010 mereka berubah menjadi sebuah yayasan. Sahabat Anak berbadan hukum yayasan sesuai dengan Akte Notaris 08 tanggal 4 Juni 2010 yang dikeluarkan oleh Notaris Arfiana Purbohadi, SH. Teregistrasi di Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan nomor: AHU-1743.AH.01.04 tahun 2011 dan terdaftar di Dinas Sosial DKI Jakarta.

Hingga saat ini, Sahabat Anak mempunyai beberapa tempat sebagai usaha mengembangakan pelayanannya. Sebagai pusatnya, di Jalan Tambak memilki satu gedung sebagai tempat adik-adik meuntut ilmu. Selain itu, ada pula Sahabat Anak  di lokasi lain, seperti di SA Kota Tua, SA Grogol, SA Bogor, SA Cijantung, SA Tanah Abang. Dengan banyaknya lokasi yang tersebar di sejumlah daerah Jabodetabek, SA beraharap dapat memaksimalkan pelayanan anak yang mereka lakukan.

Visi dan Misi Sahabat Anak

Visi Sahabat Anak:

Menyadarkan anak jalanan bahwa mereka sebagai manusia ciptaan Allah yang berharga dan mulia.

Misi Sahabat Anak:

Melibatkan sebanyak mungkin pribadi/pihak  untuk peduli kepada anak jalanan dengan menjadi seorang sahabat yang menaruh kasih setiap waktu.

Prinsip Pelayanan Sahabat Anak

  1. Yayasan Komunitas SA mengakui bahwa setiap manusia adalah makhluk mulia dan berharga yang diciptakan oleh Allah, serta memiliki posisi yang sama di hadapan Allah.
  2. Yayasan Komunitas SA terbuka untuk siapa saja yang mengakui prinsip di atas.
  3. Yayasan Komunitas Sahabat Anak adalah pelayanan social.

Spiritualitas Pelayanan

Pelayanan yang memilki sikap rendah hati, komitmen tinggi, konsisten dan setia mengangkat harkat (harga diri dan bakat) kaum marginal, khususnya anak jalanan, dan mengakui bahwa manusia adalah satu-satunya ciptaan Allah yang paling berharga dan mulia.

Deklarasi Sahabat Anak

Gerakan Sahabat Anak mengakui bahwa setiap anak mulia dan berharga, yang memilki kesetaraan dengan semua manusia.

Gerakan Sahabat Anak menghargai, menghormati, dan memperjuangkan terwujudnya gak-hak asasidasar anak untuk bertahan hidup, bertumbuh kembang, memperoleh perlindungan, dan berpartisipasi.

Sebagai Sahabat, kami akan memberikan tenaga, pikiran, dan waktu agar setiap anak dapat terpenuhi hak-hak dasarnya tanpa memandang perbedaan suku, agam, warba, kulit, dan kelas sosial.

20150604_164450 20150609_122629 20150609_133717 20150708_180532 C360_2015-05-27-13-58-50-672 C360_2015-07-10-17-34-30-036

More Information»
Yayasan Kristen Trukajaya

Yayasan Kristen Trukajaya

Salatiga, Jawa Tengah

January 182016

Yayasan Kristen Trukajaya berdiri sejak tahun 1966, tepatnya tanggal 16 Mei. Yayasan ini berada di bawah naungan Sinode GKJ. Berdirinya Trukajaya diprakarsai oleh D.S. Basuki Prabawinata. Pendirian yayasan ini merupakan jawaban atas panggilan religius ketika melihat kondisi petani dan rakyat pedesaan saat peristiwa G 30 S-PKI  dan konflik antar golongan. Kondisi ini menjadi dasar berdirinya Trukajaya.

Nama yayasan ini pada saat didirikan adalah Yayasan Kristen Transmigrasi Truka Jaya. Kata “transmigrasi” terdapat dalam nama yayasan karena awalnya Trukajaya bergerak dalam bidang transmigrasi. Trukajaya merupakan pelopor program transmigrasi di Indonesia. Kemiskinan dan kondisi masyarakat desa di Jawa yang memprihatinkan menjadi dasar ide transmigrasi. Masyarakat miskin yang tidak mempunyai lahan untuk diolah dan digunakan sebagai tempat tinggal dipindahkan ke daerah yang masih kosong dan berpotensi untuk diolah.

Langkah awal yang dilakukan adalah dengan membeli lahan hutan di Sumatera Selatan. Lahan ini dibeli agar transmigran dapat memiliki penghasilan dan tempat tinggal. Kekayaan alam yang melimpah dapat diolah untuk menghasilkan pendapatan. Setelah pembelian lahan selesai, Trukajaya mulai bergerak menyiapkan penampungan untuk transmigran. Selain penampungan, logistik juga dipersiapkan sebagai penopang hidup selama transmigran belum mendapat penghasilan.

Tidak hanya persiapan lahan dan logistik, Trukajaya juga menyiapkan calon transmigran dengan memberi pelatihan pengorganisasian hidup bersama. Pelatihan ini dilakukan agar masarakat yang akan menempati tempat baru dapat hidup berdampingan dan bersosialisasi dengan baik. Trukajaya juga memberi pelatihan tentang pengolahan sumber daya alam agar transmigran mempunyai penghasilan melalui kekayaan alam.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari banyak pihak. Trukajaya mendapat dukungan dan pujian karena kegiatan ini memberi penghargaan baru bagi masyarakat miskin dan program transmigrasi ini merupakan yang pertama dilakukan di Indonesia. Dalam kurun waktu tahun 1978 sampai 1982 Trukajaya sudah memberangkatkan tujuh angkatan transmigrasi. Namun demikian, niat baik belum tentu mendapat tanggapan baik. Masyarakat yang mengikuti program ini banyak yang pindah keyakinan menjadi Kristen dan hal tersebut menimbulkan isu kristenisasi. Setelah melalui sekian banyak rintangan, program transmigrasi tidak boleh lagi dilakukan dan Trukajaya menghentikan kegiatan transmigrasi.

Setelah yayasan tidak boleh mengirimkan transmigran, pengurus mengubah nama, visi, dan misi lembaga. Orientasi pemerintahan orde baru yang cenderung mengembangkan ekonomi membuat Trukajaya memiliki tujuan baru. Tujuan baru ini ialah mengembangkan dan menolong rakyat yang terpinggirkan. Tujuan ini yang sampai sekarang masih menjadi dasar berjalannya Yayasan Kristen Trukajaya.

Saat ini Trukajaya berusaha mengembangkan pemikiran dan praktik diakonia dan teologi sosial antara gereja dan masyarakat. Persoalan pangan dan kemiskinan menjadi konsentrasi utama yayasan untuk mengembangkan masyarakat. Trukajaya bekerja sama dengan berberapa pihak mulai dari pemerintahan hingga swasta agar tercipta kedaulatan pangan dan perkembangan masyarakat. Program yang sudah dijalankkan adalah pertanian, peternakan, dan energi alternatif. Sampai saat ini Trukajaya masih terus berusaha mengembangkan program dan memperluas jangkauan pelayanan agar kasih Tuhan dapat dirasakan masyarakat berbagai kalangan tanpa memandang agama, gender, ras, dll.

Trukajaya memiliki beberapa divisi dan bagian yang terdapat di dalamnya yang bekerja sesuai dengan bidangnya. Dua divisi utama adalah divisi Program dan Training, serta divisi Usaha Produktif. Dalam usaha produktif terdapat bidang Warung Hijau, Micro Finance, dan Training Center PUSPAPARI. Seluruh divisi dan staf bekerja sesuai bidangnya dan terus berusaha mengembangkan kualitas pelayanan. Usaha untuk berkembang bukan hanya bertujuan mengembangkan yayasan, tetapi yang terpenting adalah mengembangkan masyarakat agar tercipta kesejahteraan bagi masyarakat yang selama ini luput dari perhatian banyak pihak termasuk kita.

20150527_102419 20150610_085047 IMG_3753 IMG_4094 IMG_4267 IMG_4527

More Information»
GPIB Bukit Karmel

GPIB Bukit Karmel

Singkep, Kepulauan Riau

January 182016

Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Bukit Karmel berada tepat di Kota Dabo, Pulau Singkep, Kepulauan Riau. Tidak ada data jelas yang menunjukkan kapan gereja (persekutuan) ini terbangun. Ada yang mengatakan pada tahun 1985, ada yang mengatakan lebih dari tahun tersebut. Pendeta yang berdomisili di sini saat ini pun sempat mencari data hingga ke Batam, karena GPIB Bukit Karmel dulunya merupakan bakal gereja dari GPIB di Batam. Dengan demikian, tidak jelas juga sudah berapa tahun gereja (persekutuan) ini berdiri, dan kapan ulang tahun (tanggal dan bulan) GPIB Bukit Karmel. Yang jelas ialah bahwa berdirinya gereja dalam bentuk bangunan disahkan oleh Majelis Sinode GPIB pada 24 Mei, tahun 1992 oleh Pdt. O. E. Ch. Wuwungan, D.Th, dan kelak akan dijadikan sebagai hari ulang tahun dan beridirinya GPIB Bukit Karmel.

GPIB Bukit Karmel memiliki lahan gereja yang cukup luas, yaitu sekitar 3000 m2, dan luas bangunan gereja sekitar 400 m2. Tepat di belakang gereja (masih dalam satu wilayah yang ditembok, sekeliling lahan gereja), terdapat rumah pastori, dengan dua kamar tidur, sebagai rumah bagi pendeta yang bertugas di gereja ini. Pada 10 November tahun 1996 dibangunlah sebuah pastori dan gedung serbaguna yang tepat didirkan bersebelahan dan menempel satu dengan yang lainnya, yang ditahbiskan oleh Pdt. Junus Beeh S.Th. Lalu pada 26 September tahun 2011 Pdt. Daniel Lumentut S.Th, Ketua Musyawarah Pelayanan (Mupel) Kepulauan Riau meresmikan bangunan yakni satu guest house, untuk pendeta tamu atau juga tamu yang berkunjung ke GPIB Bukit Karmel, juga kantor sekretariat gereja tepat di sebelah guest house, meskipun sampai saat ini belum ada pegawai yang bekerja untuk kantor gereja (semua masih ditangani oleh pendeta). Guest house yang dimiliki oleh GPIB Bukit Karmel sudahlah cukup layak, karena di dalamnya sudah tersedia kamar mandi, televisi, dan sebuah kipas angin (ke depannya akan ditambahkan Air Conditioner atau pendingin ruangan)

Terdapat beberapa ibadah yang rutin di lakukan di GPIB Bukit Karmel. Pada hari Selasa pukul 19.00, setiap 2 minggu sekali, dilaksanakan Ibadah Persekutuan Kaum Bapak (PKB); hari Rabu pukul 18.30, diadakan Ibadah Rumah Tangga (IRT); hari Jumat pukul 17.00, diadakan Ibadah Persekutuan Kaum Perempuan (PKP); hari Sabtu pukul 19.00, diadakan Ibadah Gerakan Pemuda (GP); dan pada hari Minggu diadakan Ibadah Minggu pada pukul 10.00. Ibadah Pelayanan Anak (PA) dan Persekutuan Teruna (PT) diadakan hari Minggu pukul 08.00. Biasanya jemaat yang datang dalam Ibadah Minggu sekitar 100 orang

Kegiatan rutin lainnya ialah pada tiap bulan, minggu pertama, diadakan Ibadah Diakonia dan pembagian beras bagi beberapa jemaat. Dalam beberapa waktu sekali pun diadakan ibadah gabungan bersama gereja-gereja BKSG (Badan Kerjasama Gereja-gereja) yang ada di Pulau Singkep ini, dari Gereja Karismatik, hingga Gereja Katolik. terdapat juga komisi-komisi seperti Komisi Musik Gereja dan Komisi Pelayanan dan Kesaksian.

Pada umumnya, jemaat-jemaat GPIB Bukit Karmel bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di berbagai bidang, yakni guru, kepala sekolah, polisi, hingga kejaksaan. Jemaat lainnya membuka kios dan berwiraswasta. Terdapat 64 KK (Kepala Keluarga) yang terdaftar di GPIB Bukit Karmel.

Saat ini yang menjadi Ketua Majelis Jemaat GPIB Bukit Karmel ialah Pdt. Jepry Yuwanto Daminto, S.Si. Teol yang menjabat dari tahun 2013, dan majelis

Pengurus saat ini: Diaken O. Sitorus, Diaken Pasaribu, Diaken Sihombing, Penatua Laia, Penatua Silaban, dan Penatua Ginting.

karmel1 karmel2 karmel3 karmel4 karmel5

More Information»
LAYAK (Layanan Anak dan Keluarga)
January 182016

Layak adalah sebuah lambaga yang menangani isu-isu dalam masyarakat. Permasalahan mengenai Hiv dan Aids menjadi permasalahan yang sedang menjadi topik hangat dalam lembaga ini. Pada awalnya lembaga ini berdiri dari keperihatinan beberapa mahasiswa yang berfokus kepada isu-isu sosial. Mereka membentuk lembaga ini untuk menanggapi permasalahan-permasalahan yang ada dalam masyarakat, awalnya mereka perihatin melihat keadaan masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan dan penyakit sosial yang semakin berkembang pesat. Berjalanya waktu lembaga ini bekerja sama dengan PKBI untuk menjangkau isu-isu mengenai Hiv dan Aids.

Lembaga ini terbagi dalam beberapa divisi yang memiliki tugas yang berbeda-beda pula. Divisi-divisi tersebut adalah PO,PS dan CO. Setiap divisi memiliki pekerjaan yang berbeda-beda, tetapi mereka memiliki tugas yang saling berkaitan dalam lapangan pekerjaan. Berikut penjelasan tugas dari setiap devisi ini :

PO ( petugas outreach)

PO memiliki tugas untuk menjangkau teman-teman yang beresiko tinggi terkena virus Hiv. Biasanya mereka menjangkau lokasi-lokasi para pemakai narkoba yang menggunakan jarum suntik. Tugas mereka adalah mengingatkan para teman-teman beresiko untuk melakukan VCT agar mengetahui apakah dirinya sudah terkena virus. Tugas utama dari PO adalah untuk menyadarkan teman-teman bersiko akan kesehatan mereka. Setelah mereka sadar dan menerima hasil positif PS mengambil alih tugas dari PO dan melanjutkan pengobatan yang akan mereka peroleh.

PS ( peer support)

PS memiliki tugas untuk menangai teman-teman ODHA (orang dengan HIv dan Aids) di rumah sakit. Mereka bertugas untuk membantu teman-teman dalam mengakses pengobatan di rumah sakit. Biasanya mereka bertugas untuk mengurus BPJS (badan penyelengara jaminan social) dan menemani mereka dalam proses mengobatan mereka. Selain itu mereka juga bertugas untuk memberikan informasi mengenai jenis-jenis pengobatan yang harus mereka akses untuk membuat kesehatan mereka tetap stabil sehingga mereka tidak sampai pada tahap Aids dan lebih parahnya lagi adalah tahap terminal. Namun, tugas mereka bukan untuk memanjakan seorang ODHA, tetapi mereka bertugas untuk membuat seorang ODHA bisa mandiri dalam mengakses pengobatan mereka sendiri.

CO ( community organizer)

CO memiliki tugas untuk memberikan informasi kepada masyarakat mengenai penanganan rakyat yang mengalami permasalahan kesehatan. CO biasanya bertugas untuk membentuk kader-kader muda yang nantinya bertugas mengontrol sebuah wilayah dalam penyelanggaran program kesehatan. Kader-kader muda nantinya akan dibekali informasi-informasi awal mengenai penanganan bagi teman-teman yang memiliki permasalahan dalam sosial, misalnya orang-orang yang menggunakan narkoba dan teman-teman yang sudah terinfeksi virus HIV. Secara garis besar CO bertugas untuk membentuk sebuah cara pandang baru masyarakat dalam menanggapi permasalahan kesehatan yang ada dalam lingkungan mereka. Mereka membuat diskriminasi menjadi hal yang tidak pantas untuk dilakukan kepada orang-orang yang memiliki permasalahan sosial seperti pemakai narkoba, teman-teman ODAH dan WPS (wanita pekerja seks).

Semua divisi ini akan saling berkolaborasi dalam menanggapi fakta-fakta yang ada dilapangan. Biasanya mereka mengadakan kordinasi lapangan setiap hari jumat untuk membahas mengenai permasalahan-permsalahan yang terjadi dilapangan. Kordinasi ini dipimpin oleh seorang kordinator lapangan, tugas kordinator ini bertugas untuk menampung semua informasi-informasi yang ada untuk diperbincangkan kepada semua karyawan yang ada di kantor. Seorang kordinator harus memiliki pengalaman yang lebih dan sudah melewati setiap tahap dari ketiga divisi-divisi ini. Semua informasi ini nantinya akan ditampung dalam sebuah folder yang nantinya dikirim ke pusat untuk ditimbak lanjuti.

layak1 layak2 Clipboard16 layak3

More Information»
Binawarga
January 182016

Binawarga adalah lembaga/badan pelayanan GKIsw Jabar yang berkonsentrasi melayani pelatihan dan pembinaan bagi warga gereja. Visinya sudah jelas, yakni memfasilitasi terjadinya transformasi warga gereja dan masyarakat melalui pembinaan, pelatihan dan pengembangan spiritualitas. Melakukan pembinaan dan pelatihan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran dalam proses transformasi kehidupan spiritual sudah menjadi panggilan bagi Binawarga. Sesuai dengan pesan Alkitab yang dicatat di Efesus 4:12-15, Pembinaan yang diberi Binawarga bagi gereja merupakan upaya dorongan bagi warga gereja untuk mencerminkan kehidupan Kristen dalam hidup sehari-hari.

Pembinaan dan pelatihan yang diberi Binawarga dilakukan dalam bentuk ceramah dan aktivitas seperti retreat. Dalam retreat Binawarga, umumnya selalu diisi oleh kegiatan yang disebut dengan indoor activity dan outdoor activity. Indoor activity diisi dengan ceramah/khotbah, sedangkan outdoor activity diisi dengan aktivitas bermain seperti outbound. Permainan-permainan dalam outbound yang diberikan Binawarga bukan tanpa nilai. Tetapi permainan tersebut nantinya akan direfleksikan dengan nilai-nilai hidup sehari-hari. Selain itu, Binawarga juga rutin membuat bahan pembinaan untuk warga gereja, sekolah, perguruan tinggi, dan perusahaan yang dikembangkan oleh Pak Himawan (mentor saya).

Di samping bidang pembinaan dan pelatihan, Binawarga juga memiliki satu bidang lagi, yakni bidang penerbitan. Visi Binawarga dalam bidang penerbitan adalah menerbitkan bacaan Kristiani yang berkualitas dan mendorong pembaca untuk bertumbuh dalam iman. Melalui penerbitan buku, Binawarga berupaya untuk menyediakan bahan-bahan pembinaan dan bacaan-bacaan kristiani yang sesuai dengan jenjang usia warga gereja mulai dari anak, praremaja, remaja, pemuda, dewasa, dan lansia. Binawarga juga menerbitkan bahan yang dapat memperlengkapi para pelayan gerejawi dalam melakukan tugas pelayanannya. Buku-buku terbitan Binawarga yang umumnya sudah dikenal banyak orang adalah Suluh Sekolah Minggu yang biasa dipakai oleh GSM untuk mengajar SM di Gereja Kristen Indonesia.

Sebagai informasi tambahan, Binawarga juga memiliki wisma yang menampung sekitar 125 orang di km 77 Cipayung, tempat pelatihan-pelatihan diadakan. Binawarga menyebut dirinya partner in growing, sebab Binawarga siap melayani siapa saja yang merindukan pertumbuhan dan membutuhkan pelatihan, buku-buku yang memperlengkapinya. Itu berarti Binawarga terbuka bagi berbagai kalangan dan denominasi yang ada. Binawarga ada untuk melayani dan menjadi berkat bagi banyak orang.

bw5 bw1 bw2 bw3 bw4

More Information»
Covenant Sanctuary Church

Covenant Sanctuary Church

Sabah, Malaysia

January 182016

Covenant Sanctuary Church adalah salah satu gereja lokal yang terdapat di Sandakan, Sabah-Malaysia. gereja ini didirkan oleh seorang pengusaha yang terkenal di Sabah, yaitu Mr. Vela Tan. Beliau mendirikan gereja ini pertama kali di daerah Talisai-Sabah. Mr. Vela merupakan seorang pengusaha di bidang kelapa sawit. Banyak para pekerjanya yang tidak dapat beribadah dan hal ini membuat Mr. Vela berpikiran bahwa sebagai seorang manusia para pekerja itu tidak bisa hanya untuk mencari kebutuhan jasmani saja berupa uang, tetapi juga harus ada usaha-usaha menumbuhkan spiritualitas mereka, melalui ibadah. Akhirnya dibangunlah gereja kecil di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit tersebut. Tujuan awal dari pembangunan gereja ini adalah agar para pekerja Mr. Vela yang beragama Kristen dapat beribadah dan tidak mengalami kekeringan spiritualitas.

Gereja Covenant Sanctuary Church ini sudah berdiri kurang lebih 20 tahun lamanya. Terdapat dua kelompok jemaat yang beribadah di gereja ini. Kelompok Bahasa Melayu dan juga Bahasa Inggris. Kelompok Bahasa Melayu mayoritas terdiri dari orang-orang asing seperti orang Toraja, Filipina, dan juga ada orang lokal yang termasuk di dalamnya. Sedangkan jemaat berbahasa Inggris, mayoritas terdiri dari orang-orang China dan India.

Kedua kelompok jemaat ini juga masing-masing memiliki gembala atau pendetanya. Untuk kelompok Bahasa Melayu, memiliki pendeta perempuan dan laki-laki. Yaitu Pastor Berlan dan Pastor Erna Ginting. Kedua pendeta ini awalnya adalah misionaris dari Indonesia yang dipanggil langsung oleh Mr. Vela Tan untuk melayani jemaat di Covenant Sanctuary Church bagi kelompok Bahasa Melayu. mereka sudah mulai melayani sejak tahun 2000. Berarti sudah 15 tahun lamanya mereka mendedikasikan diri mereka untuk pelayanan di Covenant Sanctuary Church. Sedangkan kelompok berbahasa Inggris biasanya yang melayani adalah Mr. Vela sendiri atau juga adik-adiknya.

Gereja Covenant Sanctuary ini memiliki enam pos pelayanan atau bagian jemaat dari gereja induk yang terdapat di Batu 9, Sandakan-Sabah. Yaitu di daerah Sugut, Lahad Datu, Talisai, Gum-gum, Sapi, Tanjung Selor (Kalimantan Utara), dan juga Filipina. Masing-masing gereja memiliki gembalanya sendiri.

csc3 csc4 csc5 csc1 csc2

More Information»

“This place is nothing more than barren wasteland.” Kalimat ini yang muncul di pikiran saya pertama kali ketika sampai di Timor Leste. Betapa tidak, cuaca yang panas menyengat dan debu yang tebal menyambut saya ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di bandara internasional Presidente Nicolau Lobato Dili. Ditambah dengan langit yang cerah tanpa ada awan, membuat keringat saya menjadi semakin bercucuran. Saya belum menyadari, bahwa ‘there is more than meets the eye’ di negara yang pernah menjadi bagian dari Indonesia dan memisahkan diri pada tahun 1999.

Saya ditempatkan di sebuah Distrik (kabupaten dalam pengertian Indonesia) Aileu, sebuah daerah yang berada di tengah pegunungan yang berjarak sekitar 47 kilometer dari ibukota Dili. Walaupun dipisahkan oleh jarak yang tidak begitu jauh, keadaan 2 kota ini begitu berbeda. Dili, sebagai ibukota tentu saja memiliki keadaan yang jauh lebih maju dari Aileu, dan karena dekat dengan laut, tentu saja udaranya panas. Aileu sendiri merupakan daerah yang subur karena berada di daerah pegunungan. Selain itu Aileu juga memiliki udara yang dingin. Udara yang dingin ini berbeda sekali dengan pandangan saya di Timor Leste. Saya mengira pada awalnya semua Timor Leste ini memiliki udara yang panas dan kekeringan melanda di mana-mana. Akan tetapi saya berada di daerah subur, di mana air, pertanian, perkebunan sayur dan kopi merupakan pemandangan yang wajar dan normal.

Timor Leste adalah negara yang hampir 90% penduduknya menganut agama Katolik, sehingga gereja sangat mudah di jumpai di Timor Leste, dan tidak terkecuali di Aileu. Gereja tempat saya CP adalah Igreja Protestante iha Timor Lorosae/IPTL (Gereja Protestan ada di Timor Leste) atau ketika zaman Indonesia bernama Gereja Kristen Timor Timur Jemaat Betania Aileu. Saya tinggal bersama dengan keluarga pendeta yang melayani di gereja.

Gereja tempat saya menjalani CP ini bukanlah gereja yang besar. Bisa dibilang bahkan sebagai gereja yang sangat sederhana. Pada hari minggu, jemaat yang datang ke gereja tidak lebih dari 20 orang. Bahkan seringkali dibawah 15 orang. Orang-orang Kristen merupakan minoritas apabila dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang beragama Katolik. Akan tetapi walaupun sedikit, hal tersebut tidak mengurangi semangat jemaat untuk datang ke gereja. Jemaat rela datang dan berjalan kali berkilo-kilometer setiap minggunya demi datang ke gereja. Mereka beribadah dengan sungguh-sungguh, dan selalu bersukacita di dalam Tuhan. Hal ini sudah sangat jarang ditemukan di gereja-gereja perkotaan, di mana jemaat datang ke gereja hanya karena merupakan rutinitas dan hatinya berada di tempat lain.

Selama saya di sini, saya sudah berkeliling ke banyak gereja IPTL, baik itu berada di daerah Aileu sampai ke daerah lain seperti di distrik Same dan Suai. Setiap saya datang ke daerah yang baru, saya melihat adanya suatu sukacita dan kebahagiaan di dalamnya. Mereka tidak terlalu membutuhkan teknologi dan kemudahan lainnya yang ditawarkan oleh kota-kota besar, akan tetapi rasa kekeluargaan dan persaudaraan. Saya disambut dan dianggap saudara oleh masyarakat. Mereka mau dan rela memberi dalam segala kekurangannya. Walaupun mereka terlihat kekurangan dan kesulitan dalam hidupnya, jemaat IPTL adalah orang-orang yang bersukacita di dalam Tuhan.

Mereka mempunyai banyak hal yang  mungkin banyak orang lain yang tinggal di daerah yang dianggap lebih baik punya. Ada banyak hal yang harus dialami secara langsung dan lama, dan tidak dinilai berdasarkan pemahaman pribadi dan pertama kali. Sebuah komunitas Kristus yang penuh cinta kasih dan sukacita.

IMG_20150711_103446 IMG_20150607_110312 IMG_20150531_105828 IMG_20150726_121942 IMG_20150711_103914

More Information»
  1. IPTL

IPTL adalah singkatan dari Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e. IPTL ini merupakan kelanjutan dari Gereja Kristen Timor Timur (GKTT), yang pada zaman Indonesia turut menjadi bagian dari PGI. Namun namanya kemudian berganti, seiring dengan kemerdekaan negara Timor Leste. Pada mulanya, GKTT ini memiliki 13 buah klasis. Namun kemudian berkurang karena beberapa alasan, antara lain karena kurangnya tenaga pelayan. Kini, IPTL memiliki 5 buah klasis dan salah satu di antaranya ialah klasis leste yang terdiri dari 3 distrik, yakni Baucau, Lautem, dan Viqueque.

  1. Profesi Umat

Pada umumnya, umat di IPTL berprofesi sebagai petani. Profesi ini menuntut waktu yang banyak, bahkan terkadang umat harus rela bermalam di kebun atau sawahnya, guna menjaga hasil tanaman yang akan dipanen dari ancaman para pencuri. Bagi umat yang telah menjadi Kristen sepenuhnya, mereka memiliki sikap terbuka kepada pendeta. Sikap terbuka inipun disambut baik oleh pendeta di desa Buruma (distrik Baucau). Sang pendeta menyambut baik keterbukaan umat dengan cara berkunjung ke kebun umat, sembari membantu umat untuk melakukan kegiatan panen.

  1. Jemaat-jemaat di Klasis Leste

Selama menjalani kegiatan CP I, saya tinggal bersama ketua klasis leste di desa Buruma. Jemaat di tempat ini ialah jemaat IPTL “Maranatha”, Buruma yang pada tanggal 9 Juli 2015 genap berusia 36 tahun. Namun selama kegiatan CP I ini, saya juga mendapat kesempatan untuk mengunjungi jemaat-jemaat lain di ketiga distrik. Saat berkunjung ke jemaat-jemaat lain, saya menemukan tiga buah jemaat yang sedang melakukan pembangunan dan renovasi gedung gereja. Salah satunya ialah jemaat di wilayah Beacho. Saya sempat mengambil gambar dari umat di tempat ini yang sedang bekerjasama untuk membangun gedung gereja yang baru.

  1. Tantangan Pelayanan

Sama seperti gereja pada umumnya, IPTL juga berhadapan dengan tantangan pelayanannya sendiri. Selain tenaga pelayan yang kurang, jarak jemaat-jemaat yang berjauhan dan medan pelayanan yang kurang baik menjadi tantangan tersendiri bagi IPTL. Untuk mencapai rumah umat pun, terkadang para pelayan harus siap melewati pematang sawah dan jarak yang cukup jauh. Namun syukurlah, karena sampai saat ini pelayanan IPTL tidak kalah dengan tantangan pelayanan yang ada.

20150715_172950iptlk1 20150603_114723

More Information»
Yayasan Pelita Ilmu (YPI)

Yayasan Pelita Ilmu (YPI)

Jakarta Selatan, DKI Jakarta

January 182016

Yayasan Pelita Ilmu (YPI) adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang kesehatan dan pendidikan. YPI didirikan tanggal 4 Desember 1989 oleh tiga tokoh yang saat ini menjabat sebagai Pembina Yayasan, di antaranya: Prof. Dr. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, KAI; Prof. dr. Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM; Sri Wahyuningsih, SKM, MSi.

Adapun yang menjadi visi YPI adalah menjadi institusi yang terkemuka dan konsisten dalam mewujudkan masyarakat yang berperilaku hidup sehat, mandiri, dan produktif serta layanan kesehatan yang berkualitas. Misinya adalah memberdayakan masyarakat untuk pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS melalui pendidikan, pendampingan, penjangkauan, dan penghidupan yang berdasar pada prinsip partisipasi, kemitraan, keadilan, transparansi, dan akuntabilitas.

Dalam kinerjanya, YPI memiliki 4 program utama. Pertama, Program Pencegahan. Program ini terdiri atas:

  • Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan AIDS di Sekolah
  • Pendampingan Remaja di Area Publik dan Komunitas
  • Pendampingan Anak dan Remaja di Jalan
  • Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Bayi (PMTCT)
  • Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan AIDS bagi Anak di Lapas
  • Penanggulangan Narkoba Berbasis Masyarakat
  • Penyuluhan bagi Calon Tenaga Kerja Indonesia
  • Kampanye AIDS di Tempat Umum

Kedua, Program  Voluntary Counseling Test (VCT) dan Layanan Kesehatan. Program ini terdiri atas:

  • Layanan Konseling & Tes HIV (VCT) bagi Populasi Resiko
  • Layanan Klinik Kesehatan Remaja
  • Layanan Klinik Keluarga (Umum, Perempuan & Anak)
  • VCT dan CST bagi Warga Binaan Pemasyarakatan

Ketiga, Program Dukungan untuk Orang dengan HIV-AIDS (ODHA). Program ini terdiri atas:

  • Layanan Sahabat (Buddy Services)
  • Kunjungan Rumah dan Kunjungan Rumah Sakit
  • Layanan Rumah Singgah
  • Terapi Kreatif
  • Bantuan Kerja Mandiri
  • Kelompok Persahabatan Odha
  • Dukungan Kesehatan, Nutrisi, & Pendidikan Odha Anak
  • Dampingan Masalah Diskriminasi
  • Bantuan Biaya Pengobatan dan Perawatan
  • Layanan Rujukan: RS, Puskesmas, Psikolog, dll

Keempat, Program Pendukung Lainnya. Program ini terdiri atas:

  • Pendidikan Keterampilan Hidup (life skill education)
  • Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
  • Fasilitasi Pelatihan (VCT, PMTCT, Peer-Education, dll)
  • Fasilitasi Magang (Home-Care, PMTCT, dll)
  • Fasilitasi Penelitian, Skripsi, Thesis, dll.
  • Penerbitan Materi KIE
  • Layanan Perpustakaan

Luas dan besarnya misi yang diemban oleh YPI selalu dibarengi dengan nilai-nilai dan prinsip kerja luhur. Keenam prinsip nilai yang dipegang teguh, di antaranya:

  1. Kemandirian. YPI selalu berupaya mengemban kemampuan internal dalam pengelolaan program maupun lembaga. YPI selalu berupaya membangun landasan kemampuan dan inisiatif masyarakat beneficiaries untuk menyelesaikan masalah dasar kesehatan mereka.
  2. Transparansi dan akuntabilitas. YPI menjamin aksesibilitas informasi dan pertanggunggugatan dalam pengelolaan program maupun lembaga.
  3. Partisipasi. YPI selalu membuka ruang keterlibatan bagi masyarakat beneficiaries dalam pengelolaan program.
  4. Keadilan gender. YPI selalu beruuapa untuk mengatasi ketimpangan relasi gender dalam pengelolaan program dan lembaga. YPI tidak akan bekerjasama dengan pihak lain maupun menjalankan program yang justru mengukuhkan ketimpangan gender.
  5. Kemitraan. YPI selalu berupaya untuk membangun kerjasama dengan pihak lain: pemerintah, lembaga dana, NGO, korporasi, dan beneficiaries.
  6. Kesetaraan. YPI bekerjasama dengan mitra dan beneficiaries dalam hubungan yang saling menghormati. YPI tidak melakukan diskriminasi terhadap mitra dan beneficiaries.

Diolah dari berbagai sumber: www.ypi.or.id; wawancara staff YPI; modul YPI

Kumpul Bocah diadakan di Sanggar YPI Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN 2015) di Kementerian Sosial RI Stand Informasi dan Layanan Kesehatan YPI di PRJ Senayan Pelatihan Sexual Reproduction Health and Rights (SRHR) di Sanggar YPI Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan AIDS bagi Remaja di LapritaTangerang

More Information»
Yayasan Pendampingan Autis (YPA)

Yayasan Pendampingan Autis (YPA)

Jakarta Utara, DKI Jakarta

January 182016

Yayasan Pendampingan Autis (YPA) adalah sebuah lembaga yang bergerak di bidang pemberdayaan orang-orang penyandang autis, khususnya anak-anak. Lembaga ini sudah berdiri selama 15 tahun sejak tahun 2000. Visi lembaga ini adalah mewujudkan anak-anak penyandang autis agar dapat melakukan berbagai kegiatan dan dapat berpikir serta bertindak secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari di masa mendatang. Misi dari lembaga ini adalah memberikan berbagai upaya berupa terapi dalam berbagai bentuk untuk melatih dan mengembangkan kemampuan anak dalam berbagai bidang. Selain itu YPA juga mengupayakan interaksi dengan orang tua secara intens untuk membentuk kerja sama yang baik dalam proses belajar demi kemajuan anak-anak penyandang autis.

Di dalam kantor YPA terdapat struktur kepengurusan dalam yayasan. Kepengurusan tersebut terbentuk  dan memiliki hubungan dan keterkaitan yang erat serta bekerja sama satu sama lain. Struktur kepengurusan Yayasan Pendampingan Autis yaitu:

  1. Pimpinan Yayasan
  2. Manager Yayasan (Merangkap sebagai pengawas kegiatan terapi di YPA)
  3. Sekretaris
  4. Para terapis.

Untuk terapis sendiri terdiri dari beberapa bagian. Pengelompokan terapi dilakukan berdasarkan jenis terapi yang dilakukan kepada anak-anak penyandang autis. Terapi-terapi yang dijalankan di YPA yaitu:

  1. Applied Behaviour Analysis (ABA)

Applied Behaviour Analysis (ABA) adalah sebuah program terapi yang dirancang sebagai bagian dari pengajaran yang dirancang untuk mengenali berbagai hal yang berhubungan dengan kelakuan atau tindak tanduk anak –anak penyandang autis. Melalui terapi ini orang tua dan terapis dapat mengenali penyebab munculnya perilaku yang ditunjukkan oleh anak dilingkungan sekitarnya. Setelah itu terapis bersama orang tua dapat menemukan cara untuk mengembangkan perilaku anak ke arah yang lebih baik bagi si anak penyandang autis.

Selain untuk melatih kontrol perilaku anak-anak penyandang autis. Terapi ABA juga memberikan pelatihan kemampuan dasar dalam kehidupan yang akan sangat berguna bagi kelangsungan hidup anak-anak penyandang autis. Contohnya melihat, mendengar dan menirukan atau menyamakan berbagai hal yang memiliki kemiripan identik atau pun tidak identik. Setelah itu diharapkan nantinya dengan kemampuan yang telah dimiliki anak mampu berinteraksi dan memahami dinamika lingkungan sekitarnya.

  1. Speech Therapy (Terapi Wicara).

Pada terapi ini anak dilatih untuk berbicara dengan baik dan benar. Beberapa anak penyandang autis terhambat dalam proses interaksi dan komunikasi karena kemampuan untuk berbicara yang kurang, berbicara yang dimaksud adalah pengucapan kata yang kurang baik. Berbagai teknik diajarkan kepada anak untuk menggerakkan mulutnya, hal ini nantinya berkaitan dengan pemanfaatan audio (pendengaran) anak untuk berkomunikasi.

  1. Sensory Integration (SI).

Terapi ini memiliki fungsi untuk melatih kemampuan anak dalam menggunakan safar sensoriknya. Tujuannya adalah agar anak dapat memberikan respon atas apa yang ada di dekatnya. Selain itu kemampuan motorik anak juga dilatih sebagai satu kesatuan dengan upaya melatih kemampuan saraf sensorik anak.

Di tempat ini memang semua orang memiliki tanggung jawab sangat besar, karena harus memberdayakan anak-anak yang terlahir sebagai penyandang autis. Namun di tempat ini saya belajar melalui berbagai hal yang terjadi bahwa dibalik hasil yang baik ada kerja keras dan kerja cerdas. Kerja keras karena harus senantiasa bersabar dan berbesar hati dalam mendidik anak penyandang autis dan kerja cerdas mensiasati berbagai keadaan anak yang berbeda-beda. Namun keceriaan dan rasa kekeluargaan dari semua pihak menjadi semangat melakukan yang terbaik bagi anak-anak penyandang autis.

ypa5 ypa1 ypa2 ypa3 ypa4

More Information»
Pesantren Assalam Bogor

Pesantren Assalam Bogor

Bogor, Jawa Barat

January 182016

Lembaga ini adalah sebuah Pondok Pesantren yang berada di bawah naungan Yayasan Puspita. Pesantren Assalam atau lebih dikenal sebagai Pesantren Inggris berdiri di atas tanah seluas dua hektar yang terletak di Desa Pasir Angin, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dalam bahasa Sunda “pasir” berarti berbukit-bukit, sesuai dengan namanya pesantren ini juga berada di atas tanah yang memiliki kontur tanah berbukit. Susana di tempat ini sangat sejuk karena Pesantren Assalam terletak didaerah pegunungan jauh dari segala keramaian kota.

Ali Qohar dan keluarga adalah pengelola di tempat ini, sudah sekitar dua tahun lamanya pesantren telah berdiri dan berkiprah di dalam dunia pendidikan terkhusus bagi kalangan keluarga kurang mampu. Berawal dari sebuah mimpi dan cita-cita beliau mengawali niat baiknya, atas kerja keras dan bantuan dari segala pihak serta kolega akhirnya semenjak dua tahun yang lalu pesantren ini berdiri diatas tanah dari seseorang yang mewakafkan tanahnya kepada Yayasan Puspita.

Pembagunan pesantren sedang dilakukan hingga detik ini demi meningkatkan mutu serta kualitas pesantren. Saat ini pesantren sudah memiliki dua buah bangunan guna menunjang aktifitas belajar mengajar dan empat buah tempat tinggal untuk para penghuni pesantren, pembangunan tersebut dilakukan secara bertahap. Namun yang disayangkan sampai detik ini tenaga pengajar sangat minim sehingga mereka sangat memerlukan relawan akibatnya kegiatan belajar mengajar tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Karena Pesantren Assalam bukanlah suatu lembaga pendidikan yang bersifat formal.

Hingga saat ini sudah banyak santri laki-laki maupun perempuan yang memilih untuk melanjutkan pendidikan mereka di sini, datang dari berbagai daerah baik Bogor, Jakarta, Bandung, Cirebon dan masih banyak lagi. Dari segala latar belakang dan kini telah dipersatukan dalam satu wadah yang sama. Pesantren Assalam memang lebih menekankan pelayanan dibidang sosial, terlihat jelas bagaimana cara mereka menerima para santri. Pengelola menerima dengan tangan terbuka jika ada orang yang membutuhkan bantuan.

Bagi para santri Pesanten Assalam sudah menjadi keluarga kedua dalam kehidupan mereka, karena segala aktifitas mereka lakukan di tempat ini. Pesantren juga menawarkan berbagai macam pengetahuan yang belum tentu mereka dapatkan di sekolah formal pada umumnya. Walupun masih banyak kekurangan yang lembaga alami namun banyak santri berprestasi hasil didikan pesantren ini, tidak sedikit dari mereka yang sudah menjadi guru untuk sekolah-sekolah yang memerlukan tenaga pengajar.

Pesantren ini menerima siapapun yang ingin datang dan bermukim, mereka tidak memandang suku bahkan memandang agama sekalipun. Hal ini lah yang membuat semua orang nyaman berada di sana, pesantren ini sangat terbuka akan segala keberagaman yang ada. Semua santri wajib berbahasa Inggris di dalam kehidupan sehari-hari oleh karena itu masyaraka sekitar lebih akrab menyebut lembaga ini dengan sebutan pesantren Inggris. Hal itulah yang menjadi daya tarik bagi pesantren sehingga banyak orang yang datang untuk belajar Bahasa Inggris. Hingga pada akhirnya banyak kolega asing yang mau membantu Pesantren Assalam dalam pelayanannya dengan demikian niat baik pengelola dapat berjalan sebagaimana mestinya berkat doa dan bantuan dari segala pihak.

assalam1 assalam2 assalam3 assalam4 assalam5

More Information»
Sanggar SWARA

Sanggar SWARA

Jakarta Timur, DKI Jakarta

January 182016

Sanggar Swara  yang dahulunya dikenal dengan SWARA (Sanggar Waria Remaja) merupakan sebuah lembaga yang memutuskan untuk berdiri secara mandiri dan pada akhirnya memisahkan diri dari Ikatan Srikandi. Sanggar Swara merupakan lembaga yang sudah diakui keberadaanya sejak tahun 2011. Saat ini  Sanggar SWARA memiliki fokus program yakni inklusi sosial yang dijalankan sejak tahun 2014. Program Inklusi sosial yang di jalankan oleh Sanggar SWARA berkaitan dengan usaha teman-teman waria yang ada di Jakarta untuk menjalin hubungan dengan masyarakat yang berada di kawasan Jakarta. Dengan kata lain, Sanggar SWARA tengah membangun hubungan yang baik dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan seperti pembahasan mengenai SOGIE terhadap masyarakat. Tujuan adanya pembahasan pengenalan SOGIE tidak lain agar masyarakat memahami tentang konsep dasar yang berkaitan dengan seks atau jenis kelamin, seksualitas, serta gender yang selama ini seringkali disalah artikan dikalangan masyarakat.

Berbicara tentang isu HIV/AIDS bagi Sanggar SWARA sendiri menganggap sudah diketahui oleh kalangan teman-teman waria.   Dalam hal ini Sanggar SWARA bukannya mengesampingkan persoalan HIV/AIDS, sanggar SWARA sendiri  melihat persoalan ini sudah disosialisasikan sebelumnya, sehingga, penanganan HIV/AIDS untuk saat ini lebih berwujud tindakan berupa membagikan kondom daripada sekadar melakukan penyuluhan atau memberikan info tentang HIV/AIDS. Lebih lanjut,  Sanggar SWARA melihat terdapat kebutuhan lain yang lebih dibutuhkan oleh teman-teman waria yang bearada dikalangan masyarakat diantaranya perihal penerimaan diri dan Hak Sosial. Misalnya pembuatan KTP (dengan identitas tetap sebagai laki-laki) dan pembuatan BPJS. Sehingga, dalam menjalankan aktivitas sosial dan akses kesehatan mereka tetap menerima perlakuan yang sama dengan orang lain atau diterima seperti orang lain pada umumnya. Terlepas dari pandangan mengenai program baru yakni inklusi sosial yang sedang dijalankan, Sanggar SWARA tetap memantau dan mendampingi teman-teman ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) yang dikenal dengan KDS atau Kelompok Dampingan Sebaya.

Dalam menjalankan programnya, Sanggar SWARA tidak bekerja sendiri. Mereka sering mengadakan kerja sama dengan lembaga yang memiliki fokus isu LGBT , misalnya Arus Pelangi. Sanggar SWARA juga mendapatkan dukungan dana untuk menjalankan program mereka yang tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri seperti Jepang dan Australia. Salah satu cara para staff Sanggar SWARA menjalankan program inklusi sosial dengan melakukan pendampingan dan  membentuk sebuah tim lapangan yaitu CO atau  Community Organizer  yang bertanggungjawab terhadap wilayahnya masing-masing yang dikenal dengan istilah penjangkauan. Tugas seorang CO antara lain melakukan pendampingan teman-teman waria yang sedang sakit, dampingan pembuatan KTP, dampingan teman-teman yang terjaring razia agar mereka dapat dibebaskan, serta membagikan kondom bagi teman-teman waria mengingat mayoritas pekerjaan waria adalah sebagai pekerja seks. Tugas yang dijalankan oleh seorang CO tidak hanya mendampingi teman-teman waria, namun, mereka juga bertugas untuk menghadiri berbagai undangan kegiatan dari lembaga-lembaga yang juga memiliki tujuan pembahasan mengenai LGBT atau yang berkaitan dengan kehidupan sosial dalam masyarakat. Salah satu contoh kegiatan yang dihadiri oleh Sanggar SWARA misalnya kegiatan yang diadakan oleh lembaga Arus Pelangi dan bekerja sama dengan Komnas Perempuan yang membahas tentang kekerasan pada perempuan atau mengenang korban HIV/AIDS yang diadakan oleh YPI  di kementrian sosial, dan masih banyak kegiatan yang diikuti oleh Sanggar SWARA sebagai wujud dari bagian program inklusi sosial yang saat ini sedang mereka jalankan.

Melalui berbagai kegiatan yag diperjuangkan atau yang sedang digerakan oleh Sanggar SWARA terlihat jelas bahwa Sanggar SWARA yang mewakili teman-teman waria hendak menyuarakan bahwa mereka ada diantara masyarakat dan mereka ingin diperlakukan sama oleh masyarakat. Tidak ada kekerasan atau diskriminasi di dalamnya. Sanggar SWARA merupakan contoh perwakilan suara-suara  termarjinalkan yang ingin mendapatkan hak yang sama. Hal yang menarik dalam hal ini, sebagai kaum yang dipandang sebelah mata atau seringkali dimarjinalkan justru melakukan pendekatan secara langsung kepada masyarakat yang terkadang menolak keberadaan mereka. Dengan demikian, adanya ide program inklusi sosial ini sangatlah membantu membangun jembatan bagi masyarakat dan komunitas  waria khususnya di Jakarta.

 

swara6 swara1 swara2 swara3 swara4 swara5

More Information»
Fahmina Institute

Fahmina Institute

Cirebon, Jawa Barat

January 132016

Fahmina sudah ada sejak tahun 1990-an tetapi kegiatan yang dilakukan masih dalam bentuk diskusi. Diskusi yang dilakukan adalah membahas tentang isu-isu pembelaan terhadap orang-orang marjinal seperti isu-isu kerakyatan, kewarganegaraan dan sampai pembelaan tingkat pewacanaan publik. Namun, secara resmi didirikan pada tanggal 10 November 2000 oleh Marzuki Wahid, Affandi Mochtar, Faqihuddin Abdul Kodir dan Husein Muhammad. Pada awalnya, Fahmina didirikan karena pergumulan anak-anak muda dalam hal intelektual yang berakar dari dunia pesantren. Hal ini juga disebabkan karena daerah Cirebon mempunyai banyak sekali pesantren. Kata Fahmina mempunyai arti nalar atau perspektif dan paham Indonesia tentang teks keagamaan dan realitas sosial atau pemahaman tentang keindonesiaan. Oleh sebab itu, visi Fahmina adalah visi yang menjadi cita sosial perjuangan yayasan adalah terwujudnya peradaban manusia yang bermartabat dan berkeadilan berbasis kesadaran kritis tradisi pesantren.

Fahmina bersikap pluralis dan pluralisme meskipun berada di Kota Cirebon yang terkenal dengan Kota Wali Songo(Islam). Fahmina mempunyai tanggung jawab untuk menkaji sosial keagamaan dan melakukan pendampingan terhadap masyarakat marjinal. Fahmina pun mempunyai 4 divisi setelah didirikan secara resmi yaitu:

  1. Islam dan demokrasi

Divisi ini bergerak dalam bidang sosial keagamaan. Kegiatan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan pun dilaksanakan oleh divisi ini. Kegiatan yang dilakukan lebih kepada untuk menciptakan kedamaian dalam masyarakat. Oleh sebab itu, Fahmina pun membentuk Pelita(Pemuda Lintas Iman). Pelita ini mengadakan kegiatan yang dilakukan tidak hanya untuk masyarakat yang beragama Islam tetapi semua agama dan kepercayaan ada didalamnya. Selain itu juga, Pelita mengadakan bakti sosial terhadap masyarakat yang terkena banjir di wilayah Cirebon dan bekerjasama dengan GKI Pengampon.

Fahmina dan Pelita pun akhirnya mendirikan program yang bernama SETAMAN(Sekolah Cinta Perdamaian). Program ini dilakukan untuk memberi dan  menumbuhkan rasa damai di dalam diri masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan tentang cinta damai diantara masyarakat. Out put-nya adalah supaya masyarakat memahami perbedaaan diantara satu dengan yang lainnya. Program ini pun dilakukan tidak hanya untuk agama muslim tetapi semua agama mengikutinya. Pesertanya pun dari berbagai usia, karena cinta damai itu tidak hanya ditanamkan pada orang dewasa saja tetapi juga pada anak-anak remaja supaya tidak terjadi tawuran dan sebagainya.

  1. Islam dan gender

Divisi ini merujuk kepada kesetaraan gender dengan melihat bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama sehingga tercipta keadilan. Divisi ini juga terlibat dalam hal pendampingan trafiking, KDRT dan lainnya yang berkaitan dengan kesetaraan gender. Hak setiap orang perlu diperhatikan oleh orang lain. Oleh sebab itu, Fahmina pun berusaha supaya orang yang merasa tertindas pun mendapatkan perhatian. Terutama perempuan yang terlibat dalam trafiking.

  1. Islam dan penguatan otonomi komunitas

Divisi ini bertujuan untuk menguatkan para komunitas Fahmina. Kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan jurnalisme yang bertujuan untuk kedamaian. Fahmina pun mempunyai komunitas yang bernama Gusdurian. Komunitas ini mencoba belajar mengenai pemikiran-pemikiran Gusdur dalam membangun masyarakat.

  1. Pusat data, informasi dan media

Divisi ini tidak hanya mengkaji tentang informasi agama dan data-data yang dikelola Fahmina. Namun, kegiatan yang dilakukan pun berkaitan dengan perempuan. Kesehatan Reproduksi menjadi topik diskusi. Kesehatan Reproduksi pun belum disadari secara betul oleh santri sehingga Fahmina pun memberikan wawasan mengenai hal tersebut. Kegiatan yang dilakukan adalah seminar dan pelatihan Kesehatan Reproduksi terhadap para santri di pesantren-pesantren daerah Cirebon.

fahmina5 fahmina6 fahmina1 fahmina2 fahmina3 fahmina4

More Information»
Migrant CARE

Migrant CARE

Jakarta Timur, DKI Jakarta

January 132016

Seluruh mahasiswa tingkat satu dan tingkat dua Sekolah Tinggi Teologi Jakarta menjalani masa praktek lapangan sejak tanggal 25 Mei 2015 hingga 07 Agustus 2015. Saya bersama seorang kakak tingkat, Theo Krispanki Dandel, ditempatkan di sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berfokus terhadap perlindungan dan pemenuhan hak-hak buruh migrant beserta keluarganya. Menurut definisi yang diberikan, Migrant CARE merupakan sebuah perhimpunan buruh migrant Indonesia yang berdaulat.

Lembaga ini terbentuk oleh rasa solidaritas terhadap kaum buruh migrant yang kerap mengalami masalah-masalah terkait pelanggaran Hak Asasi Manusia kemudian tidak jarang mengalami pendiskriminasian. Setiap tahunnya angka buruh migrant Indonesia yang mengalami kasus pidana semakin meningkat. Akan tetapi, ternyata tidak semua kasus tersebut dilatarbelakangi niat kaum buruh migrant untuk melakukan tindakan pidana tersebut melainkan oleh karena keterpaksaan dan alasan lainnya. Sayangnya, pemerintah tampaknya sangat lamban dalam menangani dan mencegah permasalahan pidana oleh buruh migrant Indonesia. Hal tersebut menyebabkan angka kriminalitas kaum buruh migrant Indonesia pun meningkat. Dampak lainnya adalah kaum buruh migrant Indonesia merasa semakin dipojokkan dan dipinggirkan. Mereka dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai sampah masyarakat karena telah mencoreng nama baik bangsa Indonesia di mata dunia.

Kedudukan mereka yang seharusnya dapat menjadi sumber devisa negara sepertinya hanya sebuah slogan saja. Hal tersebut mengingat kurang tegasnya Pemerintah dalam memberi perlindungan hukum terhadap buruh migrant Indonesia. Beberapa orang kemudian merasa terdorong untuk mendobrak dan menghancurkan stigma buruk terhadap kaum buruh migrant. Mereka mulai berkumpul dalam suatu perhimpunan. Mereka kemudian memberikan sebuah nama kepada perhimpunan yang dibentuk tersebut. Nama ‘Migrant CARE’ akhirnya dirasa pas dan diresmikan pada bulan Oktober tahun 2004.

Sampai saat ini, orang-orang yang dulu berjuang membentuk perhimpunan tersebut, masih bertahan di Migrant CARE. Salah satunya adalah Ibu Anis Hidayah yang saat ini juga merangkap sebagai Direktur Eksekutif Migrant CARE. Ada juga beberapa staff lain yang terus bertahan membela kaum buruh migrant, seperti Pak Wahyu, Mbak Indah, Mbak Musliha, Mbak Bariyah, Mas Nur, Mas Anas dan lainnya. Saya dan Kak Theo memang terbiasa memanggil staff Migrant CARE dengan sebutan “Mbak” atau “Mas”. Oleh karena sebagian besar staff Migrant CARE berasal dari wilayah Jawa, khususnya Banyuwangi.

Saat ini, Migrant CARE berlokasi di Jalan Perhubungan VIII No. 52, Rawamangun, Jakarta Timur. Migrant CARE hadir di tengah-tengah masyarakat dan terus mencoba berbaur dengan kehidupan lingkungan sekitar. Hal tersebut dapat terlihat dari pemilihan lokasinya yang berada persis di tengah-tengah kompleks perumahan. Bangunan yang dipilih sebagai kantor sekretariat Migrant CARE juga adalah sebuah rumah bertingkat tiga sehingga kehadirannya tidak terkesan “mengekseklusifkan” diri. Pada tingkat pertama, terdapat ruang tamu, ruangan Divisi Bantuan Hukum, Ruangan Divisi Data dan Pengetahuan Migrasi, serta dapur dilengkapi ruang makan. Pada lantai dua, terdapat ruangan Divisi Kebijakan Penanganan Advokasi, ruangan Divisi Advokasi berbasis IT, dan ruangan kebendaharaan. Pada lantai teratas atau lantai tiga, terdapat shelter yang biasa digunakan sebagai rumah singgah bagi buruh migrant dan atau keluarganya. Tidak jarang shelter tersebut juga digunakan oleh kerabat staff Migrant CARE yang datang dari luar daerah.

Migrant CARE melayani mulai hari Senin hingga Jumat, pada pukul 09.00 WIB hingga 17.00 WIB. Sejauh ini, berdasarkan pengamatan yang saya lakukan ada banyak tugas yang dilakukan oleh staff Migrant CARE. Divisi Bantuan Hukum malayani pengaduan kasus dan melaporkan pengaduan kemudian men follow up kasus tersebut ke badan resmi pemerintah, seperti BNP2TKI (Badan Nasional Perlindungan dan Penempatan Tenaga Kerja Indonesia), Kementerian Luar Negeri, Direktur Jenderal Imigrasi, dan lain sebagainnya. Divisi Data dan Pengetahuan Migrasi lebih banyak melakukan pendataan dan pengaturan mediasi Migrant CARE. Divisi Kebijakan dan Penanganan Advokasi lebih banyak melakukan pengawasan dan peninjauan ulang Undang-Undang terkait buruh migrant. Divisi Advokasi berbasis IT lebih banyak membuat program berbasis IT untuk memperluas jaringan terhadap perlindungan buruh migrant.

Demikianlah dekskripsi singkat yang dapat saya jabarkan mengenai Migrant CARE. Sebuah lembaga swadaya masyarakat yang terus mencoba hadir dan melayani masyarakat. Oleh karena Migrant CARE hadir dari, oleh, dan untuk masyarakat. Migrant CARE juga hadir sebagai jembatan yang menghubungkan masyarakat dengan pemerintah maupun sebaliknya. Suatu harapan bersama bahwa kehadiran Migrant CARE sedikit banyak membantu penanganan dan penyelesaian masalah pelanggaran HAM yang dialami oleh buruh migrant Indonesia.

migrant5 migrant4 migrant3 migrant2 migrant1

More Information»
Sanggar Rebung Cendani

Sanggar Rebung Cendani

Depok, Jawa Barat

January 132016

Sanggar Rebung Cendani merupakan taman bacaan anak-anak atau yang kerap disebut bale bacaan (taman bacaan geratis). Sanggar Rebung Cendani dirintis pada tahun 2001 oleb Bpk. Josep Budisantoso atau yang kerap kali disapa sebagai pak Budi. Daerah yang menjadi fokus dari Sanggar Rebung Cendani adalah daerah-daerah pinggir Jakarta, seperti Depok, Bogor. Namun sepanjang perjalanannya, Sanggar Rebung Cendani juga sudah membuka TBM (taman bacaan masyarakat) di daerah-daerah lain seperti: Sukabumi, Ujung Genteng, Kediri. Hingga saat ini, Sanggar Rebung Cendani sudah memiliki 80 TBM (taman bacaan Masyarakat) di berbagai kota. Jika berbicara mengenai taman bacaan pasti akan mengarah pada sesuatu yang dapat dibaca, yakni buku. Buku dapat membuat pembaca merasakan luasnya dunia, banyak hal yang akan didapat dengan membaca. Tidak semua buku dapat memberikan informasi dan membuka jendela dunia, diperlukan buku-buku yang bermutu, bernilai dan berkualitas baik. Sanggar Rebung Cendani memiliki tugas untuk menyediakan dan memastikan buku-buku yang hendak dikirim ke daerah-daerah tersebut. Setiap buku diseleksi sehingga buku itu bisa sampai di TBM (taman bacaan masyarakat). Memastikan setiap anak di TBM membaca buku-buku berkualitas merupakan fokus dari Sanggar Rebung Cendani. Anak-anak yang berada di daerah pinggiran atau kampung, kerap kali menjadi korban budaya, sosial, dan putus sekolah karena kemiskinan, bekerja di bawah umur. Waktu yang seharusnya anak-anak gunakan untuk bermain dan belajar harus berubah menjadi waktu bekerja untuk keperluan makan. Hal-hal inilah yang membuat anak susah berkembang karena lemahnya daya imajinasi dan kemampuan untuk berpikir dengan luas. Buku merupakan cara yang dipakai oleh Sanggar Rebung Cendani untuk membantu anak-anak yang berada di daerah pinggiran atau kampung. Buku menjadi media yang sanggat bermanfaat untuk mendekatkan anak dengan lingkungan sekitarnya bahkanlingkungan yang jauh lebih luas. Anak menjadi mudah untuk mendapatkan informasi dari dunia luar dan pada akhirnya akan meningkatkan wawasan dan pengetahuan anak. Dengan demikian, anak-anak yang berasal dari daerah atau kampung-kampung pun dapat merasakan dan membaca buku-buku yang bagus dan bermutu baik dari segi gambar, warna, kertas, jenis huruf maupun pesan yangdisampaikan oleh buku tersebut. Buku-buku yang dimiliki oleh Sanggar Rebung Cendani merupakan buku-buku yang berasal dari sumbangan para donator, toko buku, gereja, dosen, dan para sahabat Sanggar Rebung Cendani. Tidak hanya itu, Sanggar Rebung Cendani juga membeli buku di toko buku yang tentu saja harganya tidak murah. Para sukarelawan berasal dari lingkungan pelajar dan mahasiswa yang memiliki fokus pada dunia pendidikan anak, psikologi dan sosial. Sanggar Rebung Cendani mengajak anak-anak untuk cinta baca dan menjadikan membaca sebagai sebuah budaya. Sanggar Rebung Cendani berharap, kelak akan memiliki ratusan bahkan ribuan TBM yang tidak hanya berada di pulau Jawa tetapi juga di daerah-daerah lain.

IMG_7384680602753 IMG_3317362945537 20150623_115454 20150529_160835 20150529_160828

More Information»
GKS Jemaat Kayuri

GKS Jemaat Kayuri

Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

January 122016

Gereja ini berada di sebuah Desa yang dinamakan Desa Kayuri dan masyarakatnya mayoritas adalah Kristen. Luas wilayah Kayuri adalah 20,6 Km2 dan penduduk yang berada di daerah ini adalah penduduk dari Sumba dan juga Sabu. Percampuran orang Sumba dan Sabu tidak mengalami masalah dalam kehidupan sehari-hari. Hanya yang berbeda adalah adat istiadat mereka dalam melakukan acara-acara adat saat kematian dan pernikahan.

Masyarakat di Kayuri hidup dari berkebun, suluh ikan, mncari siput, masak garam, nelayan dan menjadi guru (PNS). Tidak banyak yang menjadi supir truck, pekerja toko, ataupun PNS lain yang harus bertugas di Waingapu. Mereka termasuk pekerja keras, mereka bisa melakukan pekerjaannya dalam waktu yang lama dan cukup bertekun dengan pekerjaannya. Hal itu dikarenakan kehidupan mereka memang benar-benar tergantung dari hasil yang mereka dapatkan. Hasil itu bisa dijual ataupun untuk mereka makan sendiri.

Mereka dapat menjualnya di emperan toko atau berjalan keliling tetapi di hari Kamis dan Jumat mereka dapat menjual di pasar. Hari Kamis dan Jumat memang khusus hari pasar, sehingga masyarakat di daerah Kayuri, Melolo dapat berbelanja di pasar pada hari itu.

Gereja GKS Jemaat Kayuri awalnya cabang dari gereja GKS Melolo yang letaknya tidak jauh dari Melolo. GKS Jemaat Kayuri berisikan kurang lebih 800 KK dengan jumlah keseluruhan dari 3 cabang gereja, yaitu : cabang Rende, Tamburi, Hanggaroru beserta 2 ranting yang dihasilkan cabang. Ranting itu diadakan untuk masyarakat yang rumahnya jauh dari cabang, diadakan untuk memudahkan mereka beribadah. Di daerah cabang memang jarak rumah jemaat dengan gereja bia sekitar 4-5 kilo dan mereka hampir kebanyakan berjalan kaki. Di bagian pusatpun demikian namun lebih banyak menggunakan motor.

Gereja GKS ini memang bertujuan untuk melakukan Pekabaran Injil d tingkat jemaat, di tingkat Klasis, dan juga sinodal. Sehingga di gereja masing-masing fokus utamanya adalah Pekabaran Injil. Memang di daerah Sumba, khusus di Kayuri juga masih banyak orang yang beraliran kepercayaan Merapu. Mereka-mereka inilah yang didekati dan diinjilkan supaya mereka menjadi percaya kepada Yesus.

Selain program PI, adalagi program sekolah minggu dan pemuda yang dilaksanakan di gereja dan cabang masing-masing. Sekolah minggu di pusat diadakan juga di dua tempat berbeda untuk menjangkau anak-anak yang jauh dari pusat, yaitu di Hadambiwa dan Kokur. Mereka beribadah dalam kesederhanaan tetapi tetap penuh sukacita dan semangat.

Selain itu, ibadah hari Minggu yang dilakukan masing-masing baik d pusat maupun di cabang serta ranting. Ibadah di pusat dipimpin oleh pendeta, sedangkan di cabang dan ranting dipimpin oleh guru Injil dan juga kaum awam. Hanya pada saat perjamuan kudus maka pendeta harus berkeliling untuk memimpin ibadah perjamuan kudus.

GKS Jemaat Kayuri banyak membuat acara-acara dengan melakukan kerjaama dengan sinode ataupun wahana visi Indonesia.

Kegiatan yang dilakukan seperti lomba sepakbola, lomba menyanyi, pemberian sembaki gratis, acara pembinaan guru sekolah minggu, dsb. Antusias anak pemuda sangat besar pada acara lomba namun pada acara yang bersifat pengetahuan kurang mendapat perhatian yang ebesar perlombaan. Inilah gambaran GKS Jemaat Kayuri.

10408776_10200758244715946_3195434286807948587_n 11705216_10200841262471338_4304672932320558674_n 11694122_10200825930408046_6302301058619564360_n 11049633_10200823265261419_2149312032952459397_n

More Information»
GBKP Runggun Dolat Rayat

GBKP Runggun Dolat Rayat

Karo, Sumatera Utara

January 112016

Runggun/Majelis Jemaat GBKP Dolat Rayat yang dulunya merupakan anggota dari Klasis Berastagi, kini sudah menjadi bagian dari Klasis Barus-Sibayak yang baru saja dimekarkan tepat ketika saya melakukan Collegium Pastorale I di tempat ini. GBKP Dolat Rayat terletak di Kecamatan Dolat Rayat Berastagi, Kab Karo Sumatera Utara. Kebanyakan penduduk yang tinggal di daerah Dolat Rayat ini merupakan pendatang, baik itu Batak Toba, Jawa, namun kebanyakan pendatang yang saya maksudkan di sini ialah pendatang dari Desa luar Dolat Rayat. GBKP Dolat Rayat juga merupakan salah satu saluran tangan Tuhan kepada umatnya di daerah Berastagi.

Kebanyakan anggota jemaat GBKP Dolat Rayat bekerja sebagai petani ladang, misalnya ; petani jeruk, tomat, kubis, cabai, dan lain-lain. Jemaat GBKP Dolat Rayat juga menerima dampak negatif dari erupsi Gunung Sinabung yang saat ini bisa dikatakan menjadi trending topik masyarakat Karo pada umumnya, karena tanaman-tanaman mereka menjadi terganggu proses panennya akibat erupsi Gunung Sinabung. GBKP Dolat Rayat juga aktif dalam melayani dalam bidang kategorial seperti MORIA (kaum ibu), MAMRE (kaum bapa), PERMATA (Pemuda/i), KA-KR (Anak-anak dan Remaja). Saya tidak tahu pasti kapan tepatnya gereja GBKP Dolat Rayat berdiri untuk menjadi saluran tangan Tuhan kepada umatnya di tempat ini, namun yang pasti GBKP Dolat Rayat sudah ada sejak lama. Jemaat GBKP Dolat Rayat 90% adalah suku Karo, 10% lagi merupakan pendatang. Ada 13 jumlah Pertua(Penatua)/Diaken. Ketua Majelis : Pt. Rahabeam Bangun, Sekretaris : Pt. Terangmin br Ginting, Bendahara : Pt. dr. Rehmenda br Sembiring.

Gereja GBKP Dolat Rayat mulai berdiri pada tahun 1980. Sejak tahun tersebut, Gereja GBKP Dolat Rayat menjadi saluran tangan Tuhan untuk menjamah setiap jemaatNya yang tinggal di sekitar daerah Desa Dolat Rayat. Kurang lebih ada 124 KK, jumlah jiwa ialah 424 orang yang menjadi anggota resmi jemaat GBKP Dolat Rayat. Jumlah anggota MORIA 114 orang, MAMRE 98 orang, PERMATA 75 orang, KA-KR 144 orang. yang menjadi anggota resmi Runggun GBKP Dolat Rayat. Khusus untuk pemuda-pemudi GBKP Dolat Rayat, banyak yang sudah tidak tinggal di Dolat Rayat, melainkan sudah pergi untuk merantau ke tempat-tempat lain. Sidang Majelis Jemaat di Runggun GBKP Dolat Rayat diadakan tiap minggu ke-2 setiap bulannya.

Penatua/Diaken ikut serta dan aktif dalam melakukan pelayanan tiap anggota jemaat GBKP Dolat Rayat. Setiap 3 bulan sekali diakan siding Koordinasi yang beranggotakan Penatu/Diaken dan pengurus Kategorial dan guru Sekolah Minggu. Mereka mengadakan siding Koordinasi tersebut untuk membenahi pelayanan yang sudah dilakukan untuk jemaat GBKP Dolat Rayat dalam rangka melakukan peningkatan dalam tiap-tiap bidang pelayanan yang ada di Runggun GBKP Dolat Rayat. Banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan ketika melakukan Collegium Pastorale I di Runggun GBKP Dolat Rayat. Secara umum jemaat Runggun GBKP Dolat Rayat sangat menerima kehadiran mahasiswa CP di tempat mereka. GBKP Dolat Rayat juga sebelumnya sudah menerima beberapa mahasiswa yang diutus oleh kampus (bukan hanya STT Jakarta) untuk melakukan Collegium Pastorale I dan II di gereja mereka. Jemaat GBKP Dolat Rayat sangat ramah memperlakukan tiap mahasiswa yang melakukan Collegium CP I di tempat mereka. Namun kegiatan-kegiatan gereja yang ada di Runggun GBKP Dolat Rayat kurang memiliki perhatian khusus dalam bidalam pelayanan “musik gereja.” Sehingga di gereja ini sangat kekurangan pemusik pengiring ibadah di setiap hari minggu. Yang selalu menjadi pemusik utama di gereja GBKP Dolat Rayat ialah Ketua Majelis Jemaat itu sendiri.

 

dolat4 dolat5 dolat3 dolat2 dolat1 dolat7 dolat6

More Information»
BNKP Jemaat Lahewa

BNKP Jemaat Lahewa

Nias Utara, Sumatera Utara

January 112016

BNKP jemaat Lahewa, terletak di dekat Pasar Lahewa, sekitar 200 M dari pasar Lahewa atau kira-kira 75 KM ke sebelah Utara Gunungsitoli. Mayoritas masyarakat yang tinggal di daerah pasar Lahewa adalah Islam sehingga jemaat BNKP Lahewa ada yang tinggal di lingkungan Islam.

BNKP jemaat Lahewa merupakan satu dari 16 jemaat yang ada di BNKP resort 35. Secara keseluruhan BNKP resort 35 memiliki jumlah jemaat lebih dari 10.000 jemaat jiwa dan sekitar 6.400 jiwa ada di jemaat Lahewa. Artinya, jemaat lahewa merupakan jemaat paling besar di BNKP resort 35. Mayoritas Jemaat adalah Ono Niha (Orang Nias) dan beberapa juga adalah Orang Batak. Orang Batak adalah pendatang di gereja ini. Mayoritas jemaat di BNKP jemaat Lahewa berprofesi sebagai petani, namun ada juga jemaat yang berprofesi sebagai guru dan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tempat tinggal jemaat ada yang didekat gedung gereja, namun mayoritas jauh dari gedung gereja. Tempat tinggal jemaat, paling jauh dari gedung gereja sekitar 7 KM. Jadi bisa dikatakan, cakupan wiyalah BNKP jemaat Lahewa adalah sekitar 49KM2.

BNKP jemaat Lahewa dipimpin oleh pendeta majelis, Pdt. Ameni Ndraha, S.Th. dan dua orang pendeta fungsional, Pdt. Sudila Harefa, S.Th. dan Pdt. Yamani Waruwu, S.Th. Ketiga pendeta tersebut adalah perempuan. Di gereja ini, pendeta bekerja sama dengan  Badan Pekerja Majelis Jemaat Lahewa (BPMJ) yang seluruhnya, berjumlah 6 orang, adalah laki-laki. BPMJ menjadi pekerja atau pelaksana dari keputusan majelis yang berjumlah sekitar 150 orang di jemaat ini.

Gedung gereja BNKP Jemaat Lahewa cukup baik dan besar. Di dekat gedung gereja BNKP jemaat Lahewa terdapat sekolah (TK, SD, SMP) milik sinode BNKP yang dalam kepengurusannya melibatkan jemaat BNKP Lahewa. Guru-guru di sekolah serta kepala yayasan sekolah-sekolah BNKP tersebut adalah jemaat BNKP Lahewa. Tiap Minggu jemaat BNKP Lahewa juga memberikan satu kantong persembahan untuk membantu sekolah yang ada itu.

Di BNKP jemaat Lahewa ada tiga jadwal kebaktian, yaitu kebaktian pagi menggunakan bahasa Indonesia (masuk jam 08.00), kebaktian siang menggunakan bahasa daerah, Li-Niha/bahasa Nias (masuk jam 10.30), dan kebaktian remaja (masuk jam 14.00). Jemaat di lembaga ini mayoritas menggunakan Li-Niha dalam kehidupan sehari-hari. Adat Nias masih kuat dalam kehidupan jemaat sehingga gereja harus berinteraksi dengan tokoh-tokoh adat Ono Niha.

Layaknya gereja atau sinode lainnya, BNKP jemaat Lahewa juga memiliki kategorial atau komisi dalam jemaat, komisi lingkungan, pemuda, perempuan, bapak dan lainnya.

lahewa4 lahewa3 lahewa2 lahewa1 lahewa5

More Information»
Council of Churches of Malaysia

Council of Churches of Malaysia

Selangor, Malaysia

January 112016

Council of Churches of Malaysia (CCM) is an ecumenical fellowship of Churches and Christian Organisations in Malaysia. It is one of the three constituent members of the Christian Federation of Malaysia (CFM). The message “that they may all be one … that the world may believe” (Jesus’ prayer for this followers, from John 17:21). By 1947, the Malayan Christian Council (MCC) was mooted and formed, finding official inauguration on 9th January 1948. The MCC was an unprecedented act of faith of the churches on Malaysian soil to stay and grow together through ecumenical cooperation. The CCM celebrated fifty years of united witness and service in 1997. It salutes the founding fathers of the ecumenical movement in our country. It is grateful to all the leaders, past and present who have contributed to the well-being of the organisation. It expresses its appreciation to the whole people of God of all the member churches who have sustained and developed the vision of greater unity of the churches in witness and service.

The past few years have been a time of tremendous change in the history of the nation and among the people of Malaysia. Our country joined the international community of independent nations in 1957. It went through periods of difficult social and political strife. More recently, rapid economic development is propelling Malaysia into the future bringing new and unprecedented opportunities but at the same time also challenging the values and traditions of our rich past.

The churches too have undergone profound transformations, from communities depending on foreign missions, they have become autonomous bodies, fully responsible for their life and witness in society. As a minority the churches have learned to hold together faithfulness to the gospel of Jesus Christ and peaceful relations with our Muslim neighbours and fellow Malaysians of other faiths.

During all those years, the Council of Churches of Malaysia has been the focal point of ecumenical cooperation and commitment and the instrument of common witness of its member Churches (CCM website 2015).

IMG_0428 IMG_0639 IMG_0259 IMG_0328 IMG_0353

More Information»
People Like Us Satu Hati
January 112016

Komunitas People Like Us Satu Hati (PLUSH) dibentuk di Yogyakarta pada tanggal 10 Desember 2006. PLUSH resmi mendapatkan akta notaris sebagai organisasi berbasis komunitas pada bulan Maret 2008. Fokus kerja PLUSH adalah advokasi dan hak asasi manusia (HAM), selain itu PlUSH merupakan wadah bagi komunitas LGBT yang ada di Yogyakarta untuk berkumpul dan berbagi. Dari sinilah permasalahan mendasar yang dialami komunitas, serta ide-ide kreatif muncul agar komunitas LGBT dapat memperjuangkan hak-haknya.

Alasan utama fokus kerja PLUSH dalam bidang advokasi dan HAM karena masyarakat masih mempunyai pandangan yang sangat negatif terhadap keberadaan komunitas LGBT dan negara belum mengakui keberadaan komunitas LGBT.  Hal tersebut menyebabkan diskriminasi serta pelanggaran HAM masih dirasakan komunitas LGBT di Indonesia, bahkan muncul upaya dari kelompok tertentu untuk mendiskriminasi komunitas LGBT melalui RUU dan peraturan tertentu. Oleh karena itu, perlu adanya usaha untuk mendidik masyarakat agar menyadari keberagaman dan mengedepankan isu-isu sosial di Indonesia, termasuk LGBT yang merupakan bagian dari keberagaman sosial.

Visi PLUSH, terwujudnya tatanan masyarakat yang bersendikan nila-nilai kesetaraan. Misi PLUSH, pertama: menumbuhkan kesadaran kritis untuk membangun kesepakatan tentang nilai-nilai kesetaraan malalui advokasi, kedua: mengembangkan pendidikan, pelatihan, dan penelitian berbasis gender dan seksualitas, ketiga: mengembangkan layanan dasar dan pendampingan untuk korban situasi konflik, krisis, dan bencana berbasis HAM.

Struktur kepengurusan PLUSH mencakup badan pengawas dan badan pengurus. Badan pengawas beranggotakan lima orang, tugasnya mengawasi kerja badan pengurus dan memberikan masukan. Badan pengawas juga mewakili suara komunitas dalam memberi masukan terhadap progam yang dijalankan di PLUSH. Badan pengurus mencakup ketua, sekretaris, bendahara, kasir, koordinator divisi penelitian dan pengembangan, koordinator divisi media dan kampanye, koordinator divisi penguatan basis, koordinator divisi konseling. Tugas mereka membuat dan melaksanakan program PLUSH. Masa kepungurusan badan pengawas maupun bapan pengurus tiga tahun.

Program kerja kepengurusan PLUSH 2014-2017 :

  1. Pertemuan Rutin Komunitas dilakukan minimal satu bulan satu kali, contohnya pemutaran film, arisan cantik, bedah buku, dll. Program bertujuan menciptakan ruang aman serta nyaman bagi komunitas LGBT untuk berbagi dan bagi PLUSH untuk mengetahui kebutuhan komunitas dalam melaksanakan programnya.
  2. Pelatihan SOGIE dan HAM dilakukan secara rutin, mengingat pemahaman masyarakat dan komunitas akan SOGIE serta HAM adalah kunci agar hak-hak LGBT dapat terpenuhi. PLUSH juga memberi pelatihan khusus bagi komunitas LGBT untuk menjadi fasilitator bagi pendidikan SOGIE dan HAM.
  3. Peningkatan kapasistas bermanfaat bagi kehidupan dan pengembangan organisasi. Mengikuti pelatihan yang diadakan pihak lain atau oleh PLUSH sendiri.
  4. Advokasi kebijaksanaan dilaksanakan melalui kerja sama dengan organisasi lain untuk mengadvokasi kebijakan yang diskriminatif pada LGBT. Namun PLUSH juga terlibat dalam advokasi kebijakan lain yang diskriminatif.
  5. Konseling untuk memberi dukungan moral dan pengetahuan pada komunitas dalam menghadapi masalah sehari-hari.
  6. Kampanye digital sebagai sarana kampanye rutin dan edukasi publik.
  7. Kampanye publik seperti mencetak KIE, berjejaring aliansi jurnalis independen, dan mengadakan event-event publik baik di kampus, sekolah, dll.
  8. Pendampingan bagi peneliti dengan harapan dapat dihasilkan produk akademik yang tidak bias dan menjadi amunisi advokasi bagi gerakan LGBT di Indonesia.

Kegiatan rutin dengan dosen, guru, pemimpin agama, mahasiswa, pemerintah, dan warga kampung tempat PLUSH berada untuk menjalin hubungan baik dan memberikan edukasi.

plush1 plush5 plush4 plush3 plush2

More Information»
GKI Sumut Medan

GKI Sumut Medan

Medan, Sumatera Utara

January 112016

Gedung gereja GKI Sumut Medan berdiri pada tanggal 16 Agustus 1915 oleh pemerintah Belanda dengan nama Gereformeerd de Kerk (ibadah berbahasa Belanda), dan sejak tanggal 11 September 1969 berubah menjadi Gereja Gereformeerd Indonesia Sumatera Utara (ibadah berbahasa Jawa dan Indonesia), dan kemudian pada Sidang Sinode II Gereja Gereformeerd Indonesia, yang diadakan pada tanggal 17-19 April 1974 di Medan,  menetapkan perubahan nama gereja menjadi Gereja Kristen Indonesia Sumatera Utara, disingkat GKI Sumut Medan. GKI Sumut Medan resmi menjadi anggota Dewan Gereja-gereja Indonesia (DGI) pada tanggal 10 Juli 1976. Gereja ini kemudian mendapat pengakuan pemerintah berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Bimas Kristen Depag RI No.146 tahun 1988 tertanggal 2 Juli 1988.

Letak GKI Sumut Medan yang berada di pusat kota Medan dan berdiri persis di depan Mall Sun Plaza menjadi faktor pendukung bagi perkembangan gereja. Hal ini tentunya dapat menarik perhatian bagi orang-orang yang ingin beribadah, misalnya para pengunjung mall Sun Plaza, semula hanya menyempatkan diri beribadah atau sebagai partisipan, namun karena pelayanan dan keramahan yang ditunjukkan GKI Sumut Medan membuat mereka tertarik menjadi anggota gereja yang tetap.

Adapun anggota jemaat GKI Sumut Medan mempunyai latar belakang suku beragam, yaitu: Batak Toba, Simalungun, Karo, Nias, Minang, Jawa, Ambon, Toraja, dan Tionghoa. Kini jumlah anggota jemaat tetap sebanyak 343 KK ditambah beberapa partisipan (data akhir tahun 2014). Pada hakekatnya, wilayah pelayanan GKI Sumut Medan mencakup wilayah kota Medan, Belawan, dan Tanjung Morawa. Dengan tersebarnya tempat tinggal anggota jemaat ini, maka GKI Sumut Medan menetapkan ada lima wilayah pelayanan, yaitu: wilayah 1: Medan Barat, Johar, Selayang, dan Tuntungan; wilayah 2: Medan Sunggal dan Helvetia; wilayah 3: Medan Timur, Medan Deli, Percut Sei Tuan dan Tembung; wilayah 4: Amplas, Juanda, dan Tanjung Morawa; dan wilayah 5: Deli Tua, Namorambe, Simalingkar, dan Pancur Batu.

Di samping itu, GKI Sumut Medan memiliki 4 bakal jemaat, yaitu: (1) Bajem Kwala Mencirim, yang terletak di Jl.Namo Ukur, Kec. Sei Bingei, Kab. Langkat, dengan jumlah anggota jemaat 40 KK; (b) Bajem Mandiangin, yang terletak di Dusun V Desa Ajibaho, Kec. Sibirubiru, Kab. Deli Serdang, dengan jumlah anggota jemaat 36 KK; (c) Bajem Namocancan, yang terletak di Dusun IV Desa Ajibaho, Kec. Sibirubiru, Kab. Deli Serdang, dengan jumlah anggota jemaat 21 KK; dan (d) Bajem Denai, yang terletak di Jl. Jermal III, Kec. Medan Denai, dengan jumlah anggota jemaat 30 KK. Adapun jumlah anggota majelis GKI Sumut Medan, adalah: 3 orang pendeta: Pdt.Nuran Ady Suyatno, S.Th., Pdt. Eka Helena Siregar, S.Th., dan Pdt. Luther Novryaman Lase, M.Th., 1 orang guru Injil: Pnt.GI. Onoda Duha, 1 orang orientasi pendeta: Cln. Pdt. Esterlina, S.Th., dan 44 Penatua dan Diaken. Jumlah seluruh Majelis Jemaat adalah 49 orang, yang diketuai oleh Pnt. Anung Gunawan.

Pelayanan GKI Sumut Medan mencakup tiga bidang: (a) Koinonia: seksi kebaktian, yang melaksanakan 4 kali ibadah minggu umum, yaitu pukul 06.00 WIB, 08.00 WIB, 10.30 WIB, dan 17.00 WIB; ibadah Sekolah Minggu pukul 08.00 WIB di gedung Graha lantai 1 dan 2; ibadah Remaja pukul 08.00 WIB di gedung Graha lantai 3. PA wilayah dilaksanakan setiap hari Jumat, dan kebaktian kategorial (komisi Anak, Remaja, Pemuda, Wanita, dan Pria), serta kebaktian khusus lainnya; (b) Marturia: komisi musik gerejawi mengiringi nyanyian jemaat di dalam setiap kebaktian; dan (c) Diakonia: komisi Pendidikan, Kedukaan, Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial dan Ekonomi (Dikkesra). Di samping itu, ada kepanitiaan tertentu.

Tahun 2015 merupakan tahun sejarah bagi GKI Sumut Medan yang akan melangsungkan Syukuran Jubileum 100 tahun, ibadah puncak dilaksanakan pada tanggal 15-16 Agustus 2015.

 

Acara Colour Run Pemuda GKI Sumut Medan Bersama Komisi Pemuda dan Remaja GKI Sumut Medan acara Retreat di Samosir Bersama Pdt.Nuran Ady dan Pemuda bajem Kwala Mencirim Monitoring kak Linna Gunawan Kunjungan Komisi Anak GKI Sumut Medan ke Yapentra Khotbah di bajem Kwala Mencirim Mengantar Peduli Kasih GKI Sumut Medan untuk Pengungsi Sinabung Pemuda GKI Sumut Medan dalam ibadah Ekspresif

More Information»
Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP)/Marsinah FM
January 112016

FBLP adalah sebuah serikat buruh yang menaungi dan menindak lanjuti isu-isu yang terjadi di konteks kehidupan buruh. FBLP sendiri memiliki beberapa divisi seperti radio komunitas yakni Marsinah FM, Sanggar Tipar, Pelangi Mahardhika dll. FBLP berdiri pada tanggal 5 Juni 2009, dan sekarang diketuai oleh bu Jumisih dibantu oleh kak Atin, kak Lanang, ka Dian septy, mas Atmo dan bang Putera serta teman-teman lainnya yang juga adalah buruh. Serikat ini berlandaskan pada komitmen untuk memperjuangkan hak para buruh serta kesetaraan terhadap buruh khususnya buruh perempuan. Hal ini dikarenakan masih cukup banyaknya pelecehan dan penyimpangan tindakan ataupun semacamnya yang terjadi di KBN-Cakung terhadap buruh. Sampai saat ini jumlah anggota FBLP sudah mencapai 5000 orang dan memiliki beberapa cabang di pabrik-pabrik khususnya di bidang garmen (pakaian). Selain itu, FBLP ini sendiri menjadi sarana bagi para buruh untuk membagikan keluhan yang terjadi khususnya di lapangan pekerjaan untuk kemudian dapat didiskusikan dan ditinjau ulang apakah sudah sesuai dengan UUD ketenagakerjaan atau sebaliknya. Sebagai bentuk pembelaan yang militan terkait keadilan terhadap para buruh, pada tahun 2010 FBLP pernah memimpin aksi mogok kerja bersama yang menuntut kenaikan UMP sebagaimana yang telah diputuskan oleh pemerintah. Kemudian mengenai Marsinah FM yang adalah salah satu divisi yang bergerak di bidang komunikasi dan penyebaran informasi. Marsinah memiliki visi dan misi untuk memberikan penyuluhan dan perluasan informasi kepada khalayak ramai terkait dengan perkembangan politik, sosial dan ekonomi bangsa Indonesia. Radio Marsinah sendiri berdiri pada tanggal 21 April 2012 dan masih beroperasi sampai pada saat ini, meski hanya beradius sekitar 2,5 Km. Marsinah FM memiliki beberapa program siaran yakni : Siaran Bebas, Bollywood Hits, Dangdut Asyik, Pop dll. Untuk jadwal siaran sendiri dimulai dari hari senin s/d jumat pukul 16.00-23.00 WIB dan Sabtu- Minggu pukul 11.00 -23.00 WIB. Selain itu Marsinah FM juga membagikan berita-berita yang terajadi di Indonesia khususnya yang berkaitan dengan ketenagakerjaan dan konteks kehidupan buruh. Semua usaha ini dilakukan untuk dapat membuat para buruh di Indonesia tidak buta UUD khususnya tentang ketenagakerjaan, dan kemudian membagikan pengalaman dari berita-berita yang terjadi di tanah air. Perjuangan FBLP dan Marsinah FM ialah untuk menyejahterakan kehidupan buruh khususnya perempuan dari tindak penyelewengan yang dilakukan para pengusaha pabrik-pabrik.

fblp1fblp2sisco3 sisco1

More Information»
Perempuan Mahardika

Perempuan Mahardika

Jakarta Timur, DKI Jakarta

January 112016

Perempuan Mahardika adalah organisasi massa perempuan yang terdiri dari individu-individu dan seksi-seksi perempuan serta organisasi kerakyatan multisektor yang bertujuan untuk membebaskan kaum perempuan dari penindasan baik secara ekonomi, budaya, dan militerisme sehingga tercapai suatu sistem yang adil dan setara. Melawan budaya patriarki dan ideologi kapitalis juga merupakan fokus utama dari lembaga ini untuk mewujudkan apa yang mereka cita-citakan. Perempuan Mahardika hadir di tengah-tengah masyarakat membangun jaringan dengan beberapa organisasi untuk bergerak dalam lima isu utama yang dipandang penting. Isu kekerasan seksual, isu buruh perempuan, isu orientasi seksual dan gender, isu perempuan dan politik, serta sekolah feminis. Untuk isu kekerasan seksual yang menjadi sasaran adalah kampus-kampus untuk didirikan basis anti kekerasan seksual. Membangun jaringan dengan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta untuk memberikan advokasi kepada korban kekerasan seksual. Untuk isu buruh perempuan Perempuan Mahardika juga turut andil dalam berdirinya Federasi Buruh Lintas Pabrik suatu serikat buruh yang menaungi buruh perempuan sektor garmen dan tusuk gigi. Pelangi Mahardika juga organisasi yang didirikan untuk menaungi kasus LBT Perempuan yang mendapatkan diskriminasi di tempat kerja ataupun stigma negative dalam masyarakat. Untuk isu kekerasan seksual Perempuan Mahardika telah berhasil menyelenggarakan konferensi perempuan muda seluruh pulau Jawa yang bertemakan melawan kekerasan seksual. Lembaga ini juga banyak membahas tentang politik yang dilancarkan ole horde baru untuk meredam kekuasaan perempuan dan gerakan emansipasi wanita. Komodifikasi tubuh perempuan atau tubuh perempuan yang menjadi objek pemuasan ekonomi oleh orang-orang kapitalis juga merupakan salah satu isu yang dianggap penting dan menjadi pembahasan khusus dalam basis-basis di universitas tempat Perempuan Mahardika membuat jaringannya.

sisco5 sisco4 sisco2

More Information»
Gaylam (Gaya Lentera Muda Lampung)

Gaylam (Gaya Lentera Muda Lampung)

Bandar Lampung, Lampung

January 112016

Gaya Lentera Muda Lampung atau yang biasa disingkat Gaylam adaah organisasi GWL (Gay, Waria, LSL) yang didirikan pada tahun 2008. Tujuan dibentuknya Gaylam sendiri dalah untuk memberdayakan para gay dan juga waria agar bisa memiliki kemampuan yang juga berkompeten sama seperti orang-orang hetero pada umumnya. Organisasi yang bersifat kerelawanan ini diketuai oleh Rendie Arga yang biasa dipanggil teteh Rendie. Gaylam sendiri memiliki organisasi yang terdiri dari ketua, wakil ketua, bendahara, manager program&evaluasi, dan serta masih ada bagian-bagian lainnya yang nantinya bisa dilihat sendiri pada struktur organisasi. Pengurus dan anggota Gaylam sendiri sampai saat ini sudah cukup banyak, namun sayangnya masih ada beberapa orang yang seenaknya datang dan pergi dari organisasi Gaylam ini. Dibawah naungan Gaylam juga ada dua organisasi LBT yang bernama Gendhis, khusus untuk para kaum lesbian, biseksual, dan juga trandgender. Selain itu ada juga organisasi GWL khusus untuk remaja yang diperuntukkan bagi mereka para gay,waria, dan LSL yang masih berumur 15-24 tahun.

Gaylam sendiri juga memiliki rumah kesekretariatan dan rumah kreatif Gaylam yang mereka miliki sejak tahun 2012. Sebelum-sebelumnya banyak yang bercerita bahwa Gaylam dulu sebelum memiliki rumah kesekretariatan hanya bisa mengumpul di salah satu rumah pengurus ataupun anggota Gaylam. Namun sekarang ini pertemuan ataupun rapat bisa digunakan di tempat kesekretariatan. Rumah kreatif Gaylam juga ada di dalam tempat kesekretariatan ini, rumah kreatif gaylam adalah salah satu divisi yang sedang dijalankan oleh Gaylam dengan tujuan menjadikan para GWL lebih berkreatif dan berdaya. Tak heran Gaylam sudah pernah dan selalu mengikuti kegiatan festival Krakatau yang biasanya diadakan pada akhir Agustus. Dengan adanya rumah kreatif Gaylam para GWL disediakan pengetahuan lebih untuk dapat membuat kostum karnaval yang biasanya mereka gunakan untuk festival Krakatau. Selain adanya pembuatan kostum, rumah kreatif Gaylam juga memberdayakan anak-anak remaja sebagai dancer yang kini sering mengikuti lomba-lomba dancer di bebagai tempat.

Sampai saat ini Gaylam sendiri sudah mengikuti banyak sekali program-program baik itu diadakan oleh Gaylam sendiri ataupun diadakan oleh mitra kerja Gaylam yang bekerja sama dengan Gaylam. Pertemuan-pertemuan ataupun pelatihan-pelatihan diikuti oleh organisasi Gaylam dengan baik sampai sekarang ini. Bahkan tak jarang juga adanya pengurus atau anggota Gaylam yang mengikuti pelatihan di luar Lampung seperti Jakarta atau Bogor untuk mengikuti pelatihan yang diadakan oleh lembaga lainnya. Selain itu program-program yang dimiliki oleh Gaylam tidak sepenuhnya selalu dilakukan setiap harinya. Contohnya adanya jadwal menonton film LGBT bersama, biasanya diadakan setiap hari Jumat sebelum diadakannya sholat berjamaah di sekret Gaylam. Selain itu adanya pertemuan ataupun pelatihan juga biasanya dilakukan bila memang Gaylam diundang untuk hadir pada acara tersebut.

Akhir-akhir ini yang dikerjakan oleh para anggota Gaylam adalah mengerjakan kostum festival yang akan mereka ikuti dalam acara Festival Krakatau yang akan diadakan pada tanggal 30 Agustus mendatang. Mulai dari merancang atau mendesain sampai dengan membuat kostum adalah salah satu kegiatan yang dilakukan baik oleh pengurus ataupun anggota Gaylam. Selain kegiatan tersebut, adapun yang dilakukan oleh komunitas Gaylam saat-saat ini adalah mengrimkan nggota atau pengurusnya mengikuti berbagai macam pelatihan yang diadakan oleh organisasi GWL lainnya baik di Bandar Lampung sendiri ataupun di luar Bandar Lampung. Bahkan kadang-kadang Gaylam mengikuti pelatihan yang diadakan oleh para organisasi yang ada di Jakarta seperti Arus Pelangi, dll.

 

gaylam1 gaylam5 gaylam4 gaylam3 gaylam2

More Information»
Bank Sampah “My Darling” (Masyarakat Sadar Lingkungan)
December 312015

Bank Sampah My Darling (BSMD) adalah program pemerintah sebagaimana tertulis dalam UU no. 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, UU no. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, peraturan pemerintah no. 81 tahun 2012 tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah, peraturan daerah no. 10 tahun 2006 tentang organisasi perangkat daerah dan interuksi Walikota Jakarta Selatan no. 127 tahun 2012 tentang pelaksanaan pengelolaan bank sampah dan rumah kompos di wilayah kota administrasi Jakarta Selatan.

BSMD sendiri dibentuk oleh masyarakat. Yeni Mulyani adalah Direktur BSMD yang menjadikan garasi rumahnya menjadi tempat BSMD. Sejak tahun 2000, ia sudah mendaur ulang sampah dan membuka bank sampahnya pada tahun 2012. Pada saat itu, BSMD adalah satu-satunya bank sampah yang diresmikan oleh Walikota Jakarta Selatan. Bu Yeni yang dulunya aktif di PKK mengajak teman-temannya untuk dapat berkarya sambil menghasilkan uang melalui produk-produk hasil daur ulang. Sayangnya, sekitar tiga bulan setelah peresmian, ia justru ditinggalkan oleh teman-temannya.

BSMD melakukan jam operasional pada hari rabu dan sabtu dari jam 10.00-13.00. sampai saat ini, nasabah yang tercatat di BSMD hanya sekitar 30 nasabah. Padahal tidak banyak orang yang diperlukan untuk mengoperasikan bank sampah. Bank sampah hanya memerlukan seorang direktur, biro keuangan, customer service, teller, divisi pencatatan dan divisi pengepakan, tapi sekarang Bu Yeni mengoperasikan bank sampahnya hanya seorang diri.

Sekitar setahun setelah BSMD diresmikan, BSMD langsung digandeng dan menjadi CSR (Corporate Social Responsibility) dari PT. PLN. PT. PLN juga mempercayakan Bu Yeni untuk membina dan memberikan rekomendasi terhadap bank sampah yang layak bekerja sama dengan perusahaan milik negara tersebut. Bu Yeni justru jarang mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah. Ia merasa pemerintah tidak peduli dengan bank sampah yang telah dibentuknya, sehingga sudah dua kali ia mengembok pagar bank sampah saat perlombaan Adiwiyata. Pemerintah mungkin melihat tindakannya sebagai pemberontakan atau pembangkangan, padahal ia hanya ingin pemerintah memperhatikannya lebih lagi.

Facebook adalah media tempat Bu Yeni mencurahkan isi hatinya. Media sosial ini juga menjadi sarana yang mempertemukan Bu Yeni dengan banyak orang yang kreatif dan perduli dengan lingkungan. Sarana yang mempertemukan Bu Yeni dengan banyak orang ini juga membuatnya sering kali melakukan pelatihan dan pembinaan di berbagai tempat.

Gaya yang asyik dan pembawaannya yang menyenangkan membuat Bu Yeni banyak didatangi oleh kaum muda. Bukan hanya orang muda, stasiun televisi, koran dan berbagai media pemberitaan juga banyak menyorot dirinya. Motto Bu Yeni dalam menangani sampah adalah menjadikan sampah sebagai gaya hidup. Hal inilah yang membuatnya menarik perhatian. Ia biasanya mengenakan barang-barang bertema daur ulang, mulai dari anting, kalung, gelang dan juga tas. Ia juga tidak malu ketika memulung di jalanan atau di pasar. Menjadi pusat perhatian justru menjadi tujuannya, agar banyak orang yang melihat bahwa sampah bisa menjadi barang yang indah dan bernilai.

Tidak hanya itu saja, ibu yang memiliki satu orang anak ini juga tidak memasang tarif bagi pelayanannya di dunia sosial. ia juga tidak takut bila ada yang meniru hasil karyanya atau takut disaingi oleh orang lain. Ia justru berharap semakin banyak orang yang dapat mendaur ulang sampah menjadi barang yang indah dan bernilai.

1514970_858140874270851_3500005757869184126_n

More Information»

Gereja Silo Naikoten 1 Kupang terletak di pusat kota Kupang. Gereja tersebut berada di tengah-tengah komplek sekolah SMA Kristen. Keberadaan gereja Silo sendiri pada lokasi yang bermayoritas Kristen. Gereja ini memiliki 2 orang pendeta, yakni Ibu Pdt. Magdalena Adam-Manu, S.Th  yang adalah ketua majelis jemaat Silo dan bpk Pdt. Folkes Pellondo’u, S.Th (Emr) sebagai wakil ketua serta, 1 orang pendeta pelayan umum, yaitu Ibu Pdt. Herlissa Wattimury, Ssi.Teol. Dalam kebaktian umum Minggu ada 3 kali peribadahan yang dilakukan. Kebaktian I dari 06-07.30 WITA; Kebaktian II dari 08.00-09.30; Kebaktian III dari 17.00-18.30 Jemaat dari gereja Silo berasal dari daerah sekitar NTT dan juga luar NTT, yaitu Sabu, Timor, Rote, Alor, Sumba, dan daerah sekita NTT lainnya, serta Manado, Ambon.

Namun, kebanyakan jemaat yang lebih dominan di gereja Silo sendiri adalah jemaat yang berasal dari Rote. Meskipun terdiri dari banyak suku dan bahasa yang berbeda-beda, akan tetapi jemaat Gereja Silo tersebut memiliki hubungan kekeluargaan, kepedulian terhadap sesama jemaat sangat baik. Selain itu, gereja Silo mempunyai semangat berpelayanan yang sangat baik. Hal ini terlihat dari setiap keaktifan program yang bergerak pada bidangnya masing-masing. Masing-masing program tersebut adalah Majelis Jemaat Harian, terdiri dari bidang dan programnya, yakni Bidang Koinonia yang didalamnya terdapat Program Peningkatan Disiplin Majelis Harian jemaat serta Jemaat, Penguatan Persekutuan Wilayah, Peningkatan Kapisitas Organisasi Gereja.

Ada juga Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Ibadah dan Kesaksian, Bidang Koinonia terdapat program Pembinaan dan Peningkatan Pemahaman Alkitab, Peningkatan Peranan Penatua dan Diaken. Bidang Marturia terdapat program perayaan Hari-hari Gerejawi, Perayaan Hari Ulangtahun Lembaga, Pembinaan Katekisasi. Bidang Liturgia terdapat program Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Ibadah; UPP Penelitian dan Pengembangan, bidang Koinonia terdapat program Membangun dan Mengembangkan Dialog dengan Jemaat, Dalam bidang Oikonomia terdapat program Peningkatan Kapisitas Manajemen Organisasi Gereja, dan Penyusunan Data Base Jemaat yang Aktual dan Akurat; UPP Diakonia ada bidang Marturia yang memiliki  program perayaan Hari-hari Raya Gerejawi, Bidang Liturgia ada Program Pengembangan dan Peningkatan Kualitas Ibadah, Bidang Diakonia terdapat Program Peningkatan Diakonia Pendidikan dan Kesehatan, Pemberdayaan Jemaat dan Masyarakat, Kegiatan Sosial dan Bantuan Bencana (yang pada tanggal 27 Juli 2015) memberikan bantuan berupa beras , pakaian layak pakai untuk bencana kelaparan yang terjadi di Amanuban Selatan, So’e. UPP Anak dan Remaja terdapat program Pembinaan dan Peningkatan Pemahaman Alkitab, Klasis/Sinodal/Undangan di bidang Koinonia dan program ada bidang Marturia, Liturgia, Diakonia, dan Oikonomia. UPP Pemuda terdapat program Pembinaan dan Peningkatan Pemahaman Alkitab, Pengembangan Pola Pekabar Injil (yang beberapa waktu lalu melakukan pelayanan ibadah tersebut di gereja pedalaman di Leloboko, So’e dan gereja Panria, Warsalelang- Pantar Timur, Alor. Juga UPP Perempuan dan UPP Kaum Bapak pada bidang programnya masing-masing. Jemaat dari gereja Silo Naikoten 1 Sendiri terdari ± 1000 jemaat yang hadir di setiap ibadah Minggu. Gereja Silo juga memiliki 1 pos pelayanan, yaitu Pos Hubibi Efrata yang terletak di daerah Naikolan, Kupang- NTT.

Maya R. Beri 02 Maya R. Beri 03 Maya R. Beri 05 Maya R. Beri Maya R. Beri 04

More Information»
Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e (IPTL) Graca Loes
December 312015

Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e  (IPTL) adalah gereja Protestan pertama di Timor Leste.  IPTL sudah hadir di Timor Leste saat masih bersatu dengan Indonesia yang dikenal dengan GKTT (Gereja Kristen di Timor-Timor). Akan tetapi, Timor Leste merdeka dan memutuskan  mengganti nama menjadi Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e (IPTL).  Sinode IPTL terletak di pusat keramaian kota Dilli, di jalan Comoro. Sinode IPTL sudah terbentuk sejak 9 Juli 1988, dan pada tahun 2015 baru saja merayakan ulang tahun yang ke 27. IPTL sampai saat ini memiliki 72 jemaat mandiri yang tersebar dalam 4 Klasis. Salah satunya adalah IPTL Graca Loes yang berada dalam Klasis Oeste (Klasis Barat). Jarak yang ditempuh dari Dilli menuju Loes sejauh 60 km dan di sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan tebing dan laut yang indah.  IPTL Graca Loes terletak tidak jauh dari perbatasan Timor Leste dan Atambua (Indonesia). IPTL Graca Loes adalah salah satu jemaat yang cukup berkembang dibanding beberapa jemaat lain yang ada di Klasis Oeste, yang berdiri sejak tahun 1989. Pada masa Indonesia jemaat ini sangat berkembang pesat baik secara kuantitas dan kualitas. Akan tetapi,  kerusuhan tahun 1999  membuat banyak jemaat yang mengungsi dan memilih untuk menetap di Atambua (Indonesia). Banyak jemaat yang enggan kembali ke Timor Leste karena trauma dengan kerusuhan berdarah tersebut.

Terletak dipinggir jalan, IPTL Graca Loes berdiri kokoh . Loes dikenal dengan tanahnya yang subur dan dingin, sehingga tumbuhan palawija tumbuh subur di Loes.  Jemaat Loes  memiliki pekerjaan yang beragam, tetapi sebagian besar sebagai petani. Loes juga dikenal sebagai daerah penghasil pisang, karena berbagai jenis pisang dapat di temukan di sana. Ada juga jemaat  yang memilih untuk berternak hewan, berdagang dan juga mencari ikan di sungai dan di laut. Jemaat Loes hingga tahun 2015 mencapai 57 kepala keluarga, kurang lebih 250 orang jemaat yang terdaftar. Jemaat dilayani oleh seorang guru Injil dan seorang Majelis yang berdomisili dekat dengan gereja. Jemaat Loes belum memiliki pendeta jemaat, sehingga guru Injil-lah yang sebagian besar melakukan pelayanan di gereja. Setiap minggunya kegiatan gerejawi yang dilaksanakan adalah ibadah Minggu, Ibadah Rumah Tangga dan Sekolah Minggu. Tingkat kehadiran jemaat setiap minggunya mencapai 40-50 orang. Namun demikian, ada keunikan dalam jemaat Graca Loes, bahwa dalam setiap kegiatan ibadah didominasi oleh kehadiran anak Sekolah Minggu dan Pemuda. Bahkan jika ada ibadah-ibadah syukur atau peresmian gereja,  peran anak Sekolah Minggu dan pemuda lebih dominan. Partisipasi orangtua dalam kegiatan gerejawi sangat minim di Graca Loes. Tanpa kehadiran anak sekolah minggu dan pemuda, gereja akan kosong. IPTL Graca Loes memiliki generasi-generasi muda yang sangat antusias dalam kegiatan gerejawi meskipun dalam segala keterbatasannya. Jemaat Graca Loes banyak yang berdomisili secara menyebar di Loes dan tak jarang ada yang harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam untuk sampai ke gereja. Namun demikian, jarak tidak menyurutkan semangat untuk mengikuti ibadah. Jemaat-jemaat Loes berusaha memberikan yang terbaik di tengah segala keterbatasan. Saat ini IPTL Grasa Loes menjadi salah satu jemaat yang bertumbuh di Klasis Oeste.  Meskipun dalam komunitas yang kecil IPTL Graca Loes mampu memperlihatkan  eksistensinya untuk menjadi jemaat yang terus bertumbuh di dalam iman.

wanda2 wanda3 wanda4 wanda5 wanda1

More Information»
House of Stray

House of Stray

Jakarta Selatan, DKI Jakarta

December 312015

Rumah singgah House of Stray (HOS) merupakan sebuah rumah singgah sosial yang fokus pada perlindungan hewan anjing. Rumah singgah HOS didirikan pada tanggal 12 september 2012 dan didirikan oleh seorang wanita yang bernama bu Vidya. Rumah singgah HOS sendiri mempunyai sebuah shelter bagi hewan anjing-anjing yang telah di rescue. Shelter ini berlokasi di Desa curug, kecamatan Gunung Sindur, kabupaten Bogor. Di shelter itu sendiri sudah menampung banyak anjing-anjing hasil Rescue, yang sekarang ini total sudah menampung 70 anjing. Di shelter HOS ditinggali oleh empat orang karyawan atau Kennell boy yang bertugas untuk memberikan makan dan membersihkan kandang anjing setiap harinya.

Program atau kegiatan di rumah singgah HOS sendiri yaitu fokus pada me-rescue anjing-anjing yang telantar di jalanan atau anjing yang dibuang oleh pemiliknya. Rescue anjing ini merupakan kegiatan utama yang dilakukan oleh HOS. Selama berdirinya HOS, sudah banyak anjing yang terselamatkan hasil dari rescue HOS. Kegiatan rescue ini sendiri tidak setiap dilakukan. Rescue dilakukan apabila ada laporan dari masyarakat yang melihat seekor anjing terlantar atau tidak mempunyai pemilik. Laporan terhadap anjing yang terlantar dilakukan lewat fanspage HOS di Facebook. Tidak saja lewat laporan dari masyarakat, rescue dilakukan bisa dari inisiatif HOS untuk mencari anjing-anjing terlantar atau dibuang oleh pemiliknya. Akan tetapi, kegiatan itu tidak dilakukan setiap hari.

Selain kegiatan me-rescue anjing, HOS juga melakukan kegiatan mensterilisasi anjing. Sterilisasi anjing merupakan sebuah upaya untuk menekan populasi anjing yang sudah terlampau banyak. Sterilisasi anjing ini wajib dilakukan oleh HOS setelah melakukan rescue. Sterilsasi ini memprioritaskan terhadap anjing betina, namun tidak menutup kemungkinan terhadap anjing jantan. Manfaat dari sterilisasi anjing adalah mencegah timbulnya penyakit terhadap anjing, seperti penyakit kanker payudara, rahim, prostat dan lain-lain. Selain mensterilasasi anjing, HOS juga aktif melakukan pengobatan terhadap anjing yang mengidap penyakit. Kita tahu bahwa anjing yang di rescue kebanyakan mengidap penyakit. Otomatis HOS mempunyai kewajiban untuk mengobati anjing yang sakit.

Tidak saja melakukan kegiatan-kegiatan seperti rescue dan sterilasasi anjing. HOS mempunyai sebuah program yang bernama Orang Tua Asuh (OTA). OTA merupakan sebuah program yang diperuntukan bagi orang-orang yang ingin menjadi Orang tua asuh bagi anjing-anjing hasil rescue. OTA ini bertujuan untuk membantu HOS dalam memenuhi kebutuhan bagi anjing itu sendiri. Menjadi OTA di HOS cukup mudah, yaitu dengan memberikan Rp350.000/bulan. OTA ini sendiri direspon baik oleh masyarakat yang peduli terhadap anjing-anjing yang terlantar. Sudah semua anjing yang berada di HOS mempunyai OTA.

Program selanjutnya di HOS yaitu adopted. Program adopted ini merupakan sebuah kegiatan yang di peruntukan bagi masyarakat yang ingin mengadopsi atau memiliki anjing-anjing di HOS. Berbeda dengan OTA, Program adopted ini memiliki banyak syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh adopter yang ingin mengadopsi anjing-anjing di HOS. Syarat-syaratnya adalah anjing tidak boleh dijual, anjing tidak boleh dibunuh atau dipotong, Rumah harus aman bagi anjing dan lain-lain. HOS juga melakukan survei ke tempat adopter untuk memastikan aman dari lingkungan.

Kesimpulannya,  program dan kegiatan yang dijalankan di HOS bertujuan huntuk melindungi dan menjaga anjing itu sendiri. Bagi HOS, anjing merupakan hewan yang harus dilindungi dan dijaga habitatnya, karena anjing merupakan sahabat terbaik bagi manusia yang harus dilindungi oleh kita semua sebagai manusia


HOS1 HOS2 HOS3 HOS4 HOS5

More Information»
Orangutan Foundation International

Orangutan Foundation International

Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah

December 222015

Orangutan Foundation International adalah tempat perawatan dan pelestarian orangutan Kalimantan yang berada di Kalimantan tengah. Lembaga ini didirikan oleh Dr. Birute Marija Filomena Galdikas yang lahir pada 1946 di Jerman. Ia tumbuh besar di Toronto, dan menjadi warga Negara Canada. Saat ini ia juga sebagai warga Negara Indonesia karena penelitiannya di bidang antropologi, tepatnya ia meneliti tentang orangutan yang berada di Kalimantan. Pada awalnya, ia menjadi sarjana di bidang Psikologi dan Biologi, namun ia mengambil Antroprologi pada gelar master dan doktornya. Pada umur 25 tahun, Ia memulai penelitiannya di Tanjung Puting, Kalimantan tengah. Melihat keadaan Kalimantan yang mengancam ekosistem orangutan, dengan adanya pertambangan, kebun sawit, industri kayu, dan lain sebagainya, Dr.Birute akhirnya melakukan advokasi mengenai orangutan dan pelestarian orangutan. Upaya advokasi ini akhirnya dapat menjadi rehabilitasi dan ia dapat merawat orangutan yang menjadi yatim piatu. Itulah keadaan awal mula didirikannya Orangutan Care Center and Quarantine (OCCQ) dan lahirnya OFI. Seiring bertambahnya waktu, tempat ini semakin berkembang, dan hingga saat ini, sudah ada kurang lebih 300 orangutan yang dirawat di OCCQ, dengan lebih dari 70 karyawan yang setia hari berada di OCCQ. Kegiatan yang dilakukan di OCCQ adalah memberi makan kepada orangutan, merawat mereka dengan memberikan berbagai aktivitas untuk bermain di dalam kandang, melepas mereka ke hutan untuk beberapa jam, sehingga mereka tetap merasakan habitat aslinya, yaitu hutan. Selain itu, di OCCQ juga terdapat Nursery center, yaitu tempat perawatan untuk bayi orangutan yang masih butuh perawatan intensif. Bayi-bayi itu dirawat dengan beberapa karyawan yang ditugaskan disana. Mereka dimandikan setiap hari, diberi susu, diberikan makanan, dan dilepas ke hutan secara rutin setiap harinya. Makanan mereka adalah buah-buahan yang disediakan setiap harinya dengan bantuan para karyawan. Tidak hanya itu, OFI juga memperhatikan orangutan yang sudah dilepasliarkan maupun orangutan yang sudah liar karena lahir di hutan lepas. Mereka mendirikan camp-camp di beberapa tempat, seperti Tanjung Putting, Filomena, Tanjung Harapan, dan masih ada lagi beberapa camp yang didirikan untuk memantau kondisi dan pergerakan orangutan di sekitarnya. Salah satu camp yang saat ini menjadi objek wisata adalah camp Leakey yang berada di area Taman Nasional Tanjung Puting.  Saat ini, di OCCQ juga terdapat beberapa hewan lain, seperti Beruang, kera, binturong, dan burung kasuari. Hewan-hewan ini juga dipelihara dan dirawat oleh OCCQ OFI dengan membuatkan kandang untuk mereka, memberi makan setiap hari secara rutin, membersihkan kandang, dan membuat kegiatan untuk mereka bermain di dalam kandang. Orangutan Foundation International juga membuka kesempatan untuk setiap orang yang mempunyai kerinduan untuk membantu di OCCQ maupun di camp. Mereka datang dari berbagai Negara, termasuk kami (saya dan Timotius), dan kami inilah yang disebut volunteer OFI. Untuk setiap orang yang ingin membantu, bisa mendaftarkan diri melalui website OFI dan melakukan wawancara sebelumnya dengan pihak OFI.

20150629_121456 20150604_153535 20150602_121140 20150706_125019 20150629_124937

More Information»
Deaf Art Community

Deaf Art Community

Kraton, DI Yogyakarta

December 222015

Deaf Art Community merupakan sebuah komunitas seni tuli. Secara khusus mereka memang berfokus pada seni teater. Tidak mengherankan karena pembina mereka, Broto Wijayanto, merupakan alumnu ISI (Institut Seni Indonesia) jurusan seni teater. Teater ini pula yang menjadi awal pertemuan Pak Broto dengan teman-teman tuli, hingga pada akhirnya Pak Broto “terjebur” bersama teman-teman tuli untuk kemudian membentuk Deaf Art Community. Dengan kata lain, teaterlah yang menyatukan komunitas ini.

Lewat ketekunan mereka di bidang tater, mereka sudah berkeliling ke berbagai tempat untuk mementaskan berbagai macam judul teater. Mayoritas teater yang mereka mainkan berangkat dari pergumulan mereka seputar kehidupan mereka sebagai seorang tuna rungu. Lewat teater tersebut mereka berusaha menyuarakan semuanya. Mulai dari keluh kesah mereka, harapan mereka, dan mereka menceritakan sendiri keunikan dalam kehidupan mereka sebagai seorang tuli.

Sebagai sebuah komunitas seni, DAC tidak membatasi diri dalam seni teater. Banyak hal-hal seni lainnya yang mereka geluti, mulai dari seni rupa, seni tari hingga seni musik. Seni rupa yang mereka tunjukkan adalah  lewat pembuatan topeng-topeng yang nantinya diperjualbelikan. Selain topeng, produk dari teman-teman tuli lainny juga diperjualbelikan, seperti mug, kaos, pigura, pin, dll. Semuanya itu dilakukan sebagai salah satu cara menyalurkan kemampuan teman-teman dan menopang operasional komunitas ini. Produk ini juga menjadi awal Pak Broto mengajarkan anak-anak ini tuli hidup mandiri dalam kekuarangan mereka.

Sementara itu menarik untuk melihat kiprah teman-teman tuli menggeluti bidang seni tari dan musik. Kedua hal ini membutuhkan kemampuan yang menjadi kekurangan mereka, pendengaran. Pertanyaan terbesar adalah, “Bagaimana mereka bisa mendengar?”. Jawabannya adalah detak jantung. Mereka mampu mendengar lewat getaran suara dari musik yang mereka mainkan. Ketika menari, mereka mendengar musik pengiring dengan jantung mereka, begitu juga ketika mereka memainkan jimbe. Mereka menggunakan jantung mereka untuk menyamakan tempo dan ketukan, meskipun mereka tidak bisa mendengar.

Komunitas ini sendiri sudah berjalan kira-kira 10 tahun. Keberadaan mereka cukup diakui melihat cukup banyaknya stasiun televisi swasta maupun negeri yang mengundang mereka menjadi narasumber acara mereka. Komunitas ini pun sudah melahirkan banyak tuli-tuli yang berprestasi baik itu ditingkat nasional maupun internasional. Kebanyakan dari mereka yang berprestasi mengangkat dunia tuli mereka menjadi sebuah hal luar biasa, baik dibidang seni maupun akademis.

Namun, tidak semua tuli memiliki kesempatan yang sama. Kesempatan yang diberikan mereka, terutama dalam dunia kerja sangat sempit. Padahal, ini sangat penting untuk membantu mereka dapat  hidup normal seperti orang-orang lain yang dapat mendengar. Pemerintah sebagai pihak yang bertanggung jawab, nampaknya belum mampu bertindak secara optimal mengatasi permasalahan yang dialami teman-teman tuli.

Madre menjadi jalan keluar yang teman-teman tuli memperoleh lapangan pekerjaan. Usaha yang dibangun Pak Broto dan rekannya bertujuan untuk itu. Meskipun mereka tuli, banyak dari mereka yang berkeluarga baik itu dengan sesama tuli maupun dengan normal. Untuk menghidupi keluarganya, mereka perlu sebuah pekerjaan. Oleh karena itu, Kedai Madre ini menjadi langkah awal DAC untuk memberikan kesempatan teman-teman tuli bekerja dan menjadi tempat bagi mereka belajar untuk berwirausaha. Dengan terbatasnya kesempatan dan perhatian pihak-pihak lain saat ini, membuat kesempatan bagi diri sendiri nampaknya menjadi cara paling tepat dan cepat untuk menunjukkan diri mereka bisa dan sama dengan orang lain yang bisa mendengar.

 dac1 dac2 dac3 dac4 dac5

More Information»
Panti Kasih

Panti Kasih

Sukabumi, Jawa Barat

December 32015

Badan Panti Kasih didirikan pada 5 september 1975  oleh GKI Sukabumi. Panti ini berdiri atas inisiatif dan kerinduan beberapa anggota jemaat GKI Sukabumi yang ingin menampung , merawat, dan memberi pelayanan kepada para lansia yang tidak memiliki keluarga atau kerabat. Namun seiring dengan berjalannya waktu, panti ini juga menerima para lansia yang masih memiliki keluarga yang karena beberapa alasan tidak bisa tinggal bersama mereka. Lembaga ini dipimpin oleh Badan Pengurus yang terdiri dari ketua, wakil, sekretaris, bendahara, dan seksi-seksi. Merekalah yang merancang program-program, mencari donatur, dan mengurus kepentingan-kepentingan lain demi kemajuan dan kebaikan Panti Kasih.

Saat ini Panti Kasih dihuni oleh dua puluh satu orang. Mereka ditempatkan di kamar yang dihuni oleh satu atau dua orang. Dalam kesehariannya, mereka dirawat dan dilayani oleh para perawat yang berjumlah enam orang, tiga perawat laki-laki mengurus opa-opa dan tiga perawat perempuan mengurus oma-oma. Selain mengurus opa dan oma, para perawat terutama laki-laki juga bertugas untuk membersihkan kamar dan aula, menyapu halaman, dan menjaga pintu gerbang. Di samping itu, panti ini juga mempekerjakan dua orang tukang masak, satu orang tukang cuci, dan satu orang supir. Tentu saja, para karyawan ini dipimpin oleh seorang ibu Asrama.

Setiap hari opa dan oma bangun pada pukul 05.00 untuk mandi. Untungnya panti memiliki fasilitas water heater (air panas) sehingga mereka tidak perlu takut kedinginan. Setelah mandi, ada beberapa di antara mereka yang berolahraga atau sekedar duduk-duduk di teras menikmati udara pagi. Sekitar pukul 06.45 mereka sarapan pagi. Biasanya, sebagian dari mereka yang masih sehat dan dapat berjalan akan berkumpul di meja makan. Namun,  bagi opa dan oma yang sakit atau yang tidak dapat berjalan, makanan akan diantar ke kamar mereka. Selain makan pagi, siang, dan malam, opa dan oma juga diberikan cemilan sesuai dengan kesehatan mereka. Biasanya cemilan itu akan diberikan dua setengah jam usai mereka makan. Terkadang cemilan itu didapat dari donatur.

Setelah selesai sarapan, opa dan oma akan berkumpul di aula untuk ibadah pagi. Biasanya, jam dimulainya ibadah tergantung pada siapa yang memimpin. Ada yang dimulai pada pukul 07.30, 08.15, bahkan 08.30. Para pemimpin ibadah tersebut adalah para penatua dan pendeta GKI Sukabumi. Namun, setiap jumat ibadah akan dipimpin oleh oma Marta, salah satu penghuni panti Kasih. Setelah itu, jika ibadah yang berdurasi tiga puluh menit itu telah usai, sebagian dari mereka akan berjemur untuk kesehatan tulang mereka. Seperti itulah rutinitas mereka sehari-hari.

Selain rutinitas di atas, kesehatan opa dan oma selalu diperiksa secara rutin oleh salah satu perawat. Tekanan darah mereka diukur dan dicatat pada buku khusus. Di samping itu, setiap tahun panti ini juga mendapat pelayanan dari Akademi Keperawatan Kota Sukabumi dalam rangka kuliah kerja.

Setiap Minggu opa dan oma turut dalam Kebaktian I.  Mereka akan tiba di gereja setengah jam sebelum ibadah dimulai. Tentu mereka akan ditemani oleh seorang perawat perempuan dan laki-laki. Namun, bagi opa dan oma yang bergereja lain, mereka akan dijemput dan diantar oleh anggota jemaat gereja tersebut. Selain kebaktian Minggu, beberapa opa dan oma juga ikut serta dalam Ibadah Lansia yang diadakan setiap Jumat.

Hari ulang tahun  penghuni Panti Kasih akan diadakan secara masal, dengan membuat tumpeng atau kue. Biasanya ulang tahun mereka dirayakan setiap Desember.

 

ega5 ega4 ega3 ega2 ega1

More Information»
Yayasan Inter Medika

Yayasan Inter Medika

Jakarta Pusat, DKI Jakarta

November 292015

Yayasan Inter Medika adalah lembaga yang saat ini bergerak di bidang penanggulangan HIV/AIDS. Orang-orang yang mengalami HIV/AIDS akan menadapatkan advokasi dan konseling dari para anggota Yayasan Inter Medika. Orang-orang yang akan melakukan pemeriksaan mengenai statusnya HIV atau tidak biasanya akan diberikan advokasi mengenai HIV.

Dalam menjalankan programnya di bidang HIV/AIDS, Yayasan Inter Medika biasanya bekerja sama dengan pemerintah seperti Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) untuk mendapatkan kondom gratis. Yayasan Inter Medika sendiri tidak menjual kondom tersebut. Kondom itu kembali dibagikan secara gartis oleh Yayasan Inter Medika demi keamanan para pekerja seks laki-laki yang berhubungan dengan laki-laki.

Salah satu fokus Yayasan Inter Medika saat ini adalah memberikan pemahaman kepada laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki agar menggunakan kondom. Pemahaman ini diberikan agar mereka bisa terus menggunakan kondom dalam berhubungan seksual. Kemudian, menjangkau orang-orang yang berkemungkinan besar mengalami HIV juga menjadi tugas besar yang diemban oleh para anggota Yayasan Inter Medika. Mengapa hal ini dikatakan tugas besar Yayasan Inter Medika, karena orang-orang yang mereka ajak gengsi untuk melakukan pemeriksaan, apalagi mengenai HIV.

Kemudian, orang-orang yang mengalami HIV terus disemangati. Mereka didorong untuk mau meminum obat mereka. Obat yang diminum seumur hidupnya. Ini juga yang menjadi salah satu kesulitan karena harus mengajak mereka untuk semangat ketika meminum obat seumur hidupnya. Ada beberapa orang yang memang putus obat sehingga harus mengganti obatnya ke yang lebih tinggi kelasnya, seperti lini 2.

Pada bidang advokasi, Yayasan Inter Medika juga bekerja sama dengan pemerintah dan beberapa orang dari USAID. Hal ini dilakukan agar ketika para anggota Yayasan Inter Medika berhadapan dengan para polisi atau orang-orang yang mempunyai peraturan keras sehingga tidak bisa mendengar lembaga, maka pemerintah atau USAID pun diminta kerja sama untuk memberikan advokasi kepada para polisi yang mendiskriminasi dan sebagainya.

Pada titik lain, Yayasan Inter Medika sendiri memiliki anggota yang amat ramah. Keterbukaan juga menjadi salah satu hal yang patut dibanggakan oleh Yayasan Inter Medika. Tentunya keterbukaan terhadap kehadiran orang lain. Keterbukaan inilah yang membuat Yayasan Inter Medika sendiri tidak terjebak pada kekakuan pada orang lain. Mereka menuangkan keterbukaan ini di dalam kebersamaan yang sedang kami jalani. Keterbukaan dan hospitalitas dari para anggota Yayasan Inter Medika kiranya perlu dialami sendiri agar tidak memandang mereka dengan mata penuh kebencian.

Pada kenyataannya, coming out memang perlu dilakukan oleh orang-orang yang termarjinalkan atau yang tidak diakui keberadaannya oleh yang mayoritas. Para anggota Yayasan Inter Medika pun membuktikan hal itu. Hal ini ditunjukkan melalui keterbukaan mereka. Bahkan, kebanyakan dari mereka malah lebih nyaman untuk menjalani kehidupannya dengan terbuka. Tentunya terbuka dalam hal ini adalah dengan tidak menyembunyikan identitas mereka.

Mereka lebih nyaman untuk menjadi diri sendiri. Walaupun ketika melakukan hal itu, mereka harus mengorbankan segala sesuatunya, seperti diusir dan sebagainya.

Tindak diskriminasi memang masih amat tinggi terhadap kaum homoseksual. Namun, tindak diskriminasi seperti beriringan dengan kehendak untuk menyembunyikan identitas mereka. Oleh sebab itu, Yayasan Inter Medika juga bergerak untuk mengajak orang-orang untuk tidak malu mengakui orientasi dan identitas seksual mereka. Hal ini tentunya bergerak pada program jangka panjang mereka.erma1 erma2
tony1 tony3
tony5

More Information»
PERCIK (Persemaian Cinta Kemanusiaan)
November 112015

Percik (Persemaian Cinta Kemanusian) adalah lembaga independen yang didirikan untuk penelitian sosial, demokrasi dan keadilan sosial. Percik didirikan pada 1 Februari 1996 oleh 12 staf akademik UKSW yang keluar dari universitas tersebut karena menolak beberapa kebijakan dari pengurus yayasan. Lembaga Percik menjadi wadah baru untuk mewujudkan idealisme mereka mengenai masyarakat yang demokratis dan berkeadilan sosial.

Direktur Percik yang disebut dengan kepala kampung adalah pak Pradjarta. Beliau merupak salah satu dari 12 orang yang mendirikan Percik. Pak Pradjarta juga orang yang memberi ide mengenai tempat kerja atau kantor Percik. Lokasi Percik berada di tengah persawahan, dipenuhi pepohonan hijau dan akrab dengan alam. Tempat kerja ini diberi nama Kampoeng Percik. Para staf juga dipanggil dengan warga kampung, dan semua staf juga sangat akrab, jabatan tidak membuat batas atau jarak pada mereka. Di tempat ini setiap orang memiliki hak untuk mengungkapakan inspirasi merela. Di temapat ini adat istiadat Jawa dan kesederhanaan sangat dipertahankan. Di Kampoeng Percik terdapat lima rumah joglo yang menjadi tempat bekerja, aula dan perpustakaan.

Siapa saja boleh datang ke Percik untuk mengenal, belajar ataupun berkegiatan di kampung ini. Untuk perpustakaan Percik siapa pun boleh bergabung. Saat ini banyak mahasiswa yang bergabung menjadi member di perpustakaan Percik. Dilihat dari sisi kelengkapannya perpustakaan Percik cukup lengkap. Percik juga banyak menerbitkan buku-buku hasil penelitian dan seminar Internasional mereka. Dalam menerbitkan buku mereka banyak bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama dan masyarakat. Tidak hanya belajar dari buku-buku yang ada di perpustakaan Percik tetapi banyak mahasiswa yang datang ke sini untuk mewawancarai staf Percik dalam hal politik dan sejarah. Beberapa staf Percik merupakan lulusan S-2 dari luar negeri khususnya Belanda. Sekarang juga ada beberapa staf Percik yang sedang menyelesaikan S-2 atau S-3 mereka.

Hal yang sangat menari dari Percik adalah jam kerja. Di sini tidak ada jam kerja yang mutlak. Semua orang memiliki kebebasan untuk datang dengan sesuka hati mereka, akan tetapi kebebasan ini tidak membuat mereka tidak bertanggung jawab. Mereka memang datang dengan sesuka hati mereka tidak jarang mereka bekerja hingga malam bahkan dini hari.

Percik mempunyai relasi yang sangat banyak sebagai LSM. Tidak hanya kerjasama dengan lembaga atau institusi yang ada di Indonesia, tetapi Percik juga mempunyai banyak relasi di luar negeri. Tidak jarang Percik kehadiran tamu penting baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena banyaknya tamu Percik dari luar negeri, pemimpin lembaga ini membuat kebijakan untuk memberi kursus bahasa Inggris untuk para staf rumah tangga.

Saat ini Percik berdiri sebagai lembaga advokasi dan penelitian. Dari yang saya ketahui pada umumnya kegiatan Percik lebih banyak berjalan pada lintas iman. Program-program yang dimiliki Percik adalah pengembangan desa, Kata Hawa, Sobat (anak, muda dan dewasa), Fasilitator PBA (Pernikahan Beda Agama) dan lainnya. Selama saya di sini staf Percik lebih banyak melakukan penelitian-penelitian mengenai konflik-konflik agama yang ada di beberapa kabupaten di Jawa Tengah.  Hasil penelitian mereka dilampirkan ke dalam jurnal-jurnal dan kemungkinan besar jurnal ini akan mereka bukukan.

Saat ini juga Percik disibukkan dengan beberapa klien pasangan beda agama. Sebagai fasilitator, pada umumnya Percik sebagi tempat konsultasi dan sebagai lembaga penghubung pasangan kepada tokoh-tokoh agama dan mengurus dalam hal hukum seperti  catatan sipil. Dan banyak lagi kesibukan yang dilakukan Percik walaupun secara kasat mata mereka jarang terlihat di kantor.

percik4 percik3 percik2 percik1

More Information»
Keluarga Besar Waria Yogyakarta (KEBAYA)
November 112015

Keluarga Besar Waria Yogyakarta bisa dikatakan sebagai sebuah LSM yang bergerak pada bidang penyuluhan penyakit AIDS. Lembaga yang berdiri pada 18 Desember 2006 ini diprakarsai oleh seorang waria yang bernama Mami Vinolia. Sebenarnya KEBAYA bukan merupakan murni sebuah LSM, KEBAYA hanyalah merupakan rumah singgah bagi para penderita AIDS. Disini para penderita AIDS dapat berkumpul dan saling memberikan support satu sama lain.

Pada awal pendiriannya, KEBAYA sebenarnya hanya berfokus kepada para waria yang terkena AIDS. Namun seiring berjalannya waktu rumah singgah (shelter) KEBAYA pada akhirnya juga menerima mereka yang bukan waria supaya turut bergabung dan dirawat di KEBAYA.

Saat ini KEBAYA sudah menjadi organisasi pemerintah dan memiliki sekitar 400 anggota. Saat ini dari 400 anggota KEBAYA ada sekitar 60 anggota yang sudah terinfeksi virus HIV dan sudah mau untuk mengakui bahwa dirinya adalah seorang  ODHA. Namun sebenarnya diluar 60 orang tersebut masih banyak anggota KEBAYA yang sudah menyandang status sebagai ODHA namun masih belum mau mengakui dan belum mau terbuka kepada orang-orang di sekitarnya.

KEBAYA memiliki Visi untuk menurunkan angka infeksi HIV dan penanganan kasus AIDS di kalangan waria di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sementara Misi KEBAYA adalah untuk meningkatkan taraf hidup waria dengan masyarakat lainnya sebagai Warga Negara Indonesia.

Pada awal pembentukannya KEBAYA memiliki tujuan untuk:
Memberikan informasi, edukasi, dan advokasi kepada kelompok waria tentang HIV dan AIDS.
Memberikan konseling dan dukungan psikososial kepada kelompok waria yang berisiko tertular HIV dan teman-teman waria yang sudah menyandang status sebagai ODHA.
Melakukan pendampingan kepada teman-teman waria di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tujuan yang ditulis di atas sebenarnya adalah tujuan awal pembentukan KEBAYA. Namun seiring berjalaanya waktu KEBAYA akhirnya juga menjadi rumah singgah dan tempat tingga bari teman-teman penyandang status ODHA. Baik yang waria, perempuan, ataupun laki-laki. Keanggotaan KEBAYA terbuka untuk siapa saja yang ingin tergabung didalamnya dan rumah singgah KEBAYA bersedia menerima teman-teman ODHA baru untuk dirawart dan diberikan support baik dalam bentuk medis maupun psikologi di KEBAYA.

Saat ini kegiatan yang dilakukan KEBAYA adalah melakukan peningkatan pengatahuan dan kesadaran Mitra Strategis terhadap Infeksi Menular Seksual (IMS), HIV, dan AIDS. Selain itu KEBAYA juga melakukan pendidikan keterampilan kepada para waria usia lanjut dan KEBAYA juga melakukan kegiatan “Violet Community” yaitu sebuah pertemuan kelompok sebaya agar para penderita HIV dapat saling berinteraksi dan memberikan semangat antar satu sama lain.

Pada saat ini KEBAYA mendapatkan dukungan dana dari sebuah instansi Amerika Serikat yang bernama  Global Fund. Bantuan itu diberikan kepada Nahdhatul Ulama terlebih dahulu dan dana tersebut akan dialirkan ke Spiritia (Organisasi yang berfokus pada HIV/AIDS dalam skala nasional) lalu oleh Spiritia akan disalurkan ke KEBAYA untuk wilayah DIY. Selain itu, dana yang KEBAYA dapatkan juga berasal dari kantong mami Vinolia sendiri selaku pendiri dan pemimpin KEBAYA saat ini. Hingga kini mami Vinolia masih sering dipanggil oleh unversitas-unversitas untuk memberikan pengajaran mengenai HIV/AIDS. Hasil dari mami Vinolia melakukan seminar itulah yang juga digunakan untuk biaya operasional KEBAYA.

Rencana program yang akan KEBAYA lakukan adalah agar bisa bekerjasama dengan badan-badan pemerintah maupun swasta lainnya untuk melakukan program-program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Daerah Istimewa Yogyakarta.

kebaya4 kebaya3 kebya2 kebaya1

More Information»
PPK Tabitha

PPK Tabitha

Jakarta Pusat, DKI Jakarta

November 112015

Sesuai namanya, PPK (Perkumpulan Penghiburan Kedukaan) Tabitha merupakan sebuah lembaga milik Gereja Kristen Indonesia yang bergerak di bidang kedukaan. Kegiatan sehari-hari mereka jelas sangat berhubungan dengan masalah kedukaan. Pada awalnya lembaga ini dibuat untuk membantu orang-orang yang miskin. Pendiri lembaga ini ialah Pak Liman, dialah yang mengusulkan bahwa betapa perlunya gereja-gereja membantu jemaat miskin dalam hal kedukaan.

Nama Tabitha yang Bahasa Yunaninya ialah Dorkas dipilih karena Tabitha adalah seorang anak perempuan yang banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Maka, harapan para pendiri PPK Tabitha adalah agar PPK Tabitha dapat melakukan pelayanan bagi jemaat-jemaat miskin yang berduka di seluruh gereja di DKI Jakarta. Motonya PPK Tabitha ialah “Sobat Di Kala Duka”.

Saat ini, ketua umum pengurus PPK Tabitha ialah Bapak Tan Tiong Gie, sedangkan wakil ketua PPK Tabitha ialah Bapak Imanuel Kristo. Di bawah mereka, terdapat jajaran pengurus yang bertugas untuk mengawasi PPK Tabitha, di bawah para pengurus, ada yang bertugas di kantor pusat sebagai manager, dan kebetulan salah satu Manager di PPK Tabitha yaitu Bapak Edwin Andries Lasut, Manager Operasional PPK Tabitha harus berpulang ke rumah Bapa di Sorga pada tanggal 19 Juni 2015. Di bawah manager ada juga karyawan yang bertugas di kantor pusat sebagai front office, kasir, dan lain-lain. Selain itu ada juga karyawan yang terdapat di Gudang 1 dan Gudang 2 serta para petugas lapangan.

Kegiatan mereka mulai dari orang-orang di gudang 2 yaitu di Pamulang yang mempernis peti-peti kemudian diantarkan ke gudang 1 yang berada di Jalan Hemat . Kemudian dilanjutkan dengan koordinasi keluarga yang berduka kepada pihak PPK Tabitha ketika mereka menginginkan pelayanan dari PPK Tabitha. Setelah itu sales berhubungan dengan keluarga yang sedang mengalami kedukaan, sales memberitahukan kepada keluarga mengenai paket-paket pelayanan yang ada di Tabitha,  setelah kedua belah pihak sepakat, lalu sales mengabarkan kepala piket yang berada di gudang 1 untuk mengantarkan peti ke rumah duka atau tempat persemayaman yang sudah dipilih oleh keluarga tersebut.

Kemudian para kru mengantarkan peti yang berasal dari gudang di Jl. Hemat ke rumah duka atau rumah orang yang berduka tersebut sembari mengingatkan surat-surat yang harus dilengkapi untuk prosesi pemakaman/kremasi, dan untuk pembuatan akta kematian, mereka juga biasanya didampingi oleh pemandu, tugas pemandu ialah mendampingi keluarga yang berduka tersebut dari awal pengantaran peti sampai pemakaman/kremasi, mereka diwajibkan untuk mengikuti seluruh kegiatan ibadah yang berlangsung di sana, mengingatkan kembali segala jenis surat yang harus dilengkapi.

Biasanya pemandu mengikuti ibadah penghiburan, tutup peti, malam kembang, serta ibadah pelepasan. Pada saat menuju ke pemakaman, pemandu mengatur mobil-mobil, mengambil karcis parkir untuk digabung kemudian dibayar oleh keluarga sehingga mereka dapat mengikuti iring-iringan dan tidak tertinggal. Bila keluarga menginginkan prosesi kremasi, maka setelah selesai acara kremasi pemandu akan mengantarkan keluaga untuk mengurus administrasi di kantor krematorium. Namun bila keluarga menginginkan acara pemakaman, maka ada petugas dari PPK Tabitha yang mengurus tanah makam, serta mengurus segala jenis surat yang harus diserahkan ke kantor TPU tersebut.

Setelah selesai acara kremasi/pemakaman, maka petugas PPK Tabitha akan mengurus akta kematian, akta kematian dapat diserahkan kepada catatan sipil bila keluarga sudah melengkapi surat-surat untuk akta kematian. Harapan PPK Tabitha untuk menjadi Sobat Di Kala Duka memang sungguh dirasakan oleh orang-orang yang berduka sendiri karena mereka merasa terbantu dengan adanya petugas-petugas di PPK Tabitha. Saat ini, PPK Tabitha sudah melayani semua strata, tidak hanya orang yang miskin saja. Namun, mereka masih memiliki paket peti untuk orang yang tidak mampu, yaitu peti diakonia dan harganya lebih miring dibandingkan harga peti-peti yang lain.

Clipboard06 Clipboard04 Clipboard03 Clipboard02tabitha

More Information»
AIC Pyeongtaek

AIC Pyeongtaek

Pyeongtaek, Gyeonggi-do

November 112015

Antioch Indonesia Community (AIC) didirikan pada 25 Juni 1995 untuk memenuhi kebutuhan perubahan misi yang terjadi di Korea Selatan. Sebelumnya, orang Korea selalu mengirimkan misionaris ke luar negara mereka untuk memberitakan injil bagi orang lain yang masih belum menerima Yesus. Namun, pada tahun 1995 terjadi perubahan yang sangat drastis di Korea Selatan oleh karena banyaknya pekerja asing yang datang untuk bekerja di Korea atau yang kita kenal sebagai tenaga kerja asing, sekarang berganti nama menjadi buruh migran. Pada awalnya komunitas ini didirikan dengan nama Antioch International Community (AIC), namun seiring berjalannya waktu komunitas ini berubah menjadi sarana misi bagi orang-orang Indonesia. Alasan mengapa gereja ini diberikan nama tersebut adalah karena kerinduan untuk mengikuti jejak Gereja Antiokhia dalam Kisah Para Rasul sebagai gereja yang misioner. Namun, melalui rapat pelayan Gereja AIC, nama gereja ini kemudian diubah dengan pertimbangan  bahwa gereja ini bukan lagi bersifat Internasional seperti pada waktu didirikan, melainkan telah menjadi sebuah gereja khusus yang berfokus untuk orang Indonesia. Maka pada 25 Juni 2013 nama Antioch International Community menjadi Antioch Indonesia Community. Gereja ini dilayani oleh orang-orang Korea yang fasih berbahasa Indonesia dan menjalankan semua pelayanan, seperti ibadah, fellowship, dan konseling dengan menggunakan bahasa Indonesia. Orang Korea pada waktu itu tidak mempedulikan hak-hak dan kesejahteraan para buruh migran atau pekerja asing. Tetapi gereja AIC datang untuk membantu para buruh migran. Selain melayani dalam hal peribadahan, gereja ini juga melayani dalam hal membantu mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan hak-hak dan kesejahteraan para buruh migran dengan kasih. Akibatnya, banyak orang yang datang untuk meminta bantuan dari gereja AIC. Tempat awal pertama kali AIC berdiri adalah di daerah Ansan, namun seiring berkembang dan bertambahnya jumlah buruh migran yang datang untuk beribadah ke AIC ataupun meminta bantuan, maka AIC memutuskan untuk membuka cabang lagi di AIC Incheon. Pada tahun 2000, berdirilah gereja AIC di Incheon yang dilayani oleh misionaris Kim Gyo Shin atau Ibu Elisabeth. Pada tahun 2001 berdiri jugalah cabang AIC yang ketiga, yaitu di Suwon yang sekarang di pimpin oleh Pak Pendeta Rendy Sanger. Jumlah kehadiran jemaat dalam setiap ibadah Minggu di kedua gereja tersebut semakin meningkat. Gereja AIC melihat dan mempertimbangkan kebutuhan buruh migran yang semakin meningkat dan jarak jauh yang harus mereka tempuh untuk beribadah, maka gereja ini membuka kembali satu lagi di daerah Pyongtaek. Pada bulan Desember 2006, resmilah dibuka cabang gereja “AIC Pyeongtaek” yang dipimpin oleh Pendeta Maju Manurung.

Visi dan Misi Gereja AIC adalah untuk memberitakan injil kepada orang-orang Indonesia yang  bekerja di Korea Selatan dan menjadikan mereka murid Yesus. Gereja mengadakan persekutuan doa pada hari-hari biasa, ibadah umum dan pertemuan sel pada hari Minggu, serta KKR/ retreat pada hari-hari libur besar di Korea.  Setiap hari Sabtu sore setelah pulang kerja para pekerja akan berkumpul di gereja. Pukul 9.00 PM mereka akan mengadakan persekutuan doa , berbagi Firman dan kesaksian, dilanjutkan dengan makan malam sambil fellowship.  Gereja juga menyediakan berbagai bentuk pelayanan sosial secara gratis, seperti penerjemahan bahasa, belajar bahasa Korea, konsulitasi masalah pekerjaan, medical check up, dan tempat tinggal (shelter).

IMG_20150628_154901 IMG_20150627_161515

More Information»
AIC Incheon

AIC Incheon

Incheon, Korea Selatan

November 112015

Antioch Indonesia Community (AIC) didirikan pada 25 Juni 1995 untuk memenuhi kebutuhan perubahan misi yang terjadi di Korea Selatan. Sebelumnya, orang Korea selalu mengirimkan misionaris ke luar negara mereka untuk memberitakan injil bagi orang lain yang masih belum menerima Yesus. Namun, pada tahun 1995 terjadi perubahan yang sangat drastis di Korea Selatan oleh karena banyaknya pekerja asing yang datang untuk bekerja di Korea atau yang kita kenal sebagai tenaga kerja asing, sekarang berganti nama menjadi buruh migran. Pada awalnya komunitas ini didirikan dengan nama Antioch International Community (AIC), namun seiring berjalannya waktu komunitas ini berubah menjadi sarana misi bagi orang-orang Indonesia. Alasan mengapa gereja ini diberikan nama tersebut adalah karena kerinduan untuk mengikuti jejak Gereja Antiokhia dalam Kisah Para Rasul sebagai gereja yang misioner. Namun, melalui rapat pelayan Gereja AIC, nama gereja ini kemudian diubah dengan pertimbangan  bahwa gereja ini bukan lagi bersifat Internasional seperti pada waktu didirikan, melainkan telah menjadi sebuah gereja khusus yang berfokus untuk orang Indonesia. Maka pada 25 Juni 2013 nama Antioch International Community menjadi Antioch Indonesia Community. Gereja ini dilayani oleh orang-orang Korea yang fasih berbahasa Indonesia dan menjalankan semua pelayanan, seperti ibadah, fellowship, dan konseling dengan menggunakan bahasa Indonesia. Orang Korea pada waktu itu tidak mempedulikan hak-hak dan kesejahteraan para buruh migran atau pekerja asing. Tetapi gereja AIC datang untuk membantu para buruh migran. Selain melayani dalam hal peribadahan, gereja ini juga melayani dalam hal membantu mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan hak-hak dan kesejahteraan para buruh migran dengan kasih. Akibatnya, banyak orang yang datang untuk meminta bantuan dari gereja AIC. Tempat awal pertama kali AIC berdiri adalah di daerah Ansan, namun seiring berkembang dan bertambahnya jumlah buruh migran yang datang untuk beribadah ke AIC ataupun meminta bantuan, maka AIC memutuskan untuk membuka cabang lagi di AIC Incheon. Pada tahun 2000, berdirilah gereja AIC di Incheon yang dilayani oleh misionaris Kim Gyo Shin atau Ibu Elisabeth. Pada tahun 2001 berdiri jugalah cabang AIC yang ketiga, yaitu di Suwon yang sekarang di pimpin oleh Pak Pendeta Rendy Sanger. Jumlah kehadiran jemaat dalam setiap ibadah Minggu di kedua gereja tersebut semakin meningkat. Gereja AIC melihat dan mempertimbangkan kebutuhan buruh migran yang semakin meningkat dan jarak jauh yang harus mereka tempuh untuk beribadah, maka gereja ini membuka kembali satu lagi di daerah Pyongtaek. Pada bulan Desember 2006, resmilah dibuka cabang gereja “AIC Pyeongtaek” yang dipimpin oleh Pendeta Maju Manurung.

Visi dan Misi Gereja AIC adalah untuk memberitakan injil kepada orang-orang Indonesia yang  bekerja di Korea Selatan dan menjadikan mereka murid Yesus. Gereja mengadakan persekutuan doa pada hari-hari biasa, ibadah umum dan pertemuan sel pada hari Minggu, serta KKR/ retreat pada hari-hari libur besar di Korea.  Setiap hari Sabtu sore setelah pulang kerja para pekerja akan berkumpul di gereja. Pukul 9.00 PM mereka akan mengadakan persekutuan doa , berbagi Firman dan kesaksian, dilanjutkan dengan makan malam sambil fellowship.  Gereja juga menyediakan berbagai bentuk pelayanan sosial secara gratis, seperti penerjemahan bahasa, belajar bahasa Korea, konsulitasi masalah pekerjaan, medical check up, dan tempat tinggal (shelter).


IMG_20150628_121819 IMG_20150624_212007_HDR

IMG_20150625_213437_1435238733075

More Information»
AIC Suwon

AIC Suwon

Suwon, Gyeonggi-do

November 112015

Antioch Indonesia Community. Didirikan seorang missionaris Korea dari Gereja Onnuri bernama Park Kwan Gu pada tahun 1995. Saat itu gereja AIC pertama didirikan di Ansan dan masih bernama Antioch International Community. Gereja AIC ditujukan untuk menjangkau orang-orang asing, khususnya orang Indonesia untuk dapat beribadah sesuai dengan konteks bahasa dan budaya mereka. Sehingga, pada awalnya gereja ini memiliki jemaat para pekerja migran dan pelajar asing dari berbagai negara di luar Korea Selatan. Akan tetapi, semakin lama, jemaat dari Indonesia semakin bertambah dan dari negara lain semakin sedikit. Oleh sebab itu, AIC kemudian berganti nama menjadi Antioch Indonesia Community.

Gereja AIC dihadirkan untuk menjangkau jemaat Indonesia yang ada di Korea. Selain itu, pekabaran Injil disampaikan secara kontekstual dan menyeluruh, dengan ikut serta menolong para pekerja migran dan pelajar Indonesia di Korea dalam permasalahan yang berkaitan dengan keberadaan mereka sebagai kaum migran di Korea. Antioch Indonesia Community kini hadir di 4 (empat) kota besar: Ansan, Incheon, Suwon, dan Pyeongtaek. Keempat AIC berintegrasi dalam visi misi yang sama dan beberapa kegiatan bersama sebagai satu jemaat AIC.

AIC Suwon didirikan pada tahun 2001 dengan gembala jemaat pertama bernama Lee Eun Jun. Hingga tahun 2015, gembala jemaat di AIC Suwon telah mengalami beberapa kali pergantian dan kini Pdt. Rendy Padang menjadi gembala di AIC Suwon. Visi AIC Suwon tahun 2014-2015 adalah “Melangkah Menuju Kedewasaan.” Beberapa program rutin yang dilaksanakan di AIC Suwon adalah Renungan Pagi (bagi jemaat yang berada di shelter) setiap hari pukul 10.00, Persekutuan Sabtu setiap Sabtu pukul 21.00, dan Ibadah Raya setiap Minggu pukul 10.30, Kunjungan Pabrik (sesuai kondisi), Retreat, Retreat PGI-Korea, Kebersamaan Liburan Musim Panas, dan lain-lain. Jemaat AIC Suwon sebagian besar adalah pekerja migran, hanya beberapa yang mahasiswa.

AIC Suwon - Christnadi (2) AIC Suwon - Christnadi (1) AIC Suwon - Christnadi (5) AIC Suwon - Christnadi (4) AIC Suwon - Christnadi (3)

More Information»
Pondok Pesantren Al-Mizan

Pondok Pesantren Al-Mizan

Majalengka, Jawa Barat

November 112015

Pondok Pesantren Al-Mizan berdiri sejak tahun 1998, di daerah Ciborelang, Jatiwangi, Majelengka, Jawa Barat. Berdirinya Pondok Pesantren Al-Mizan berawal dari keinginan luhur keluarga Haji Muhammad Kosim Fauzan dan istri untuk mengembangkan dakwah Islam sekaligus menjadi benteng umat dari kecenderungan materialisme di masayarakat, khususnya moral di kalangan generasi muda. Keinginan luhur tersebut semakin diperkuat dengan adanya Kiai Zaenal Muhyidin dan Kiai Maman Imanulhaq yang ikut serta menentukan eksistensi Pondok Pesantren Al-Mizan bahkan hingga terbentuknya sebuah lembaga pendidikan yang disebut Yayasan Al-Mizan Langen Sari. Untuk itu, H. Muhammad Kosim Fauzan, Kiai Zaenal Muhyidin, dan Kiai Maman Imanulhaq disebut sebagai Trimurti Yayasan Al-Mizan Langen Sari.

Pondok Pesantren Al-Mizan merupakan pondok psantren yang berbasis Nahdatul Ulama (NU) dengan ajaran Islam Ahlusunnah Waljamaah (ahli yang mengikuti kebiasaan dan perilaku Nabi Muhammad SAW, terutama sunnahnya). NU sendiri memiliki cara berpikir moderat yang dasar pemikirannya berasal dari Al-Quran dan Sunnah, tetapi tidak melupakan realitas dan konteks masa kini. Al-Mizan merupakan salah satu kosakata dari bahasa Arab yang artinya adalah “seimbang”. Pondok Pesantren Al-Mizan dinaungi oleh Yayasan Al-Mizan Langen Sari. Untuk itu, pendidikan di dalam Yayasan Al-Mizan Langen Sari mengkolaborasikan antara ilmu Al-Quran, Intelektual, IPTEK, dan moral, serta teori-teori dalam kemasan lembaga pendidikan yang setara dengan tetap berbasis pada nilai-nilai kepesantrenan, moralitas, dan kebangsaan.

Pondok Pesantren Al-Mizan hadir untuk mencerahkan para santri dalam memahami Islam sebagai energi bagi perubahan, perdamaian, dan kemanusiaan. Semuanya itu dilaksanakan demi terwujudnya sebuah tatanan masyarakat yang kritis dalam berpikir, terbuka dalam bersikap, berdaya dalam bermartabat, dan berkeadilan dalam tatanan kehidupan.

Pondok Pesantren Al-Mizan mendidik santri-santrinya untuk memiliki semangat membangun peradaban yang memanusiakan manusia. Pondok Pesantren Al-Mizan menjadi sebuah pesantren yang mengibarkan panji cinta sejati dan persaudaraan abadi bagi seluruh umat manusia. Demi mewujudkan hal tersebut, santri-santri sering dididik untuk menjadi umat Islam yang sejati dan bangsa Indoesia yang sejati. Santri-santri di sini selalu dibiasakan oleh dewan Kiai dan Ustadz untuk memiliki watak inklusif dan menjunjung tinggi pluralisme. Dialog dengan antar umat beragama, mengikuti pelatihan teknologi dan informasi (IT), serta memelihara silaturahmi antar pesantren lain menjadi bagian dari kegiatan-kegiatan satri di luar pondok. Selain itu, di dalam pondok, para santri dididik untuk menjadi pribadi yang disiplin, mandiri, dan istiqomah (setia pada kewajiban).

Pesantren adalah sebuah wadah berdakwah yang Rahmatan-Lil-Alamin (rahmat bagi seluruh alam) dengan mengajak tanpa mengejek, merangkul tanpa memukul, dan berargumen tanpa sentimen.” – KH. Maman Imanulhaq.

ALMIZAN4 ALMIZAN2 ALMIZAN3 ALMIZAN6 ALMIZAN1

More Information»
HKBP Sukadono

HKBP Sukadono

Medan, Sumatera Utara

November 112015

Gedung HKBP Sukadono terletak dipinggir kota Medan, sekitar satu jam dari pusat kota Medan menuju arah timur laut dan 30 menit dari rumah tinggal saya. Selain itu yang memudahkan untuk mencari Gereja satu ini adalah karena lokasinya berdekatan dengan sebuah Lembaga Pemasyarakatan (LP) tentu hal ini memudahkan karena LP di medan hanya ada satu.

Ketika tiba di HKBP Sukadono, kita akan disambut oleh sebuah pagar biru yang cukup panjang, dan setinggi orang dewasa. Setelah itu kita akan langsung berhadapan dengan gedung Gereja yang cukup besar. Di sebelah kiri ada bangunan yang menjadi rumah tinggal Pendeta Resort/Mentor saya, dan tepat diatasnya adalah gedung Sekolah Minggu. Di sebelah kanan Gereja ada sebuah bangunan yang pengerjaannya masih berlangsung. Menurut Mentor saya, gedung itu nantinya akan dijadikan sebagai rumah untuk Biblevrouw dan diatasnya adalah gedung tambahan untuk kegiatan Sekolah Minggu.

Bila ingin masuk ke dalam gedung Gereja, kita akan melalui sebuah pintu coklat yang cukup besar. Setelah itu kita akan menemui dua buah pilar yang menopang balkon lantai dua. Setelah kita melalui dua pilar tadi, nampaklah bagian altar dan tempat pemusik. Di bagian depan-tengah terdapat sebuah salib besar berwarna perak menempel di dinding dan di bawah salib terdapat meja altar. Di sebelah kiri altar terdapat mimbar besar untuk Pelayan Firman, sementara di sebelah kanan meja altar terdapat beberapa kursi untuk pelayan ibadah dan sebuah mimbar kecil. Di belakang kursi pelayan ibadah ada ruang konsistori.

Bergeser ke sebelah kanan, kita akan melihat beberapa alat musik yang biasanya digunakan untuk mengiringi umat bernyanyi dalam ibadah. Di situ juga diletakkan sebuah mesin pengatur setelan sound system. Alat musik yang ada adalah dua buah keyboard, satu set drum, satu unit gitar listrik, satu unit gitar bass. Semuanya disusun rapi dan tidak berantakan. Bila kita berbalik dan melihat ke arah umat atau pintu masuk, maka kita akan melihat hamparan kursi untuk jemaat. Sejauh yang saya hitung, tak kurang dari 400 orang bisa ditampung dalam gereja ini. Bahkan bisa lebih dari itu bila lantai dua juga digunakan. Dari depan meja altar kita bisa melihat ada dua buah pintu yang juga bisa digunakan selain pintu masuk utama. Keduanya berada di samping kiri dan kanan umat. Masih dari tempat yang sama, kita akan bisa melihat sebuah tali yang digunakan untuk membunyikan lonceng ketika peribadahan akan dimulai.

Ada satu jenis pelayanan yang disediakan oleh gereja ini yang sudah jarang ditemukan di gereja lainnya, yaitu persekutuan janda. Karena tak banyak ditemukan di gereja lainnya, saya menganggap ini adalah salah satu ciri khas yang dimiliki oleh HKBP Sukadono. Meskipun anggota persekutuan ini tidak banyak, tetapi persekutuan ini tetap aktif dalam memberi kontribusi bagi gereja terkhusus dalam peribadahan. Terbukti dengan konsistennya persekutuan ini menyanyikan pujian dalam ibadah dengan formasi paduan suara.

Secara garis besar, umat HKBP Sukadono bekerja sebagai pekerja lepas. Hanya sebagian kecil saja yang bekerja pada satu instansi tertentu. Bahkan tak sedikit yang mendapat penghasilan dari beternak dan berdagang. Meskipun demikian, banyak anak-anak dari keluarga dalam jemaat ini yang bekerja dan berhasil di perantauan. Ini yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi kebanyakan keluarga dalam jemaat HKBP Sukadono.

foto

More Information»
GKMI Surakarta

GKMI Surakarta

Surakarta, Jawa Tengah

November 112015

GKMI merupakan gereja yang berdiri dari usaha para pedagang keturunan Tionghoa di Kudus, bukan dari hasil pekabaran Injil Zending Belanda maupun dari negara lain. Gereja ini kemudian menyebar ke berbagai daerah, yang awalnya hanya menyebar di sekitar Gunung Muria Kudus. Saat ini GKMI sudah ada di beberapa provinsi selain di Jawa seperti Lampung, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, dan di Sulawesi Tengah.

GKMI Surakarta memiliki dua jemaat dengan latar belakangan berbeda dan disebut sebagai Rayon 1 (Dawung) dan Rayon 2 (Mojosongo). GKMI Dawung dirintis oleh Pdt. (Em.) Eko yang tidak memiliki latar belakang pendidikan teologi yang formal. Gereja ini berada kota sehingga jemaatnya relatif secara ekonomi menengah ke atas. Sementara GKMI Mojosongo merupakan hasil pekabaran Injil GKMI Kudus. Berada di pinggir kota Solo sehingga jemaatnya secara ekonomi menengah ke bawah.

Awalnya dua gereja ini secara administrasi berbeda, lalu masuk awal tahun 2000-an ada inisitif dari beberapa majelis untuk melakukan proses rayonisasi. Barulah kemudian GKMI Dawung dan GKMI Mojosongo bersatu menjadi satu GKMI Surakarta. Masing-masing jemaat mempunyai majelis, tetapi ada Majelis Pengurus Harian yang mengatur jalannya administrasi yang terdiri dari masing-masing jemaat. Pelayanan pun dilakukan masing-masing. Gembala Jemaat GKMI Surakarta adalah Pdt. Nahum Sudarsono, S.Si (Teol) dan Pdm. Rotua Nurhayati Sinaga, S.Th serta dibantu satu orang asisten gembala bidang musik gereja yaitu Bpk. Widodo, S.M.G.

GKMI sendiri adalah gereja yang beraliran Mennonite. Beberapa penekanan dari gereja ini berbeda dengan gereja arus utama. Pertama soal baptisan hanya dilayankan kepada jemaat dewasa dan tidak kepada anak-anak. Kedua, menekankan lahir baru atau perjumpaan secara pribadi dengan Yesus. Dari paham ini kemudian GKMI tidak memberi tempat pada kontekstualisasi budaya lokal. Ketiga adalah anti-kekerasan. Dari paham ini, GKMI tidak mendorong jemaatnya untuk terlibat dalam ketentaraan, karena tentara identik dengan kekerasan, walaupun di satu sisi tidak anti pada rasa nasionalisme. Keempat adalah GKMI memisahkan peran antara gereja dan pemerintah, sehingga pendeta atau gembala jemaat tidak boleh terlibat dalam pemerintahan. Sekalipun terlibat, maka pendeta tersebut tidak boleh masuk dalam struktur GKMI secara sinodal dan bukan pelayan tugas khusus.

IMG_20150701_132648 IMG_20150630_095512 IMG_20150603_101941 IMG_20150530_213513 IMG_20150526_182007 IMG_20150524_110402

More Information»
GPIL Jemaat Wasuponda

GPIL Jemaat Wasuponda

Luwu Timur, Sulawesi Selatan

November 102015

Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL) merupakan salah satu organisasi gereja yang bergabung menjadi anggota Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). GPIL Jemaat Wasuponda, klasis Nuha-Towuti,  berdiri sekitar tahun 1970-an setelah sekitar empat tahun melakukan ibadah-ibadah di rumah-rumah penduduk. Dengan jumlah warga jemaat sekitar 80 kk, GPIL Wasuponda merupakan gereja yang tergolong sedang di Wasuponda sebab ada sekitar 15 gereja di Wasuponda ini dari berbagai aliran dan sebagian ada yang lebih besar.

Pada saat ini, pendeta di GPIL Jemaat Wasuponda adalah Pdt. Lukas Paoganan, S.Th. Ia memimpin jemaat ini bersama dengan 16 anggota majelis lainnya yang terdiri dari 13 orang penatua dan 3 orang diaken/syamas. Karena GPIL termasuk organisasi gereja Presbiterial-Sinodal, maka baik pendeta maupun majelisnya diusulkan dan dipilih oleh anggota jemaat.

Berada di wilayah Wasuponda yang sarat pendatang, GPIL Jemaat Wasuponda ini memiliki tantangan tersendiri. Angota jemaat berasal dari beraneka ragam suku seperti suku Padoe, Toraja, Seko, Rongkong, dan suku-suku campuran lainnya dengan asal yang berbeda-beda juga. Suku Padoe sebagai penduduk asli Wasuponda merupakan anggota jemaat terbesar, sementara suku-suku lainnya berasal dari berabagai wilayah bahkan dari Sulawesi Tengah. Dengan keadaan yang demikian keluar masuk anggota jemaat berpotensi lebih besar terjadi.

Pekerjaan dan tingkat pendidikan anggota juga beraneka ragam. Sebagain besar jemaat berpendidikan Sekolah Menengah Atas ke bawah, dan sebagian kecil berpendidikan Diploma dan yang lebih tinggi. Dengan tingkat pendidikan itu, lapangan pekerjaan pun beraneka ragam mulai dari pegawai negeri, karyawan PT. Vale, karyawan kontraktor, kerja bangunan, dan petani. Keberadaan PT Vale (dulu PT INCO) menjadi salah satu penggeliat utama perekonomian Wasuponda, termasuk bagi anggota Jemaat GPIL Wasuponda.

Pelayanan utama jemaat ini secara keseluruhan masih berkaitan dengan kegiatan-kegiatan peribadahan. Jadwal peribadahan sepanjang minggu selalu ada setiap hari, kecuali hari Selasa. Peribadahan, selain ibadah umum, dilakukan berdasarkan kategori-kategori yaitu Persekutuan Kaum Bapak (PKB), Persekutuan Wanita (PW), Persekutuan Pemuda (PP) dan Remaja, Sekolah Minggu. Selain itu juga ada ibadah rumah tangga. Dengan semua kategori itu, aktivitas peribadahan hampir dilakukan setiap hari.

Selain aktivitas peribadahan, GPIL Jemaat Wasuponda juga mengelola sebuah TK yang cukup besar. TK Kalvari GPIL Wasuponda, demikian nama TK itu, memiliki lebih dari 100 siswa yang dibagai menjadi lima kelas di bawah bimbingan lima guru TK dan satu kepala sekolah.

Gedung Gereja GPIL Wasuponda Ibadah Sekolah Minggu GPIL Wasuponda Ibadah Umum GPIL Wasuponda Retret Pemuda GPIL Wasuponda TK Kalvari GPIL Wasuponda

More Information»
PCS Jemaat Pekan Menggatal

PCS Jemaat Pekan Menggatal

Sabah, Malaysia

November 102015

Protestant Church in Sabah (PCS) Jemaat Pekan Menggatal adalah sebuah Gereja Kristen Protestan beraras Lutheran di Sabah yang terbentuk melalui semangat persekutuan beberapa orang Kristen awam bersuku bangsa Rungus di Kampung Mansiang (salah satu Kampung di Pekan Menggatal, Kota Kinabalu). Alkisah, beberapa Bapak dan Ibu yang sudah terdaftar sebagai anggota Gereja PCS Parokhi Kota Kinabalu membuat persekutuan di dalam perumahan di Kampung Mansiang secara bergilir-ganti sejak tahun 2002. Perlahan persekutuan tersebut semakin bertambah jumlah pengikutnya, sehingga terkumpulah cita-cita mereka untuk melembaga menjadi sebuah Gereja. Dengan usaha yang cukup bersemangat, akhirnya, persekutuan ini dilembagakan menjadi Gereja oleh Sinode PCS di tahun 2006 setelah sepakat mengembangkan persekutuan rumah ke rumah ke sebuah Lot bangunan di Pekan Menggatal, Kota Kinabalu. Mereka memilih sebuah Lot bangunan, karena untuk membangun sebuah Gedung Gereja di Kota Kinabalu bukan perkara yang mudah dan murah melainkan harus melalui proses yang panjang di bawah pengawasan pemerintah Negeri Sabah. Dengan kesepakatan menyewa Lot bangunan di Pekan Menggatal tersebut, Gereja ini kemudian termasuk ke dalam kumpulan PCS di Parokhi Kota Kinabalu.

Sebagai sebuah Gereja, PCS Pekan Menggatal tidak dapat terlepas dari sistem organisasi agar pelayanan dan persekutuan Gereja menjadi lebih terstruktur dan sistematis, serta yang lebih penting menurunalihkan ketentuan Sinode Pusat PCS. Secara organisatoris Gereja ini diatur oleh Ketua Majlis, Timbalan Ketua Majlis, Setiausaha (Sekretaris), Timbalan Setiausaha, Bendahari. Masing-masing unit mengupayakan terciptanya aktivitas pelayanan dan persekutuan Gereja yang membangun hubungan dengan sesama dan dengan Kristus, pemimpin Gereja. Alhasil, aktivitas pelayanan dan persekutuan Gereja terjelma di dalam Ibadah raya Ahad 1 dan 2, Ibadah Sekolah Minggu 1 dan 2, Persekutuan Doa Jumat malam, Latihan Ibadah Sabtu malam, Persekutuan Kaum Ibu-Bapak, dan Persekutuan Belia (muda-mudi).  Di masa CP 2 ini, aktivitas pelayanan dan persekutuan Gereja pun turut saya alami dan rasakan. Setiap aktivitas yang saya ikuti penuh rasa dan terkadang mengejutkan, karena ada beberapa model yang berbeda dari Gereja beraras Lutheran di Indonesia yang pernah saya kunjungi. Akan tetapi, Gereja yang baru berusia 10 tahun ini terus berupaya mengembangkan pelayanan dan persekutuannya agar dapat menjadi Gereja Kristus yang bermanfaat di Kota Kinabalu.

Clipboard29 Clipboard28 Clipboard27 Clipboard26 Clipboard25

More Information»
Urban Poor Consortium

Urban Poor Consortium

Jakarta Timur, DKI Jakarta

November 102015

Urban Poor Consortium (UPC) adalah lembaga independen dan nirlaba yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat miskin di daerah perkotaan. UPC didirikan pada tanggal  24 September 1997 dalam bentuk konsorsium yang beranggotakan lembaga dan individu, gabungan antara aktivis NGO, seniman, professional seperti arsitek, wartawan, antropolog, dan sebagainya. Keragaman latar belakang ini didasarkan pada pemahaman tentang permasalahan yang menjadi fokus permasalahan upc, kemiskinan kota, yang diasumsikan kompleks dan multi-segi (urbanpoor.or.id)

UPC berfokus pada masyarakat miskin di daerah perkotaan karena memiliki permasalahan yang lebih kompleks daripada masyarakat miskin di pedesaan. UPC memiliki tiga strategi dalam pelaksanaan kegiatannya. Strategi yang pertama adalah pengorganisasian. Strategi ini dimaksudkan untuk membuat rakyat miskin yang jumlahnya sangat banyak untuk diorganisasikan. Strategi yang kedua adalah advokasi. Strategi ini dimaksudkan untuk berusaha mengubah sistem atau struktur yang selama ini menyebabkan ketidakadilan atau bahkan yang menyebabkan kemiskinan. Dan strategi yang ketiga adalah jaringan. Strategi ini dimaksudkan untuk memperluas jaringan UPC dalam pengorganisasian rakyat miskin dan pelaksanaan advokasi.

UPC merumuskan lima indikator masyakarat miskin yang sudah diberdayakan, yaitu:

  1. sejahtera secara fisik yang meliputi sandang, pangan dan papan;
  2. memiliki akses kepada sumber daya seperti pendidika, kesehatan dan lain-lain;
  3. mempunyai kesadaran kritis akan kondisi kemiskinan yang dialami;
  4. terlibat dalam pengambilan keputusan; dan
  5. melakukan pengontrolan.

Ada lima kegiatan utama UPC dalam rangka pemberdayaan rakyat miskin, yaitu:

  1. tabungan masyarakat,
  2. kelompok belajar anak-anak,
  3. gerakan hidup sehat alami,
  4. pemenuhan hak-hak dasar masyarakat, dan

UPC mendampingi sebuah organisasi rakyat miskin yang disebut JRMK (Jaringan Rakyat Miskin Kota). JRMK adalah organisasi otonom yang memiliki kepengurusan sendiri dan semua anggotanya adalah rakyat miskin. JRMK berdiri pada tahun 2009 secara resmi. Kepengurusan JRMK, selain Ketua, Sekretaris, dan Bendahara, memiliki lima divisi, yaitu Hak Dasar, Jaringan, Ekonomi, KBA, dan GHSA (Gerakan Hidup Sehat Alami). Kelima divisi tersebut merupakan lima program utama JRMK yang terkait dengan lima kegiatan utama UPC.

Pertama, divisi hak dasar atau yang sering juga disebut advokasi adalah divisi JRMK yang bertugas untuk memperjuangkan pemenuhan hak-hak dasar rakyat miskin perkotaan. Hak tersebut berupa hak tempat tinggal, hak atas layanan kesehatan, pendidikan, dan sebagainya. Bila ada penggusuran dari pemerintah terhadap rumah-rumah warga maka divisi advokasi bertugas membantu. Bahkan tak jarang mereka ikut membentuk pertahanan di depan para petugas satpol PP yang akan menggusur warga. Divisi advokasi/hak dasar juga membantu warga agar bisa mengurus akta kelahiran, layanan BPPJS, Kartu Jakarta Pintar, Kartu Jakarta Sehat, dan sebagainya. Divisi advokasi membantu agar warga mampu mengurus hal-hal tersebut secara mandiri.

Kedua, divisi jaringan adalah bagian JRMK yang berfungsi untuk memperluas jaringan JRMK. Divisi ini berusaha mencari instansi-instasi lain yang bisa membantu JRMK. Bantuan tersebut dapat berupa bantuan pakaian bekas, makanan dan minuman bagi warga-warga miskin yang terkena gusuran atau bencana banjir.

Ketiga, divisi ekonomi adalah bagian JRMK yang berhubungan dengan KUBE, salah satu kegiatan JRMK, KUBE adalah singkatan dari Kelompok Usaha Bersama. KUBE adalah kegiatan tabungan warga. Uang-uang mereka dikumpulkan dan disimpan. Uang tersebut bisa diolah untuk mendapat penghasilan tambahan. Uang tersbut juga dapat dicairkan sebagai bentuk pinjaman.

Keempat, divisi KBA adalah bagian JRMK yang mengurus Kelompok Belajar Anak-Anak (KBA). Hingga saat ini KBA yang berada dibawah naungan JRMK tinggal satu yaitu KBA Bersama di Kampung Marlina, Muara Baru, Jakarta Utara. KBA ini merupakan bentuk Pendidikan Usia Dini yang mempunyai kurikulum sendiri rancangan UPC. Salah satu kurikulum khas KBA ini adalah pembelajaran tentang bencana alam beserta penyebab, pencegahan dan penanggulangan.

Kelima, divisi GHSA adalah bagian JRMK yang berusaha memperhartikan kesehatan masyarakat miskin. Program didasrkan pada keyakinan bahwa kesehatan yang alami akan lebih terjangkau daripada pengobatan rumah sakit. Hal itu seperti kata pepatah bahwa mencegah lebih baik daripada mengobati.

Clipboard24 Clipboard23 Clipboard22 Clipboard21 Clipboard20 Clipboard19

More Information»
Arus Pelangi

Arus Pelangi

Jakarta Selatan, DKI Jakarta

November 102015

Berbeda dengan Amerika Serikat yang sudah terbuka dengan isu-isu mengenai LGBT, di Indonesia masih sangat tabu ketika membicarakan mengenai LGBT. Meskipun sebenarnya LGBT sudah ada di Indonesia sejak lama, bahkan pada masa penjajahan dulu. Terdapat beberapa lembaga yang menangani mengenai isu-isu LGBT ini, salah satunya ada GAYa NUSANTARA, Metamorfosa, dan Arus Pelangi

Arus pelangi merupakan lembaga yang menangani dan konsentrasi terhadap isu LGBT. Arus Pelangi yang berlokasikan di Jl. Tebet Timur IIIA nomor 30 ini sudah berdiri pada tahun 2006 yang didirikan oleh Sembilan orang pendiri dan semakin lama semakin berkembang dengan program-program yang diberikan. Arus Pelangi sendiri sudah empat kali mengalami perpindahan kantor, hal itu disebabkan karena keamanan yang tidak mendukung teman-teman LGBT. Arus Pelangi dibuat  karena dasar perihatin para pendiri yang melihat bahwa tidak ada lembaga yang fokus memperhatikan LGBT, banyak lembaga yang menangani kasus anak dan perempuan akan tetapi tidak dengan LGBT. Arus Pelangi memiliki empat pilar sebagai tugas utama mereka yaitu Advokasi, Kampanye, Pendidikan, dan Pengorganisasian.

Arus Pelangi ini merupakan lembaga non profit non pemerintah yang perkumpulannya berbasis anggota. Arus Pelangi ini menganut prinsip independen, menolak bully, anti kekerasan, anti diskriminasi, kesetaraan gender, dan beberapa hal lainnya. Lembaga ini juga memiliki visi misi yaitu, terwujudnya tatanan masyarakat yang memiliki nilai pada kesetaraan gender, menghormati dan memahami teman-teman di komunitas LGBT, dan tidak melakukan kekerasan terhadapat LGBT.

Arus Pelangi memiliki banyak kegiatan yang diselenggarakan seperti misalnya work shop, pelatihan, dan juga Rumah Belajar Pelangi. Rumah Belajar Pelangi sendiri bisa dibilang sebagai sekolahnya orang-orang yang belum tahu mengenai LGBT, sehingga dalam proses di Rumah Belajar Pelangi ini akan dijelaskan dan diberikan pelajaran baik mengenai SOGIE, HAM, ataupun mengenai Hukum-hukum yang digunakan dalam kasus LGBT. Pelajaran-pelajaran tersebut merupakan dasar untuk mengenal LGBT.

Struktur organisasi yang ada di Arus Pelangi terdiri atas Sembilan pendiri, Ketua Badan Pengawas, Ketua Arus Pelangi, Bendahara, Sekertaris Umum, dan Koor. Program. Jam oprasional untuk para staf di Arus Pelangi ini ialah jam sepuluh pagi sampai dengan jam lima sore, meskipun terkadang ketika ada kegiatan mereka harus datang lebih dulu dan pulang larut malam. Di Arus Pelangi rata-rata para stafnya memiliki kemampuan berbahasa asing (Inggris) sangat fasih, hal itu disebabkan karena banyaknya kegiatan yang diikuti oleh mereka tidak hanya di Indonesia tetapi di luar Indonesia.

Arus Pelangi terbuka dengan orang baru yang ingin mengenal LGBT, akan tetapi Arus Pelangi ini sangat ketat mengenai keamanan kantor mereka. Setiap hari kantor Arus Pelangi dalam keadaan terkunci rapat oleh gembok, hal itu disebabkan keamanan yang ketat. Setiap orang yang ingin ke Arus Pelangi jika pihak luar harus melapor terlebih dahulu jika ingin mengunjungi kantor, dan jika staf harus memiliki kunci sendiri atau harus membunyikan lonceng/bel untuk masuk ke Arus Pelangi. Hal itu disebabkan karena lingkungan yang masih tabu dengan isu-isu LGBT. Ketakutan teman-teman di Arus Pelangi terhadap masyarakat yang masih belum terima mengenai LGBT, khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Arus Pelangi sendiri bekerja sama dengan lembaga-lembaga LGBT lainnya, seperti misalnya SWARA, GAYa NUSANTARA, PLUS, dan lembaga LGBT lainnya. Arus pelangi sendiri cukup terkenal di kalangan komunitas LGBT.

Clipboard14 Clipboard15 Clipboard18 Clipboard16 Clipboard17

More Information»
DIAN (Dialog Antariman) Interfidei
November 102015

Institut Dialog Antariman di Indonesia atau Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia, disingkat Institut DIAN/Interfidei.

Institut Dialog Antar-iman di Indonaesia (Institut DIAN/Interfidei) didirikan pada 20 Desember 1991 di Yogyakarta, Indonesia dengan akte notaries no.38 (de jure). Secara resmi dipublikasikan kepada masyarakat luas sebagai sebuah Lembaga (de facto), tanggal 10 Agustus 1992. Pendirinya adalah, Dr. Th. Sumartana (alm.), Pdt. Eka Darmaputera, Ph.D. (alm), Dr. Daniel Dhakidae, Zulkifly Lubis, dan Dr. Djohan Effendi.

Latarbelakang Pendirian

Historis:

Internasional. 1) Konflik yang disebabkan oleh perang dingin; 2) Kesadaran baru untuk menghormati agama lain serta pandangan ideologi yang berbeda; 3) Kegiatan dialog antaragama dan antarideologi menuju perdamaian dunia.

Nasional. 1) Persoalan Kemanusiaan yang terjadi di erah 1960-an sampai 1980-an : kemiskinan, keterbelakangan pendidikan, ketidakadilan hukum, ekonomi; 2) Konflik social-politik serta kesadaran tentang dialog dan rekonsiliasi; 3) Keterpanggilan para tokoh untuk mengembangkan sikap positif dan menjalin kerjasama untuk membangun masyarakat damai, produktif dan sejahtera; 4) Tantangan kooptasi dan politisasi negara terhadap agama-agama serta formalisasi agama oleh institusi agama.

Filosofis:

Agama-agama merupakan unsur penting dan berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kehidupan religius dalam konteks apapun tidak mungkin dilepaskan dari tanggungjawab untuk memecahkan masalah-masalah social-kemanusiaan. Dialog dianggap sebagai jalan keluar dari berbagai konflik di masyarakat; konflik antaragama, antargolongan, antara agama dan negara, agama dan ideologi, dsb.

Mengapa “dialog antariman”

“Iman”, adalah ungkapan otentik dari korelasi antara keyakinan dan realitas kehidupan, yang berhubungan erat dengan pengalaman konkrit kehidupan sehari-hari. Karena itu bisa dibicarakan bersama dalam suasana bebas dan terbuka. “Iman” sebagai esensi agama/kepercayaan, mendorong kepada dialog yang dilakukan setiap orang secara individual, bukan sebagai lembaga. “Dialog”, tidak bertujuan menghapus pebedaan, tetapi merupakan langkah menjalin komunikasi dan ungkapan kesediaan untuk saling mendengar, menghormati dan terbuka. “Dialog” mengandung konflik inheren pada hubungan antarmanusia, sekaligus menjanjikan sebuah akhir yang lebih dewasa untuk menghadapi dan menyelesaikan konflik.

Status dan Fungsi

Institut ini tidak berkedudukan mewakili agama sebagai institusi, tetapi sebagai perkumpulan dari para pemeluk agama yang terikat oleh imannya. Ruang lingkup kerja Institut ini berkaitan dengan dan melibatkan seluruh agama dan setiap wujud kepercayaan di masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, serta kehidupan tanpa kekerasan dan menghargai keutuhan alam semesta. Institut ini sebagai Forum di mana gagasan keimanan yang tumbuh dari diskursus dinamika kemajemukan, serta pengalaman konkrit di masyarakat didialogkan bersama.

Clipboard06 Clipboard07 Clipboard08 Clipboard09 Clipboard10 Clipboard11

More Information»
ICRP (Indonesian Conference on Religions and Peace)
November 102015

ICRP adalah sebuah organisasi berbadan hukum yayasan yang bersifat non-sektarian, non-profit, non-pemerintah, dan independen. ICRP mempromosikan dan memperluas dialog serta kerjasama lintas iman. ICRP dibangun oleh para tokoh dari berbagai agama dan kepercayaan di Indonesia, ICRP berusaha mempromosikan dialog dalam pengembangan kehidupan beragama yang demokratis, humanis dan pluralis. ICRP diresmikan tanggal 12 Juli 2000, namun jauh sebelum itu, Presiden RI Abdurrahman Wahid, upaya-upaya dialog lintas agama sudah tumbuh dan berkembang di Indonesia. ICRP bersama berbagai lembaga dan individu yang peduli memperjuangkan pluralisme dan perdamaian  lebih mempertegas upaya-upaya tersebut demi menegakkan keadilan dalam berbagai perspektif gender, HAM, kehidupan beragama, ekonomi, sosial, dan politik. ICRP turut aktif mengembangkan studi perdamaian dan resolusi konflik, serta memperjuangkan hak-hak sipil, kebebasan beragama, dan berkeyakinan.

Adapun visi misi ICRP. Visi : masyarakat yang damai dan sejahtera dalam konteks memajemukan agama dan kepercayaan di Indonesia. Salah satu visinya adalah menumbuhkembangkan multikulturalisme dan pluralisme dalam kehidupan masyarakat.

Saat ini staff yang aktif adalah Muhammad Monib sebagai direktur ICRP, Nurhabibie Rifai sebagai program manager, Muayati sebagai bagian keuangan, Lucia Wanehe sebagai sekretaris, Mukhlisin sebagai pimpinan redaksi online ICRP, Erton sebagai konstributor ICRP online dan Ahmad Nurcholis sebagai Ketua Pusat Studi Agama dan Perdamaian. Program yang sedang dijalankan oleh ICRP adalah Sekolah Agama yang bertema: Agama dan Perdamaian dalam perspektif agama-agama. Sekolah Agama ini, dijalankan dalam dua semester. Jadwal pelaksanaan: setiap minggu kedua dan minggu keempat, Jumat pukul 19.00 WIB-21.00 WIb.

Clipboard01 Clipboard02 Clipboard03 Clipboard04 Clipboard05

More Information»
GPIB Jemaat “Ebenhaezer” Tanjung Batu

GPIB Jemaat “Ebenhaezer” Tanjung Batu

Pulau Kundur, Kepulauan Riau

November 102015

GPIB Jemaat “EBENHAEZER” Tanjung Batu merupakan salah satu gereja GPIB yang berada di wilayah pelayanan Kepulauan Riau. Gereja ini beralamatkan di Jl. Usman Harun No. 1 RT 01/RW 01 Tanjung Batu Kota, Kabupaten Karimun, Pulau Kundur Kepulauan Riau 29162. Gereja ini terletak di daerah kota Tanjung Batu. Walaupun di sebut sebagai kota, namun jika dibandingkan dengan jakarta maka kota Tanjung Batu ini masih sangat jauh berbeda.

Jemaat yang ada di GPIB Jemaat “EBENHAEZER” Tanjung Batu ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda, baik dari segi suku, budaya, dan pekerjaan. Ada jemaat yang berasal dari suku batak, suku asli daerah Tanjung Batu (suku laut), dan suku Tionghoa. Untuk pekerjaannya, ada beberapa jemaat yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS), bekerja di kapal, berdagang, beternak, dan lain-lain.

Jumlah jemaat yang ada di gereja pusat GPIB Jemaat “EBENHAEZER” Tanjung Batu sekitar 60 kepala keluarga (KK). Namun, selain di pusatnya ini, GPIB Jemaat “EBENHAEZER” Tanjung Batu ini memiliki tiga pos pelayanan, yaitu Pos Pelkes Karunia Prayun yang jumlah jemaatnya sekitar 17 KK, Pos Pelkes Tanjung Medan yang jumlah jemaatnya sekitar 8 KK, dan Pos Pelkes Teluk Kelapa, yang jumlah jemaatnya sekitar 14 KK. Dari pusatnya, yaitu GPIB Jemaat “EBENHAEZER” Tanjung Batu, butuh waktu 1 jam perjalanan untuk dapat sampai ke Pos Pelkes Karunia Prayun menggunakan sepeda roda dua atau empat karena masih berada di pulau yang sama. Sedangkan untuk menuju ke Pos Pelkes Teluk Kelapa dan Tanjung Medan yang berada di Pulau Mendol (berbeda pulau), dibutuhkan waktu perjalanan sekitar 30 menit dengan menggunakan speedboat dan dilanjutkan dengan menggunakan sepeda roda dua sekitar 30 menit juga.

Jumlah jemaat yang tidak terlalu banyak ini membuat Ibadah Hari Minggu (IHM) hanya dilaksanakan satu kali saja. Namun, selain IHM, di gereja ini masih ada ibadah-ibadah lain yang dilaksanakan. Salah satunya yaitu ibadah rumah tangga yang dilaksanakan setiap hari Rabu malam. Seperti gereja GPIB pada umumnya, di GPIB Jemaat “EBENHAEZER” Tanjung Batu juga terdapat 6 Pelayanan Kategorial (Pelkat). Keenam pelkat tersebut yaitu Pelayanan Anak (PA), Persekutuan Taruna (PT), Gerakan Pemuda (GP), Persekutuan Kaum Perempuan (PKP), Persekutuan Kaum Bapak (PKB), dan Persekutuan Kaum Lanjut Usia (PKLU).

Walaupun anggota masing-masing pelkat belum begitu aktif mengikuti persekutuan, namun kegiatan peribadahan dari keenam pelkat ini terus dijalankan. Ibadah Pelkat PA dilaksanakan pada hari Minggu pagi, yaitu pukul 07.00 WIB di gedung gereja. Ibadah pelkat PT dan GP dilaksanakan bersamaan, yaitu pada hari Sabtu pukul 19.00 WIB di gedung gereja. Ibadah pelkat PKP dilaksanakan pada hari Kamis, yaitu pukul 15.00 WIB di rumah-rumah jemaat. Ibadah pelkat PKB dilaksanakan dua minggu sekali, yaitu pada hari Minggu kedua dan keempat pada pukul 19.00 WIB di gedung gereja. Sedangkan ibadah pelkat PKLU dilaksanakan satu bulan sekali yaitu pada tanggal 10, pukul 10.00 WIB di gedung gereja. Selain kegiatan peribadahan ini, masih ada kegiatan lain yang dilakukan di gereja ini. Beberapa contoh kegiatan rutin lainnya yang dilaksanakan adalah persiapan pemandu lagu yang dilaksanakan setiap hari Kamis dan persiapan para presbiter untuk pelayanan dalam IHM yang dilaksanakan setiap hari Jumat.

20150621_105440 20150614_105747 20150615_080235

More Information»
Yayasan Internasional Animal Rescue Indonesia
November 102015

YIARI ini berlokasi di Curug Nangka-  Bogor, yayasan ini berdiri sejak tahun 2007 sampai dengan sekarang. Yayasan ini merupakan kantor cabang dari YIAR YUK, terdapat dua kantor yang pertama di Ketapang- Kalimantan yang khusus untuk menyelamatkan  orang utan dan kedua di Curug Nangka. Yayasan ini didanai oleh kantor pusat dan beberapa lembaga asing yang membantu untuk menopang YIARI. Yayasan ini bukan milik pemerintah melainkan milik asing, meskipun demikian YIARI berada dibawah kementerian kehutanan. Sehingga berkerjasama dengan BKSDA atau PPS. Fokus utama yayasan ini menyelamatkan satwa terkhususnya adalah primata, primata yang diselamatkan seperti orang utan, macaca, beruk dan kukang.

Organisasi YIARI terdiri dari divisi SLC, SRM, Animal management, edukasi sosial, keamaan dan lapangan. Staff yang berkerja dikantor adalah orang-orang berpendidikan tinggi, karena untuk mengatur organisas dan berurusan dengan pihak-pihak tertentu. Sedangkan staff yang berkerja sebagai kipper, memonitoring kukang dan keamanan adalah masyarakat yang tinggal di sekitar kantor YIARI. Yayasan ini membantu memperbaiki perekonomian untuk masyarakat sekitar. Selain itu bahan makan pun diambil dari masyarakat sekitar.

Program yang dibuat oleh YIARI lebih banyak kepada anak-anak sekolah, universitas dan mereka akan memulai mensosialisasikan mengenai penyelamatan primata kepada masyarkat luas. Seminar mengenai kukang dan macaca sering dilakukan dalam menyuarakan penyelamatan primata. Melalui sosial media mereka mekampanyekan agar tidak terjadi jual beli. YIARI juga membuat petisi online mengenai penghentian perdagangan kukang, dari data yang didapat masyarakat asing yang sangat antusias untuk menandatangani petisi dibandingkan dengan masyarkat Indonesia sendiri. YIARI juga mendata melalui online masyarakat yang telah bergabung dengan sebuah komunitas pencinta binatang yang berada di Indonesia. Cara ini dilakukan untuk mengetahui sudah berapa masyarakat yang memelihara binatang yang termasuk katagori langka dan dilindungi.

YIARI sangat menyuarakan agar masyarakat luas tidak memelihara ataupun menangkap primata. Karena semakin banyak permintaan dari pasar maka perburuan di alam akan semakin banyak pula. Ini yang akan dihentikan oleh YIARI agar tidak terjadi perburuan oleh pemburu. Yayasan ini bermaksud untuk mengembalikan sisi liar dari satwa itu sendiri. Karena kebanyakan macaca, beruk dan kukang sudah tidak memiliki sisi liar sehingga YIARI berusaha untuk mengembalikkan mereka kembali kea lam.  Selain itu, YIARI merima macca atau kukang yang berasal dari penyitaan BKSDA atau pemilik yang langsung memberikannya kepada YIARI untuk di kembalikan ke alam. Sebelum macaca atau kukang di masukkan ke kandang dengan yang lain mereka harus menjalani karantina dan pemeriksaan kesehatan ataupun pemeriksaan gigi. Macaca, beruk dan kukang yang secara fisik dan kesehatannya baik akan di lepas liarkan di habitat asli mereka seperti di lampung, Kalimantan, jawa dan ujung kulon. YIARI akan terus berusaha untuk menyelamatkan satwa dan melepasliarkan pada habitat aslinya.

Clipboard13Clipboard02 Clipboard03 Clipboard04 Clipboard05

More Information»
GBKP Ujung Serdang

GBKP Ujung Serdang

Medan, Sumatera Utara

November 102015

Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Ujung Serdang ini lahir dari pemekaran GBKP Bangun Mulia. Sebelum GBKP Ujung Serdang berdiri, beberapa keluarga orang Kristen Karo, yang tinggal di desa Ujung Serdang telah menjadi jemaat di GBKP Bangun Mulia. Pada tanggal 10 Desember 1969, Saudara Rembak Barus, Jadi Ginting, dan Jabab Barus, membahas rencana pendirian gereja GBKP di Ujung Serdang. Mereka sepakat untuk membentuk Tim Formatur Pembangunan Gereja GBKP Ujung Serdang yang diketuai oleh Jadi Ginting. Kemudian, pada tanggal 15 Desember 1969, Tim Formatur Pembangunan Gereja GBKP Ujung Serdang menyampaikan rencana mereka kepada BP GBKP Bangun Mulia. Rencana itu pun segera disetujui oleh BP GBKP Bangun Mulia dan pada hari itu juga dibentuklah Panitia Pembangunan GBKP Ujung Serdang.

Panitia Pembangunan GBKP Ujung Serdang yang telah terbentuk itu segera bekerja untuk mengurus pengadaan tanah pertapakan GBKP Ujung Serdang. Pada tanggal 6 Januari 1970, Panitia Pembangunan mengajukan surat permohonan kepada perkebunan PTP IX Tembakau Deli Tanjung Morawa. Permohonan itu pun disetujui oleh pihak perkebunan dan mereka menyerahkan tanah ukuran 40m x 50m (Luas: 2000 m2).

Pada tanggal 12 Juli 1970, setelah selesai kebaktian di GBKP Bangun Mulia, jemaat mengadakan gotong royong untuk membersihkan tanah pertapakan gereja, yang dihadiri oleh 58 orang. Sebagai dana pembangunan, jemaat pada waktu itu dikenakan tanggungan 10 kaleng padi tiap keluarga dan 5 kaleng padi bila keluarganya tidak lengkap. Dari pengumpulan itu diperoleh uang sebesar Rp. 112.150,-. Pada tanggal 28 Juli 1970 dimulailah pembangunan gedung gereja ukuran 7m x 14m, Ruang Persikapen (Persiapan) ukuran 2m x 2m, dinding batu, rangka atap dari bambu, dan lantai tanah. Pembangunan ini dikerjakan oleh jemaat secara gotong royong. Pada waktu itu, bangku-bangku untuk sementara dibuat dari bambu.

Setelah pembangunan gedung gereja selesai, pada tanggal 6 Agustus 1970 diadakanlah kebaktian pertama di Ujung Serdang. Kebaktian itu dilaksanakan di dalam gereja yang baru selesai dibangun. Pemimpin kebaktian kali pertama itu adalah Pdt. M. Perangin-angin dari GBKP Bangun Mulia. Pada saat itu, jumlah anggota jemaat sudah ada 50 kepala keluarga.

Daerah pelayanan GBKP Ujung Serdang meliputi Desa Ujung Serdang, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Jemaatnya terdiri dari suku Karo, Jawa, Batak Toba, dan Simalungun. Mata pencaharian jemaat pada umumnya bertani dan beternak.

Pada tanggal 12 Juni 1988 dilaksanakan lelang-lelang untuk mengumpulkan dana pembangunan GBKP Ujung Serdang. Hasil dari lelang-lelang ini diperoleh uang sebesar Rp. 3.600.000,-. Dengan dana yang ada, bangunan gereja GBKP Ujung Serdang dijadikan permanen.

Pemilihan Pertua-Diaken (Penatua-Diaken) pertama kali diadakan pada tahun 1974. Pemilihan Pertua-Diaken ini dilakukan untuk mengadakan pelayan Tuhan yang akan melayani jemaat GBKP Ujung Serdang. Pertua yang terpilih pada waktu itu adalah Pt. Kolam Sitepu; Pt. Rintang Tarigan; Pt. Nunggu Sipayung; dan Pt. Bapak Panampat Barus. Lalu, Diaken yang terpilih, yakni Dk. Rembak Barus, Dk. Bapak Berto Tarigan, dan Dk. Aman Depari.

Pada tahun 1974 berbagai pelayanan kategorial mulai dibentuk. Dibentuklah lembaga Mamre (persekutuan kaum bapak GBKP). Lembaga Moria (persekutuan kaum ibu GBKP) pun dibentuk. Kemudian, lembaga Permata (persekutuan kaum muda-mudi GBKP) juga dibentuk. Masih pada tahun yang sama, telah mulai diadakan Kebaktian Anak/Kebaktian Remaja (KA/KR).

Pada saat Sidang Sinode GBKP tanggal 5-11 Nopember 1984, yang diadakan di Cibubur, Jakarta, Perkumpulan di Ujung Serdang disahkan menjadi Runggun (Majelis) Gereja Ujung Serdang.

Intan R _ GBKP Ujung Serdang (situasi ibadah umum) Intan R _ GBKP Ujung Serdang Intan R _ GBKP Ujung Serdang (kelas anak kecil) Intan R _ GBKP Ujung Serdang (Masuk Rumah Baru) Intan R _ GBKP Ujung Serdang (pergantian kepengurusan Lansia)

More Information»
Talita Kum

Talita Kum

Surakarta, Jawa Tengah

November 102015

Talita Kum adalah sebuah Organisasi LBT yang memfasilitasi komunitas-komunitas LBT yang ada di Solo. Bertempat di jalan Duku No. 16b, Leweyan, Kerten, Surakarta. Lembaga ini lahir karena kebutuhan dari masyarakat Solo yang memiliki orientasi seksual non meanstream lebih khususnya ialah lesbian, biseksual, dan trangender yang dikelompokan dari female to male yaitu priawan dan transman.

Lembaga ini diresmikan pada tanggal 8 Maret 2009. Saat itu kak Joe yang menjadi direktur utama Talita Kum yang pertama. Kini kak Reny Kistiyantilah yang menjadi direktur utama Talita Kum sejak tahun 2012. Organisasi ini tidak memiliki keanggotaan yang tetap. Mereka menetapkan sistem “yang ingin ikut bergabung, langsung bergabung saja”, jadi tidak ada anggota resmi dan tetap. Secara keseluruhan, organisasi ini memiliki komunitas dampingan yang cukup banyak, mencangkup selurh kota Solo. Meski ada juga lesbian yang tidak bergabung dengan komunitas.

Organisasi ini berkecimpung dalam pemenuhan dan perjuangan hak-hak LBT. Karena saat ini LBT sendiri menjadi kelompok yang termarjinalkan. Mereka sering mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari masyarakat. Bahkan kerap kali mereka mendapat kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat, lingkungan mereka bekerja, lingkungan sekolah, bahkan keluarga mereka sendiri juga menjadi pelaku kekerasan. Priawan dan transmanlah yang sering mendapatkan perlakuan seperti itu karena ekspresi mereka yang paling terlihat berbeda dari norma yang berlaku di masyarakat. Kekerasan ini menjadi indikator belum terpenuhinya hak asasi manusia untuk para LBT. Maka, perjuangan hak asasi manusia untuk para LBT menjadi fokus utama organisasi ini agar kekerasan tidak lagi terjadi.

Untuk memperjuangkan hak-hak LBT, Talita Kum menjalin kerja sama. Saat ini, Talita Kum sudah bekerja sama dengan berbagai organisasi untuk mendukung pemenuhan hak-hak untuk LBT. Baik organisasi LGBT atau organisasi di luar LGBT. Talita Kum menjalin kerja sama dengan organisasi LGBT lain seperti Gaya Mahardhika, Gessang, PLUSH, dan lain-lain. Selain organisasi LGBT, Talita Kum juga menjalin kerja sama dengan lembaga non LGBT namun mendukung kesetaraan status, gender, dan hak asasi manusia seperti SPEK-HAM, YIFoS, Jejer Wadon, dan masih banyak lagi yang lain. Talita Kum juga didukung oleh Ardhanary Institute dan HIVOS dalam pendanaan. Institusi ini menjadi sponsor mereka dalam berbagai acara meski kerja sama di antara keduanya dengan Talita Kum masing-masing berbeda.

Talita Kum memang bukan satu-satunya organisasi LBT di Jawa Tengah, namun organisasi ini adalah organisasi yang paling aktif dari organisasi LBT lainnya. Meski saat mahasiswa PL tahun 2015 datang ke sana, kami hanya mengikuti beberapa kegiatan saja, namun kegiatan yang dilakukan Talita Kum begitu banyak. Banyak kegiatan dan diskusi seminar yang difasilitasi oleh Talita Kum mengenai SOGIEB, isu seksualitas, dan masih banyak lagi. Talita Kum juga sering melakukan acara kebersamaan dengan komunitas dampingannya. Futsal, renang, jalan-jalan bareng, dan bermain musik bersama menjadi contohnya. Kegiatan futsal selalu rutin dilakukan selama dua minggu sekali. Banyak sekali LBT yang terlibat di dalamnya. Sesekali juga Talita Kum merencanakan liburan bersama dengan anggota-anggotanya sebagai kegiatan kebersamaan dan refresing. Selain itu Talita Kum sering mengadakan kegiatan nonton bersama dan berdiskusi setelahnya.  Talita Kum juga aktif mengikuti kegiatan dari organisasi lain, baik organisasi LGBT atau organisasi lainnya yang masih membahas isu gender, seksualita, dan LGBTIQ. Jadi, banyak pengetahuan dan pengalaman yang kami dapat di Talita Kum.

t.k3 IMG-20150718-WA0000 IMG_20150627_205158 IMG-20150614-WA0001 IMG_20150610_152403

More Information»
GMIBM Efrata Poigar

GMIBM Efrata Poigar

Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara

October 312015

Gereja Masehi Injili di Bolang Mongondow (GMIBM) merupakan salah satu gereja yang cukup besar di daerah Sulawesi Utara. Saya dipercayakan untuk melakukan CP 1 di GMIBM Efrata kecamatan Poigar 2 . GMIBM Efrata Poigar ada di Jln. Trans . Gereja ini memiliki 1 orang pemimpin yakni Pdt. Nikson A. Manoppo, S. Th. Gereja ini memiliki latar belakang jemaat yang sebagian besarnya bekerja sebagai petani. Namun, ada juga yang bekerja sebagai PNS dan pekerja swasta. Jumlah umat yang ada di GMIBM Efrata kurang lebih 800 orang, 223 KK. Jemaat ini memiliki 9 sektor pelayanan. Kehidupan jemaat di sini sangat beragam, dengan berbagai macam karakter. Sayangnya kehidupan jemaat di sini hanya menjadikan persekutuan bergereja sebagai formalitas belaka tanpa memaknai persekutuan itu. Kehidupan perekonomian yang sangat minim di jemaat ini membuat Ketua Majelis Jemaat yakni Pdt Nikson harus memutar otaknya dan berusaha membantu menaikan perekonomian jemaat. Gereja ini punya banyak program. Program-program yang mereka lakukan adalah program pembangunan kuncistori, renovasi gedung gereja, dan membuka usaha toko dengan tujuan untuk membantu perekonomian jemaat. Ada juga beberapa kegiatan perlombaan untuk mempererat kebersamaan jemaat. Jemaat ini punya beberapa hal yang mungkin tidak dimiliki semua orang. hal-hal tersebut adalah hospitalitas yang tinggi, kekeluargaan yang sangat baik, rasa toleransi yang tinggi dengan orang lain, juga terlihat mereka saling peduli. Di lain sisi, pelayanan yang ada di jemaat ini, sangat membutuhkan perhatian khusus dari pendeta dan sinode. Selama saya berada di jemaat ini, saya sangat prihatin pada cara kerja majelis yang tidak mau tahu dengan kebutuhan jemaat, persekutuan pemuda yang sangat minim, Sekolah Minggu yang sangat memprihatinkan, serta kurangnya rasa tanggung jawab pada setiap pengurus sektor. Jemaat ini pun memperlihatkan kepada saya kehidupan mereka yang mabuk-mabukan, suka berjudi, suka mengeluarkan kata-kata kotor (makian), dan sulit untuk ada dalam persekutuan ibadah. Para pelayan yang ada di gereja ini pun masih harus dilatih dan dilengkapi dengan persiapan yang matang untuk melayani jemaat. Sayangnya, di gereja ini tidak ada persiapan sama sekali antara pendeta dengan majelis untuk ibadah Minggu. Setiap majelis diberikan kesempatan untuk berkhotbah di hari Minggu, tetapi persiapan yang mereka lakukan adalah persiapan sendiri-sendiri, bukan persiapan bersama, dan keadaan seperti ini baru saya temui di GMIBM Efrata Poigar.

Bukan saja majelis, tetapi tidak aja juga persiapan untuk seluruh Guru Sekolah Minggu (GSM). Lebih mirisnya lagi, ada 27 GSM tetapi yang aktif hanya 1-2 GSM. Hal ini berpengaruh pada adik-adik layan, mereka menjadi malas untuk datang ke Sekolah Minggu. Mereka lebih memilih untuk bermain dan nonton TV di rumah dari pada pergi ke Sekolah Minggu. Selain itu, tidak ada pembagian kelas di Sekolah Minggu sesuai dengan jenjang mereka. Hal ini pun berdampak buruk kepada semua adik-adik layan karena setiap jenjang punya daya tangkap dan cerna yang berbeda-beda. Bukan saja tidak adanya pembagian kelas, tetapi juga tidak ada kreativitas apa pun yang diajarkan kepada adik-adik layan. Di sinilah terlihat bahwa kebutuhan rohani dan pengembangan kreativitas bagi adik-adik layan sangat minim. Keadaan jemaat dan pelayanan yang seperti ini menjadi perhatian khusus bagi pendeta yang sedang memimpin di jemaat ini, harus ada perubahan yang dilakukan.

 

gmibm1 gmibm2 gmibm3 gmibm4

More Information»
GBKP Runggun Perumnas Simalingkar

GBKP Runggun Perumnas Simalingkar

Medan, Sumatera Utara

February 212014

Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Runggun (musyawarah) Perumnas Simalingkar, Deliserdang, Medan, memiliki jemaat + 750 KK yang berdomisili di wilayah Perumnas Simalingkar dan sekitarnya. Latar belakang pendidikan jemaat sebagian besar bergelar S-1 dengan berbagai macam pekerjaan. Ada yang menjadi wiraswasta, guru, dosen, pengusaha, karyawan, dsb.

Gereja ini dilayani oleh satu pendeta dan 65 pelayan (Pertua dan Diaken). Dan memiliki sejumlah kegiatan gereja yang dilaksanakan hampir setiap hari, seperti hari Senin dan Rabu ada PJJ (Perpulungen Jabu-Jabu) atau kebaktian rumah tangga; hari Selasa PA Mamre (kaum bapak) dan lansia; hari Kamis PA Moria (kaum ibu); hari Jumat PA Permata.

Jemaat di GBKP Perumnas Simalingkar termasuk jemaat yang kritis dalam menanggapi persoalan-persoalan mengenai kehidupan jemaat maupun para pelayan. Misalnya mengenai khotbah yang dilayankan oleh Pertua, jemaat banyak yang tidak setuju karena pertua dianggap tidak berkompeten untuk berkhotbah. Apalagi bebicara tentang para pelayan yang dianggap hanya “modal gelar jabatan”, yaitu para pelayan yang menyandang gelar pertua atau diaken tetapi tidak mencerminkan hidup sebagai hamba Tuhan, karena tidak memiliki sikap teladan bagi jemaat.

Hal yang menarik bagi saya di dalam kehidupan di gereja ini ialah “Permata” (sebutan untuk kaum muda). Jumlah mereka diperkirakan sekitar 400 pemuda. Oleh karena itu mereka dibagi 4 wilayah, yaitu Tesalonika 1, Tesalonika 2, Tesalonika 3, dan Tesalonika 4. Kehidupan pemuda di gereja ini sangat aktif dan giat dalam keterlibatan pelayanan di gereja. Mereka senang berolahraga bersama di gereja, mengadakan retreat, dan Penelahan Alkitab. Namun demikian kehidupan pemuda di tempat ini bukan tidak bermasalah. 2 sampai 4 orang saya ketahui memiliki keluarga yang cukup “berantakan”. Mulai dari orangtua yang bercerai, anak muda yang kecanduan obat-obatan terlarang, seks bebas, dsb. Dari sejumlah persoalan yang muncul dalam kehidupan mereka sayangnya perhatian pelayan (Pendeta, Pertua, dan Diaken) sangat kurang, bahkan tidak pernah menjangkau kehidupan mereka, sehingga banyak pemuda yang kemudian memilih untuk tidak pergi ke gereja.

20150529_110836 20150608_182115 20150606_173653 20150701_183342 20150705_190059

More Information»
Migrant CARE

Migrant CARE

Jakarta Timur, Indonesia

February 212014

Migrant CARE adalah organisasi non-govermental (NGO) yang fokus mengupayakan kesejahteraan buruh migran dan keluarganya. Beberapa upaya dilakukan demi mencapai tujuan tersebut, antara lain sebagaimana yang menjadi motto dari Migrant CARE: counseling, advocacy, research, education. Counseling berarti Migrant CARE memberikan penyuluhan/sosialisasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan buruh migran kepada masyarakat. Advocacy berarti Migrant CARE terbuka dalam menerima pengaduan serta memberi bantuan hukum bagi buruh migran dan keluarganya. Research berarti Migrant CARE turut serta dalam meneliti masyarakat dan menyajikan data aktual terkait buruh migran. Education berarti Migrant CARE turut berperan serta menunjang pendidikan serta pelatihan yang layak sebagai bekal baik pengetahuan maupun keterampilan untuk bekerja di luar negeri kepada buruh migran.

Pengupayaan kesejahteraan buruh migran merupakan suatu hal yang penting karena mereka juga bagian dari masyarakat yang seharusnya dijamin kehidupannya oleh negara. Namun, sampai saat ini banyak dari mereka yang tidak mendapatkan hak-haknya sebagai seorang pekerja. Banyak buruh migran yang gajinya tidak dibayar, tidak bisa pulang, diancam, disiksa, bahkan dibunuh, dan lainnya. Migrant CARE hadir untuk menyuarakan keberadaan buruh migran kepada seluruh lapisan masyarakat serta berjuang mengupayakan kesejahteraan bagi mereka dan keluarganya.

Dalam pekerjaannya, Migrant CARE memiliki 4 divisi.

  • Divisi Program Advokasi Berbasis Teknologi. Divisi ini dalam pekerjaannya lebih sering berada di bandara, memantau bagaimana arus migrasi dan melayani para buruh migran yang hendak berangkat atau yang hendak pulang ke Indonesia.
  • Divisi Advokasi Kebijakan. Divisi ini bergerak aktif dalam mengadvokasi buruh migran lewat pembuatan Undang-undang dan peraturan-peraturan terkait. Divisi ini terus memantau bagaimana perkembangan dari pembuatan serta turut memberikan masukan demi tercipta peraturan yang merangkul kaum buruh migran.
  • Divisi Pengembangan Informasi dan Pengetahuan Migrasi. Divisi ini fokus pada penyerapan informasi mengenai buruh migran lewat pemberitaan media atau juga penelitian. Divisi ini bertanggung jawab dalam menyediakan data yang valid mengenai buruh migran.
  • Divisi Advokasi Bantuan Hukum. Divisi ini bergerak dalam memberikan layanan bantuan hukum bagi buruh migran dan keluarganya. Tugas dari divisi ini antara lain: menerima pengaduan kasus buruh migran dari keluarga/kerabat/buruh migran itu sendiri; membuat laporan kasus serta surat kuasa yang ditandatangani oleh pihak buruh migran; melaporkan kasus tersebut ke lembaga pemerintahan (Kemenlu, BNP2TKI, Depnaker, dll); memantau proses penyelesaian kasus tersebut dengan meminta perkembangan kasus ke lembaga-lembaga pemerintahan terkait.

Solidaritas antarstaf Migrant CARE sangat baik. Dengan bangunan rumah yang dijadikan Kantor Migrant CARE serta prinsip kekeluargaan turut menciptakan suasana bekerja yang efektif dan nyaman. Dengan prinsip kekeluargaan tersebut Migrant CARE melayani dan memperjuangkan hak-hak kaum buruh migran.

Migrant CARE mampu memberikan gambaran faktual terkait buruh migran di lapangan kepada masyarakat. Apa yang terjadi dengan buruh migran di luar negeri; bagaimana lingkungan dan keluarga buruh migran; di mana titik permasalahan dari kasus-kasus buruh migran; bagaimana seharusnya kaum buruh migran diperlakukan; itu semua adalah beberapa hal yang dapat dijawab oleh Migrant CARE. Oleh karena itulah Migrant CARE juga menjadi mitra pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan yang merangkul salah satu kaum yang termarjinalkan ini.

Lembaga ini sangat dianjurkan untuk menjadi tempat Praktik Lapangan STT Jakarta.

migrant care1 migrant care2 migrant care3 migrant care4

More Information»
All Listing Types All Locations Any Rating

Listing Results

  • Gereja Kristen Sulawesi Barat Jemaat Imanuel Bau

    Gereja Kristen Sulawesi Barat Jemaat Imanuel Bau

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GKI Sidoarjo

    GKI Sidoarjo

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Silsilah Dialogue Movement Zamboanga

    Silsilah Dialogue Movement Zamboanga

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Yayasan Pulih

    Yayasan Pulih

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Reef Check Indonesia

    Yayasan Reef Check Indonesia

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Protestant Church in Sabah (PCS) Tinangol

    Protestant Church in Sabah (PCS) Tinangol

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Badan Narkotika Nasional (Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional)

    Badan Narkotika Nasional (Balai Besar Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo

    Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo

    Praktik Lapangan

    Read more
  • GMIST Dioskuri Batam

    GMIST Dioskuri Batam

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Gereja Kristen Pasundan (GKP) Purwakarta

    Gereja Kristen Pasundan (GKP) Purwakarta

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB) Betania Sinampangnyo

    Gereja Kristen di Luwuk Banggai (GKLB) Betania Sinampangnyo

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Yayasan Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK–HAM)

    Yayasan Solidaritas Perempuan untuk Kemanusiaan dan Hak Asasi Manusia (SPEK–HAM)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sidomulyo Sragen

    Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sidomulyo Sragen

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Women’s Crisis Center “Pandulangu Angu” GKS

    Women’s Crisis Center “Pandulangu Angu” GKS

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Gereja Anguwuloa Masehi Indonesia Nias (AMIN) Jemaat Tetehösi

    Gereja Anguwuloa Masehi Indonesia Nias (AMIN) Jemaat Tetehösi

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GBKP Pasar IV Selayang II Medan

    GBKP Pasar IV Selayang II Medan

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Yayasan Perkumpulan Bandungwangi (Bantuan Dukungan Perkawanan dan Saling Melindungi)

    Yayasan Perkumpulan Bandungwangi (Bantuan Dukungan Perkawanan dan Saling Melindungi)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan GAYa Nusantara

    Yayasan GAYa Nusantara

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Komunitas Sahabat Anak

    Yayasan Komunitas Sahabat Anak

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Kristen Trukajaya

    Yayasan Kristen Trukajaya

    Praktik Lapangan

    Read more
  • GPIB Bukit Karmel

    GPIB Bukit Karmel

    Collegium Pastorale

    Read more
  • LAYAK (Layanan Anak dan Keluarga)

    LAYAK (Layanan Anak dan Keluarga)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Binawarga

    Binawarga

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Covenant Sanctuary Church

    Covenant Sanctuary Church

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Igreja Protestante iha Timor Lorosae (IPTL) Betania Aileu

    Igreja Protestante iha Timor Lorosae (IPTL) Betania Aileu

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e (IPTL) Klasis Leste

    Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e (IPTL) Klasis Leste

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Yayasan Pelita Ilmu (YPI)

    Yayasan Pelita Ilmu (YPI)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Pendampingan Autis (YPA)

    Yayasan Pendampingan Autis (YPA)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Pesantren Assalam Bogor

    Pesantren Assalam Bogor

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Sanggar SWARA

    Sanggar SWARA

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Fahmina Institute

    Fahmina Institute

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Migrant CARE

    Migrant CARE

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Sanggar Rebung Cendani

    Sanggar Rebung Cendani

    Praktik Lapangan

    Read more
  • GKS Jemaat Kayuri

    GKS Jemaat Kayuri

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GBKP Runggun Dolat Rayat

    GBKP Runggun Dolat Rayat

    Collegium Pastorale

    Read more
  • BNKP Jemaat Lahewa

    BNKP Jemaat Lahewa

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Council of Churches of Malaysia

    Council of Churches of Malaysia

    Collegium Pastorale

    Read more
  • People Like Us Satu Hati

    People Like Us Satu Hati

    Praktik Lapangan

    Read more
  • GKI Sumut Medan

    GKI Sumut Medan

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP)/Marsinah FM

    Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP)/Marsinah FM

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Perempuan Mahardika

    Perempuan Mahardika

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Gaylam (Gaya Lentera Muda Lampung)

    Gaylam (Gaya Lentera Muda Lampung)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Bank Sampah “My Darling” (Masyarakat Sadar Lingkungan)

    Bank Sampah “My Darling” (Masyarakat Sadar Lingkungan)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Silo Naikoten 1

    Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Silo Naikoten 1

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e (IPTL) Graca Loes

    Igreja Protestante iha Timor Lorosa’e (IPTL) Graca Loes

    Collegium Pastorale

    Read more
  • House of Stray

    House of Stray

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Orangutan Foundation International

    Orangutan Foundation International

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Deaf Art Community

    Deaf Art Community

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Panti Kasih

    Panti Kasih

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Yayasan Inter Medika

    Yayasan Inter Medika

    Praktik Lapangan

    Read more
  • PERCIK (Persemaian Cinta Kemanusiaan)

    PERCIK (Persemaian Cinta Kemanusiaan)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Keluarga Besar Waria Yogyakarta (KEBAYA)

    Keluarga Besar Waria Yogyakarta (KEBAYA)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • PPK Tabitha

    PPK Tabitha

    Praktik Lapangan

    Read more
  • AIC Pyeongtaek

    AIC Pyeongtaek

    Collegium Pastorale

    Read more
  • AIC Incheon

    AIC Incheon

    Collegium Pastorale

    Read more
  • AIC Suwon

    AIC Suwon

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Pondok Pesantren Al-Mizan

    Pondok Pesantren Al-Mizan

    Praktik Lapangan

    Read more
  • HKBP Sukadono

    HKBP Sukadono

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GKMI Surakarta

    GKMI Surakarta

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GPIL Jemaat Wasuponda

    GPIL Jemaat Wasuponda

    Collegium Pastorale

    Read more
  • PCS Jemaat Pekan Menggatal

    PCS Jemaat Pekan Menggatal

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Urban Poor Consortium

    Urban Poor Consortium

    Praktik Lapangan

    Read more
  • Arus Pelangi

    Arus Pelangi

    Praktik Lapangan

    Read more
  • DIAN (Dialog Antariman) Interfidei

    DIAN (Dialog Antariman) Interfidei

    Praktik Lapangan

    Read more
  • ICRP (Indonesian Conference on Religions and Peace)

    ICRP (Indonesian Conference on Religions and Peace)

    Praktik Lapangan

    Read more
  • GPIB Jemaat “Ebenhaezer” Tanjung Batu

    GPIB Jemaat “Ebenhaezer” Tanjung Batu

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Yayasan Internasional Animal Rescue Indonesia

    Yayasan Internasional Animal Rescue Indonesia

    Praktik Lapangan

    Read more
  • GBKP Ujung Serdang

    GBKP Ujung Serdang

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Talita Kum

    Talita Kum

    Praktik Lapangan

    Read more
  • GMIBM Efrata Poigar

    GMIBM Efrata Poigar

    Collegium Pastorale

    Read more
  • GBKP Runggun Perumnas Simalingkar

    GBKP Runggun Perumnas Simalingkar

    Collegium Pastorale

    Read more
  • Migrant CARE

    Migrant CARE

    Praktik Lapangan

    Read more